
Dengan langkah ringan Rion dan Lily mulai memasuki kota Dee. Penjagaan kota ini sendiri tidak terlalu ketat pada pemeriksaan masuk sebab penampilan Rion dan Lily sendiri seperti manusia. Selain itu, mungkin karena tidak terdeteksi sihir penyamaran, atau karena para penjaga terpesona oleh Lily.
Apa pun itu, mereka berdua dapat masuk ke kota ini dengan mudah tanpa mendapat hambatan berarti di gerbang masuk.
Suasana di kota Dee tampak tidak terlalu ramai, kecuali kawasan bisnis yang terisi penuh oleh teriakan para pedagang menjajakan barang dan jasa.
Meskipun Rion tidak tahu bagaimana suasana kota ini pada umumnya, tapi dia mendapati bahwa ini bukan situasi umum.
Menurut dari percakapan orang lain yang dia dengar, hal ini karena para penduduk yang tinggal di kota Dee telah diberitahu tentang rencana perang yang telah diumumkan oleh Reutania Kingdom. Setelah pengumuman dikeluarkan, sontak para penduduk kota pun mulai pergi meninggalkan Kota Dee.
Kemungkinan besar, semua ini karena kisah Kota Maves yang tertelan menjadi sebuah zona kematian masih segar di ingatan orang-orang, cukup untuk melekatkan rasa takut pada hati penduduk kota.
Akan tetapi, pengumuman itu justru menarik para pedagang untuk mendapatkan lebih banyak emas. Dengan alasan pasokan berkurang, barang sulit didapat dalam waktu semacam ini, atau alasan-alasan lain semacamnya. Karena semua itu dapat membuat harga naik sebanyak mungkin, membuat kota ini tidak terlalu sepi dengan kehadiran mereka.
Orang-orang yang tinggal sendiri didominasi oleh tentara bayaran dan prajurit militer. Dengan demikian membuat permintaan barang tidak banyak berkurang, bahkan bertambah kuantitasnya.
Mengabaikan semua itu, Rion memilih memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu. "Kita akan mencari penginapan yang masih buka."
"Ya, sebaiknya seperti itu," Angguk Lily.
Menetapkan tujuan, mereka berdua mulai berjalan kembali mencari sebuah penginapan yang masih buka. Sepanjang jalan banyak orang-orang terperangah bahkan memberikan pandangan dengan niat buruk pada saat melihat sosok Lily di samping Rion.
Melihat ini Rion menghela nafas di dalam hati, menurutnya hal ini memang tidak dapat dihindari. Bahkan dirinya yang terbiasa akan sosok Seriana yang terkenal akan kecantikannya, sempat kosong sejenak saat melihat Lily untuk pertama kalinya.
Memasuki penginapan Rion melihat sekeliling, terlihat beberapa orang bertubuh gahar duduk di lantai dasar yang juga difungsikan sebagai restoran dan bar. Mengamati sejenak dia berpendapat bahwa kemungkinan besar mereka adalah tentara bayaran.
Beberapa keributan terjadi pada orang-orang di sini saat melihat Lily, beberapa berbisik satu sama lain dengan orang yang duduk bersama mereka kemudian tertawa. Tidak sedikit pula pandangan mesum diarahkan, menyebabkan suara-suara bising mengisi ruangan.
Seorang pemuda bertubuh atelis berjalan mendekati Lily, wajah pemuda itu sendiri cukup tampan. Membungkam dadanya, pemuda itu terlihat percaya diri pada penampilannya yang menawan, melihat ini beberapa orang bersiul pada pertunjukan yang akan terjadi.
"Boleh aku tahu siapa Nona cantik ini?"
"...," Lily melirik, tidak menanggapi pemuda tersebut.
Melihat tingkah Lily, sudut mulut pemuda itu sedikit berkedut. "Nona cantik, jangan diam saja."
Lily tak memberi tanggapan kembali, memilih mengabaikan keberadaannya, dia berlari kecil menyusul kembali Rion yang telah berada di depan. Meninggalkan tempat dirinya yang sempat tertahan langkahnya oleh tingkah pemuda sebelumnya.
__ADS_1
Garis vena muncul di dahi pemuda tersebut, dia merasa dirinya dihina oleh gadis di depannya. Dengan kedudukannya, dia tidak akan pernah diabaikan seperti itu. "Kau kesini atau akan aku paksa!"
Buk!
Sebuah pukulan dilayangkan pada Lily dari belakang. Namun, tangan Rion segera menangkap pukulan itu dengan mudah.
Raut wajah pemuda itu kian memburuk, melihat rekannya yang sedari tadi menonton dia pun berteriak, "Hoi! Kalian juga bantu! Kalau bisa nanti kita bisa bagi!"
"Ya, kalau kau sudah mau apa boleh buat. Jangan meludahi dirimu nanti David."
"Ya!"
Rion memandangi sekumpulan orang yang mendekat, total delapan orang jika David —pemuda itu— turut dihitung.
"Nona cantik, kau tidak akan bisa lari lagi mulai sekarang," ucap David memangku tangan arogan, disertai senyum mengejek yang terbentuk di bibirnya.
Melihat tingkah David, Rion menggelengkan kepalanya.
'Orang-orang ini tidak tahu apa sebenarnya yang diketuknya.'
Seorang berbadan besar nan kekar maju, membuat sebuah pukulan kuat ke arah Rion, pukulan tersebut kembali ditahannya dengan mudah.
Kretek!
Suara renyah terdengar dari kepalan tangan orang tersebut, membuat orang tersebut merapatkan giginya. Berusaha menahan rintihan yang ingin keluar dari mulutnya saat menahan rasa sakit ini.
Dengan sapuan ringan, orang itu tersebut terlempar keluar bangunan, terjatuh keras hingga membuat suara dan bekas pada jalan yang berupa batu-batu kecil yang disusun untuk menghindari resiko terpeleset saat hujan.
Melihat ini, David berteriak, "Serang dia bersama!"
Bersama teriakannya, David mulai memberi pukulan pada Rion. Disusul oleh orang yang berdiri bersamanya, sontak membuat kerusakan pada meja dan kursi di sekeliling mereka, tak dapat menahan ledakan mana yang berasal dari tubuh orang-orang ini.
Pukulan demi pukulan dilayangkan, tapi tidak membuat Rion terdesak maupun mendapat luka. Dengan tempat mereka saat ini mustahil melepaskan teknik pertempuran atau akan menyebabkan pihak keamanan kota datang.
Mulai menangkap pukulan masing-masing orang, Rion mulai melemparkan mereka satu per satu keluar penginapan hingga menjadi sebuah tumpukan di depan penginapan ini.
Seluruh orang kini fokus memandangi Rion, tidak berani memberi pandangan atau apa pun. Apalagi niat mesum mereka pada sosok cantik di sampingnya yang kini berusaha mereka tahan.
__ADS_1
Orang-orang yang duduk tak jauh dari tempat kejadian kini menelan ludah, tidak menyangka orang yang mereka abaikan sedari tadi ternyata berkemampuan hebat. Orang-orang yang dilempar Rion barusan adalah salah satu bawahan langsung dari wakil ketua Overflow —Gadi— yang memiliki kekuatan di tingkat gold level 1-3.
Rion mengacuhkan tatapan dalam bentuk apa pun yang diarahkan padanya. Dia lebih memilih berjalan ke meja resepsionis yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kami akan memesan kamar," ucap Rion tenang.
"A-ah ... i-iya ... sebentar," ucap resepsionis tersebut sembari bangkit dari posisi berlindungnya, tak mengangkat keributan sebelumnya akan berakhir dengan cepat.
"Ingin menyewa berapa kamar? Lalu berapa lama akan tinggal?" tanya resepsionis tersebut berusaha menjaga ketenangannya.
"Dua kamar dengan—"
Namun, Lily segera memotong perkataan Rion. "Satu kamar dengan satu tempat tidur, untuk waktunya ...," Setelah berpikir sejenak dia berucap, "Sekitar dua minggu ke depan."
Rion menatap Lily yang berbuat seenaknya lagi, tapi menghadapi tatapannya Lily hanya tersenyum kecil. Menghela napas, dia mengalah pada kemauan gadis ini, setidaknya untuk sekarang.
"Kamu akan membayar di muka, jadi berapa biaya totalnya?"
"Sebentar, totalnya 1 keping emas dan 42 keping perak, harga ini sudah termasuk sarapan dan makan malam."
Rion mengeluarkan dua buah koin emas, koin ini sendiri dia ambil dari beberapa gudang di zona kematian. Meski tempat itu sendiri cukup aneh menurutnya, walaupun tidak terdapat makhluk hidup tetapi seluruh bangunan serta benda-benda di dalamnya tetap utuh, hanya bagian utara dan barat kota saja yang mengalami kerusakan pada bangunannya.
"Iya, ini kembaliannya Tuan. Untuk makanan akan disajikan di lantai dasar, jadi Tuan harus turun ke bawah."
Rion mengangguk, menerima sebuah kunci dari resepsionis itu lalu mulai berjalan menuju kamar yang ditujukan padanya.
Setelah memasuki kamar, Rion memilih duduk di sebuah kursi sementara Lily sendiri sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Kamar ini sendiri cukup luas, dekorasi sendiri dapat dikatakan cukup sederhana tapi memberi kesan tersendiri.
Melirik Lily, Rion menanyakan hal yang mengganjalnya. "Kenapa kau meminta satu kamar?"
"Mengurangi kecurigaan," jawab Lily singkat.
"Kalau begitu aku akan meninggalkan kota ini setelah sehari menginap, karena kau ingin tinggal maka—"
Mulut Rion ditutup oleh tangan Lily yang memeluknya dari belakang. Mendekat ke telinganya, Lily berbisik, "Kau akan tetap tinggal."
"Kenapa harus?"
__ADS_1
Lily menarik Rion, membuat jatuh ke pelukannya. Memeluk erat Rion matanya balik menatap jauh ke dalam diri pemuda itu.
"Rion, itu karena ...," Lebih mendekatkan dirinya lagi, Lily berbisik, "... Kau akan terus bersamaku"