A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 84 : Awal Rangkaian - 3


__ADS_3

Bunga api memercik, memberi seberkas cahaya pada saluran bawah tanah yang gelap gulita sebelum menghilang. Namun, tak lama kemudian bunga api lain mekar di sudut lainnya.


Sosok yang membuat semua ini terjadi, Xion terpental mundur setelah menerima serangan lawan misterius itu.


Setelah lebih dari 10 menit mereka bertarung, Xion telah menyadari bahwa lawannya belumlah serius. Argumen itu sendiri diperkuat dengan dirinya yang tak menderita luka-luka parah sebagaimana luka yang diterima Wess. Bahkan setelah menerima beberapa pukulan dari lawan.


Namun, hal ini juga dapat dimaklumi. Karena dalam pertarungan di muka seperti ini, membuat orang itu tak dapat melakukan banyak persiapan untuk bisa memberikan satu serangan mematikan seperti yang dia lakukan sebelumnya.


‘Efek Wild O Rage akan segera berakhir!’ Memikirkan masalah ini sejenak, mata Xion melirik ke tempat rekannya yang lain berada.


Melihat bahwa Wess masih dalam pemulihan untuk dapat menampilkan kekuatan maksimalnya, Xion menggertakkan giginya sebelum kembali mengejar sosok itu.


Melihat bahwa Xion masih terus mencoba menahan orang itu, Zee menghentikan rapalannya saat ini dan berganti mantra. Dengan staff panjang yang dijunjung tinggi, cahaya sihir hijau zamrud mulai terlihat.


“Magic: Whirllines!”


Lintasan demi lintasan mulai tercipta, keluar dari ujung staff Zee dan mencoba menggaet lawan. Lintasan itu bergerak liar, memberi jejak nyata akan keberadaannya dan terus mengejar orang itu.


Dengan dirinya yang terus coba ditekan oleh tim Night Eye, mata orang itu terus berada dalam fokus penuh. “Shadow Leap.”


Orang itu kembali berubah menjadi kabut hitam, menghilang dari posisinya kini dan membuat garis lintasan yang mengejar bersama Xion kehilangan target.


Xion kembali diam, berusaha meningkatkan kepekaan indranya tinggi-tinggi untuk dapat menangkap kemunculan orang itu.


Saat matanya menangkap jejak kemunculan orang itu, Xion segera meluncur. Berusaha memanfaatkan semuanya yang dia miliki sebaik mungkin.

__ADS_1


Orang itu segera mundur dari posisinya, berputar di udara saat menghindari serangan Xion dan meluncurkan beberapa anak panah. Air memercik, saat dia mundur lebih jauh. Dengan kecepatan yang ditunjukkannya saat ini, mustahil Xion dapat mengejarnya.


Xion yang kehilangan jejak lawan pun kembali ke tempat Zee berada. Namun, kesiagaan yang dia miliki tetap dalam titik tertingginya.


“Kapten, aku merasa bahwa orang itu akan kembali menyerang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.”


“Aku pun berpikir demikian Zee. Tolong pasang matamu pada Yuzu dan Wess, mungkin mereka lah yang akan menjadi incaran orang itu sementara aku mengawasi sekitar kita.”


Zee mengangguk, melakukan tepat seperti perintah Xion saat pertarungan memasuki masa jeda. Di kala sekelebat banyangan tertangkap, suara tinggi pun segera menyusul.


Mendecakkan lidahnya, orang itu bergumam pelan hingga tak dapat didengar siapa pun. “Sepertinya akan aku akhiri di sini saja.”


Namun, gerakannya tak berhenti dan malah menjadi semakin liar. Bayangan demi bayangan melintas, terkumpul pada belati di tangannya hingga menjadi layaknya bentuk sebuah pedang panjang.


“Deep Down!”


Luka demi luka terbentuk, lebih dan lebih banyak lagi. Menghiasi tubuh Xion dengan darah yang keluar dari luka di tubuhnya. Bahkan jika dia ingin keluar dia tak bisa, kekuatan pihak lain telah menahannya.


Ci yang selama ini bersembunyi di balik bayangan menunjukkan sedikit kecemasan. Ini bukan masalah keselamatan tim Night Eye, melainkan keselamatan informasi yang dimiliki tim itu dan tak ada di tangannya.


Dengan keberadaannya yang dikuak Rion sebelumnya, dia pun menjadi lebih sulit untuk dapat menunjukkan dirinya di depan tim Night Eye. Selain mungkin akan menimbulkan sentimen buruk karena ketidakpercayaan para petinggi militer pada tim itu yang ingin dia hindari, karena itu akan membawa tim ini ke arah menyimpan informasi untuk diri sendiri.


Bahkan setelah dia bertemu kembali dengan tim ini di titik yang dia ketahui —dari menguping pembicaraan tim itu selama ini. Informasi khusus tentang target masih belum terbuka.


“Sepertinya lebih baik bagiku untuk keluar sekarang,” gumam Ci.

__ADS_1


Berpikir sampai titik ini Ci mengangguk yakin. Dengan dirinya yang ‘menyelamatkan’ tim ini dari bahaya, kemungkinan besar rasa tidak senang yang mungkin timbul akan berkurang tajam. Di sisi lain, dia kini memiliki gagasan tentang alasannya bersembunyi selama ini.


Namun, gerakan ini terlambat beberapa langkah dari situasi di depannya. Setelah tubuh Xion penuh dengan luka, kepala orang itu menoleh ke arah lain dan segera menghilang tanpa jejak yang tertinggal.


Bahkan setelah mereka menanti lama, mereka tak mendapati kemunculan orang itu kembali. Membuat Xion segera terjatuh, tak hanya tubuhnya tapi kesadarannya pun mulai menjauh.


“Kapten!” teriak Zee saat berlari menghampiri Xion. Melihat bahwa keadaan Xion jauh lebih buruk dari dugaannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, sihir penyembuhan pun dia rapalkan.


Meski begitu, wajah Zee yang berisi kecemasan tak berubah. Mengalihkan pandangan ke arah Yuzu, dia berteriak, “Yuzu! Tolong kau bantu aku untuk memberi pertolongan pada Kapten, kau tahu dengan baik kan bahwa sihir penyembuhanku tak terlalu bagus.”


Bahkan tanpa Zee suruh pun Yuzu telah menuju ke arah Xion. Dengan keadaan Wess yang jauh lebih baik daripada sebelumnya, dia segera ke tempat Xion begitu melihat kaptennya ini terjatuh.


“Bagaimana keadaan Kapten?” tanya Yuzu pada Zee, berharap rekannya ini memberi tahu kondisi umum yang Xion alami demi dapat memberikan pertolongan dengan cepat.


“Dia memiliki luka besar pada punggungnya. Selain itu pinggangnya terkoyak, mungkin luka itu telah merobek lambungnya tapi aku tak tahu apakah itu mencapai paru-parunya. Lebih dari itu aku belum dapat memastikannya, tapi sekarang aku hanya dapat mencegah Kapten kehilangan lebih banyak darah.”


Yuzu mengangguk dalam, tak berbicara lagi. Jauh berbeda dengan sikapnya yang biasa kini dia sangat serius. Semburat hijau menyegarkan mulai terkumpul di tangannya saat sihir penyembuhan diberikan.


Namun, itu tak hanya sihir penyembuhan dasar tapi beragam darinya. Setiap sihir penyembuhan yang Yuzu berikan memiliki kekhususannya dalam menyembuhkan beberapa jenis luka tersendiri.


Meski begitu, sihir penyembuhan dari Zee yang ‘tak seberapa’ terus berlanjut, berusaha membantu Yuzu semaksimal mungkin.


Mendekat ke tempat Xion dengan perlahan, raut muka Wess bermasalah. “Maaf karena tak dapat membantu dan menjadi beban. Bahkan Kapten harus jatuh ke kondisi seperti ini.”


“Tidak apa Wess. Jika kau tak melakukan itu mungkin aku kini telah menjadi mayat kaku. Selain itu, tolong perhatikan sekeliling kita. Kemungkinan bahwa akan ada serangan susulan belum sepenuhnya menghilang,” jawab Zee cepat.

__ADS_1


Wess yang memahami bahwa dia tak dapat membantu keadaan saat ini pun mengangguk, menuruti saran Zee. Apa yang Zee katakan memanglah fakta yang terjadi, selama mereka berada di wilayah musuh, kemungkinan serangan lanjutan tak akan menghilang sepenuhnya.


Namun, di tengah kekacauan ini tak ada yang memperhatikan bahwa mata Yuzu menunjukkan emosi-emosi tak terkatakan.


__ADS_2