A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 79 : Menilik - 3


__ADS_3

Ini adalah pagi yang baru, di saat aktivitas Kota Sourt yang sebelumnya surut kembali naik dengan cepat, tiga orang telah berjalan di kota tanpa hambatan. Meski sebenarnya mereka berada dalam bentuk penyamaran, tapi tak ada kekhawatiran apa pun yang dapat dirasakan dari mereka.


Rion, pemuda yang kini terlihat memiliki rambut berwarna coklat melirik ke arah Lily dan Yurei di depannya. Meski beberapa perlawanan terjadi sebelumnya, tapi mereka benar-benar menurut pada kemauan gadis itu untuk menjadi sebuah keluarga, setidaknya itulah yang terlihat di permukaan.


Sorak-sorai terdengar dari para pedagang yang membelanjakan barang dagangannya. Dengan suara keras mereka berusaha menarik perhatian calon pelanggan mereka, dan sejujurnya itu mengganggu bagi Rion.


Namun, hal yang sama tak berlaku untuk Yurei, gadis cilik melihat ke sana-sini dengan mata ingin tahu. Mungkin dia akan segera menghilang dari mata mereka jika Lily mengendurkan pegangannya sedikit saja.


Berusaha mengabaikan para pedagang ini, mereka bertiga berusaha menuju pelabuhan guna memesan tiket kapal.


“Rion, kau setidaknya harus berusaha membiasakan dirimu di tempat seperti ini,” ingat Lily. Bagaimanapun, meski mereka telah mendapat informasi bahwa kapal akan kembali berlayar 5 hari lagi, tapi itu hanya yang tercepat dan perjalanan mereka jauh lebih lama dari itu. Tentu kemampuan untuk beradaptasi akan sangat diperlukan dalam waktu ini.


“Ya, aku tahu,” jawab Rion, dia juga sadar akan pentingnya hal ini tapi ... dia belum bisa mengubah perasaannya, setidaknya sekarang.


Merasakan tarian pada ujung pakaiannya, Lily melihat ke bawah. “Ada apa Yurei?”


Dengan mata yang seakan dapat memantulkan kembali pandangannya, Yurei menatap Lily dan menunjuk ke salah satu kios. Meski Lily berusaha mengabaikannya, tapi kekuatan dari tatapan itu lebih dari cukup untuk menundukkan keinginannya itu.


“Baiklah, kita akan ke sana. Rion, sepertinya kita akan sedikit terlambat.”


“Begitu pun tak apa,” Meski ini adalah apa yang Rion katakan. Namun, hal yang membuatnya berkata demikian adalah satu hal, bahwa sepertinya dia menemukan kelemahan Lily.


‘Apa Lily lemah terhadap Yurei?’ Dengan pengamatan lebih, Rion merasa perlu untuk memastikan hal ini.


Waktu terhambat beberapa saat karena permintaan kecil Yurei. Meski begitu, baik Rion maupun Lily terlihat menikmati waktu santai ini.

__ADS_1


Saat Rion mulai mengunyah beberapa buah yang turut dibeli sebelumnya, langkah mereka pun berlanjut. Saat melihat boneka yang kini berada di dekapan Yurei, Rion mengingat beberapa boneka batu yang dia mainkan sewaktu masih berada di desanya. Waktu di mana dia merasa semuanya lebih dari cukup.


Namun, lebih dari itu boneka Yurei yang memiliki bentuk anak anjing kecil membuat Rion memikirkan sesuatu. Mendekati Lily, dia berbisik, “Apa Yurei merasakan kekerabatan dari boneka itu?”


Mendengar pertanyaan Rion yang agak menarik ini, Lily menjadi turut memikirkannya. “Kemungkinan itu memang ada.”


Bagaimanapun, bentuk Yurei sebelumnya yaitu Phantom Wolf masihlah serigala dan hewan itu merupakan salah satu varietas dari anjing. Memikirkan anak anjing dan Yurei dalam bentuk aslinya, entah kenapa Lily menjadi merasa lucu.


Mengabaikan pemikiran-pemikiran ringan keduanya, mereka pun sampai di tempat yang dituju, Pelabuhan Reutania Kingdom.


Bahkan jika matahari baru saja menunjukkan dirinya, mereka telah disambut pemandangan antrean panjang mengular. Meski ini tak sebanding dengan panjangnya antrean saat memasuki Kota Sourt, Rion sekali lagi harus menahan perasaannya yang tak terbiasa dengan kerumunan manusia.


Waktu terus berlalu hingga giliran mereka pun tiba. Menghadapi orang di depan mereka dengan sebuah senyum, Lily mengajukan permintaan mereka.


Mengajukan dokumen kependudukan yang mereka miliki, pelayan di depan Lily mulai bekerja dengan cepat. Memasang senyum, Lily sedikit puas bahwa karena kemampuan yang tak terlalu dia sukai membuat mereka dapat melalui semua ini tanpa banyak hambatan.


Dengan memasang wajah bersalah, mungkin juga dipengaruhi oleh nuansa tak biasa yang Lily berikan pelayan itu menundukkan kepalanya. “Sebelumnya mohon maaf, tapi semua pelayaran dalam waktu lima hari ke depan telah penuh.”


“Kapan kapal tercepat akan kembali berangkat?” tanya Lily kembali.


“Mohon tunggu sebentar,” Mengalihkan pandangannya dari Lily, pelayan itu kembali membuka buku catatan di sampingnya, mengecek apakah kapan kapal yang tersedia akan kembali berangkat. “Kapal yang tersedia akan berangkat dalam tujuh hari,” sambungnya.


“Kalau begitu, berikan kami tiga tiket di waktu itu.”


Mengangguk pelan, dia pun mulai mencatat nama Lion, Illy, dan Yuri. Nama samaran dari Rion, Lily, dan Yurei sesuai dengan yang tercatat pada identitas mereka sekarang. Mengambil sebuah tanda khusus yang membuktikan kepemilikan mereka atas tempat itu, pelayan itu menunduk sekali lagi sebelum Lily dan yang lain pergi.

__ADS_1


Keluar dari kerumunan massa yang saling terus berdesak-desakan. Mereka kembali ke distrik komersial, salah satu tempat paling ramai di Kota Sourt.


“Nah Rion, apa yang akan kau lakukan selama tujuh hari ke depan?”


“Sejujurnya, aku tak memiliki rencana khusus,” jawab Rion tak berdaya. Mengalihkan tatapannya pada Yurei, dia menatap Lily kembali. “Kau sendiri? Lily, apa kau memiliki beberapa hal yang ingin dilakukan?”


“Tak ada yang khusus, tapi ....”


Saat tanda tanya besar muncul di atas kepala Rion yang menunggu lanjutan dari perkataan Lily. Tatapan serta suasana yang dia, tidak mereka miliki berubah total.


“Sepertinya ada beberapa penguntit di sini,” sambung Lily meski ini bukanlah apa yang sebenarnya ingin dia katakan.


“Kau menyadarinya juga?” bisik Rion. ‘Apakah itu dari Eugary Empire? Atau mungkin Reutania Kingdom?’ pikirnya berpacu dengan cepat.


Mengangguk ringan, Lily menambahkan. “Kurasa tak hanya aku, tapi Yurei juga merasakannya dengan instingnya sebagai Demon Beast.”


Selebih itu mereka tak bicara lagi, menyepakati suatu rencana secara diam-diam serta masih mempertahankan sikap seolah tak terjadi apa-apa, tak menyadari apa pun.


Dengan hari yang telah berganti dan pengetahuan mereka tentang jalanan kota yang meningkat karena permintaan Yurei sebelumnya, mereka terus berjalan tanpa peduli. Berbelok ke kiri dan kanan yang seolah serampangan, mereka berusaha membuat penguntit itu kebingungan.


Namun, kemampuan para penguntit itu tak diragukan lagi sangatlah mahir. Mungkin para penguntit itu memiliki segudang pengalaman yang membuat indra mereka tak melepaskan target, atau mungkin pula sebuah motivasi tertentu.


Bagaimanapun, asumsi di sisi Rion jelas berpikir bahwa tujuan penguntit itu tak akan berpihak ke arah mereka. Mengingat kembali peristiwa yang terjadi baru-baru ini, asumsi ini memiliki dasar yang kuat.


Jalur yang mereka lewati semakin berliku hingga seolah ingin membangun sebuah labirin di ladang jagung. Terangnya Kota Sourt kini berganti menjadi gelap setelah beberapa gang kecil di lewati, mungkin ini adalah sudut yang ingin disembunyikan kota ini.

__ADS_1


Mencapai tempat yang cukup sepi, jauh dari pusat keramaian Rion dan yang lain pun berhenti. Tanpa menoleh ke belakang dia bersuara ringan tapi terdengar jelas di telinga.


“Kami tahu kalian mengikuti kami. Siapa kalian dan tunjukkan diri kalian.”


__ADS_2