
Garis cahaya melintas cepat di saat cakar Ci menunjukkan ketajamannya. Dengan segera membentuk busur lintasan yang ingin menggapai leher But.
Namun, But sendiri tak tinggal diam. Memutar tubuhnya dengan gesit, dia menghindar serangan pertama itu. Meski begitu, serangan demi serangan lanjutan Ci jalankan, balik menekannya dengan keras.
Dengan kondisi tubuh semacam ini, banyak dari gerakan yang sebelumnya But lakukan menjadi kaku, secara drastis menurunkan tingkat penghindarannya. Namun, itu tak serta-merta membuatnya terdiam, memutar otaknya, dia mengakali situasi dan menunjukkan gerakan sulit, setidaknya itu membuatnya dapat mengatasi serangan Ci.
Menjauh dari tempat Ci berada, But mengambil napas dalam. Matanya kini bolak-balik memperhatikan pada sosok Ci dan Rion. Walaupun dirinya sudah menduga Ci akan menjadi kendala, tapi kehadiran dan kemampuan yang Rion tunjukkan berada di luar perkiraannya. Setidaknya itu berdasarkan pancaran aura yang dapat dia rasakan dari Rion.
“Benar saja, pemuda itu lah yang harus aku urus terlebih dahulu.” Mengingat bagaimana koordinasi rantai serangan yang Rion lakukan, But menghembuskan napas panjang. “Dengan kemampuan semacam itu. Bahkan jika para Beast-kin itu dapat dilumpuhkan, kemungkinan besar pertempuran ini masih akan menjadi berlarut,” sambungnya.
Ini adalah pendapat jujur But. Setelah menimbang berat antara Ci dan Rion, dia memilih akan mengatasi Rion terlebih dahulu. Pada awalnya dia sendiri merasa bahwa kabar perataan Overflow hanya oleh satu orang dilebih-lebihkan, apalagi dengan kondisi beberapa korban selamat yang berada di ujung batas kewarasan. Bahkan laporan hasil interogasi itu sendiri sangat dia ragukan.
Namun, pemikiran itu segera lenyap. Walau awalnya But beranggapan bahwa dua orang lain yang mengikuti pemuda itu akan turut bergabung dalam pertempuran, tapi kenyataan berkata lain, tidak. Dalam kinerja pertempuran yang ditunjukkan saja, Rion telah membungkam rasa ketidakyakinan di hatinya.
But melirik bagian kiri tubuhnya, aroma terpanggang masih dapat dengan jelas dia rasakan. Ini mungkin adalah hasil dari penjagaannya yang sedikit ‘longgar’.
Selain itu, tindakan pemuda itu sendiri agak tak terduga bagi But. Lain hal dengan Ci yang tindak tanduknya dapat dia perkirakan dengan mudah.
Ini jugalah yang menjadi bahan pertimbangannya. Namun, tak lama kemudian But mengerut, meski dia sudah yakin akan tindakan selanjutnya, tapi dia masih saja merasa ada sesuatu yang mengganjal.
“Memang sihir yang pemuda itu miliki sedikit aneh, tapi aku rasa bukan hal itu yang menjadi penyebab perasan ini.” Tak dapat menemukan jawaban dari mana perasaan ini berasal, But kembali mengalihkan fokus ke medan pertempuran di depannya.
__ADS_1
Jika pun But ingin merenungkan masalah ini lebih lama, tapi tampaknya hal itu tak akan dapat berjalan dengan mudah baginya. “Lebih baik aku segera menyelesaikan mereka berdua lalu mengurus hal ini,” gumamnya.
Mulai menggerakkan bagian kiri tubuhnya —terkhusus bagian yang terpanggang— untuk dapat memperkirakan bagaimana kemampuan bergeraknya sekarang, But mengangguk diam. Kini dia dapat lebih mengenali bagaimana kemampuannya sekarang dan sejauh mana batasnya.
But mulai memperbaiki postur tubuhnya, jauh berbeda dengan sebelumnya setelah memikirkan dengan jeli. Ini semua demi menutupi kekurangan yang timbul akibat cedera sebelumnya. Seolah semua tindakan cepatnya ini telah tepat, serangan dari Ci yang terus mengejarnya akhirnya sampai kepadanya.
Tang!
Bunga api kembali hadir, bersama serangan demi serangan lain yang terus meluncur dengan cepat. Namun, bunga demi bunga api lain pun terus mekar, berhamburan dengan cepat ke udara lepas seolah mengejar kecepatan itu.
Mata Ci sepenuhnya fokus pada gerakan But, meski kini keduanya memiliki cedera masing-masing —yang menurunkan kemampuan bertarung sampai titik tertentu. Namun, itu tak cukup untuk menutup jarak sepenuhnya. Seperti sekarang, bahkan dalam kondisi semacam ini, gerakan But masih jauh lebih baik darinya.
Ini mungkin juga disebabkan bagaimana keseimbangan mereka bergeser, terutama Ci yang menderita pergeseran cukup jauh. Bagaimanapun kehilangan satu lengan memiliki dampak lebih besar daripada apa yang terlihat. Jika dia sendiri, tak diragukan lagi bahwa dirinya akan sangat ditekan But.
Meskipun kemampuan bertarung yang dapat Ci tunjukkan tak lebih dari 60% aslinya, tapi pemuda itu telah menutupi sebagian besar kekurangan yang ada. Terlebih dengan kondisi But sekarang, dapat dikatakan bahwa mereka kini memiliki lebih banyak keunggulan.
But mendecak kesal, penjagaan yang Ci lakukan sangat ketat. Memaksanya terdiam dan tak dapat banyak memberi perlawanan yang dapat mendongkrak dirinya. Walau sebelumnya dia telah menetapkan Rion sebagai target, tapi sekali lagi, dia tak bisa melakukan itu dengan penjagaan Ci.
“Shuttle from The Rear.”
Mana pekat terkumpul di belakang But, bayangan miliknya seolah hidup dan bergerak, membuat tujuh atau delapan tentakel gelap terjulur darinya. Tentakel-tentakel itu mulai bergerak, meluncur dengan cepat mengabaikan penjagaan Ci, melewatinya dengan sangat mudah.
__ADS_1
“Silent Waver!”
Tangan Ci terangkat bersama dengan riak yang mulai terbentuk di udara, membentuk lapisan pelindung tipis. Namun, itu hanya dapat menahan dua atau tiga buah dari tentakel itu, saling meniadakan satu sama lain.
Selain itu, tentakel lain telah dengan bebas meluncur menuju sasaran. Tentu, target yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah Rion, pemuda yang masih berdiri dengan teguh di posisinya selama ini. Selain gerakan kecil yang dia ambil di awal, dia belum berpindah posisi satu inchi pun.
Rion menghembuskan napas sejenak saat melihat sisa tentakel gelap yang meluncur bebas ke arahnya. Memutar tombak di tangannya sejenak, dia mengambil kuda-kuda sebelum berlari, melompat dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, seolah memiliki matanya sendiri, tentakel-tentakel gelap itu mengubah arah serangan. Menukik tajam, berakselerasi dan dengan segera mengubah haluan.
Rion tak melirik perubahan itu, dia sudah menduga hal ini mungkin akan terjadi. Menghentikan langkah, tubuhnya mulai berputar, balik menatap serangan itu secara langsung.
Tombak di tangan Rion berayun, menangkis tentakel pertama, membelokkan arah serangan. Tombaknya menancap dengan erat, berubah menjadi pegangan saat tubuhnya berputar di udara, memantulkan tubuhnya ke arah lain bersama tentakel itu yang kini terbang jauh.
Tentakel demi tentakel selanjutnya Rion hadapi dengan cermat, bahkan jika itu hanya sesaat tapi tentakel itu jelas memiliki wujud walau dalam keadaan pudar. Namun, itu jugalah yang menjadi ‘bantalan’ baginya. Dengan sudut serangan yang telah disesuaikan, menghadapi hal ini bukan hal yang sepenuhnya mustahil.
Rion meluncur, menjadikan kakinya sebagai rem dan menghentikan kecepatannya. Memandang tentakel yang masih mengejarnya, dia mendecak kesal.
“Tampaknya tentakel-tentakel itu harus dihancurkan sepenuhnya.”
Mengambil kuda-kuda lain, Rion kembali meluncur, menghadapi tiga tentakel itu kembali. Dengan cepat menghancurkan mereka.
__ADS_1
Namun, situasi Ci jauh berbeda Rion. Dengan ketidakhadiran Rion untuk membantunya, keuntungan yang sempat didapatkan dengan cepat mulai tergerus.