
“Kapten! Ada masalah gawat! Monster! Mon—“
“Tanpa perlu kau beritahu aku pun sudah mengetahuinya,” ucap sang kapten yang menghentikan laporan anak buahnya. “Dari mana asal makhluk ini?”
“Itu ....”
“Cepat katakan!”
“M-maaf Kapten, sebelumnya kami tak dapat mendeteksi kemunculan makhluk ini. Seolah-olah ...,” Orang dari regu pengawas ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.
“Makhluk ini tiba-tiba muncul begitu saja?” tebak kapten itu. Melihat bawahannya ini mengangguk, dia berpikir sejenak sebelum keluar.
Melihat prajurit penjaga yang juga ikut panik kapten itu berteriak, “Semua unit bersiap di posisi! Jangan panik, ingat latihan kalian!”
“Ya!” jawab prajurit serempak.
Dengan perintah yang sudah turun, para prajurit yang ada di bawah komando si kapten pun mulai menata diri. Dalam situasi tak terduga ini, kapten itu berusaha memberi perintah seefisien mungkin untuk menghindari kekacauan dalam rantai komando.
Para prajurit segera bergerak ke posisinya masing-masing, berusaha menjalankan semuanya dengan cepat tepat. Namun, kegugupan mereka tak dapat disembunyikan dengan tangan mencengkeram erat senjata yang dibawanya.
Kejadian semacam ini tidaklah setiap hari terjadi. Selain itu, banyak dari mereka merupakan prajurit baru tanpa pengalam tempur berarti.
Mencermati kondisi mental bawahannya, kapten itu menghela napas. Menatap orang yang sebelumnya melapor, dia berbisik, memberi instruksi khusus padanya.
“Tolong cepat panggil Tuan Mabondo, Tuan Krinus, dan Tuan Kris untuk membantu situasi.”
“Baik!”
Pembawa pesan segera berlari dengan sedikit gusar, ketiga orang yang kapten maksudkan dikenal sebagai orang terkuat di kota ini. Walau mereka tak tergabung dalam militer dan hanya merupakan tentara bayaran, tapi dengan sepak terjang yang tersohor membuat nama mereka dikagumi dan disegani.
Disisi lain, dia menjadi sadar akan makhluk macam apa yang sampai berani menyerang Kota Maves. Hingga dapat memaksa kapten mereka yang dikenal tenang dalam mengambil keputusan menyuruhnya memanggil mereka dengan sembunyi-sembunyi, yang pastinya dengan pertimbangan khusus.
__ADS_1
‘Ini pasti bukan masalah kecil,’ pikirnya. Bersama rasa waswas yang kian menggerayangi, dia mempercepat langkahnya.
Setibanya di rumah yang lebih cocok untuk disebut mansion dengan ukurannya. Tanpa banyak basa-basi, pembawa pesan itu mengetuk pintu dengan panik.
“Tuan Mabondo! Tuan Krinus! Tuan Kris!” panggilnya pada ketiga pribadi yang dimaksud, kelompok terkuat yang tinggal di kota ini, serta satu-satunya tokoh yang dapat dijadikan harapan di hatinya.
Saat pintu terbuka, pembawa pesan tersebut tak dapat menahan wajahnya yang berisikan penuh harapan.
“Kami tahu, serahkan pada kami,” ucap seseorang berbadan tegap kekar. Bersama sebuah pedang yang telah berada di tangannya, orang ini tak lain adalah Krinus. “Kalian, ayo cepat kita atasi.”
“Tenanglah Krinus, kau harus sedikit tenang. Saat kita menghadapinya, makhluk yang mengacau itu akan segera tumbang dan tak dapat menimbulkan gangguan lebih jauh!” ucap seorang bertubuh kecil dengan nada dan isi penuh kesombongan. Seolah kekacauan yang tengah terjadi hanya masalah kecil baginya.
“Kami serahkan pada Anda, Tuan Mabondo.”
Mabondo tersenyum, tidak menanggapi lebih jauh perkataan pembawa pesan itu. Menurutnya ini hanya serangan binatang iblis acak yang tak perlu di besar-besarkan.
“Kita lebih baik hati-hati, intuisiku mengatakan ini bukan masalah sepele,” ingat Kris, menyatakan apa yang dia rasakan saat ini. Mengingat karena intuisinya yang tajam inilah dia dapat bertahan hidup dari segala jenis bahaya yang pernah menimpanya hingga sekarang.
“Apakah begitu Kris?” Mabondo mendengus pada Kris yang dianggapnya terlalu pengecut. Menemukan sosok yang dapat bertahan melawan mereka adalah hal yang sulit mengingat tingkat kekuatan yang mereka miliki.
“Memang kita lebih baik hati-hati Mabondo, tapi Kris jangan menjadi terlalu pengecut,” ucap Krinus berusaha menengah keduanya.
“Ya, ya, begitulah seharusnya.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka menuju makhluk yang dimaksud. Meski mereka berniat menghadapinya secara langsung, terlihat percekcokan kecil masih terjadi sepanjang jalan.
***
Rubah Kecil, bukan Nine-Tails Ice Demon Fox membombardir dinding kota dengan meriam balok es yang terus dia ciptakan. Sembari menahan serangan yang digalakkan prajurit penjaga padanya, dia berusaha menerobos dinding kota secepatnya.
“ROOOAAARRR!” auman menggelegar mengguncang kota, menanamkan lebih dalam rasa takut serta membuat semangat para prajurit menjadi gentar.
__ADS_1
Dua bola energi terbentuk di sisi kanan dan kirinya. Menyerap energi di sekeliling dengan ganas, bola energi itu bertambah ukurannya secara eksplosif.
“Manusia ...,” geram lirih Nine-Tails Ice Demon Fox sebelum dua bola energi di sampingnya bergabung menjadi satu dan diluncurkan. Menciptakan serangan dengan kekuatan besar.
BOOM!
Ledakan kuat segera membuat dinding kota roboh, dinding yang selama ini dibanggakan akan ketahanan yang dimilikinya. Namun, nyatanya tidak sedikit pun mampu menahan ledakan energi yang dilepaskan.
Nine-Tails Ice Demon Fox mulai melangkah memasuki kota. Membuat penghuni kota yang melihat ini lari terbirit-birit, menjauh dari makhluk di depan mereka, ingin melarikan diri dari kota. Namun, jalan keluar telah terlebih dahulu terblokir membuat mereka hanya dapat meringkuk dalam ketakutan.
Nine-Tails Ice Demon Fox memicingkan hidungnya, mencoba mencari keberadaan Rion dengan jejak bau yang tertinggal. Tak lama, pandangannya terpaku pada sebuah toko budak.
Prak
Mengayunkan kaki depannya, Nine-Tails Ice Demon Fox dengan mudah menghancurkan atap sebuah bangunan. Sebuah ruangan yang penuh sel budak terlihat, tapi dia abaikan. Lebih memilih memandang ke dalam, mencari keberadaan Rion. Namun, dia tidak dapat menemukan keberadaan Rion di mana pun, padahal dia yakin bahwasanya di sinilah jajak terakhir yang ditinggalkan Rion.
Nine-Tails Ice Demon Fox menggeram, dia kini semakin murka. “Dasar ... manusia terkutuk ...! Bahkan ... ini ... kau ... renggut!”
Melihat sekelompok manusia yang meringkuk di pojok ruangan. Nine-Tails Ice Demon Fox mengayunkan kaki depannya, membunuh mereka seketika sekaligus melampiaskan amarahnya. Dia berbalik, sembari mengontrol balok es di sekitarnya untuk menahan serangan-serangan yang terus di arahkan padanya.
Luka yang dideritanya terus menimbulkan rasa sakit, tapi dia terus memaksakan tubuhnya hingga ke titik batas toleran. Walau sebenarnya memiliki tubuh yang dalam keadaan luka berat setelah menghadapi masalah yang membuatnya tidak berada disisi Rion kemarin malam. Namun, amarah yang meluap membuatnya memaksakan diri untuk terus bergerak, mencari asa atas keberadaan Rion.
“Akan ... aku hancurkan ... kalian semua!” geramnya saat merasa serangan yang terus diarahkan padanya mulai mengganggu.
Nine-Tails Ice Demon Fox membentuk badai es ganas di sekitarnya. Menghancurkan bangunan-bangunan yang terdapat di sekeliling, suhu seketika turun hingga mencapai titik beku, menyebabkan makhluk hidup lain tidak dapat kabur lalu mati karena hipotermia. Di sisi lain, intensitas serangan yang ditujukan padanya menurun.
“Grandmagic: Wild Wheels!”
Bersama rapalan mantra yang tiba-tiba terdengar, puluhan roda-roda api bergerak liar menuju Nine-Tails Ice Demon Fox. Serangan dengan skala cukup luas menyelimutinya, membuat lukanya yang telah sedikit menutup kembali terbuka bersama darah yang mengalir keluar.
Melihat ini Mabondo tersenyum, membusungkan dadanya dan merasa semakin percaya diri. Menganggap serangan tunggalnya telah menyebabkan luka semacam ini pada Nine-Tails Ice Demon Fox. Serta semakin meremehkan Nine-Tails Ice Demon Fox di depannya, menganggapnya sebagai makhluk lemah.
__ADS_1
Melihat ke samping, Mabondo dengan senang hati melontarkan ejekan, “Lihat Kris! Hanya dengan satu sihirku dia sudah dalam kondisi semacam ini, maka buanglah kekhawatiran tak bergunamu itu.”