A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 49 : Siaga - 4


__ADS_3

Kantor Ditch kini tengah diterpa suasana suram, tak ada setitik cahaya kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh orang yang mendiami ruangan ini. Hanya aura menekan nan mencekam yang berat terasa. Sama halnya dengan raut wajah Ditch yang tidak menunjukkan adanya hal baik, setelah menghela napas pelan dia meletakkan dokumen laporan dari jalannya misi regu satu yang berakhir gagal.


“Jadi begitu ...,” gumam Ditch pelan. Menoleh ke asistennya yang berdiri tepat di sebelah kanan, dia memberi arahan. “Tinggalkan dia sendiri untuk saat ini.”


Asisten Ditch mengangguk, tapi dia masih berada di samping Ditch karena merasa ada hal lain yang ingin kapten penjaga ini sampaikan. Mungkin ini berkaitan dengan intuisinya sebagai seorang wanita.


Ditch memandang keluar jendela dan tak langsung menyuruh asistennya untuk melaksana tugasnya, melainkan dia kini yang jatuh dalam renungan dalam. Kejadian kali ini bukan sepenuhnya kesalahan Dany atau regu satu seorang, melainkan dirinya juga ambil bagian karena telah salah memperhitungkan kekuatan para bandit.


Setelah hening cukup lama, akhirnya Ditch mengucapkan hal yang selama ini berada di ujung lidahnya. “Tolong juga panggil Huge, ada hal yang ingin aku bahas dengannya secara empat mata.”


Sebuah senyum kecil terbentuk di wajah asisten Ditch saat menjawab, “Ya Pak!”


***


Lily sedang berada di kamar yang di sewa Rion di penginapan, baik dirinya maupun Rion tidak sering keluar dari penginapan jika tidak ada sesuatu hal yang benar-benar perlu.


Berbaring di ranjang seorang diri, dia akhirnya mendengar sebuah suara, “Lily, rencana yang pernah kau katakan apa sudah dilakukan?”


“Hoo ... jadi akhirnya kamu penasaran Rion?” tanya Lily yang seketika bangun dari posisinya, mendekat ke arah Rion.


“Untuk penasaran atau tidak aku akan jujur, aku penasaran, tapi itu bukan alasan mengapa aku bertanya. Kau selalu di kamar dan tidak melakukan sesuatu jadi itulah yang membuatku bertanya padamu,” Mengalihkan pandangannya, Rion bergumam, “Aku ingin ini segera berakhir dan melanjutkan perjalanan.”


Lily yang seolah kecewa bahwasanya Rion tidak terlalu tertarik dengan hal yang tengah dikerjakannya kembali menjatuhkan diri ke dalam benaman kasur dan bantal kapas. Dengan nada yang malas dia menjawab, “Rencanaku berjalan lancar, dan sejauh ini masih sesuai rencana. Tunggu dan lihat saja dalam beberapa hari ke depan akan ada berita-berita menarik yang terdengar.”

__ADS_1


Rion melirik Lily sejenak, menyandarkan tubuhnya ke kursi dia memilih memejamkan matanya kembali. Dia yakin akan perasaannya yang tengah mengatakan apa pun yang Lily maksudkan akan menjadi hal yang benar-benar besar, bukan lagi hanya sebuah kata ‘menarik’ yang cukup untuk mendeskripsikannya bagi kebanyakan orang.


“Kenapa sekarang kau diam?” tanya Lily setelah keheningan lama terjadi.


“....”


Lily cemberut, Rion kembali bersikap mengacuhkan dirinya. “Hei Rion ....”


“Ada apa?” jawab Rion dengan mata yang masih tertutup.


“Aku ingin bertanya hal yang cukup sensitif.”


Mendengar hal ini Rion membuka matanya, dia melirik Lily menantikan apa yang ingin ditanyakannya sampai meminta ‘izin’ seperti itu. Meski Lily mengatakan bahwa ini adalah hal sensitif, rapi dia masih acuh tak acuh. Bagaimanapun, Lily sering mengatakan secara langsung apa yang dia pikirkan bahkan saat kata ‘sensitif’ mungkin telah tersemat bagi kebanyakan orang.


“Tidak!” jawab Rion cepat, baginya hal ini tidak terlalu mengusik hatinya. Menatap Lily cermat, dia balik bertanya, “Kenapa kau menanyakan hal seperti ini secara tiba-tiba?”


“Tidak ada alasan khusus, aku Cuma penasaran. Selain itu ...,” Namun, Lily menggelengkan kepalanya tidak melanjutkan perkataannya. “Tidak, tidak apa-apa.”


‘Aku terkadang tidak bisa merasakan kehadiranmu dan merasa ada sesuatu yang asing,’ Itu hal yang ingin Lily sampaikan tapi dia memilih menelan kembali perkataannya. Entah kenapa dia tak mengungkapkan hal ini dan memilih menyimpannya sendiri.


Apa pun penyebab semua itu, menurut Lily itu mungkin bukan hal yang baik untuk Rion mengetahuinya sekarang.


Pasalnya apa yang terkadang Lily rasakan dari aura ‘napas’ yang Rion pancarkan adalah sebuah kehadiran yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Dia yakin apa pun asalnya, itu benar-benar suatu hal yang asing dan juga hal yang benar-benar bukan berasal dari dunia ini.

__ADS_1


Mengalihkan pembicaraan, Lily kembali memunculkan topik lama. “Selain itu, aku punya hal penting yang ingin kukatakan. Apa kau ingin ikut untuk melihat awal dari semua hal menarik yang akan terjadi?”


“Tidak.”


Bahkan jawaban itu telah keluar tanpa Rion pikirkan lebih jauh, seolah telah diatur secara otomatis untuk keluar dari mulutnya.


Akan tetapi, menyerah segera bukan gaya Lily. Apa dia bahkan menyerah untuk membujuk Rion untuk ikut ke dalam ‘pelatihan’ yang dia rancang bahkan jika itu memakan waktu cukup lama?


“Hei ... ayolah, aku akan mati karena bosan jika terus bermain sendiri.”


Namun, jawaban yang sama kembali disuarakan Rion. “Tidak.”


Tanpa menunggu Rion lagi, Lily bangkit. Mengambil satu tangan Rion, dia mulai menyeret secara paksa pemuda itu untuk mengikutinya.


Setelah Rion merenungkan kembali pikirannya agak lama, dia pun menganggukkan kepalanya lemah. Jika terus seperti ini mungkin situasi ini akan segera menjadi lebih buruk dari apa yang bisa dia bayangkan


“Baiklah, baiklah, aku akan ikut.”


Selain itu, Rion juga merasa sedikit bosan akhir-akhir ini, dan ini bukan hal buruk untuk mencari angin segar.


‘Lagi pula tidak ada hal penting dalam rencana balas yang telah kususun untuk dapat dilakukan segera. Aku rasa kudapat menemani Lily selama waktu ini sebentar,’ pikir Rion dalam hatinya yang tengah merasionalisasi tindakan ini.


Dengan langkah ringan seorang gadis dengan warna rambut perak dan seorang pemuda berambut hitam yang diseret di belakangnya melangkah ke luar dari penginapan, mulai menyusuri Kota Dee bersama.

__ADS_1


__ADS_2