
Di saat tombak dan cakar tajam itu berbenturan, suara melengking tinggi terdengar. Xion yang diam-diam menunggu kesempatan pun keluar dari bayang-bayang Wess dengan badai angin kecil yang terbentuk di lengannya.
Dengan mata tajam, dia mengarahkan serangan itu tapi tombak Tenor segera berputar. Terbalik secara penuh dan menghalangi jalur yang akan digunakan Xion, tanpa perlu menunggu lagi dia mundur.
Xion tahu betul, bahwa jika dia berada lebih lama di depan maka nasibnya menjadi tak menentu. Bahkan Wess [Iron Body] yang notabene memaksimalkan kekuatan bertahan tetap tertembus, luka di tubuh Wess adalah buktinya.
Melihat bahwa lawannya menghilang kembali, Tenor menghembuskan napas sejenak sebelum memperpendek jarak, ingin mengejar. “Huh! Makhluk tak layak seperti kalian tak pantas ada di sini!”
Memosisikan dirinya, Tenor menerjang tapi tubuh besar Wess segera masuk dalam pandangan, menjadi hambatan besar dalam rencananya.
“Mereka jauh lebih alot dari yang kukira,’ pikir Tenor. Meski begitu dia tahu bahwa dalam kenyataan, dugaannya benar, mereka lemah. Bahkan seharusnya tim bantuan yang pernah dikirim dapat menghapus tim ini.
Namun, Tenor kini tersadar hal yang membuat tim ini tak bisa diselesaikan adalah kerja sama mereka. Tepat seperti sebatang lidi yang ditumpuk hingga dapat cukup kuat untuk menjadi pemukul.
Meski sebenarnya Ci lah yang menghilangkan bantuan sebelumnya, tapi fakta bahwa tim Night Eye memiliki tingkat kerja sama hebat bukanlah kebohongan.
Suara antar dua buah benda keras beradu terus terdengar saat tusukan demi tusukan Tenor berikan pada Wess. Sepenuhnya fokus pada serangan, sebuah celah pun dia tunjukkan.
“Wind Claws!” Badai angin yang terbentuk di tangan Xion kian kuat, menyapu apa yang ada di depannya dengan tiga buah gelombang kuat. Seolah mampu mengoyak apa pun di depannya.
Tak kehilangan akal, Tenor mengayunkan tombaknya lebar, hingga menjadi bentuk kipas. Dengan benturan yang terjadi antara dirinya dan Wess, tubuhnya pun dapat terdorong mundur. Membuatnya mendapat sedikit dorongan lebih untuk dapat menjauh dari jarak serangan itu.
Namun, kerja sama menakutkan tim Night Eye belumlah usai. Bayangan bergetar, menjadi sosok Dian yang selama ini tak menunjukkan dirinya secara langsung. Hanya menyergap lalu pergi, dan kini Tenor lah yang mendapat giliran.
“Silence Siluet ....”
Noda hitam mulai terbentuk di belati Dian. Kian membesar dan menekan belati itu sendiri, seolah itu adalah representasi dari senjata gelap malaikat maut.
Dering bel tanda bahaya di kepala Tenor berbunyi, memberi tahu dirinya bahwa jika dia menerima serangan ini luka yang timbul tidaklah sedikit. Meski begitu, dia memasang ekspresi tenang biarpun tengah berada dalam kondisi tak aman.
__ADS_1
Menekuk tubuhnya lebih ke bawah, Tenor memindahkan titik tumpu tombaknya hingga ke tempat paling dekat dengan ujung bawahnya. “Heavy Rotation!”
Tubuh Tenor mulai berputar cepat, tombak di tangannya kini bertindak bak sebuah pemukul. Meski begitu, kecepatan itu tak dapat melebihi kecepatan serangan Dian. Namun ....
Tang!
Suara tinggi terdengar. Belati yang telah menggores ujung leher Tenor terangkat, membuat jalur serangan berubah total dan tak pernah berhasil kembali ke targetnya.
Meski kecepatan Tenor jauh lebih lambat, tapi dia berhasil menangkis serangan itu. Bahkan jika saat jarak serangan itu dengan dirinya hanya terpaut beberapa centimeter saja.
Walaupun begitu, ini belumlah selesai. Dengan serangannya yang telah berhasil Tenor tangkis, Dian telah diekspose ke dalam sudut berbahaya. Bagaimanapun, dia tahu bahwa dalam gaya bertarungnya, seolah dengan jelas telah digarisbawahi bahwa hal semacam ini tak boleh terjadi.
Namun, lebih daripada itu. Tenor tahu bahwa ini mungkin adalah kesempatannya untuk membongkar solidnya kerja sama tim Night Eye.
“Fly Up!”
Namun, ini bukanlah pertarungan satu lawan satu. Melihat bahwa rekan mereka masuk dalam posisi berbahaya, Xion dan Wess berusaha membantunya.
“Apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian mengganggu?!” Mengatakan demikian, tombak di tangan Tenor nilai menyerap mana dalam jumlah lebih.
“Great Impact!” Tombak Tenor memukul Xion dengan keras, membuatnya terpukul mundur hingga harus berhenti setelah tertahan oleh beberapa pohon yang hancur.
Mengabaikan Xion, mata Tenor fokus ke awah Dian yang memiliki kondisi lebih rentan. “Eugary Spearmanships: 3rd Style Pursuit!”
Seolah memiliki matanya sendiri, tombak itu terus meluncur, berusaha mencapai Dian yang akan segera menghilang. Sayangnya, hal itu telah gagal.
Tombak melesat dengan cepat, berhasil mencapai Beast-kin itu. Jika Wess saja yang notabene memiliki pertahanan tertinggi di tim Night Eye harus menderita luka berat, maka nasib Dian tak perlu dipertanyakan lagi.
Tubuh Dian yang ‘renyah’ terpukul keras, membuat tombak itu dengan mudah berhasil menembus dadanya.
__ADS_1
Tenor yang mengikuti laju tombaknya pun kembali bersatu dengan senjata itu. “Eugary Spearmanships: 1st Style Lunge!”
Seolah memiliki tangan, tombak itu menguatkan tempatnya yang bersarang dengan nyaman di dada lawan. Saat tombak itu berayun, tubuh Dian pun mengikuti gerakannya.
Dian terbentur di tempat yang sulit dirasakan, senjata Tenor yang semula tombak seolah berubah menjadi palu besar dengan penambahan beban —Dian— di ujungnya. Dengan beban yang terus dibebankan, tubuh Dian mulai kehilangan bentuknya saat itu hanya menjadi gumpalan daging.
Serangan Wess yang menghadapi Tenor secara langsung pun menjadi lebih tumpul, mungkin memiliki harapan bahwa rekan mereka yang satu ini masih hidup. Bahkan dengan kemungkinan lebih tipis dari sehelai rambut.
Namun, saat gumpalan daging yang merupakan tubuh Dian itu menjadi semakin hancur, harapan itu sirna. Dengan kesadaran yang ingin mereka tolak, amarah pun naik, mendidih secepat kilat, membuat mereka tak dapat berpikir jernih.
Lebih daripada itu. Dengan kehilangan salah seorang yang mengisi peran dalam tim mereka, kerja sama apik yang ditunjukkan oleh tim Night Eye selama ini segera runtuh.
Meja telah terbalik sepenuhnya.
Mengikuti arahan Tenor, prajurit yang tersisa terus bertahan, bahkan mulai memiliki keuntungan. Sementara itu, kondisi tim Night Eye semakin menyedihkan.
Wess yang memaksa bertahan telah jatuh dalam kondisi menyedihkan, ditekan oleh Tenor sepenuhnya. Sementara Yuzu dan Zee tak dapat bertindak seefisien seperti sebelumnya.
“T-tidak, semuanya ...,” Xion berkata lemah, gerakannya menjadi terlalu kaku setelah dia terpukul tepat di titik vital.
Ci yang mengamati semua ini dari kejauhan sedikit ragu. Apakah dia akan mengekspose dirinya untuk membantu Tim Night Eye, atau tidak, hanya akan menonton hal ini.
Bagaimanapun misinya adalah melenyapkan orang yang dicari tim ini setelah dia menentukan apakah orang itu berbahaya atau tidak, bukan untuk menjaga tim ini dari bahaya.
“Aku rasa aku akan membantu mereka. Tanpa tim ini aku tidak akan tahu apakah orang yang dicari adalah pemuda yang sedang diselidiki tim ini,” Ci bangun, hendak bergerak dari posisinya, tapi di saat berikutnya gerakan itu tertahan.
PINGGG!
Saat tiba-tiba sebuah suara aneh, mirip sebuah dengungan keluar dari pin berwarna emas hitam sebelum hancur berkeping-keping, dan itu menghentikan gerakan Tenor.
__ADS_1