A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 65 : Di Lain Sisi - 3


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Ditch dan Huge tengah bertemu secara pribadi di ruangan khusus. Dengan lilin yang menjadi sumber utama cahaya, ruangan ini terasa agak remang-remang.


Setumpuk dokumen tebal terletak di atas meja, dokumen dari kejadian yang baru-baru ini membuat tangan mereka penuh. Bersama dengan sihir anti-penyadapan yang dipasang sebagai langkah preventif dari kebocoran informasi ke tangan pihak ketiga, menunjukkan dengan jelas bahwa isi pembicaraan ini sangatlah rahasia.


Bahkan setiap dokumen tidak pernah ditangani oleh seorang individu secara tunggal kecuali mereka yang ada di ruangan ini, Ditch dan Huge.


“Huge, sebenarnya jika tanpa laporanmu mungkin kita akan menghadapi orang yang merepotkan,” puji Ditch pada kinerja Huge. Namun, mata dan jari jemarinya tetap tak beranjak dari tumpukan dokumen di depannya.


“Terima kasih Kapten atas pengakuannya,” Meletakkan dokumen di tangannya, Huge bertanya, “Jadi Kapten. Apakah Anda sudah dapat memastikan bahwa kelompok tentara bayaran Overflow adalah sekelompok bandit? Ataukah perampokan itu hanya inisiatif pribadi mereka.”


Mendengar pertanyaan ini, Ditch merasa tak berdaya. Menyadarkan tubuhnya, dia menghembuskan napas panjang.


“Sebenarnya ini sulit dipercaya, tapi ... saat Pirlo yang memegang posisi sebagai wakil ketua di kelompok itu sudah sadar, dia mengakui semua hal yang mereka sembunyikan selama ini. Bahwa mereka memang memiliki sisi sebagai bandit, bukan hanya di Benua Zestia, tapi saat berada di Benua Sylius mereka juga sama. Meski aku tak tahu mengapa dia dapat dengan mudah membongkar hal ini.”


Mata Huge menunjukkan keterkejutan, ini memanglah kenyataan pahit. “Selanjutnya, apa yang akan Anda lakukan sebagai tanggapan atas kasus ini Kapten?”


“Tidak ada yang khusus, tapi sepertinya kita akan melakukan pengawasan yang lebih ketat pada kelompok tentara bayaran lain. Walau tak seperti semua kelompok tentara bayaran memiliki sifat Overflow, tapi setidaknya solusi ini dapat menenangkan seluruh pihak.”


“Ya, sudah kuduga akan seperti itu, tapi Kapten. Untuk pemuda yang dimaksud orang-orang itu sendiri bagaimana? Kurasa kita tak bisa melupakan ini begitu saja.”


“Entahlah Huge, kita hanya mendapat gambaran kasar mengenainya, mulai dari ciri-ciri fisiknya hingga dikatakan bahwa dia akan terlihat sedikit menonjol karena wajahnya. Namun, kebanyakan hal yang disampaikan oleh mereka itu terasa sangat berlebihan. Aku tak tahu apa yang mereka lihat hingga dapat berakhir seperti ini, bahkan Pirlo juga termasuk ke dalam kelompok tak masuk akal itu. Dia bahkan menyebut bahwa pemuda itu adalah perwujudan iblis yang keluar dari neraka.”


Ditch menatap Huge, dia merasa beban yang diterima Huge dalam misi kali ini lebih besar dari yang dikiranya. Memikirkan tingkat kontribusi mereka dalam hal ini, sepertinya mereka patut mendapat beberapa hadiah kecil.


“Huge, kau akan kembali ke Benua Sylius dua bulan lagi kan?” Melihat bahwa Huge mengangguk, Ditch melanjutkan perkataannya. “Kalau begitu aku akan mempercepat kepulangan kalian, bukan hanya kau tapi seluruh timmu akan kembali ke ibu kota. Kurasa dengan bakat di tim kalian, kau lebih baik kembali.”


“Tapi kapten, keadaan di sini sendiri cukup runyam. Aku merasa tidak nyaman meninggalkan tempat ini pada saat-saat seperti sekarang.”


“Untuk urusan perang jangan khawatir, kita tidak akan melakukan perang dalam waktu dekat, mungkin 2-3 bulan ke depan. Para petinggi telah memutuskan menunggu pasukan solid sebelum melancarkan serangan. Selain itu, mata-mata dari Beatria Union sendiri melaporkan bahwa mereka tidak akan memulai perang, apalagi mereka juga menghadapi Eugary Empire dan Marina Kingdom, mereka tidaklah seleluasa itu untuk menghadapi kita.”

__ADS_1


“Baik Kapten,” ucap Huge dengan berat hati. Selain itu, bayangan akan orang yang dia anggap sebagai orang tua mulai hadir, mungkin ini saat yang tepat untuk menemuinya.


Meninggalkan ruangan itu, Huge memasuki kamar yang menjadi markas tim kecilnya. Terlihat Ernest sedang duduk bersama Tue meminum teh yang ada di depannya dengan tenang. Sementara Dany, Kent, dan Rico memilih berdiri di dekat pintu masuk dan berbincang-bincang kecil. Mungkin menantikan perintah lebih lanjut yang akan diberikan pada mereka.


Melihat Huge yang telah kembali, Dany bertanya, “Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kapten tim ...!”


Huge menghela napas, melihat bahwa Dany sepertinya masih belum tenang karena tak bisa melampiaskan amarahnya pada anggota kelompok Overflow yang tersisa.


“Sebenarnya kita akan kembali ke Benua Sylius, dan kita mungkin akan menerima tugas baru setelah sampai di sana. Apa ada yang ingin melakukan sesuatu sebelum kita pergi dari sini?”


“Tidak ada.” Balas Dany sebelum meninggalkan ruangan itu.


“Yang lain? Apa yang ingin kalian lakukan?”


“Aku ingin istirahat penuh, saat dalam perjalanan pasti stamina kita akan terkuras,” Setelah Rico mengatakan ini, Kent dan Tue pun pergi dengan nada serupa.


“Jadi, apa yang akan kau lalukan Ernest?”


“Bukankah semua hal sudah dia sampaikan pada Kapten Ditch?”


“Tidak. Aku ada alasan tersendiri untuk menemuinya, dan tentu saja bukan untuk bertindak hal bodoh.”


Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pemuda itu sebenarnya? Mengapa pemuda itu melenyapkan Overflow? Bagaimana jika itu kejadian pemuda itu dan kejadian yang menimpanya saling berhubungan? Namun, bagaimana jika ...


Itu adalah hal-hal yang terus berputar di kepala Ernest, dan dia ingin memastikan semua itu sendiri.


“Hah ... apa kau berpikir terlalu banyak lagi Ernest?” Melihat bahwa Ernest masih diam pada pertanyaannya, Huge memilih duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan, “Apa kau masih memikirkannya?.”


Mengangguk lemah, Ernest menjawab lirih, “Ya ... hal itu masih menggangguku.”

__ADS_1


“Aku tahu apa yang kau ingin katakan,” Mendahului Ernest yang ingin membuka mulutnya, Huge berucap, “Apa semua itu berhubungan, bukan? Tapi untuk saat ini lihatlah sekelilingmu, kamu tidak sendiri. Saat kau kesusahan aku, tidak, kami akan membantumu.”


Ernest menundukkan kepalanya, dia menjawab lemah, “Baiklah ...”


Huge menepuk punggung Ernest pelan, “Mulai sekarang jangan pernah memendam apa pun sendirian lagi. Kau harus berjanji padaku, sebagai kapten tim ini, aku akan membantu.”


Senyum terpasang di wajah Ernest. “Baiklah Huge, bukan, Kapten.”


“Kalau begitu, akan kulaporkan permintaan dulu.”


***


Tak perlu menunggu lama, permintaan Huge disetujui. Di sebuah ruang isolasi, Pirlo, wakil ketua kelompok bernama Overflow yang telah hancur sedang duduk di kursi yang disediakan untuknya. Dengan tangan dan kaki yang tertahan, dia menatap pintu di depannya yang segera terbuka.


Tiga orang berjalan masuk, menampakkan sosok Ditch, Ernest, serta Huge setelah mereka sudah cukup dekat dengan sumber cahaya.


Pirlo mendongak, dia menampakkan sedikit senyum, seolah mengetahui apa maksud dan tujuan mereka datang kemari. “Jika kalian ingin bertanya ... maka aku sudah mengatakan semua yang aku tahu. Orang itu adalah iblis dari iblis.”


“Apakah benar seperti itu?” sanggah Ernest, “Jika dia iblis dari iblis maka kalian itu apa?!”


“....”


Pirlo diam, dia tidak merasa perlu menanggapi perkataan tersebut.


Mengatur napasnya, Ernest berusaha menenangkan emosinya. Tujuannya kemari bukanlah untuk main hakim, menatap Pirlo tajam ada satu hal yang ingin dia pastikan.


Jika itu terjawab, mungkin puzzle di kepalanya akan segera terpecahkan. “Aku hanya ingin bertanya, apa kalian sebenarnya tahu siapa orang yang menghancurkan kelompokmu bukan?”


“Hahahaha. Ya! Kami tahu bahwa dia bukan manusia! Bahkan penampilannya sama sekali bukan yang dapat manusia miliki, dia iblis! Jelas bahwa dia adalah iblis dengan topeng yang seperti dapat mencuri jiwa orang-orang. Kau puas?!”

__ADS_1


Namun, hanya jawaban gila yang terus keluar tak peduli berapa kali pertanyaan dilontarkan.


__ADS_2