A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 77 : Menilik - 1


__ADS_3

Medan pertarungan menjadi hening setelah suara aneh itu keluar, tapi tak lama kemudian semuanya kembali berjalan sebagaimana mestinya. Atau itulah yang terlihat di permukaan.


Menghadapi Wess yang meraung gila, Tenor memilih menjauh lalu memberi perintah, “Semuanya, kembali! Mundur dari posisi kalian!”


Perintah yang membingungkan bagi sebagian besar prajurit membuat mereka tak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun, itu tak berlangsung lama sebelum mereka mundur seperti perintah itu.


Bayangan sosok Tenor yang telah terpatri di kepala memainkan peran besar dalam hal ini. Bagaimanapun, dia adalah sosok yang dikenal tak takut akan musuh dan rasional. Jelas bahwa perintahnya kali ini memiliki alasan khusus.


“Ada apa Kapten,” tanya salah seorang tentara.


Memilih diam sesaat, Tenor akhirnya menjawab. “Kita mundur, untuk alasan lengkapnya akan aku beri tahu nanti. Sekarang, bawa yang terluka.”


“YA!” jawab prajurit-prajurit itu serentak, meskipun mungkin ada beberapa orang yang tak puas. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


Dengan membawa rekan mereka yang terluka masuk ke dalam barisan, Tenor dan prajurit Reutania lainnya pun mundur. Meninggalkan tim Night Eye dan Ci dalam kebingungan.


Namun, orang-orang ini tak menyadari bahwa ada sesosok mata dalam bayangan yang melihat semua itu tanpa tanda-tanda peduli sebelum menghilang.


***


Sorak semarai memenuhi telinga, saat Rion, Lily, dan Yurei mulai memasuki Kota Sourt.


Suasana di kota ini ramai, sangat ramai hingga membuat orang pusing hanya dengan memandangnya. Kondisi ini sendiri bahkan lebih parah untuk Rion yang tak menyukai keramaian, apalagi jika itu untuk urusan para manusia.


Memandangi muka Rion yang seperti telah menjalani pertarungan tujuh hari tujuh malam, Lily tertawa kecil. “Hei, bagaimana bisa orang yang akan melawan Eugary Empire jatuh dalam keadaan semacam ini?”


Meski apa yang Lily katakan adalah nyata, tapi orang-orang di sekitar mereka terlalu sibuk untuk peduli. Terlebih dengan nada bercanda yang Lily sematkan.


“Kota ini memang pantas menyandang gelar ibu kota Reutania di Benua Zestia,” komentar Rion pada hal yang tak berhubungan dengan godaan Lily.


Melihat Yurei yang sama sekali tak terganggu, Rion entah bagaimana merasa sedikit tertinggal. “Lily, ayo kita cari penginapan segera. Kita bisa melihat-lihat kota esok pagi, sekarang juga hampir malam.”

__ADS_1


“Itu, benar. Yurei, jangan pergi terlalu jauh. Kita akan mencari tempat menginap dulu.”


Dengan begitu, maka malam yang tenang nan menenangkan pun mereka dapatkan setelah lebih dari tiga minggu tak dapat melewati malam dengan nyenyak. Hal itu terutama untuk Rion dan Lily.


“Hah ... ini jauh lebih baik dari yang terakhir kurasakan,” Setelah merasa lebih dari cukup untuk melepas kelelahan mentalnya, Rion melirik ke arah Lily yang duduk memangku Yurei saat gadis cilik itu tertidur dan bertanya, “Lily, apa kau tahu kapan kapal yang mengangkut penumpang ke Benua Sylius berlayar?”


“Aku hanya mendengar akan ada pemberhentian sementara karena perang, dan yang paling dekat pun masih 4-7 hari lagi.”


Rion mengangguk, diam-diam merasa lega bahwa dia tak mengalami banyak keterlambatan karena tak menemukan arah yang benar sebelumnya.


Melihat reaksi Rion ini, Lily tersenyum tipis. “Hee ... syukurlah ya Rion. Syukurlah.”


Mendengar ejekan (?) Lily, entah kenapa wajah Rion memburuk. Namun, mengingat satu hal dia pun menatap Yurei dan bertanya, “Lily, bagaimana sebenarnya hubungan antara aku dan Yurei?”


“Ayah dan Anak.”


“....”


“Kau tahu dengan jelas bahwa bukan itu yang aku tanyakan.”


“Dan kau harus tahu bahwa apa yang kukatakan sebelumnya bukan lelucon.”


“....”


Sekali lagi, hening.


Dalam menghadapi pernyataan Lily yang menghancurkan akal sehat ini, Rion tak tahu harus mengambil reaksi seperti apa. Setelah menenangkan kebingungan yang terus terbentuk dalam waktu singkat itu, dia menatap Lily seolah meminta penjelasan lebih.


“Rion, kau ingat bahwa aku pernah menjelaskan bahwa Lily telah menjadi Demon Beast?”


Menganggukkan kepalanya, mata Rion meminta penjelasan lebih. Sementara itu, Lily memasang wajah canggung, hal yang akan dia katakan selanjutnya mungkin terlalu sulit diterima.

__ADS_1


“Sebenarnya, sesuatu telah terjadi hingga membuat Yurei lebih seperti seorang bayi daripada sesosok Demon Beast, dan itu membuatnya menjadi seperti sekarang.”


Dengan sedikit kemasaman yang berusaha dia sembunyikan di sudut wajahnya, Lily kembali membuka mulutnya.


“Karenanya bagiku analogi Ayah dan Anak secara garis besar cukup tepat.”


Mengakhiri penjelasannya dengan agak menggantung. Lily menyimpan rahasia bahwa dia juga memainkan ‘sedikit’ hal yang berperan untuk dapat membuat Yurei berakhir dalam kondisi ini. Namun, karena semua berakhir baik —dalam sudut pandangannya sendiri lantaran dapat menikmati tingkah Yurei yang menyegarkan— dia merasa itu bukanlah suatu masalah besar.


“Entah kenapa aku merasa bahwa itu hanya karena keinginanmu saja,” komentar Rion setelah mengingat proposal yang Lily ajukan sebelumnya, untuk menyamar sebagai sebuah keluarga ....


Menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran itu, Rion mulai menggumamkan sesuatu sebelum beranjak dari tempat tidur. Kelelahan mental yang telah dia alami telah hilang, dan dia tahu bahwa dirinya harus mulai terbiasa dengan kerumunan manusia.


Bagaimanapun, jumlah orang yang berkerumun di Benua Sylius, tempat tujuan mereka pasti lebih banyak daripada tempat ini.


Meski begitu, Rion tak dapat mengalihkan tatapannya dari pemandangan Kota Sourt yang menakjubkan. Bahkan saat matahari terbenam kota ini masih sangat hidup.


Dengan sihir penerangan yang menyinari tiap sudut kota seolah ingin menghapuskan setiap sudut gelap, orang-orang lalu-lalang tanpa rasa khawatir. Mungkin ini ada kaitannya dengan keamanan kota yang ini tak lain adalah nomor satu dalam wilayah Reutania Kingdom di Benua Zestia.


Membandingkan Kota Dee dengan Kota Sourt jelas tak mungkin, bagaimanapun di Kota Dee orang-orang masih memiliki kewaspadaan tinggi dan jam malam karena tempat itu lebih dekat dengan garis depan.


“Orang-orang yang terlena,” gumam Rion tak mencela siapa pun.


Meski begitu, kata-kata tersebut seolah diarahkan pada dirinya sendiri yang kini sadar akan batasnya setelah menghadapi Yurei dalam bentuk Phantom Wolf-nya.


Bahkan kekuatan Yurei jelas telah meningkat setelah menjadi Demon Beast, dan Rion bahkan ragu apakah bisa menghadapi gadis cilik itu dalam mode kekuatan penuh. Karena dengan beberapa batasan dari [Covenant of the Seed] yang Lily jelaskan, tidak mungkin dia dapat merasakan kekuatan penuh dari Yurei sekarang.


Dengan bertepuk tangan satu kali yang membuat suara itu terdengar jelas di telinga, Rion berucap, “Kalau begitu, lebih baik kita beristirahat segera sebelum mempelajari kota ini besok.”


Lily mengangguk, menyetujui usulan Rion. Selain itu Yurei telah tertidur lelep terlebih dahulu ....


Setelah pertukaran kata singkat, mereka pun mulai mengistirahatkan tubuh lelah yang telah dipaksa diseret selama beberapa waktu terakhir. Namun, mereka tak dapat menebak hal akan yang terjadi esok hari.

__ADS_1


__ADS_2