
Meskipun dia masih berusaha untuk mencerna informasi yang didapat ini lebih jauh. Namun, Lech tak ingin ambil resiko dalam bentuk apa pun.
Menatap Heran yang masih terengah-engah, Lech memasang nada serius saat berucap, "Untuk saat ini kita hentikan dulu perampokan yang kita lakukan. Selama ini pihak Reutania Kingdom mengira hilangnya para pelancong yang menuju ke kota ini karena serangan Beatria Union. Lalu kumpulkan semua wakil ketua lainnya, kita akan membahas masalah pemuda itu segera."
Mendengar jawaban dari kakaknya, raut wajah Heran menjadi lebih baik. "Baiklah Kak."
"Untuk saat ini, Heran. Mau ikut bersenang-senang?" tanya Lech saat menunjuk gadis di ruangan ini yang telentang tak berdaya di atas ranjang, meskipun gadis itu sendiri masih tak sadarkan diri.
"Aku rasa boleh," ucap Heran. Bagaimanapun, dirinya juga ingin melepaskan stres yang telah menumpuk dari semalam.
Meninggalkan ruangan, Lech segera memesan salah satu anggota acak yang dia temukan untuk memanggil wakil ketua lainnya. Karena dia sendiri biasa melakukan hal semacam ini, anggota itu mengangguk tanpa banyak bertanya.
Waktu berlalu dan pesan Lech pun telah disampaikan, saat matahari tengah dalam titik tertingginya, rapat pun diselenggarakan.
Ruangan yang ada di bawah tanah ini cukup luas. Namun, hanya terdapat enam orang di dalamnya dan berkumpul. Duduk di atas kursi, keenam orang itu membentuk lingkaran sesuai bentuk meja dan membuat mereka saling menghadap satu sama lain.
Setelah informasi disampaikan pada wakil ketua lainnya, Heran telah sempat memberitahu mereka tentang apa yang menimpa kelompoknya. Meski tak secara formal, informasi ini tentu membuat wakil ketua lainnya terkejut, bukti bahwa pertemuan ini diadakan pun juga membuat mereka sadar ini bukanlah hal yang main-main.
Lech yang duduk di tempat lebih tinggi daripada yang lain mulai menatap empat wakil ketua selain Heran.
Kold, Pirlo, Sona, Gadi. Dari keempatnya Kold, Pirlo, dan Sona, adalah orang-orang yang telah bersama Lech sejak kelompok tentara bayaran ini terbentuk, membuatnya tidak meragukan kesetiaan mereka sama sekali.
Sedangkan Gadi, dia sendiri baru masuk kelompok tentara bayaran ini sejak nama Overflow sudah mulai dikenal. Walaupun begitu, dengan kekuatan serta kinerjanya selama bergabung dengan kelompok ini yang sangat cemerlang, membuatnya dapat menduduki posisi ini sekarang.
Semua wakil ketua telah berkumpul, kekuatan mereka berkisar di tingkat gold level 5-7 kecuali Heran. Membuat mereka sebenarnya dapat menduduki posisi sebagai wakil kapten ksatria di regu yang dimiliki salah satu dari lima negara besar. Namun, karena mereka tidak ingin terikat atau dibatasi oleh aturan kekesatriaan yang cukup ketat, membuat mereka tetap memilih sebagai tentara bayaran.
Secara mudah, mereka semua adalah orang yang sering kali membuat masalah dan keonaran. Hal ini pun senada dengan alasan sebagian besar orang yang tetap memilih menjadi tentara bayaran.
__ADS_1
Bahkan saat mereka berkesempatan masuk di divisi ksatria lima negara besar, mereka tetap tidak ingin memasuki pasukan militer suatu negara karena merasa tindakan mereka akan dibatasi oleh aturan militer yang mengekang.
Namun, tingkah dan sifat kacau yang sering melekat pada identitas mereka sebagai tentara bayaran kini rak terlihat digantikan dengan suasana khusyuk dan khidmat. Dilihat dari hal ini saja sudah dapat dibayangkan betapa seriusnya masalah kali ini.
"Heran ceritakan semuanya secara rinci. Aku ingin mengetahui apa terjadi pada kelompok yang kau pimpin, hingga pemuda tersebut memusnahkan kelompokmu," pinta Sona, satu-satunya wakil ketua yang merupakan seorang wanita di kelompok ini.
Heran mengangguk ringan pada Sona. "Baik Sona, aku akan mulai menjelaskan urutan peristiwa itu secara rinci dari awal sampai akhir."
Membuka mulutnya, penjelasan Heran pun dimulai. Dari awal bagaimana proses pengintaian yang mereka lakukan pada pemuda itu, persiapan menyerang yang telah mereka buat, hingga saat pemuda tersebut mendatangi kelompoknya. Hal yang menyebabkan seluruh anggota diperkirakan binasa, karena tak ada satu pun yang kembali selain dirinya.
"Jadi, selain kamu ada orang lain yang selamat?" Kold mengajukan pertanyaan setelah mendengar cerita rinci Heran yang cukup mengejutkan.
Heran menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu nasib yang lainnya, kami berpencar setelah melihat orang tersebut masih selamat dari serangan gabungan itu."
Mendengar ini seluruh ruangan menjadi senyap, sementara yang lain terlihat tengah berpikir keras. Lech akhirnya membuka mulut. "Jadi bagaimana menurut kalian?"
"Juga dia mungkin seorang ksatria sihir, Heran sendiri berkata dia andal dalam permainan pedang dan sihir," tambah Gadi melengkapi penjelasan Pirlo yang disambut Pirlo dengan persetujuan berupa anggukkan pelan darinya.
"Masalahnya, kita tidak tahu dia lebih terampil di bidang yang mana? Biasanya seorang ksatria sihir memiliki kecondongan pada satu jenis, baik permainan pedangnya yang lebih baik atau sihirnya yang lebih baik. Namun ...," Kold tak bisa menyelesaikan perkataannya.
"Aku juga bingung pada bagian itu Kold. Bagaimanapun tidak mungkin ada seseorang yang menjadi ahli pada bidang sihir dan teknik pertempuran, apalagi kedua bidang itu sebenarnya sangat bertolak belakang."
Setelah Sena mengatakan itu ruangan kembali senyap, inilah masalah pokok yang membuat mereka kebingungan.
"Pokoknya kita harus waspada sekarang ini. Tolong beritahukan pada setiap anggota untuk menghindari masalah pada waktu-waktu ini, kita harus menghindari perhatian oleh pihak kerajaan atau mereka dan kelompok bayaran lain akan mengarahkan pedangnya kepada kita."
Semua orang mengangguk pada perkataan Lech. Mereka mulai membubarkan diri, meninggalkan ruangan dan mulai mengeluarkan instruksi dan imbauan kepada setiap anggota untuk tak melakukan sesuatu yang mencolok.
__ADS_1
***
Matahari mencapai titik tertingginya saat Lily DAN Rion masih dalam perjalanan menuju Kota Dee. Dikarenakan beberapa alasan yang tak perlu disebutkan, mereka memilih berjalan secara perlahan.
"Apakah kita belum sampai, Rion?"
"Sepertinya sudah dekat. Jika kau tidak memintaku melakukan itu mungkin kita sudah sampai."
Rion menatap Lily sedikit tajam. Hal-hal semacam inilah yang membuat perjalanan mereka menjadi lebih lambat, walaupun langkah mereka terbilang cepat.
"Yah ... maaf, maaf," ucap Lily dengan nada yang sama sekali tak terlihat sebuah keseriusan.
Rion tidak menanggapi, memilih terus berjalan menuju Kota Dee, kota terdekat milik Reutania Kingdom dari posisinya berada saat ini. Dia ingin mengisi beberapa perbekalan mereka yang habis, seperti bumbu-bumbu untuk masakannya. Sedangkan untuk urusan bahan makanan dam air minum, baik Rion maupun Lily tidak ambil pusing, memilih mencarinya dalam perjalanan.
"Tapi ... kau akan melihat hal menarik nanti."
"Aku tidak tertarik."
"Benarkah? Kalau begitu kau harus melihatnya, nanti kau akan mendapat pelajaran yang baik."
Rion tidak menjawab Lily karena hal menarik itu pasti cukup membuat kehebohan nantinya, dan dia sama sekali tidak ingin menarik perhatian pada dirinya. Hal itu mungkin membuat Eugary Empire semakin memperhatikannya membuat segalanya menjadi lebih menyusahkan.
Sebuah bayangan kota mulai terlihat di depan mereka berdua, baik Rion maupun Lily merasa lega.
"Kita beristirahat di kota ini."
"Ya, di kota Dee."
__ADS_1