
Ledakan dan dentangan menggema di dataran putih, membuat serbuk putih dingin beterbangan ke segala arah. Dalam kawasan yang disebut sebagai zona kematian, Rion tengah melakukan latih tanding terakhir dengan Lily.
Waktu enam bulan telah terlewati dengan cepat, tak seperti harapan Rion bahwa Lily hanya sedang bermain-main. Gadis itu benar-benar serius dalam melangsungkan pelatihan untuknya.
Pada bulan pertama, Rion melakukan latih tanding yang bahkan tidak bisa digambarkan sebagai latihan karena hasilnya dapat digambarkan dengan singkat, kekalahan total!
Karenanya saat Rion menggunakan sihir dalam keadaan bertarung dengan mengadakan latih tanding dengannya hampir setiap hari, dia mempelajari banyak hal yang juga menjadi kelemahannya. Mulai dari gagalnya mengeluarkan sihir yang akan dilepaskan, keterlambatan tempo merapalkan mantra , pemotongan mantra lawan, hingga kesalahan kecil seperti pemborosan mana yang tanpa disadarinya telah dilakukan.
Setelah Rion membenahi hal ini dan terus merasakan kekalahan total dari Lily, seluruh respons, gerakan, serta kontrolnya terhadap sihir tidak dapat dibandingkan dengan sebelumnya.
Selain itu, Rion mulai terbiasa dengan tingkah Lily yang terkadang memberinya serangan kejutan serta beberapa jebakan kecil. Bagaimanapun, semua itu juga akan dihadapinya di masa mendatang dan tak ada salahnya mempersiapkan diri sedari awal.
Walau semua itu dilakukan bukan dengan kekuatan penuh Lily. Namun, hal ini juga membantu indra Rion menjadi sangat responsif dan sensitif pada apa yang dirasakannya.
Hasil ini juga tak luput dari usaha Rion, jika bukan karena kemampuan analisis dan tekad ya, mungkin dirinya memang akan menjadi mainan gadis itu. Mengingat semua penjelasan yang gadis itu katakan padanya hanya mencakup hal-hal mendasar.
Setelah tiga bulan, Rion pun sudah mulai terbiasa dengan latihannya. Selain itu, dia memahami bahwa hal ini lebih menguntungkan baginya. Bagaimanapun juga dia harus menjadi lebih kuat jika ingin tujuannya berhasil, dan sekarang adalah penentuan apa dia masih akan bertahan di sini lebih lama atau dapat segera melakukan pembalasannya.
Rion mundur, matanya menatap tajam Lily yang sedari tadi masih berdiri dengan tenang sementara kepingan-kepingan es di sekitar gadis itu terus bergerak membentuk badai secara liar.
Dengan pedang di tangannya, Rion mencoba menembus pertahanan Lily.
Semua karena tak hanya sihirnya telah berkembang pesat, tetapi juga kemampuan bertarung non-sihir. Campur tangan Lily sendiri tak dapat diabaikan, karena sebagian besar dia juga ikut andil bagian dalam perkembangan Rion.
Pada saat sela pelatihannya, Rion pernah diinterupsi Lily saat dia tengah berlatih pedang. Bertanya bagian mana yang salah, Lily pun menunjukkan dengan santai gerakan yang dimaksud padanya yang membuat pemuda itu harus mengakui gerakan yang Lily lakukan seperti sebuah tarian, indah tapi dapat dirasakan siluet kematian pada setiap gerakannya.
Saat Rion sadar dari lamunan dan menatap Lily yang akan segera pergi untuk mencari bahan makanan kala itu. Dia mengajukan pertanyaan apakah benar bahwa Lily adalah seorang penyihir karena setiap gerakan teknik pedang yang ditunjukkannya sangat halus.
__ADS_1
Namun, Lily yang kesulitan mengatakannya pada Rion pun mengambil nafas dalam dan mengalihkan bahan pembicaraan.
Dengan menjelaskan dasar dari empat jenis pelatihan pada Rion, perhatiannya pun teralihkan.
Teori tentang pemilik teknik pertarungan, penyihir, pengguna kekuatan, dan kekuatan spiritual. Yang merupakan cabang dalam mencari kekuatan dalam bidang tertentu berupa tubuh, kontrol, potensi, dan mental.
Teknik pertemuan dapat dikatakan melatih tubuh saat menggunakan sejenis senjata semacam pedang atau senjata lain. Pengguna teknik pertempuran melakukan gerakan dengan menyatukan senjata sebagai tubuh mereka. Karenanya walau seseorang memakai senjata yang sama, tapi jika tingkat kekuatannya berbeda maka akan menghasilkan kekuatan yang berbeda pula.
Dengan prinsip melakukan penjelmaan atau inkarnasi pada senjata itu, seperti pada tubuh pemakainya. Hal yang sama juga terjadi bahkan saat pengguna teknik pertempuran tidak memegang senjatanya. Hal ini pula yang menyebabkan pengguna teknik pertempuran hanya fokus pada satu jenis senjata sesuai dengan tipe inkarnasi yang dijalankan.
Itu sebabnya teknik pertempuran digambarkan sebagai pelatihan pada tubuh. Karena setiap inkarnasi yang dapat dilakukan merupakan penggambaran dari tubuh mulai dari kekuatan, kecepatan, ketahanan, dan lain-lain. Namun, inkarnasi itu sendiri dapat mencapai titik ekstrem.
Untuk penyihir, setiap sihir yang dikuasai dapat digambarkan sebagai bentuk kontrol mereka. Penyihir melakukan sihir yang dapat dikatakan sukses bukan hanya dari dapat mengeluarkan sihir. Namun, juga dari kontrolnya atas sihir tersebut, mulai dari arah, kekuatan, efek, serta semua hal lain juga termasuk dalam keberhasilan suatu sihir.
Sifat kontrol sangat terasa dalam diri penyihir, bukan hanya kontrol pada setiap sihirnya, tapi juga pada penyihir itu sendiri pada dirinya. Sebab itu pula, kebanyakan penyihir berkepala dingin dan tak mudah tersulut emosinya.
Jenis terakhir, pemilik kekuatan spiritual adalah yang paling sulit untuk dijelaskan dengan pasti. Namun, intinya membuat pikiran pengguna kebal dari kebanyakan serangan mental. Sedangkan bentuknya sendiri dapat berupa berbagai jenis, dari [Sign] yang berupa tanda pada bagian tubuh tertentu hingga bentuk lain seperti persepsi khusus.
Pada umumnya orang-orang hanya melatih diri mereka pada satu jenis pengembangan kekuatan. Namun, ada juga yang melatih lebih dari satu seperti Lily dan Rion meski dirinya sendiri tidak menyadarinya.
Terakhir yaitu energi bawah dan energi atas, untuk mudahnya itu merupakan bentuk asal energi sebelum menjadi mana yang dapat diterima pada makhluk hidup. Energi bawah sendiri biasanya diserap oleh para penyihir dan kekuatan spiritual, sedangkan energi atas diserap oleh para pengguna teknik pertempuran dan pengguna kemampuan.
Saat Lily mengakhiri penjelasannya, dia segera pergi meninggalkan Rion yang masih sibuk dalam pikirannya yang tengah mengolah informasi ini dengan beragam ide-ide baru yang muncul sebelum sadar bahwa dia belum menjawab pertanyaan awal Rion.
Meskipun Rion ingin mengejar gadis itu, dia telah kehilangan jejaknya setelah beberapa saat dan membuatnya semakin bertanya-tanya akan siapa Lily. Bagaimanapun informasi ini tidak pernah disinggung dalam satu pun buku yang pernah dia baca, dan kemungkinan besar itu merupakan informasi yang sangat rahasia dan tak akan disebar luaskan dengan mudah.
Meski pertanyaan masih membanjirinya bahkan hingga kini, tapi Rion memilih fokus pada yang tengah dia lakukan.
__ADS_1
Mundur sejenak, Rion masih melepaskan sihir untuk menahan Lily.
"Dengan ini latihan selesai," ucap Lily ringan yang sontak menghentikan Rion dari serangan lebih lanjut yang akan dijalankan.
Namun, meski Rion mengambil napas lega dia masih terheran karena Lily tak membuat satu langkah pun dari tempatnya sejak pertarungan terjadi, tapi itu tak terlalu dia pikirkan.
'Akhirnya aku selesai menjadi mainan Lily,' pikir Rion berusaha menahan air matanya.
Mengingat hal terakhir yang Lily minta sebelum latihan ini, yaitu membuat sebuah modifikasi pada sihir yang Rion kuasai yang membuatnya kehilangan ketenangan.
Sepintas memang tidak terlihat sulit. Namun, penggunaan mantra pada sihir harus tepat atau hanya akan terjadi penghamburan mana.
Akan tetapi, itu semua suda tidak penting. Menatap jalan ke depan, Rion pun mulai melangkah meninggalkan hamparan putih es di belakangnya. Namun, saat dia menengok ke belakang sosok Lily mengekor tepat padanya.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"...."
Lily diam, hanya menatap mata Rion fokus. Mata violet Lily terlihat bersinar sesaat yang membuat Rion memanggilnya lagi. "Lily, kenapa kamu ada di sini?"
Sepintas cahaya keterkejutan terlihat di mata Lily. Namun, itu berhasil disembunyikannya. Menatap Rion, dia dengan ringan berucap, "Aku kan pernah bilang ingin membantumu."
Mengacuhkan Lily, Rion berjalan kembali. "Kenapa kau ingin membantuku?"
"Anggap saja kita memiliki tujuan yang sama."
"Alasan?"
__ADS_1
Lily hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi Rion lebih lanjut. Melihat ini, Rion memilih diam karena Lily terlihat ingin merahasiakannya. Dia tak ingin menambahkan tingkah 'monster' ini dalam daftar masalahnya.