A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 32 : Dalam Lapisan Es - 1


__ADS_3

Lily berjalan santai di tempat ini, melihat ke sekeliling sebuah kota dengan separuh tempat yang hancur di arah barat dan utara dan menyisakan bangunan timur serta selatan kota terlihat, tampilan baik di sisi kanan maupun kiri jalan berwarna putih seluruhnya.


Memandang langit biru tanpa awan yang menjatuhkan serpihan es, Lily menangkap salah satu serpihan es lalu memainkan serpihan es tersebut di tangannya.


Memandangi es yang kini berbentuk sebuah bunga di tangannya Lily bergumam, "Akhirnya kutemukan."


Bunga es ditangan Lily menghilang, membawa serpihan es yang berhamburan terbawa angin.


Tatapan Lily bergeser ke arah di mana dia menemukan Rion. Matanya terus menajam, kelembutan yang ditampakkan pada Rion sudah tidak terlihat lagi, digantikan tatapan dingin menusuk tulang. Penglihatannya terus menembus jarak pandang yang dapat dicapai makhluk normal, hingga berhenti di sebuah Benteng.


"Jadi itu semua salah mereka."


Mata Lily kembali normal, dia berjalan ke hutan, meninggalkan jejak kakinya pada tanah yang tertutup salju putih.


***


Hari-hari Rion di tempat ini berlangsung sangat tenang, bahkan dapat dikatakan senyap. Dia tidak pernah mendengar suara ribut apa pun dari luar ruangan, seolah dunia luar telah terpisah dari tempat ini.


Hal ini membuat Rion terkadang bertanya pada diri sendiri apakah benar dia belum tewas? Namun, mencoba berapa kali pun memastikan, dia yakin bahwa dirinya masih hidup.


Setelah seminggu berlalu Rion merasa dirinya telah pulih, saat dia hendak bersiap meninggalkan ruangan, saat itulah Lily terlihat memasuki ruangan.


"Kau sudah mau pergi?" tanya Lily.


"Ya, begitulah."


Sikap Rion pada Lily tidak sedingin sebelumnya, mengingat bahwa gadis inilah yang menyelamatkan hidupnya serta tindakan Lily yang tidak pernah melakukan sesuatu yang mencurigakan.


Lily mengambil sebuah kursi lalu duduk. Dia menatap Rion dengan mata yang serius tidak seperti biasanya.


"Ada apa?" tanya Rion pada Lily, menyadari pembicaraan selanjutnya bukan topik ringan seperti biasanya.


"Apa kamu seorang elf?" tanya Lily memandang bentuk telinga Rion yang runcing.


"Tidak, itu tidak benar. Hanya separuh diriku yang merupakan elf," jawab Rion jujur, tidak merasa ada yang perlu ditutup-tutupi mengenai rasnya.


Half-elf, sering juga disebut mix blood sebagai bahasa resminya. namun, panggilan 'half' sendiri sudah terlanjur melekat pada pemilik mix blood seperti Rion.


Meski mata Lily menunjukkan kebingungan, dia tak bertanya lebih lanjut mengenai hal itu. "Apa kamu akan bertarung setelah ini?"


"...."


Lily tersenyum melihat Rion yang diam, tidak dapat menjawab pertanyaannya. "Apa kau akan bertarung setelah keluar dari sini?" tanyanya sekali lagi.

__ADS_1


"Jika aku harus menjawab jujur, maka iya. Aku akan bertarung setelah keluar dari sini, karena itu aku tidak ingin melibatkan orang lain."


"Aku akan membantumu."


"Tidak perlu, itu sangat berbahaya. Selain itu ... aku masih lemah."


Mendengar pengakuan Rion, senyum masih terlihat di bibir Lily. "Lihatlah keluar dan kamu akan tahu apa yang aku maksudkan."


Lily keluar, Rion yang masih terkejut setelah apa yang gadis itu sampaikan, memilih mengikutinya keluar ruangan untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan padannya.


Saat melihat hal di depannya, Rion bingung sejenak sebelum matanya melebar. Seluruh pemandangan di hadapannya berupa hamparan salju yang memenuhi setiap sudut dengan es yang turun di langit tanpa awan.


'Ini ... ini di dalam kawasan yang termasuk zona kematian!'


Seluruh pemandangan ini menjawab keanehan dan rasa tidak nyaman yang terkadang Rion rasakan. Kenapa tidak pernah terlihat orang lain? Kenapa tidak terdapat suara dari luar? Kenapa hanya gadis ini yang pernah ditemuinya?


Semuanya terjawab, karena memang tidak ada orang lain di mana pun selama ini, hanya ada dirinya dan gadis tersebut.


"Kamu tahu sekarang, bukan?" Tubuh Lily sedikit kabur sebelum menampakkan telinga serta ekor rubah pada dirinya. "Aku bukan manusia."


Melihat perubahan pada Lily, Rion merasa terkejut karena dirinya sama sekali tidak dapat merasakan hal aneh dari aliran mana di sekitar. Rion mundur beberapa langkah, sebelum kembali bersikap tenang.


Menatap Lily sekali lagi sambil mendekatinya, Rion mengamati aliran mana di sekitarnya dengan cermat. Namun, masih tidak dapat menemukan keanehan apa pun.


Lily menggunakan sihir [Magic: Mimic] kembali, menghilangkan telinga dan ekor rubahnya dan menjadi sosok Lily yang Rion kenal.


Merasa tidak ada keanehan pada mana di sekitarnya, Rion menelan ludah. 'Tingkat kontrol yang mengerikan! Bahkan dapat menenangkan aliran mana di sekitarnya saat melepaskan sihir, menjadikan sihir itu sendiri tidak terlihat.'


Walaupun Rion masih buruk soal pengendalian kekuatannya. Namun, jika masalah indranya untuk merasakan aliran mana dia dapat membusungkan dadanya. Berkat semua hal yang telah dia alami, indranya telah menggunakan mana sebagai bagian yang dapat dirasakan.


Baik indra pelihat, pendengar, pencium, peraba, hingga perasa, dan itu membuat Rion menjadi sangat peka pada lingkungannya. Namun, di hadapan Lily ini semua tidak berguna.


Melihat tingkah Rion padanya, Lily sendiri terkejut. Dia mengira bahwa Rion akan takut atau setidaknya butuh waktu lebih lama untuk pulih, tapi ketertarikan yang ditunjukkan pemuda itu membuatnya tersenyum kecil.


Lily kembali menarik sihir penyamarannya, memperlihatkan sosok gadis rubah yang menawan.


"Jadi bagaimana? Aku lulus bukan?"


"Aku tidak berkomentar."


Rion mengangkat tangannya, baginya untuk bisa hidup di zona kematian ini sudahlah sebuah keajaiban, dan dia tak ingin menentang sosok mengerikan seperti Lily yang memiliki kekuatan yang dapat dikata mengerikan.


Walaupun dengan tampilan seorang gadis lemah dan lugu saat menyamar sebagai manusia.

__ADS_1


"Oh, aku ingat sesuatu. Rion, bisa kau tunjukkan penggunaan sihirmu?"


"Baik." Rion mengangguk.


Bahkan jika dirinya menolak Lily dapat menyerangnya, membuatnya terpaksa melepaskan sihir untuk membela diri. Membuat masalah tambahan adalah hal yang ingin dia hindari sebisa mungkin, pembalasannya saja sudah membuat cukup masalah untuk ditangani dengan kemampuan Rion saat ini.


"Ingin elemen apa yang digunakan?"


"Semua yang kamu bisa, Rion," jawab Lily sambil menjauh, mengambil tempat duduk di salah satu reruntuhan bangunan.


Rion mulai melakukan sihir sesuai permintaan Lily, dari sihir api dan petir yang sering digunakannya, hingga bentuk elemen air, angin, dan tanah.


"Itu sudah cukup!"


Setelah mengatakan Lily mengatakan ini, Rion berhenti. Lily mendekati pemuda itu dengan mata yang seakan ingin menelannya, menyebabkan Rion mengambil langkah mundur.


"A-ada apa, Lily?"


"Tidak ada. Kamu sangat menarik, afinitas pada elemen yang bisa kamu lakukan sangat menarik. Semua elemen itu dapat kamu lepaskan dengan sangat baik, tapi untuk urusan kontrol ... itu sama sekali tidak layak disebutkan."


Rion merasa sakit, perkataan Lily tepat mengenai titik lemahnya, kontrol. Walaupun dapat mengendalikan arah serangan. Namun, penggunaan mana yang sama sekali tidak efisien, membuat serangannya menjadi lebih lemah —dengan jumlah mana yang digunakan— daripada seharusnya .


"Aku akan melatihmu!" ucap Lily dengan menggenggam tangan Rion.


Rion sedikit kosong, apakah dia akan menjadi mainan 'monster' bernama Lily ini?


"Aku rasa tidak!"


Rion memang ingin bertambah kuat. Namun, jika dia menjadi boneka pihak lain, maka jawabannya hanya satu kata yaitu tidak!


"Kamu akan bertarung bukan? Kalau begitu ayo mulai!"


Rion menolak permintaan Lily, dirinya ingin segera memulai pembalasannya. selain itu, dia berpendapat bahwa dirinya dapat melatih diri dalam perjalanan yang ditempuhnya.


Lily terus memaksa Rion dengan segala cara. Salah satunya dengan membuat Rion tidak dapat keluar dari ladang salju ini.


Seluruh jalan keluar serta arahnya telah Lily ubah. Dengan kemampuan kontrol Lily yang dapat menggunakan sihir dengan 'tidak terlihat' membuat Rion, walaupun peka dengan perubahan aliran mana menjadi berkeliling zona ini selama hampir dua minggu sebelum akhirnya mengalah.


"Aku menyerah, akan aku ikuti pelatihanmu itu."


"Nah, begitu sejak dulu mudah, kan.”


'Mungkin dia akan bosan setelah seminggu,' pikir Rion dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2