
“Yah, mungkin menghilangkanmu akan lebih tepat. Dengan begitu beban yang kami pukul pasti akan berkurang banyak,” ucap But pelan. Namun, matanya masih tetap mengamati tingkah pemuda di depannya yang mempertahankan sikap acuh tak acuh.
Bahkan jika Rion tengah menuju ke barisan tim Night Eye, dia seolah tak peduli bagaimana tanggapan But. Bagaimanapun, hubungan di antara keduanya telah jelas, tak dapat diganggu gugat.
Rion melirik Ci sejenak, keadaan Beast-kin ini jauh lebih memperhatikan daripada apa yang dia perkiraan sebelumnya. “Butuh bantuan?”
Mendengar ini, Ci memandang Rion dengan takjub. Dia sudah memperkirakan bagaimana sifat Rion sebelumnya, tapi tampaknya itu salah besar. Mengingat bagaimana kepekaan mengerikan Rion yang dia dapati, Ci tersenyum lemah. “Tolong ....”
Mengangguk ringan, Rion mengulurkan tangannya pada Ci. Cahaya hijau pudar mulai menyelimuti lengan Ci yang terputus, segera membuat darah yang sebelumnya terus keluar bak banjir mulai berkurang debitnya hingga berhenti total.
Raut muka Ci mendapat kembali sedikit vitalitasnya. Meskipun Rion tak dapat melakukan penyembuhan ajaib seperti menumbuhkan kembali bagian tubuh yang telah hilang, atau setidaknya menyambungkan bagian tubuh orang. Ini jauh lebih dari cukup, bagaimanapun dia juga tahu bahwa dirinya tak bisa berharap banyak Rion yang hanya melatih sihir penyembuhan sebagai bahan ‘sampingan’.
“Terima kasih,” ucap Ci tulus.
Walau dia belum dapat mengetahui motif atau bahkan keuntungan yang Rion dapat dari melakukan ini padanya. Namun, setidaknya Ci sekarang dapat sedikit mengandalkan Rion.
“Sama-sama,” balas Rion ringan walau dalam hatinya dia masih mendesah kecil. Bukan karena Ci, tapi karena hal lain.
Rion sedikit terganggu oleh fakta bahwa sihir penyembuhannya sama sekali tak membaik. ‘Bahkan setelah latihan selama ini bidang itu tak aku kuasai, kah?’ pikirnya.
Memandangi tangan kanannya, pikiran Rion seolah menghilang untuk sesaat. Ini adalah jenis sihir pertama yang dia pelajari dan kuasai, walaupun itu tak terlalu baik bahkan cenderung buruk. Perasaan tak dapat menguasai bidang terlama secara efektif agak membuatnya ... frustrasi ....
Ditambah dengan fakta bahwa penguasaannya dalam sihir bidang lainnya sangat baik, Rion hanya dapat menghela napas. Selain itu, alasan mengapa dia sangat bersikeras ingin menguasai sihir di bidang ini karena secara tak langsung, sihir inilah salah satu dari sedikit koneksi yang tersisa antara dirinya dan ibunya.
Bahkan sihir penyembuhan sebelumnya benar-benar menghabiskan mana dalam jumlah yang cukup mengganggu, walau jumlah itu sendiri tak terlalu besar baginya. Namun, itu hanya dari perspektif Rion karena dengan kualitas dan kuantitas mananya kini, jumlah itu sebenarnya terhitung luar biasa bagi orang normal.
__ADS_1
Kembali ke kenyataan di depannya, pikiran Rion kembali terpusat sebelum bertanya, “Sedikit lebih baik?”
Namun, bahkan sebelum Ci dapat menjawab, sebuah suara tinggi tiba-tiba terdengar. Hawa dingin menyebar dengan cepat saat sebuah dinding es terbentuk tak jauh dari posisinya berada. Dinding es mendapatkan kerusakan hebat, bongkahan es lain terjatuh dari retakan yang tercipta, berasal dari sebuah pisau yang kini tertanam dalam nan rapat di dinding es tersebut.
Orang yang melancarkan serangan itu, But mendecakkan lidah tanda tidak puas dan itu membuat Ci menunjukkan sedikit senyum. “Sayang sekali, ya. Manusia.”
“Kau terlalu beruntung Makhluk Rendahan!” balas But.
Bagaimanapun, mereka yang ada di sini paham bahwa ini adalah pertempuran. Tak ada aturan yang melarang seseorang untuk menyerang di kala orang lain sedang bicara, tapi untuk melihat bahwa serangannya gagal, But tetap merasa sedikit masam.
Selain itu, hal yang lebih dia perhatian adalah temuan bahwa tak ada rapalan apa pun yang terdengar sebelum dinding es itu muncul. Mendesah pelan, But bergumam, “Sepertinya ada seseorang yang dapat menggunakan sihir tanpa rapalan.”
Mata But menyapu, berusaha mencari dari siapa dinding es ini berasal. Namun, dia tak dapat menemukan sosok baru dan jelas bahwa kini hanya ada tiga sosok untuk dijadikan pilihan yang tersisa, Rion, Lily, dan Yurei.
Bagaimanapun, kemungkinan untuk itu tim menjadi Night Eye maupun Ci telah diabaikan oleh But. Tidak mungkin mereka akan menyembunyikan kemampuan semacam ini bahkan setelah terdesak begitu lama.
Namun, matanya kini terpusat pada sosok Rion. Sepertinya But telah mempertimbangkan siapa yang paling mungkin untuk dapat melakukan hal semacam ini. Bahkan Ci yang berada tepat di samping Rion pun tak dapat mengalihkan pandangannya dari pemuda itu.
Meski begitu, Rion sama sekali tak terganggu oleh puluhan pasang mata yang kini berpusat padanya. Dia tahu dari mana sihir itu berasal. ‘Lily itu ... dia bahkan menahan serangan semacam semacam itu hanya dengan sihir dasar.’
Saat dinding es perlahan menghilang, Rion mengambil napas sejenak. “Kita serang dia.”
Ci mengangguk ringan, membuat suara tinggi menggelegar pun segera terdengar saat sosoknya menghilang. Saat dirinya muncul kembali, dia telah berada di depan But, memaksa But meladeni serangannya.
Bahkan jika Ci belum sepenuhnya pulih, tapi kondisi saat ini jauh lebih baik dari pada sebelumnya, dan sontak memengaruhi performanya. Satu lengan yang tersisa, kedua kakinya, dan ekornya pun turut serta dalam serangan ini. Dia telah mencurahkan semua di dalamnya.
__ADS_1
Meski begitu, itu tak akan dapat dengan mudah membuat meja terbalik. Hal ini pun ditambah dengan Rion yang tak segera bergabung dengan Ci, dia lebih memilih mengamati lawannya sejenak.
Selain itu ... pandangan Rion beralih, dia menatap Yuzu dengan mata kompleks. Namun, akhirnya hanya ada satu kalimat pendek yang dapat dia katakan.
“Kau kuat.”
Bahkan sebelum Yuzu —yang cukup linglung setelah mendengar ini— dapat menjawabnya, Rion pun turut menghilang dari tempatnya berada dan bergabung dengan Ci.
“Magic: Lightning Chains!” Percikan demi percikan kilat biru mulai terbentuk, saling menaut hingga membuat ular-ular kebiruan mulai menunjukkan dirinya di langit. Turut bergabung dengan kekacauan yang tengah berlangsung.
Rion sadar dengan kekuatannya saat ini akan sulit untuk mengimbangi kecepatan Ci dan But. Namun, dirinya dapat membantu dengan melancarkan sihir untuk menahan pergerakan lawan.
Angin berembus kencang, lengkungan demi lengkungan energi tercipta bersama lintasan demi lintasan yang terbentuk di udara. Petir berderak, kilat pun turut menyambar di sela-selanya, membuat sebuah badai hebat kini terbentuk di depan mata.
Bahkan jika Ci tak akan dapat mengimbangi But secara penuh, apalagi dengan kondisinya saat ini, tapi bantuan Rion cukup untuk membuatnya bertahan. Matanya fokus, berusaha membuat sihir Rion tak menghalangi gerakannya dan justru dapat dikoordinasikan dengan gerakannya.
Ci sama sekali tak menganggap ini sebagai kekuatan nyata Rion, tapi hanya bagian dari usaha pemuda itu untuk mengukur kekuatan lawan.
“Ke mana matamu melihat dasar Makhluk Rendahan ...,” bisik But.
Tang!
Bunga api kembali tercipta. Serangan itu berhasil Ci tahan, tapi dia sedikit berkeringat dingin. Bagaimana bisa dia melupakan hal dasar dan mengalihkan perhatian pada hal lain saat bertarung?
Bahkan jika refleksnya cukup cepat untuk menahan serangan pertama, serangan kedua dari But pun mulai luncur ke arahnya. Dengan hanya satu lengan yang dia miliki, Ci merasa mustahil untuk dapat menahan serangan kedua itu.
__ADS_1
Namun, sebuah baut kilat biru segera meluncur. Dengan cepat menuju tempat But berada, memaksanya harus mundur meski baut kilat demi baut kilat lain segera hadir kembali, membuat dirinya semakin jauh dari Ci.