A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 33 : Dalam Lapisan Es - 2


__ADS_3

Zee yang tergabung dalam tim Xion kini tengah menulis laporan hasil misi yang dijalani di Benteng Arcchild. Walaupun misi telah berlalu cukup lama dengan sebuah hasil kesuksesan. Namun, untuk rincian misi masih belum diserahkan ke atasan mereka —Cart— karena mengatakan bahwa mereka dapat menulis rincian misi setelah cukup beristirahat.


“Zee, jangan lupa menulis tentang pemuda itu dalam lampiran,” ingat Xion.


“Baik Kapten,” ucap Zee dengan anggukan pelan.


Zee tidak akan melupakan pemuda itu, meskipun dirinya sering melihat orang-orang kuat seperti atasan mereka atau para jenderal. Namun, dia belum pernah melihat orang yang melakukan pembunuhan sesadis yang dilakukan pemuda itu.


Mengingat sesuatu, Zee menatap Xion. “Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemuda itu, apa yang harus kutulis Kapten?”


“Hmm ... benar juga, ya?” Mengingat bahwa ciri tampilan pemuda itu layaknya seorang Elf, besar kemungkinan bahwa pemuda itu memanglah berasal dari Synuere Forest State.


“Tulis saja informasi itu masih tanda tanya,” ucap Xion. Meski besar kemungkinan, tapi hal itu belumlah dapat dibuktikan membuat dia tak berani menuliskan ini secara mudah.


Mengangguk, Zee pun terus menorehkan huruf demi huruf pada dokumen itu. Menghembuskan napas panjang, dia berucap, ”Akhirnya selesai.”


Mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku setelah duduk menulis cukup lama, Zee menyerahkan dokumen itu pada Xion.


“Kapten, dokumen itu akan kau serahkan langsung pada Mayor Cart atau lewat asistennya?”


Mendengar Zee yang mengangkat topik ini, wajah Xion masam. “Aku rasa lebih baik langsung ke Mayor Cart. Kau tahulah bagaimana hubunganku dengan asisten Mayor, dia sepertinya membenciku.”


“Baiklah Kapten, aku serahkan padamu,” ucap Zee mengantar kepergian Xion yang segera bergegas menuju kantor Mayor, berniat menyerahkannya secara langsung.


Melewati lorong ramai, akhirnya Xion sampai di tempat tujuannya. Mengetuk pintu tiga kali sebelum akhirnya pintu terbuka, dia pun masuk.


“Mayor,” salam Xion sebelum mengatakan tujuannya secara singkat.


Menyerahkan laporan di tangannya, Xion masih berada di tempat saat Cart mulai membaca laporan itu.


Namun, matanya terlihat berhenti saat melihat isi lampiran pada laporan tersebut hingga membuatnya mengerutkan kening. “Huh ... aku rasa ini akan menjadi lebih merepotkan,” gumamnya.

__ADS_1


“Ada apa Mayor?”


“Tidak, tidak apa-apa. Laporanmu telah aku terima dan kau bisa kembali sekarang.”


Meski merasa ada yang disembunyikan oleh Mayor, Xion mengangguk dan undur diri menyisakan Cart sendirian.


Melihat bahwa tiada orang lain selain dirinya, Cart tenggelam dalam pikiran. Menurutnya, siapa pun pemuda yang dimaksud oleh Xion dan timnya akan menjadi sebuah fenomena yang memengaruhi jalannya perang, hanya dengan tingkahnya saja pemuda itu dapat menurunkan kekuatan pasukan dengan menghancurkan moral mereka.


Meski dirinya sendiri sebenarnya seorang major jenderal yang tengah menyamar sebagai seorang mayor guna menyelidiki dugaan adanya pengkhianat di antara para bawahan. Namun, dirinya tidak menyangka akan mendapat informasi sepenting ini, jika informasi ini diabaikan bisa terbayang apa yang akan terjadi ke depan.


Cart berjalan ke jendela, mengamati Kota Beat yang sibuk dengan hiruk pikuk aktivitas penduduk biasa. Walaupun mereka tengah masuk ke dalam badai peperangan yang juga tak menguntungkan, tapi para warga percaya bahwa negara mereka akan dapat mengatasinya.


“Aku rasa harus melaporkan hal ini secara rahasia pada Jenderal Liar, jika orang semacam itu memang ada ...,” Membayangkan kejadian yang dituliskan dalam lampiran Cart bergidik. “Aku yakin jika pun kita dapat mengatasinya, tapi dampak moral untuk para prajurit akan bertahan lama.”


Cart menyobek lampiran mengenai pemuda itu dari laporan di tangannya. Laporan yang berisi ciri-ciri serta tingkah yang ditunjukkan pemuda itu selama pertarungan, dia menyimpannya secara terpisah dan menyegelnya sebagai rahasia sebelum mengirimkan file itu kepada Jenderal Liar.


“Aku juga harus meminta Xion dan timnya tutup mulut tentang apa pun yang menyangkut pemuda,” Melihat banyaknya hal yang harus diurus dengan kehadiran informasi ini, Cart menghela nafas panjang.


‘Yang tidak diketahui memang menakutkan,’ pikir Cart saat tatapannya pada pemandangan kota kian tenggelam.


Selang beberapa minggu sejak laporan itu dibuat. Di sebuah ruangan sempit dengan penerangan remang bahkan cenderung gelap, Cart sedang berbicara serius dengan Liar.


“Apakah informasi ini benar Mayjen Cart?” tanya Jenderal Liar pada Cart.


“Dari semua hal yang dikatakan tim yang dimaksud, hal ini tidak terlihat mengada-ada. Namun, dalam waktu dekat ini tidak ada satu pun kabar mengenai tindakan pemuda itu,” jawab Cart. Mengingat tingkah pemuda yang dimaksud, menurutnya kecil kemungkinan bahwa tindak tanduk pemuda itu tak menghasilkan sebuah berita.


“Keadaan ini terasa seperti pisau yang menggantung di lehermu,” komentar Liar. “Walau kau tahu hal ini akan datang, tetap saja terasa sulit mengatasinya. Bahkan informasi kita tentang pemuda itu saja sangat terbatas,”


Lanjutnya.


“Ya, ini adalah masa yang sulit bagi kita.” Cart menanggapi, buka hanya pada masalah yang tengah dibahas tapi juga masalah secara keseluruhan.

__ADS_1


“Bagaimana dengan tugas penyamaranmu? Apa kau sudah terdeteksi kandidat siapa saja yang merupakan pengkhianat?”


Saat topik ini disinggung Liar, Cart menggelengkan kepalanya.


“Itu juga masih sulit, meski begitu aku sudah mendapatkan beberapa nama yang mencurigakan.”


“Aku tak tahu apa alasan mereka, tapi karena para pengkhianat itu setiap rencana penyerangan kita pada Reutania Kingdom mendapati banyak kegagalan.”


Mendengar keluhan ringan Liar, Cart juga merasa sama beratnya. Meski sebaik apa pun rencana mereka, jika terdapat pengkhianat di antara mereka maka rencana sebaik apa pun akan percuma. Bagaimanapun dengan informasi yang didapat, musuh dapat menyiapkan metode yang tepat untuk menghadapinya.


Banyak masalah yang harus di hadapi membuat tangan Liat semakin penuh. Tak memiliki banyak pilihan dia pun memutuskan.


“Untuk sekarang tugaskan Xion beserta timnya untuk menjadi pengumpul informasi mengenai pemuda yang dimaksud. Karena mereka juga pernah melihatnya secara langsung, kurasa itu akan sangat membantu dalam pengumpulan informasi.”


“Baik, Jenderal.”


Membahas hal lain sejenak, Cart akhirnya pergi setelah pamit dengan Liar.


Setelah Cart pergi, tinggal Liar lah satu-satunya orang yang tersisa di ruangan. Namun, dia segera menatap ke salah satu sudut ruangan.


“Keluarlah,” ucap Liar tenang.


Suara masih menggema saat beast-kin dengan sosok seperti kadal dengan kulit yang sedikit transparan muncul. Berjalan ke arah Liar, beast-kin itu membungkuk hormat lalu berlutut.


“Jenderal.”


Tak berbasa-basi seperti saat berhadapan dengan Cart, Liar langsung menyatakan maksudnya. “Tolong awasi tim yang ditugaskan mengumpulkan informasi mengenai pemuda yang baru saja aku bicarakan, mengerti Ci?”


“Apa ada yang khusus mengenai tugas ini Jenderal?”


“Jika pemuda memanglah seperti yang terdapat pada laporan, maka dia bisa menjadi sangat berbahaya. Jika kau telah menemukannya dan menurut penilaianmu pemuda itu termasuk kode E-2 ...,” Cart memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, “Habisi dia segera, paham?!”

__ADS_1


“Paham!” Setelah berkata demikian, Ci segera menghilang dari pandangan Liar.


Liat menyadarkan tubuhnya, menghembuskan nafas panjang kini dia benar-benar sendiri. Mengingat masalah sebelumnya, dia bergumam, “Huh ... pemuda itu dapat menjadi pengacau dalam keamanan negeri ini.”


__ADS_2