
But hanya memberi pandangan mencemooh pada pernyataan tak masuk akal Yuzu, dia berdeham pelan. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal tak masuk akal seperti itu?’
Ya, dari sudut pandang But, apa yang Yuzu katakan hanya isapan jempol. Mau bagaimanapun dia memikirkannya, apa yang Yuzu katakan tak dapat dia pahami.
Yuzu hanya menundukkan kepalanya, lagi, mengubur diri lebih dalam. Namun, mulutnya telah terlebih dahulu terbuka lirih, “Itu semua memiliki hasil yang tak akan pernah dapat kau pahami ...!”
Geram. Jelas bahwa emosi ini dapat dirasakan dari kalimat Yuzu saat pandangannya terbalik ke masa lalu.
Deven Attack. Sebuah peristiwa yang terjadi cukup awal dari serangkaian pertempuran yang terus hadir setelahnya. Sebuah peristiwa yang terjadi kala Beatria Union akhirnya mengetahui bahwa beberapa pihak telah menduduki wilayahnya.
Dengan berpusat pada Daerah Deven, pengepungan segera dilakukan untuk merebut wilayah itu kembali. Membuat api dengan cepat menyebar, membuat kegaduhan saat peperangan akhirnya hadir di tanah yang telah lama tak menumpahkan darah.
Lebih daripada itu, wilayah Deven sendiri merupakan titik poin yang sangat strategis. Tak hanya memiliki beberapa tebing yang berperan sebagai dinding alami, bahkan tempat itu terhitung sangat aman.
Namun, situasi dan hasil yang terjadi tidak semudah yang ada di atas kertas. Bahkan jika mereka telah ditempatkan secara strategis, itu tak membuat semua berjalan dengan sangat mudah.
Hasil? Jika melirik sejarah, maka itu akan menjadi kemenangan lengkap bagi Beatria Union. Meski begitu jelas bahwa kemenangan itu tak patut dan tak akan pernah dirayakan.
Tak ada suara musik pengantar kebahagiaan, tarian suka cita atau bahkan sebuah tawa. Yang terjadi setelahnya hanya doa kepada mereka yang telah pergi, isak tangis pengiring kematian, dan sebuah kepiluan.
Gunungan mayat telah menjadi hal umum, tak hanya bagi mereka yang diserang, tapi juga mereka yang menyerang. Mayat kaku terbaring di jalanan adalah hal yang lumrah, sedikit kepedulian mungkin akan terjadi jika saja air dalam parit tak berubah menjadi aliran darah, aroma menggelitik yang ada kala berada di ladang bunga tak berubah menjadi aroma anyir.
Penyerangan yang seharusnya hanya bentuk lain dari ‘sekali jalan’ menjadi pertempuran berlarut. Awal rencana satu atau dua hari untuk dapat merebut daerah kembali menjadi molor, membuat waktu terus terulur hingga mencapai tiga bulan.
Hilir mudik pasukan tak terelakkan, tak ayal membuat semua kian pelik. Namun, bagi mereka yang terkurung sejak awal situasi tak hanya menjadi pelik, melainkan sudah menjadi neraka di bumi.
__ADS_1
Mereka yang telah berada di medan perang kala itu tak memiliki jalan pulang, bukan hanya penyerang dari Beatria Union, tapi mereka dari Reutania Kingdom pun sama. Basis seolah hanya menjadi mimpi dan hanya kata harapan.
Seperti itulah hal yang terjadi, dan sayangnya, tim Night Eye ... tidak, kala itu mereka masihlah tim Xion harus masuk ke golongan itu. Mereka tertekan, tak terelakkan dari dorongan musuh yang dapat memblokir jalan mundur.
Mereka yang seharusnya menyusup, tergabung dalam satuan ujung tombak yang memulai perang justru terpisah dari tubuh utamanya. Dalam artian lain, mereka telah gagal.
Kala harapan menjadi kelabu, sebuah kontrak datang. Benar, kontrak dari Reutania Kingdom pada Yuzu, Dian, dan mungkin berpuluh atau beratus-ratus Beast-kin kala itu mendapati suara untuk dapat membuat kontrak, kontrak menjadi mata untuk Reutania Kingdom.
Yuzu ... menerimanya, dan Dian pun sepertinya sama. Membuat tekanan yang harus mereka terima berkurang secara signifikan, membuat mereka dapat bertahan hingga gelombang ‘pendobrak’ pun tiba.
Namun, kini Yuzu merasa semua itu lucu. Dia ingin rekannya yang lain selamat tapi malah membuat kontrak dengan musuh? Benar-benar sebuah hal yang cukup ironis. Namun jika dia disuruh mengulang peristiwa itu, dia merasa akan tetap membuat pilihan yang sama.
Bagaimanapun karena itu, tekanan yang mereka terima surut, membuat mereka dapat terus bertahan. Membuat keseharian yang dia rindukan tetap bertahan.
Meski begitu, kemenangan yang Beatria Union dapat kala itu mungkin tak ubahnya seperti sebuah pemberian. Kalah dalam pertempuran tetapi menang dalam perang, itu adalah penggambaran yang tepat akan apa yang dilakukan Reutania Kingdom. Mereka memilih mundur, mengorbankan beberapa orang untuk dapat menanam mata yang tersembunyi dalam jumlah besar.
Tak ada tangis atau ratapan.
Tak ada mayat dingin nan kaku di jalan.
Tak ada aliran darah yang tak lebih khusus daripada sebuah air.
Tak ada aroma anyir nan anis yang menghalangi keharuman.
Setidaknya, itu adalah hasil yang dapat Yuzu raih. Meski itu hanya sesaat dan hanya dalam lingkaran kecilnya sendiri, tapi ... itu lebih dari sebuah emas di hati.
__ADS_1
Namun, entah apa alasan di balik semua itu, Yuzu tahu dengan bentul bahwa tindakan ini tidak dapat dipuji. Tidak, mungkin lebih tepat untuk tak pernah dia lakukan.
“Huh! Ternyata hanya sebuah obrolan orang bodoh!” dengus But. “Kau masih memiliki kesempatan selamat jika kembali dengan kami,” sambungnya.
“Tidak akan pernah!”
“Orang bodoh!”
Yuzu hanya tersenyum lemah pada tanggapan ini. “Ya ... aku memang orang bodoh! Terbelakang! Dungu! *****! Munafik! Benar-benar tak berguna! Tapi ....”
Mata Yuzu mulai mendung, air mata yang selama ini telah tertahan di balik sikapnya pun sudah tak terbendung saat aliran air terbentuk di pipinya. Sikapnya berubah, dia mendongak, menatap lurus ke arah But dengan mata penuh keyakinan.
“... Apa yang aku lakukan ... memiliki nilai.” Yuzu melirik Dian yang ada di sabrang sejak sebelum mengalihkan pandangan pada Xion. Dia tak dendam, dia tahu bahwa Dian tak berusaha membunuh Xion, hanya saja Xion terlalu memaksakan dirinya setelah kejadian itu.
“Aku tak akan kembali pada kalian ... informasi itu ... tak akan aku serahkan ...,” putus Yuzu.
Yuzu tak pernah ingin melihat rekannya terluka. Ini bukan hanya masalah bagaimana semua dapat berjalan hingga ke titik ini, tapi juga bagaimana pemuda itu akan membalas mereka kembali bahkan jika But dalam lain cara melepaskan rekannya.
Bagaimanapun, Yuzu masih ingat perkataan pemuda itu saat akhirnya berhasil mereka temukan kembali.
‘Jika kalian tak menggangguku maka aku juga tak akan mengganggu kalian. Namun, jika kalian menggangguku maka kemungkinan aku mengganggu kalian juga akan menjadi sangat besar ....’
Itu adalah sepenggal kalimat yang pemuda itu katakan kala itu. Dari sudut mana pun, jelas bahwa itu merupakan peringatan, dan dalam hatinya, Yuzu merasa bahwa pemuda itu, Rion jauh lebih berbahaya daripada But.
“Oh ... jadi itu keputusanmu?” tanya But dingin. Namun, dia tak menunggu jawaban dari pihak lain karena semua telah jelas. Tak hanya tatapannya tapi aura di sekitarnya pun kian serasa mematikan. “Baiklah, jika kau tak menyerah maka jangan salahkan aku, kami yang akan memeras informasi itu darimu hingga ke tulang-tulang!”
__ADS_1
Setelah kalimat ini jatuh, tiba-tiba suara tepukan tangan terdengar dengan jelas di telinga seluruh orang yang ada di sini.