A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 38 : Para Bandit - 3


__ADS_3

Rion berjalan ke arah dirinya merasakan kehadiran sekelompok besar orang yang memperhatikan dirinya dan Lily. Sesampai di tempat yang dimaksud, dia dapat melihat kelompok ini cukup terlatih menilai dari cara mereka bersembunyi menghadapi orang asing yang mendekat.


Harus Rion akui, jika bukan karena matanya dan indranya yang membuat dia dapat melihat jelas di malam hari, mungkin dirinya tidak akan menyadari keberadaan mereka. Selain itu, dia juga menemukan bahwa sihir anti deteksi telah diterapkan pada anggota kelompok ini.


Rion masih mengamati semua lebih jauh, tapi seorang anggota kelompok itu keluar, mengarahkan belatinya pada lehernya. Dengan cepat, dia menggambar pedang dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang, membuat tangan orang tersebut terbang, terpisah dari tubuhnya.


"Arrgghh!" teriak orang itu saat berguling-guling di tanah memegangi tangannya.


Rion hanya meliriknya sejenak, jika ini kelompok baik-baik tidak mungkin perilaku semacam ini akan dilakukan. Mengalihkan pandangan dia berucap, "Kalian keluarlah, aku tahu kalian bersembunyi di sini."


Menyapu pandangan ke sekeliling, Rion menemukan bahwa anggota itu hanya terus bersembunyi. "Kalau begitu, jangan salahkan aku karena akan bergerak lebih dulu."


Rion segera bergerak dari posisinya berada, kecepatannya secepat kilat hingga sulit untuk diikuti. Saat dia muncul, dia telah menebas salah satu anggota kelompok ini, membuatnya harus bertahan teriakan menggema ditemani aliran darah yang keluar dari tubuh orang tersebut.


Keheningan mengisi saat kelompok itu mematung. Membalikkan tubuhnya, Rion bergumam, "Kan sudah kubilang, jangan salahkan aku jika bergerak terlebih dahulu."


Pulih dari keterkejutannya, Heran menunjuk Rion dengan jari yang bergetar. "Serang dia!"


Teriak Heran membuat kelompok itu tersadar, menatap musuh di depan, mereka maju bersama mengepung Rion di tengah, menghujani pemuda itu dengan berbagai macam serangan.


Seluruh kelompok menyadari orang di depan mereka sekarang adalah orang yang berbahaya. Jika pemuda itu terus dibiarkan hidup, maka dapat dipastikan mereka akan tewas.


"Heavy Strike!" Delapan orang petarung jarak dekat yang melayangkan serangan berat pada Rion secara beruntun, menyebabkan pohon di sekitar tumbang membentuk sebuah tanah kosong luas.


Rion hanya mengelak, menghindari serangan yang ditujukan padanya. Dengan kecepatannya saat ini pukulan ini terlalu lamban untuk dapat mengenainya.


"Bantu dengan serangan dari jarak jauh!" teriak salah seorang petarung jarak dekat yang merasa serangan ini percuma.


Para pemanah serta penyihir yang berada di barisan belakang pun langsung meladeni permintaan tersebut, mereka juga ingin selamat dari orang di depan mereka.


"Rapid Shots!"


"Blessing Wind."


Serangan anak panah dengan cepat menyerang Rion dari posisinya, ditambah dengan berkat elemen angin yang membuat panah ini semakin cepat dan tajam.

__ADS_1


Rion berusaha mengelak sebisanya. Namun, bersama dengan serangan-serangan lain yang juga ditujukan padanya, membuat beberapa anak panah tetap tak dapat dia hindari.


Meski cedera yang timbul sendiri tak memberi luka berarti, Rion memfokuskan perhatian pada luka-luka kecil pada bagian tubuhnya. Mengingat dirinya pernah menerima luka semacam ini yang dianggapnya sepele tapi ternyata berbahaya karena mengandung racun, dan dia tidak akan membiarkan dirinya mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Saat merasakan adanya cairan aneh pada lukanya, Rion bernafas lega. Kesiagaan dirinya memang membawa manfaat, melakukan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri dia berusaha menetralkan racun yang terdapat pada luka tersebut.


"Emeute." Rion mulai mengayunkan pedang untuk membalas serangan yang datang padanya, memberikan luka-luka pada musuhnya.


Dentang suara logam beradu terdengar saat pedang di tangan Rion mulai berayun dengan liar, menangkis anak panah yang mengincarnya, dan membelokkan arah serangan kembali ke musuh di depannya.


"Tahan serangan, siagakan perisai!" teriak Heran.


Namun, orang-orang lebih memilih menghindari anak panah yang membelok ke arah mereka, membuat kekacauan pada formasi yang hampir terbentuk.


"Pierching Thrust!" Dengan tangan kirinya, Rion menggunakan tombak yang sejak tadi menganggur untuk membunuh anggota kelompok itu.


Memanfaatkan situasi di mana perhatian musuhnya teralihkan lebih jauh, dia melancarkan serangan lain. "Sword thorns."


Pedang di tangan Rion formasi musuhnya terkoyak lebih jauh, memaksa mereka memfokuskan diri pada pertahanan penuh.


"Bulwark!"


"Magic: Shields."


Perisai tebal dan perisai sihir yang datang terlambat dilepaskan secara tumpang tindih, bahu-membahu berusaha menahan serangan dari Rion.


"Serang dia! Jangan beri ampun!" teriak Heran keras yang merasa bahwa ini adalah kesempatan.


Sekali lagi kelompok tersebut mulai membentuk serangan yang solid yang dituduhkan ke arah Rion. Namun, seolah tanpa beban berarti Rion mampu menghindari serangan musuh-musuhnya, bahkan membunuh beberapa orang yang terlalu dekat dengannya.


"Dasar tak berguna! Kalian! Cepat halangi gerakan orang itu!" Heran memberi perintah, dirinya sama sekali tidak merasa aman melihat orang yang dikepung mereka dapat keluar tanpa luka berarti.


"Magic: Earth Pillars!" Cahaya kuning kecokelatan bersinar sebelum tanah di sekitar Rion mulai terangkat, membatasinya untuk bergerak lebih jauh.


Akan tetapi, Rion tak kehabisan akal, dia melompat menggunakan tanah yang terangkat sebagai pijakan dari satu pilar ke pilar yang lain. Membuat menghindarnya tidak terganggu, malah menjadi semakin gesit dengan memanfaatkan tanah sebagai tempat berlindung dari serangan tertentu.

__ADS_1


Mata Rion dingin dan tanpa emosi saat dia berucap, "Ledakan."


Booommm!


Ledakan terjadi di tanah yang ditempati oleh musuhnya, menghancurkan tanah yang telah porak-poranda lebih jauh lagi.


Rion selama ini mempersiapkan serangan sihir dasar [Magic: Bullet] sihir serangan tanpa elemen yang jarang digunakan. Namun, dengan tambahan [Magic: Delay] yang diterapkan membuat sihir ini mampu memberikan serangan kejutan pada musuhnya.


Mengambil celah di momen ini, Rion menyerang. "Throns Spike!"


Rion melempar tombak di tangannya, meluncur cepat hingga menembus kepala salah satu musuh dan memakukan kepalanya di tanah yang diwarnai darahnya sendiri.


Melompat tinggi, Rion terus melancarkan serangan mematikan yang kian membuat Heran tercengang. Bawahannya kini hanya tersisa sebelas orang sementara yang lainnya telah tewas, terutama mereka yang berada di tingkat gold level 1 nyawa mereka sudah tak tertolong lagi, dirinya sendiri berhasil selamat karena dilindungi oleh yang lainnya.


Tangan Heran bergetar, menunjuk Rion yang tengah terdiam untuk mengambil jeda, dia berteriak, "Habisi orang itu sampai hancur!"


Anggota lain menyanggupi perintah Heran, mereka sama sekali tidak ingin mati sekarang.


"Piercing Shot! "


"Crescent Slash!"


"Break!"


"Magic: Stone Shard!"


Rapalan menggema bersama badai serangan menguncinya di tengah. Dengan kemampuan persepsi Rion saat ini, dia dapat melihat celah pada badai serangan yang membuatnya mungkin untuk menghindari sebagian besar serangan.


Rion melompat, mencoba menggunakan celah yang dia lihat itu. Namun ....


"Sekarang!" Heran berteriak pada salah satu anggota kelompok, menunjuk pada Rion yang diterangi badai energi di sekelilingnya.


"Line: Slide!"


Kaki Rion bergeser, membuatnya tidak dalam posisi yang tepat untuk rencananya.

__ADS_1


__ADS_2