A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 28 : Pengejaran - 3


__ADS_3

Cahaya merah kekuning-kuningan terpancar, ular biru kilat terlihat bergerak liar. Pepohonan yang berdiri di sekitar tempat pertarungan mulai hancur, terpotong menjadi beberapa puluh bagian.


Mengambil napas dalam, Rion mulai melancarkan serangan balasan. Keterkejutan terlihat dengan jelas di mata para pengejarnya atas perubahan yang diambil Rion.


Memanfaatkan kesempatan ini, cambuk di tangan kiri Rion berayun, mengikat salah satu musuhnya dengan erat hingga kemungkinan pengejar ini dapat terlepas adalah nol. Wajah pengejar malang itu terlihat berwarna putih pucat, dadanya terasa sesak atas cambuk air yang kini melingkar di tubuhnya.


Namun, itu belum seberapa saat kilat mulai muncul, melumpuhkannya sejenak dengan ketahanan tubuhnya yang relatif rendah. Rion tak melepaskan kesempatan ini, dia menerjang dengan tinju berapi di tangan kanannya yang segera saja mulai memberi musuhnya luka bakar parah.


“Arrggghhhh!” Pengejar itu berteriak saat rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit kian membuncah atas suhu tinggi nan panas yang membakar tubuhnya hingga berubah menjadi arang dalam waktu singkat.


“Sialan kau! Tak peduli lagi soal misi atau apa pun! Kau akan aku bunuh!” Fold berteriak melampiaskan luapan emosi yang dia rasakan.


Raut wajah Fold berubah menjadi menyeramkan layaknya sesosok iblis yang baru saja dipanggil keluar dari neraka.


Pengejar itu, orang yang telah Rion bunuh sebelumnya adalah kekasih Fold.


Walaupun secara resmi keduanya belum menikah, tapi mereka telah berjanji akan melangsungkan pernikahan setelah kembali ke Benua Sylius saat tim yang akan menggantikan peran mereka datang sekitar dua atau tiga bulan mendatang. Namun, angan untuk dapat hidup berdua sampai menua bersama telah sirna ... sekarang semua itu telah sirna.


“Haaa!” Diiringi teriakan murka Fold, dia maju menerjang Rion.


Dengan mengacungkan belati di tangannya, cahayanya kini kilau membuat lintasan serangan yang secara liar menyerang sosok yang tanpa ragu membunuh kekasihnya dengan tanpa ampun dan membabi buta.


“Tunggu Fold!” teriak Ale yang ingin menghentikan Fold. Namun, tangan besar Marco segera menghentikannya.


“Kenapa?! Kapten tolong lepaskan!” Ale semakin panik saat melihat Fold yang segera terdesak saat berhadapan secara langsung dengan Rion, meski anggota yang lain juga ingin membantu. Namun, suhu panas yang dilepaskan oleh target misi mereka itu membuat anggota lain dalam tim ini tidak dapat membantu dalam waktu lama.


Anggota tim yang lain hanya dapat sekali dua kali melepaskan serangan pada target mereka untuk membeli waktu, membuat Rion harus mengalihkan perhatian dari Fold di depannya sejenak.

__ADS_1


Karena itu pula hingga kini Fold masih dapat berdiri dan bertahan untuk waktu lebih lama. Namun, Ale tahu hal ini tidak akan dapat bertahan selamanya.


Menatap Marco yang menghentikan tindakannya, Ale berteriak, “Kapten—“


“Fokuslah pada tugasmu!” teriak Marco menghentikan ‘rengekan’ yang akan diutarakan Ale lebih lanjut.


“B-baik,” ucap Ale tergagap karena gugup bercampur ketakutan.


Tatapan dingin terlihat di mata kapten ksatria mereka, dan saat Ale menatap mata semacam itu secara tak langsung membuat nyalinya meringsut. Selama ini Marco yang dia kenali tidak akan pernah memberikan tatapan semacam ini, tatapan berisi ketidakpedulian pada kehidupan bawahannya, seolah kehidupan bawahannya itu tak menjadi tanggung jawabnya sama sekali dan hanya mementingkan misi.


Namun, Marco menghela napas pendek pada Ale sebelum melanjutkan perkataannya. “Fold dan aku akan menghadapi musuh kita. Ingat! Misi yang kita jalankan adalah membawa target hidup-hidup, karena itu aku akan menghentikan tindakan yang akan mengancam kesuksesan misi. Ingat hal ini.”


Mendengar ini, Ale mengambil napas lega, Marco tetaplah Marco.


Ale kini memahami bahwa Marco tidak akan membuat tatapan semacam itu jika bukan karena rasa bersalahnya atas kejadian di benteng serta terbunuhnya Duke. Karena itu pula, apa pun yang terjadi sang kapten ksatria akan memastikan misi ini berhasil.


“Ya!” jawab serempak yang lain sembari mundur menjaga jarak aman.


Setelah tim melaksakan perintahnya, Marco mulai maju menghadapi Rion yang tinggal satu langkah lagi akan menghabisi Fold.


Tang!


Dentangan keras menggema saat tinju Rion beradu dengan perisai besar di tangan Marco. Meski berhasil menahan serangan yang akan menghabisi Fold, tangan perisai itu sampai sekarang terus bergetar saat mencoba bertahan dari pukulan yang terus dilayangkan lawan.


Merasakan kekuatan yang dilepaskan Rion, Marco sedikit terkejut, platinum level!


Meski dia tak dapat menentukan kekuatan Rion secara pasti, tapi diragukan lagi kekuatan yang dirinya rasakan hanya dapat dilepaskan oleh mereka yang berada di tingkat kekuatan platinum level.

__ADS_1


Namun, Marco mencoba bertahan dengan kekuatannya sendiri yang ada di tingkat gold level 10, tinggal selangkah lagi untuk mencapai tingkat platinum level. Meskipun hanya berjarak satu tingkat, tapi perbedaan sebenarnya antara tingkat gold dan platinum bukan hanya kapasitas mana saja, melainkan kualitas mana itu sendiri yang ‘dimurnikan’ setelah menembus level itu.


Karena alasan ini pula semua serangan yang dilepaskan oleh seorang platinum level menjadi lebih kuat dari yang lain, bahkan jika itu hanya teknik tingkat rendah.


Meskipun hal serupa terjadi setiap peningkatan tingkat kekuatan. Namun, akumulasi pemurnian mana yang terjadi di platinum level amat menenangkan hingga sering disebut sebagai titik balik.


Pikiran Rion kini dalam kondisi sepenuhnya fokus pada pertempuran di depannya, membuat seluruh indranya mencapai tingkat kepekaan yang ekstrem yang dapat dicapainya.


Dia tak lagi mempertanyakan ataupun memikirkan siapa yang tengah dihadapinya, melainkan hanya fokus pada satu hal yang kini memenuhi pikirannya, mengalahkan semua lawan!


Merasakan bahwa lawan dapat bertahan melawan pukulan bersuhu tinggi yang dia lepaskan. Rion mengumpulkan lebih banyak butiran air sembari mulai mengubah bentuk cambuk ular di tangan kirinya.


Saat Rion merasa ini mencapai titik yang dia inginkan, suhu di tangan kirinya pun turun drastis bersama es yang mulai terbentuk dengan percikan kilat yang masih mengalir padanya.


Sebuah tampilan yang sangat kontras terlihat. Di mana nyala merah menyala dengan bermandikan api bersuhu tinggi di sebelah kanan, sedangkan cahaya kebiruan cantik bersanding dengan es bersuhu rendah di sebelah kiri.


Menatap lawan, Rion mulai melancarkan pukulan ke arah Marco secara bertubi-tubi dan cepat yang segera membentuk rantai serangan solid.


Marco mencoba membela dari serangan yang dilancarkan Rion, serta sesekali menyerang dengan pedang di tangannya yang lain. Dia memberi sinyal pada yang lain untuk menyerang, tapi serangan yang dilancarkan itu tidak memberi lawan luka berarti.


“Mundur! Beri dia rantai serangan jarak jauh saja!” perintah Marco setelah melihat beberapa anggota tim lain yang tewas terkena pukulan dingin beku Rion yang dilanjuti pukulan panas membakar.


Memasang perisai di depan, Marco menerjang. “Immobile Fortress!”


Marco telah berniat memukul mundur Rion dengan teknik ini sekaligus melindungi bawahannya dari serangan lawan yang kian menggila. Namun, serangannya hanya di tahan lawan dengan mudah dengan es yang tercipta bersama pukulan yang juga memperlambat laju geraknya.


Mendecakan lidah, Marco bergumam, “Ini akan lebih sulit dari yang aku kira ....”

__ADS_1


__ADS_2