
Suhu di daerah ini mendingin dengan cepat. Beberapa bunga es kering bahkan terbentuk, hasil dari udara yang menyublim. Dinding es kini mulai terbentuk, jatuh dari atas ke bawah seolah tirai yang tengah diturunkan.
Bersama getaran yang ramai terjadi, tanah pun tenggelam saat menahan berat dinding es yang jatuh. Makhluk-makhluk malang yang tak sempat menghindar pun terperangkap di dalamnya, tak dapat dipastikan apakah mereka masih hidup atau mati kedinginan.
Namun, lapisan es baru segera terbentuk dari bawah, menjadikan dinding es yang awalnya seolah memaksa hadir menjadi satu kesatuan yang padu. Lengkap sudah penjara es ini bagi mereka yang terperangkap.
Crak
Suara pecah terdengar, hasil dari kehancuran beberapa benda yang tak mampu menahan tekanan hawa dingin yang dilepaskan.
Melihat secara lebih besar, medan pertempuran kini terbelah menjadi dua. Di mana pada satu sisi adalah tempat Lily dan kawanan Ghost Wolf itu berada, sedangkan di sisi lainnya adalah tempat berduel antara Rion dan Phantom Wolf.
Dinding es itu menjulang tinggi dengan hawa dingin menusuk tulang di sekitarnya, seolah menyiratkan tak akan membiarkan siapa pun untuk melewati garis pembatas yang dibuat.
Menyadari maksud kemunculan dinding es ini, Rion mulai menyerang Phantom Wolf di depannya dengan lebih ganas. Jelas sudah bahwa dia tak perlu memikirkan apa yang ada di bawahnya lagi seperti sebelumnya, membuat tiap langkah yang diambil terkesan lebih berani.
Pedang di tangan Rion mulai berayun indah, naik dan turun, ke kiri maupun ke kanan berusaha menemui targetnya. Dengan gerakan dari [Edge Art] sebagai dasar, serangannya semakin sulit untuk di hadapi.
Namun, gelar 'Alpha' yang dimiliki Phantom Wolf bukan hanya sebuah pertunjukan. Tidak hanya kekuatannya yang jauh lebih tinggi dari Ghost Wolf, melainkan juga dalam hal akal dan otak.
Mengelak dengan mengandalkan kecepatan miliknya serta kemampuan mobilitas di udara yang jauh mengungguli lawan. Phantom Wolf terus bergerak cepat, menghindari serangan Rion dengan memberi satu atau dua pukulan balasan.
Melihat bahwa sebuah baut kilat menuju arahnya, Rion melepaskan sihir. "Magic: Shield!"
Namun, dengan posisi yang berada dalam kerugian, Rion tak bisa banyak berharap dan masih terpental mundur. Menyesuaikan postur di udara, dia mendarat tanpa banyak luka dan kembali memandang Phantom Wolf.
"Blessing Wind," Rion segera menghilang dari posisinya sekarang. Saat dia muncul kembali, dirinya telah berada tepat di samping Phantom Wolf.
Tang!
Bunyi berdentang terdengar saat pedang Rion berhasil ditahan dengan kaki depan. Bunga api mulai tercipta saat serangan itu berlanjut, bertambah cepat tapi keduanya masih dalam posisi berimbang.
Rion mundur, mengambil napas sejenak. Namun, Phantom Wolf tak mungkin membiarkan hal itu berjalan dengan lancarnya.
"Awuuu!" Lolongan tinggi nan menggelegar terdengar, dan serangan gelombang suara yang secara ganas menyerang Rion mulai berdatangan.
__ADS_1
Rion terus mengelak, sembari membentuk beberapa perisai sihir untuk menahan serangan yang tak bisa dia hindari. Kecerobohan sekecil apa pun kini tak diterimanya, dan dia tak ingin mengetahui apa dampak dari kecerobohan itu.
Bilah-bilah angin hitam menghujani Rion, tak dapat disangkal bahwa ini frekuensi serangan itu menakutkan. Namun, Rion tak hanya berdiri dengan bodoh untuk menerima serangan itu.
Dia bergerak dengan luar biasa, baik itu kecepatan maupun manuver yang Rion tunjukkan kini benar-benar menantang batas dari kelenturan sebuah tubuh.
"Aku harus mendekat ke arahnya," Setelah menggumamkan hal ini, Rion terus memperpendek jarak antara dia dan Phantom Wolf dengan cepat sebelum menyerang. "Sword of Thorns!"
Tusukan demi tusukan dilakukan, berusaha menembus kulit tebal tapi tak akan mungkin semua berjalan semudah itu.
"Graaahhh!" Arus kilat mulai terbentuk di bulu-bulu Phantom Wolf, membuatnya kini bersinar dengan kilatan kilat yang membalutnya.
Rion berdecak kesal, langkah ini jelas memaksanya untuk mundur dan membuat Phantom Wolf mulai kembali mengambil alih kemudi. Dengan serangan gelombang suara yang dilancarkan, tanah terus berguncang, kilat hitam sesekali jatuh tapi tidaklah sesering itu.
Semua karena Rion terus menempel seperti lalat pada Phantom Wolf, membuat serangan monster itu tak dapat seganas itu.
Saat sebuah celah berhasil dia tangkap, Rion berbalik. "Magic: Flame Raise!"
Cahaya merah pijar melesat, menuju sosok Phantom Wolf yang tengah terbang. Serangan terus berlanjut hingga memaksa monster itu bungkam, tak dapat lepas dari Rion setelah jatuh dalam langkah ini.
Namun, ini jelas bukanlah sebuah akhir.
Bergerak dengan sigap, Phantom Wolf berhasil mengelak serangan itu. Namun, itu tak berlaku untuk sayap besarnya. Dengan sebuah sambaran itu sayap kanannya mulai berkedut, lumpuh dan tak mampu bergerak sesuai keinginannya, membuat sang alpha itu jatuh dari Angkasa.
Rion tersenyum, meski ini sedikitnya t berbeda dari harapannya, tapi hasil akhirnya tak jauh berbeda dari apa yang dia harap sebelumnya.
Rion ingin segera melanjutkan, tapi dia tak dapat berbuat banyak setelah Phantom Wolf itu bangkit dan bergerak cepat.
"K-ka ... mu ...," suara lemah terdengar dari Phantom Wolf. Sebuah suara yang sangat lemah hingga segera tertutup deru pertarungan, tak sampai ke telinga lawan bicara.
Rion maju, pedang di tangannya terus berayun liar, dia sadar bahwa dia tak bisa terus menggunakan sihir. Bagaimanapun, mananya bukanlah tidak terbatas meski telah mendapat peningkatan pemulihan.
Prang!
Pedang di tangan Rion hancur, setelah ratusan, bahkan mungkin ribuan kali beradu dengan cakar tajam Phantom Wolf.
__ADS_1
'Aku benar-benar tak beruntung akhir-akhir ini,' pikir Rion meratapi pedang di tangannya. Menjauh dari Phantom Wolf, dia mengambil tombak (?) yang telah lama dia abaikan karena ukurannya yang tanggung.
Dengan senjata yang telah berubah, maka rencana Rion sebelumnya pun dibatalkan dan mencari rencana baru.
"Magic: Pool," Genangan air mulai tercipta, luas genangan air itu terus meluas hingga mencakup area luas.
Rion maju, meski medan telah sedikit berubah tapi keduanya masih menjadi seimbang. Setidaknya sampai langkah Rion selanjutnya.
"Raising Upper Cut!" Meninggalkan tombaknya, tangan Rion memukul Phantom Wolf hingga monster itu terangkat.
Tidak membiarkan Phantom Wolf memulihkan posisinya, Rion menempel ke tubuh monster tersebut.
"Magic: Pillars!"
Medan di bawah mereka kembali Rion ubah, pilar-pilar batu mulai tercipta, menjulang tinggi. Seolah instingnya membunyikan tanda bahaya, Phantom Wolf kembali menyalurkan kilat ke seluruh tubuhnya berharap Rion akan mundur, tapi hal itu tak terjadi karena Rion mencoba tetap bertahan di posisinya.
"Ke ... na ... pa ...?"
Phantom Wolf mempertanyakan Rion, seolah dia menyadari ada hal yang tidak biasa. Benar, itu karena dia sama sekali tidak merasakan biat membunuh dari Rion.
Seolah Rion tidak benar-benar ingin membunuhnya, padahal biasanya seseorang akan mengeluarkan niat membunuh pada lawannya. Apalagi dalam penentuan hidup dan mati seperti sekarang, setidaknya itulah yang selalu Phantom Wolf rasakan dari orang-orang yang pernah melawannya. Walau dia masih tergolong muda, tapi dia tahu betul bahwa instingnya tidak salah.
Boom!
Ledakan keras terjadi di atas tempat Phantom Wolf, tak hanya berdampak padanya tapi juga Rion yang menempel di punggungnya. Membuat mereka terhempas ke bawah.
"Magic: Friction!" Kobaran api menyelimuti ujung tombak Rion, saat tombak bersentuhan dengan tubuh Phantom Wolf, ledakan panas berlangsung.
Phantom Wolf tampak terkejut melihat kobaran api yang tiba-tiba menyelimuti dirinya. Memanfaatkan situasi ini, Rion mengangkat tubuhnya ke atas dan melanjutkan serangan. "Meteor Javelin!"
Tombak dilemparkan dari jarak dekat, tubuh Phantom Wolf terhempas jatuh. Pilar-pilar baru mini seolah menjadi pasung yang menahan tubuhnya.
Darah mulai keluar, mungkin luka ini tak dalam Rion terus menekankan kekuatannya. Berusaha menahan Phantom Wolf lebih lama lagi. Bagaimanapun, jika dia menyingkir maka pilar-pilar batu ini tak mungkin dapat menahan kekuatan dari Phantom Wolf.
"Magic: Elektro," Kilat biru menyebar ke tubuh Phantom Wolf. Dengan tombak sebagai pusatnya dan genangan air turut serta menjadi media, kilatan itu segera menyebar dengan cepat menyelimuti tubuh Phantom Wolf.
__ADS_1
Namun, dengan kekuatan pertahanan jauh di atas normal. Hanya kelumpuhanlah yang dialami Phantom Wolf, membuatnya menutup mata, tahu bahwa ini adalah akhirnya.
Tak lama kemudian, dinding es itu memudar, hancur menjadi serpihan es. Siluet seorang gadis memperlihatkan dirinya di tengah kabut dingin yang mulai bertiup, dia berjalan anggun ke arah Rion dan Phantom Wolf.