A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 87 : Awal Rangkaian - 6


__ADS_3

Saat matahari menunjukkan dirinya di Kota Sourt, aktivitas riuh pun segera timbul. Naik bak sebuah uap air yang mendidih dengan cepat hingga meluap dari ujung panci.


Meninggalkan penginapan dengan langkah enteng, Lily mulai menjejalkan kakinya di sudut komersial Kota Sourt. Meski ada kemungkinan bahwa Reutania mengetahui identitasnya yang sebenarnya, dia sama sekali tak merasa perlu. Bagaimanapun, kerumunan warga sipil itu sendiri telah menjadi pelindung dari kekacauan sewenang-wenang.


Melihat Yurei yang bersamanya kini menunjukkan semangat tinggi di matanya, dia memasang sedikit senyum. Sedangkan Rion ... dia benar-benar tak ingin membiasakan dirinya dengan kerumunan dan memilih tetap menjaga kamar. Dalam kepala Lily, Rion telah sepenuhnya menjadi tipe serigala penyendiri.


Mengabaikan itu, mereka mulai menapaki pasar dengan semangat. Suara pedagang di kanan dan kiri jalan yang bersahutan dengan suara keramaian membuat sebuah nada padu. Melihat sesuatu yang menariknya, Yurei segera berlari.


"Ahh, Yurei. Kau harus sedikit tenang," ucap Lily saat dirinya ikut tertarik Yurei, dan itu membuat gadis cilik itu berhenti.


Menatap Lily dengan mata berkaca-kaca, Yurei berucap, "T-tapi ...."


Melihat sekali lagi barang yang menarik perhatiannya, mata Yurei tak dapat beralih.


Memegang dahinya sejenak Lily termenung. 'Sepertinya tingkah Yurei benar-benar telah menjadi kelemahanku.'


Bagaimanapun, ini membuatnya sedikit teringat akan beberapa pengalaman di masa lalu. Menggelengkan kepalanya ringan seolah ingin mengusir kilasan masa lalu yang kembali teringat, Lily menurunkan postur tubuhnya hingga setara dengan Yurei. "Baiklah, apa yang kau inginkan Anak Manis?"


Senyum mekar di wajah Yurei. Sikapnya yang sebelumnya sedih (?) berubah 180 derajat dan kembali menarik Lily. Namun, arah yang dia tuju berhasil membuat Lily terkejut. Dengan suhu yang lebih panas daripada sudut mana pun di kota, ini adalah tempat pembuatan senjata.


Terlebih dengan penampilan mereka berdua yang jauh di atas rata-rata. Orang-orang di sekitar mereka tercengang mengapa keduanya bisa sampai di tempat ini. Mungkin berpikir bahwa mereka tersesat dari kawasan tekstil ke kawasan persenjataan.


'Apa Rion telah meracuni si Kecilku?' pikir Lily curiga. Bayangan Yurei yang polos, telah menghilang.


Menunjuk suatu arah, mata Yurei penuh harap. "Mama ...."


Bahkan jika Lily ragu, mata ini telah lama menaklukkannya. "Baiklah. Apa yang sebenarnya kau inginkan?"


Melirik arah Yurei menunjuk, terlihat sebuah pedang panjang yang dipajang di sebuah etalase toko. Lily berpikir, ‘Aku kini benar-benar yakin bahwa Yurei telah diracuni! Rion itu, apa yang dia ajarkan pada si Kecil ini ...?”

__ADS_1


"Apa kau yakin?"


"Um." Melihat bahwa Yurei mengangguk kuat. Lily tak berdaya, dan dengan itu mereka mulai menuju ke toko yang dimaksud.


Dering


Bel tanda ada masuknya pelanggan berdering ringan saat mereka melangkah masuk. Tak perlu menunggu lama lagi, Yurei langsung berlari ke arah deretan senjata yang tersusun tinggi dan rapi. Bahkan pelayan toko ini pun tak sempat menyambut keduanya.


Menempatkan jari telunjuknya di dagu, Yurei masuk ke mode berpikir. Namun, ekspresi yang ditunjukkan berhasil membuat orang merasa geli.


"Apa yang sebenarnya kamu cari Yurei?"


Saat Yurei mengalihkan pandangan bingungnya pada Lily, dia bertanya, "Mama, senjata apa yang Papa gunakan?"


"Ehm? Kamu ingin memberikan Papa senjata?"


Mata Lily terkejut sesaat, sepertinya ingatan Yurei sebelumnya telah mulai kembali walau hanya sedikit. Namun, dia dapat merasakan bahwa sikap Yurei sama sekali tak berubah meski kini cara berbicaranya sedikit lebih lancar. Mungkin ini juga disebabkan banyaknya waktu yang Yurei habiskan untuk merekonstruksi dirinya —tidur.


"Ya begitulah, tapi apa kau tidak marah?"


"Kenapa? Bahkan Papa sama sekali tak menunjukkan permusuhan padaku kala itu meski telah berbuat buruk ...."


Mengatakan ini, kepala Yurei tertunduk. Bahkan jika dia tak mendapat pengaruh dari kekuatan Lily, dia masihlah akan jatuh ke kondisinya sekarang. Kala mereka —Rion dan Yurei– terikat dalam [Covenant of the Seed], Yurei melihat mimpi yang merupakan masa lalu Rion.


Walaupun jelas itu tak sebanyak dan semua dari masa yang Rion alami. Namun, sedikit pengalaman pahit itu telah lebih dari cukup untuk memukul ego besar Yurei yang selama ini hidup nyaman sebagai penguasa kawanan Ghost Wolf sejak dirinya terlahir.


Mendengar ini, bayangan si kecil Yurei dalam benak Lily kembali naik ke posisinya setelah sempat jatuh. Tidak, itu jauh lebih tinggi.


"Kalau begitu biarkan mama membantumu," ucap Lily. Dengan 'sedikit' pengetahuan tentang senjata yang dia miliki, dia mulai memilah senjata yang sekiranya cocok untuk Rion.

__ADS_1


Perihal masalah keuangan, Lily tak ambil pusing. Kekayaan di zona kematian telah dia ambil sepenuhnya, dan karena itu merupakan bekas Kota Maves yang adalah kota komersial besar. Jumlah emas yang ada disimpan di zona kematian merupakan interpretasi dari makna harta kartun terpendam.


Rata-rata senjata di toko ini terlalu buruk di mata Lily. Bahkan jika mereka menemukan yang sedikit lebih layak, kebanyakan telah dipesan oleh orang lain yang baru membayar di muka. Di samping itu, dia tak yakin apa senjata spesifik Rion.


Bahkan selama setengah tahun lebih bersama, kepiawaian Rion dalam senjata belum menunjukkan arah khusus. Baik itu pedang, tombak, atau yang lainnya. Bahkan alasan kenapa pemuda itu sendiri lebih sering menggunakan pedang adalah dirinya yang tak memiliki senjata lain yang layak.


Mungkin ini juga disebabkan oleh kualitas mana Rion yang sangat kental. Meski di satu sisi ini menguatkan kekuatannya satu tingkat di atas rata-rata, tapi tak banyak pula senjata yang dapat menahan kekuatan itu.


Inilah alasan mengapa senjata yang Rion gunakan tak memiliki umur panjang. Bahkan pedang yang baru hancur sebelumnya adalah senjata yang lumayan di mata Lily, dan seharusnya bisa bertahan lebih dari dua generasi tanpa menurunkan kualitas. Setidaknya jika itu dimiliki oleh orang normal.


Saat mata Lily terus menyapu, itu akhirnya terhenti di sebuah tombak di sebuah sudut. Dengan warna ungu gelapnya, tombak itu mengeluarkan nuansa dingin.


Mengajak Yurei lebih dekat ke senjata itu, Lily melihatnya dengan seksama dan menemukan sesuatu yang menarik. 'Kutukan?'


Merasa hawa buruk dari senjata itu, alis Lily mengerut. Padahal dia baru saja mendapat senjata ‘emas’ di antara sampah ini. Namun, dia tidak memperdulikan hal itu dan berniat membayar harga tinggi untuk tombak itu.


Jika itu orang lain mungkin mereka akan menganggap ini sebagai penipuan, tapi Lily memiliki beberapa pemikiran untuk melepas kutukan ini. Bagaimanapun, jika mau mencoba dia mampu untuk itu.


"Mama, bukankah senjata Papa adalah pedang?"


"Yurei, Papamu itu tak memiliki spesialisasi khusus tentang senjata,” jawab Lily cepat pada pertanyaan Yurei.


Setelah itu mereka bergerak menuju kasir dan mengeluarkan sejumlah emas dalam jumlah besar. Keluar dari toko itu, Lily dan Yurei bergabung kembali dengan kerumunan massa. Seolah gelombang besar menyapu, mereka berdesak-desakkan dengan yang lain.


Apalagi dengan sekarang yang adalah jam sibuk, volume massa meningkat. Saat dia berhasil keluar, Lily pun mengambil napas sejenak sebelum berucap, "Sekarang kita a—"


Namun, perkataan Lily tak berlanjut. Matanya menjadi tajam saat menyapu ke kiri dan kanan, tapi dia tak menemukan apa yang dicarinya.


Yurei yang sebelumnya tepat di sampingnya kini menghilang tanpa jejak!

__ADS_1


__ADS_2