A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 15 : Kekacauan Dalam Benteng - 2


__ADS_3

Suara ledakan yang terdengar sebelumnya membuat belasan prajurit dikerahkan, suara langkah kaki menggema sepanjang lorong laboratorium.


Mendapati pintu yang terbuka secara paksa, kelompok penjaga yang diutus mengambil kesimpulan bahwa ini adalah tempat ledakan itu berasal.


Salah seorang penjaga maju terlebih dahulu, tanpa membuat banyak keributan. Namun, saat dia melihat ke dalam ruangan, raut wajahnya pucat pasi.


"Ada apa?" tanya penjaga lain.


"Cepat arahkan sihir ke dalam!" perintah orang itu tanpa banyak penjelasan.


"Tapi—"


"Cepat!"


Melihat sikapnya yang tak biasa, anggota itu pun patuh. "Magic: Wind Cutter."


Serangan elemen angin yang cepat dan tanpa suara adalah apa yang dipilih. Setelah serangan dilakukan, belasan penjaga yang terdiri dari sebagian besar penyihir dan sedikit di antaranya adalah tipe petarung jarak dekat maju.


Alasan banyaknya penyihir di laboratorium ini sendiri karena meski mereka bukan sarjana sihir seperti peneliti, tapi mereka memiliki kepekaan mana lebih yang sangat berpengaruh pada hasil eksperimen. Membuat mereka dibutuhkan dalam jumlah besar mengingat skala proyek penelitian yang kian meluas.


Dengan langkah cepat, para penjaga itu merangsek masuk ke dalam ruangan. Namun, pemandangan yang menyambut mereka hampir membuat mereka muntah.


Ruangan yang sebelumnya selalu bersih nan rapi kini bak diterpa badai, warna merah yang berasal dari darah mencat dinding dan lantai bersama bau anyir pekat yang semerbak. Lebih dari itu, rintihan pilu masih dapat terdengar. Meskipun itu adalah kabar baik bahwa mereka masih hidup, tapi penjaga ini tak mampu membayangkan sakit yang dirasa mereka yang kini memiliki anggota badan yang tak utuh.


Dalam kondisi semacam ini, terbesit pikiran bahwa kematian lebih baik bagi mereka.


Setelah menghindari serangan sihir sebelumnya, Rion segera menyerang. Berusaha memanfaatkan keterkejutan yang dialami para penjaga itu sebaik mungkin.

__ADS_1


Saat mereka telah menyadari keberadaan Rion, dia telah berada tepat di depan mereka.


"Argh—" Bersamaan erangan ringan, tangan Rion menusuk ke leher salah seorang penjaga. Darah segera memercik, memandikannya dalam cairan merah. Sihir elemen angin yang kini melapisi tangan Rion membuatnya dapat menembus leher penjaga itu dengan mudah, dan dapat membereskannya dengan cepat.


Dengan mendapat kejutan lainnya lagi, para penjaga lain tak dapat bereaksi cepat pada hal ini. Saat perintah menyerang telah diturunkan, semua itu telah terlambat dengan koordinasi yang telah lebih dulu terkoyak karena kehilangan seorang anggota penting.


Dengan pedang yang berasal dari penjaga yang telah tewas di tangannya, Rion bertahan dengan ulet. Para penyihir pun tak dapat berbuat banyak karena sihir dengan daya hancur besar tidak cocok dengan medan saat ini, dengan demikian membuat pilihan sihir untuk dilepaskan berkurang drastis.


"Magic: Wi—" Lagi, untuk yang ke sekian kalinya, Rion telah menggagalkan rapalan yang dilakukan salah seorang penyihir.


Pedang Rion berayun dengan indah, dia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menyadari bahwa dia memiliki keunggulan dengan rentannya para penyihir yang tak terlindungi, Rion memanfaatkannya sebaik mungkin.


Darah kembali tumpah saat pedang Rion menembus dada salah seorang penjaga. Setelah bertarung dalam waktu singkat, dia dapat memperkirakan bahwa mereka memiliki tingkat kekuatan sekitar silver level 7-9. Itu bukanlah pencapaian yang buruk bagi masyarakat luas, tapi dengan tingkat kekuatannya, Rion dapat mengatasi mereka.


Rion menggunakan tubuh penjaga yang masih tergantung di pedangnya sebagai perisai daging. Melihat rekan mereka masih hidup dengan suara rintihan yang jelas, membuat intensitas serangan padanya turun. Meskipun ini adalah hal yang kejam, tapi Rion harus melakukannya demi menyelesaikan ini secepat mungkin.


Meski dapat dilihat bahwa dia masih ragu akan keputusannya. Namun, dengan adanya orang yang berani mengambil langkah pertama, yang lain pun mengikuti.


Rion menghembuskan napas, setidaknya dia telah membunuh tiga orang saat dalam kebimbangan singkat itu. Melemparkan perisai daging yang kini telah menjadi mayat, Rion segera menyerang kembali dengan mengandalkan kecepatannya.


Menarik napas dalam, mulai memuat mana untuk menguatkan pedang di tangannya. Mengambil sikap permulaan sejenak, Rion menggunakan gerakan teknik pertempuran pada lawannya. Meski hanya gerakan tanpa esensi khusus yang dimiliki teknik pertempuran tersebut. Namun, dengan kekuatan kasar Rion itu sudah cukup untuk mengatasi lawannya.


Lawan Rion mulai tumbang satu per satu. Saat hanya lima orang yang tersisa, semangat mereka telah hancur, membuat Rion menghabisi mereka dengan mudah.


Rion meninggalkan ruangan penuh mayat, melihat jejak darah yang tertinggal dari salah seorang peneliti yang terlepas, dia mengikutinya. Mungkin ini dapat dikatakan sebagai bantuan tak langsung dari peneliti tersebut.


Bagaimanapun, peneliti itu kemungkinan besar menuju kantor pusat untuk mencari bantuan, dan hal ini sangat membantu Rion yang tak tahu tempat pasti kantor para peneliti itu. Dikarenakan dia hanya dapat mengetahui lokasi kasarnya, Rion yakin hal itu akan memakan waktu yang sangatlah terbatas baginya, dan dengan hal ini maka masalah itu selesai.

__ADS_1


Melangkah dengan cepat, Rion mengekor tepat di belakang peneliti yang kini berjalan tertatih-tatih sembari menahan rasa sakit akibat kehilangan anggota badannya.


"Ha ... ha ... ha ... sedikit lagi aku dapat membalaskan tingkah monster itu!" Mata peneliti itu berisikan kemauan kuat.


Dia terus menggumamkan bahwa akan membalas tingkah sang monster —Rion— dia kini menatap ke sebuah pintu di depannya. Ekspresi kepuasan terukir di wajahnya, bibirnya melengkung ke atas saat memikirkan pembalasan yang akan dilakukannya.


Akan tetapi, saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu sekelebat cahaya tiba-tiba melintas.


Puk


Tangan kanannya yang masih melekat tiba-tiba terjatuh bersama rasa sakit hebat yang segera menyusul. Namun, dia tak dapat berteriak saat kepalanya telah terputus dari tubuhnya tanpa dapat dia sadari. Ekspresi tak percaya adalah apa yang mengantarnya menuju kematian.


"Jadi di sini kah?" Suara dingin tanpa emosi terdengar, tak lain dan tak bukan berasal dari Rion.


Mengambil napas dalam, Rion mempersiapkan dirinya.


Rion menendang kuat, membuka pintu di depannya dengan paksa. Sebelum orang-orang di dalam dapat bereaksi, dia melemparkan sihir yang sudah disiapkan.


Boom!


Ledakan terjadi, api membesar segera bersama dengan banyaknya bahan mudah terbakar di dalam ruangan.


"Siapa?!" Sebuah teriakan keras disuarakan. Namun, hal tak hanya dari satu orang tapi puluhan orang yang ada di dalamnya menyuarakan hal serupa, seketika melodi kekacauan terbentuk.


Rion menyembunyikan dirinya dalam bayang.


Dalam nuansa panik ini, cahaya sihir segera memenuhi ruangan. Baik itu nyala api, hembusan angin, maupun hentakkan tanah saling beradu, dilepaskan secara acak oleh para penyihir yang berharap dapat mengenai biang dari semua ini.

__ADS_1


Akan tetapi, itu hanya membuat mereka saling membunuh satu sama lain. Rion yang mengamati semua ini dalam bayangan tersenyum tipis, senyum yang berisi kedinginan tak tersentuh.


__ADS_2