A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 51 : Tim Baru dan Operasi Lama - 1


__ADS_3

Setelah panggilan itu sampai ke telinga Huge, dia segera pergi ke kantor Ditch. Di ruangan yang telah akrab dengannya, dia menghadap Ditch yang kini memasang ekspresi paling serius yang ditunjukkan dalam kurun waktu terakhir.


Setelah membuat sikap hormat pada Ditch terlebih dahulu, Huge pun berucap, “Saya datang sesuai panggilan Anda, Kapten.”


Ditch balas memberi hormat ringan pada Huge, kemudian mulai menjelaskan apa yang terjadi pada regu satu padanya.


Mendengar kisah kegagalan ini, Huge menundukkan kepalanya. Hal semacam ini telah terjadi kembali, dan ini menjawab perasaan tidak nyaman yang baru-baru ini kembali bersarang di hatinya.


“Kapten, lalu apa alasanmu yang sebenarnya untuk memanggilku kemari?” tanya Ditch, dia yakin bahwa alasan mengapa dia dipanggil kemari bukan hanya untuk mendengar berita sedih ini.


Berdeham pelan, Ditch mengutarakan niatnya yang sebenarnya. “Kau akan aku ikut sertakan dalam misi penangkapan bandit ini besok.”


“Jika itu tugas, maka aku akan melaksanakannya tanpa ragu.”


Namun, berbeda dari harapan Huge, Ditch segera menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan mengutusmu sebagai seorang prajurit. Juga, aku tak berniat mengerahkan kelompok besar untuk mengatasi para bandit itu, melainkan aku hanya akan mengutus sebuah tim yang mampu dan sanggup mengatasi masalah ini tanpa banyak keributan.”


Ditch berdiri dan menuju jendela. Dengan langkah pelan, dia membiarkan Huge yang terdiam dan terus memandang kota. Mengalihkan pandangannya, sepatah kata yang terasa berat akhirnya keluar dari mulutnya. “Dan kau akan kujadikan seorang pemimpin di tim tersebut.”


Huge kembali terkejut, setelah waktu berlalu dia hendak membuka mulutnya. Namun, Ditch telah mendahuluinya.


“Kamu tak perlu risau, aku telah menentukan anggota yang kuanggap pantas. Selain itu aku yakin ini adalah pilihan yang tepat,” Mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja kerjanya, Ditch memandangi profil nama-nama yang tercantum itu sekali lagi.


“Orang-orang inilah yang nantinya akan menjadi anggota timmu. Meski mereka hanya lima orang, tapi kuyakin bahwa tidak akan ada lubang besar yang bisa terdapat di tim.”


Namun, Huge tetap menggelengkan kepalanya meski telah dijabarkan hingga sejauh ini. “Kapten Ditch, aku tahu tujuanmu, tapi aku tidak bisa menjadi seseorang pemimpin yang pantas lagi.”


Mata Huge sedikit mendung, saat kepalanya sedikit menunduk. Ingatan dari beberapa tahun lalu kembali ke kepalanya.

__ADS_1


Masa saat perjalanan kariernya terus menanjak mengikuti kemajuan tingkat kekuatannya yang terus meningkat. Hingga akhirnya dia dapat menjadi seorang kapten dalam regu kecil, sama halnya seperti posisi Simon yang memimpin regu satu.


Itu adalah tim hebat yang pernah Huge miliki, misi demi misi mereka jalani dengan keberhasilan yang terus mengalir, membuatnya serta anggota lain tim menjalani hidup mereka dengan gemilang. Namun, layaknya sebuah roda mereka tak selamanya berada di atas, dalam sebuah misi karena sebuah kesalahan kecil seluruh anggota tim itu tewas dan menjadi sejarah.


Benar, seluruh tim itu menghilang, kecuali pemimpin tim itu ... Huge.


Huge menganggap semua itu karena kesalahannya, karena perintahnya hasil yang sepertinya jelas telah menjadi jauh tak tergapai. Layaknya dua buah garis yang menyatu dalam satu jalur, tapi karena sebuah sudut kecil, bahkan jika itu hanya 1 derajat jarak di antara keduanya semakin melebar saat mereka semakin jauh.


Karena kesalahan perintah yang dia berikan, Huge yakin bahwa itulah yang membuat sebuah sudut yang mengantarkan rekan timnya terdahulu ke alam baka. Namun, satu hal terus menghantuinya, kenapa dia harus selamat padahal semua itu karena salahnya?


Meski Ditch tahu hal itu, alasan lama itu tak diterimanya saat ini. Kini matanya tengah menatap mata Huge dengan pandangan dalam yang seakan dapat melihat Huge secara keseluruhan tanpa tabir apa pun.


“Huge, aku tahu apa yang pernah menimpamu tapi ...,” Menghela napas sejenak, Ditch akhirnya menyelesaikan perkataannya. “Apa kau tahu apa yang membuatmu merasa terus bersalah?”


“....”


Huge Diam, tak dapat berkata-kata.


“....”


Mata Huge mulai bergerak, menjauhkan pandangannya dari Ditch. Seperti dia yang berusaha menjauh dari kebenaran ini.


“Coba kau lihat nama dalam kertas itu baik-baik.”


Huge tak dapat mengelak lebih dari ini, masih dengan kepala tertunduk dia menjawab lirih, “Baik ....”


Huge mulai membaca nama-nama yang tertera pada dokumen itu, pada awalnya pandangannya terus seperti ikan mati. Namun, saat dia pikirannya mulai memperhatikan nama-nama ini lebih jeli pandangannya segera terhenti.

__ADS_1


Menegakkan kepalanya, Huge berusaha menatap Ditch. Tangannya terlihat masih bergetar setelah membaca nama-nama yang tertera pada kertas di tangan ini.


“Kapten, nama-nama ini ...?” Meski sejujurnya dia tahu, Huge tak dapat menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan, bahkan jika itu hanya untuk memastikan dugaan yang telah dibuatnya.


“Benar, itu adalah nama orang-orang yang pernah mengalami depresi berat setelah kehilangan, atau menderita kegagalan dalam suatu hal. Rico, Kent, Tue, bahkan Dany, serta Ernest juga ikut.”


Kembali ke kursinya, Ditch melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan. “Mereka ingin menebus kesalahan yang membuat mereka menderita hasil kala itu. Jadi ... Huge, apa kau juga akan memimpin orang yang akan menebus dosa yang pernah mereka lakukan? Atau kau malah menjadi orang yang kalah dalam menghadapi kenyataan?”


Huge menatap sosok Ditch yang kini terlihat sangat berbeda dari apa yang selama ini dia lihat.


Seolah menjawab tatapan Huge, Ditch berucap, “Bahkan Dany ingin menebus kesalahan yang baru dibuatnya. Selain itu Ernest yang pernah kau temui baru-baru ini, dia telah memutuskan pilihannya dan bahkan mempelajari beberapa sihir dan taktik perang dengan gila setelah keputusan itu dia buat. Kamu seharusnya tahu bahwa itu berarti dia tak akan memutar arah lagi. Huge, setelah semua apa yang akan kau lakukan?”


“....”


Untuk ke sekian kalinya, Huge diam membisu.


Sekarang dia telah diberikan sebuah kesempatan untuk menebus kesalahannya dulu, dan Itu tepat berada di depan matanya.


Seseorang yang selalu merasa ragu akan kapasitas dirinya sendiri, dan Huge tahu orang itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya.


Menjadi seorang prajurit biasa selamanya bukan untuk menghukum dirinya, tapi cara untuk lari dari kenyataan. Itulah kenyataan yang sebenarnya karena dia ingin menjauh.


Huge memantapkan hatinya, dia akan mengubah bagian dirinya yang itu. Menatap balik Ditch dengan pandangan yang berbeda dia berucap, “Baik Kapten Ditch, aku Huge menerima tugas ini.”


Menyandarkan dirinya, Ditch tersenyum puas. “Pastikan kau membawa semua orang dengan selamat. Kamu akan menjadi seorang yang melindungi mereka dalam misi nantinya. Yah, terutama Ernest yang notabene paling lemah dalam kekuatan.”


“Baiklah, saya akan menjalankan tugas sebagai pemimpin sebaik mungkin. Kalau begitu, saya undur diri kapten.”

__ADS_1


“Ya.”


Pintu tertutup tapi kini nuansa suram yang pernah hinggap telah sirna, sebuah tim yang dirasa paling ideal telah terbentuk.


__ADS_2