
Semua orang terdiam cukup lama setelah mendengar kisah Ernest. Entah apa bentuk pikiran yang mengisi kepala orang-orang itu, mungkin berpikir tentang kekuatan para bandit yang dikisahkan, atau mungkin merasa iba pada si pengisah.
Memandang Huge dengan tatapan yang melihat jauh, ke hal yang tak ada di depannya sejenak, Ditch menyadarkan tubuhnya. Mengelus dagu, dia berusaha menyimpulkan sebelum berucap, “Dari cerita Ernest sepertinya mereka berada di tingkat gold, tapi untuk level pastinya kami masih belum dapat memastikan.”
Memasuki mode berpikir sesaat Ditch menuliskan beberapa kalimat pada sebuah kertas, menstempelnya dengan cap berwarna kuning, dia menyerahkan gulungan kertas itu kepada Huge sebelum menurunkan perintah.
“Huge pergi ke regu satu! Berikan gulungan itu pada mereka, mereka akan kutugaskan menumpas para bandit itu. Aku rasa dengan kekuatan mereka di tingkat gold level 1-3 seharusnya itu mungkin. Juga ...,” Mengalihkan pandangannya pada Ernest, Ditch pun melanjutkan, “Ernest kau tetap di sini!”
Meskipun Huge ragu sejak atas perintah kedua Ditch. Namun, melihat bahwa Ernest mengangguk meski dengan lemah, dia akhirnya menjawab, “Baik Kapten!”
Huge segera pergi dengan langkah berat, bersama gulungan dari Ditch yang berisi sebuah surat perintah. Dia meninggalkan Ditch dan Ernest berdua di ruangan itu.
Melihat bahwa Huge telat benar-benar menghilang, tatapan Ditch berubah total seperti sedang memindai Ernest dari atas sampai bawah. “Ernest, apa kau tertarik bergabung dalam militer?”
Ernest balik menatap sosok Ditch, dia benar-benar terkejut atas tawaran yang diberikan. Namun, segera dia menggelengkan kepalanya. Banyak alasan yang mendasari ini mulai dati dia yang tak tahan dengan hal bernama pertempuran, selain itu ... bayangan kepala kedua adiknya menggelinding di tanah masih segar dalam kepalanya.
Mendapatkan respons yang tak dia inginkan, Ditch menghela napas pelan. “Jadi begitu ....”
Namun, dia belum menyerah. “Ernest, coba renungan hal ini baik-baik karena pikiranmu mungkin masih belum jernih karena peristiwa itu. Jika kau berubah pikiran kau dapat menemui aku lagi. Sementara waktu kamu dapat tinggal di ruangan sebelah barat daya barak.”
Melihat Ditch yang tak berperilaku ekstrem atas penolakan yang dia berikan, Ernest menundukkan kepalanya. “Terima kasih.”
Setelah berkata demikian, Ernest mulai melangkah pergi meninggalkan Ditch sendirian di ruangan. Namun, tanpa dia ketahui setelah kepergiannya ekspresi tenang Ditch pun jatuh.
Menurut penilaian Ditch, Ernest adalah sosok yang tepat dan berpotensi untuk menjadi ahli strategi. Bagaimanapun dia dapat menahan emosinya yang naik dan turun dengan cepat dalam situasi semacam itu, hingga dapat membuat keputusan dengan kepala dingin pada saat-saat kritis. Walau tidak sepenuhnya akurat, tapi keputusan itu setidaknya telah diperhitungkan secara matang tanpa terpengaruh emosinya.
Hal ini dapat Ditch lihat saat Ernest memilih meninggalkan ayah serta kedua adiknya, meski dia sendiri yakin bahwa hal itu berlawanan dengan apa yang Ernest rasakan kala itu.
__ADS_1
Walaupun terkesan tidak manusiawi bagi kebanyakan orang baginya untuk mengatakan hal semacam ini. Namun, Ernest adalah orang berdarah dingin, dia menahan kesedihannya untuk terus menuju kota, jika tidak mungkin dirinya tidak akan dapat selamat.
Menimbang perangai semacam ini yang sangat cocok untuk menemani Huge, walau dia sendiri hanyalah seorang prajurit rendahan, tapi Ditch tahu bahwa kemampuannya melebihi itu. Meskipun ada alasan tersendiri baginya untuk berada dalam posisinya saat ini.
Secara kasar dan tanpa merinci alasan khusus, semua karena Huge telah mengambil keputusan salah dalam situasi kritis, dan itu karena dia terbawa emosinya yang tersulut.
Menatap langit-langit ruangan ini, Ditch memejamkan mata sejenak sebelum kembali terjun ke dalam pekerjaan tertulis ini. Namun, pikirannya penuh harap.
‘Semoga tak ada lagi sosok berbakat yang padam dan tak dapat menunjukkan cahayanya.’
Tentu saja, harapan ini tak hanya untuk Ernest dan Huge.
***
Di dalam salah satu gedung bangunan yang disewa oleh Overflow di Kota Dee.
Dalam suasana jalur yang dirasakannya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka bersama suara sopan yang menyertai. Meskipun tindakan itu terlambat mengingat dia telah memasuki ruangan Gadi.
Namun, Gadi tak memarahi orang itu. Bagaimanapun orang yang kini memasuki ruangan adalah salah seorang bawahan langsungnya, dan tentu saja dia telah mengizinkan tindakan semacam ini.
Membuka mulutnya, Gadi mulai bertanya, “Ada keperluan apa hingga perlu menemuiku David?”
Benar, orang yang tengah menghadap Gadi adalah David, salah seorang di antara mereka yang memulai konflik dengan Rion di bar sekaligus penginapan itu.
“Ada hal penting yang perlu aku beritahukan kepadamu Gadi,” Melihat bahwa Gadi mengangguk, David pun melanjutkan.
Dia mulai menceritakan apa yang dialaminya di bar itu, tentu saja semua itu setelah melalui ‘sedikit’ polesan yang dilebih-lebihkan. Meski begitu, konten utama mengenai dia yang dipermalukan oleh seseorang pemuda berambut hitam dan gadis berambut perak tidaklah berubah.
__ADS_1
Meskipun terlambat sehari karena kemarin dia tak dapat menemui Gadi, tapi David telah tersenyum senang di dalam hatinya, membayangkan pembalasan yang akan diterima oleh kedua orang tersebut. Namun, ekspresi Gadi menjadi buruk dan uap panas terlihat mengepul darinya.
“Apa kau sudah gila?!”
Tidak seperti dugaan David, bahkan jauh dari apa yang dia harapkan. Gadi malah memuntahkan amarah padanya.
Mencari tahu mengapa dalam pikiran, akhirnya dia mengingat bahwa beberapa hari lalu telah diberitahukan kepada setiap anggota untuk lebih menjaga sikap mereka, dan itu tidak terkecuali!
Mengingat tingkahnya, dia sadar bahwa itu telah berlawanan dengan apa yang diminta dan itu membuat keringat dingin mulai menetes darinya.
Tak ingin membuang waktunya untuk urusan semacam ini, Gadi pun membuang David jauh dari jangkauan matanya. Membuatnya menyingkir tanpa sepatah kata pembelaan.
Akan tetapi, setelah kepalanya mendingin, Gadi menyadari sesuatu. ‘Bukankah ciri-ciri orang yang bermasalah dengan David dan orang yang dimaksud Heran itu sama?’
Pemuda berambut hitam dan gadis berambut perak, Gadi merasa itu adalah ciri-ciri yang khas. Bagaimanapun, bahkan orang dengan ciri seperti itu tak banyak di Benua Zestia, terutama orang dengan rambut berwarna perak. Untuk pemuda itu, bahkan di Benua Sylius sendiri hanya Satific Republic yang memiliki penduduk dengan ciri semacam itu, tapi negara itu sendiri tak ikut dalam serangan ke Benua Zestia.
Dengan semua faktor di atas, dan sedikitnya faktor kesamaan umum yang dapat terjadi, Gadi merenung dan tak berniat mengambil gerakan sama sekali. Faktor resiko lain dalam hal ini terlalu besar.
Benar-benar tak ingin mengambil resiko apa pun yang dapat membuat posisinya goyah, dia pun mulai berjalan ke tempat Lech. “Aku rasa lebih baik melaporkannya pada Lech. Jika orang ini benar-benar pemuda yang dimaksud oleh Heran ini bukan masalah yang dapat aku tangani sendiri.”
Namun, dalam perjalanannya di sore hari yang tenang seperti biasanya di Kota Dee, Gafi melihat sekelompok prajurit militer sedang berbaris di depan gerbang yang juga perhatian warga.
Meski Gadi tak tahu apa yang dilakukan oleh pihak militer. Namun, dia memiliki perasaan tidak menyenangkan akan hal ini.
Dengan dipimpin oleh seorang prajurit yang sepertinya merupakan seorang pemimpin (?). Mereka berjalan secara tertib dan teratur menuju keluar kota Dee.
Namun, tak hanya Gadi yang memerhatikan hal ini sebagai hal tak biasa. Jauh dari tempatnya, di sebuah penginapan seorang gadis berambut perak juga melihat hal ini dari sebuah jendela bersama dengan sebuah senyum tipis yang kini menggantung di bibirnya.
__ADS_1
“Bagian pertama tampaknya telah selesai. Sekarang, akan kah hal ini mulai masuk ke bagian selanjutnya? Kuharap semua sesuai yang telah kuperkirakan sebelumnya ...,” gumamnya berharap.