A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 69 : Sekawanan Serigala - 2


__ADS_3

Tidak memperdulikan tatapan Rion, Lily malah meraih sebuah apel hijau dan menyerahkannya pada Rion.


"Sudah kubilang kan, aku akan mencari makanan," ucap Lily setelah melihat ekspresi Rion yang seolah bertanya padanya.


Namun, hal ini tentu tak membuat Rion senang. Dengan sedikit kekesalan yang masih melekat di hatinya, dia mengambil tempat di salah satu sudut gua yang agak jauh dari posisi Lily. Meski begitu, dia masih memakan buah yang Lily berikan.


"Kau juga sadar bukan, tak ada gunanya melawan para monster itu. Lebih baik kita mencari jalan lain."


"Lalu bagaimana jika monster itu memang menghadang jalanan?"


"Jika memang seperti itu maka tak ada pilihan lain. Aku akan ikut turun tangan, Rion, kau sadar bahwa kau tidak bisa melewati itu sendirian, kan?"


Rion mengangguk lemah, rasa kesalnya sedikit berkurang tapi dia masih memilih mengambil jarak dari Lily.


"Kalau begitu, aku akan tidur dulu," ucapnya sebelum jatuh tertidur.


Lily menggelengkan kepalanya, menatap Rion sekali lagi, dia lalu mengalihkan pandangannya pada rembulan yang kini menggantung di atas sana.


"Benua Sylius, kah ...?" gumam Lily pada dirinya sendiri. Entah kenapa, tapi dapat dirasakan beragam emosi pada kalimat itu.


Menggelengkan kepalanya, Lily merenggangkan tubuhnya, hendak ikut beristirahat sebelum perjalanan esok hari dimulai. Namun, rencana sederhana itu sirna saat dia merasa aura aneh. Meninggikan rasa waspada, tatapannya kini menjadi tajam.


Lily menyapu pandangan, mencoba mencari jejak dari mana asal aura itu. Namun, segera saja aura itu menghilang. Seolah terasing dari dunia dan tak dikehendaki ada, tanpa jejak tersisa layaknya aura itu memang seharusnya tiada.


Akan tetapi, Lily tidak berpikir demikian. Dia menatap ke dalam gua, pandangannya tidak menelusuri jalan gua yang masih bisa masuk jauh ke dalam, tapi terpusat pada Rion. Dia merasa aura itu agak mirip dengan aura yang terkadang dia rasakan dari Rion, tapi dia segera menggelengkan kepalanya menolak pemikiran tersebut.

__ADS_1


"Mana mungkin, kan? Selain itu aura itu jelas jauh lebih menekan dari aura-aura yang pernah aku rasakan," Namun, meski Lily berucap demikian tatapannya tak meninggalkan pemuda berambut hitam yang telah setengah tahun lebih bersamanya itu.


Dia tahu apa yang telah dilewati pemuda itu hingga bisa bertemu dengannya, tapi tetap saja kemungkinan bahwa aura itu berasal darinya serasa tak mungkin. Meski mirip, tapi Lily merasa ada beberapa perbedaan antara aura Rion dan aura barusan, walau perbedaan itu mungkin tak seberapa.


Membuang pikiran itu ke sudut pikirannya, Lily memilih keluar dari gua. Berdiam diri di mulut gua, berusaha untuk tak memikirkannya lagi. Namun, dia tidak bisa meninggalkan masalah aura itu begitu saja, dan malam itu dia tak bisa tertidur.


***


Mentari mulai meninggi, menunjukkan sinarnya pada dunia dan makhluk hidup pun mulai terbangun dari indahnya bunga tidur. Itu juga berlaku tak terkecuali untuk Rion yang juga mulai terbangun.


Membuka mata dengan berat, dia bergumam, "Sudah sejak kapan ya, aku bisa tidur dengan nyenyak?"


Begitu terbangun sepenuhnya, dia lalu memandang ke kiri dan kanan, mencoba menemukan Lily tapi sosoknya tak dapat ditemukan. Keluar dari gua, Rion memiliki hati yang agak berbeda saat memikirkan Lily yang mungkin telah pergi, tapi perasan itu tak bertahan lama.


"Oh, kau sudah bangun Rion?"


"Kau ada di sini, kah ...?" Meski terdengar tak penting, Rion beralih dari gumaman ke pertanyaan. "Lily, kenapa kau berada di luar?"


"Tidak ada alasan khusus, hanya melihat-lihat sekitar saja," bohong Lily, karena jelas dia memiliki alasan khusus kenapa dia berada di luar. Ya, aura itu.


Mungkin merasa tak nyaman, atau memang ingin menghindari membahas hal ini yang bisa mengarah ke masalah aura semalam. Lily mengalihkan topik pembicaraan, "Apa kau sudah siap Rion?"


"Ya, lebih kurang begitulah ...."


"Kalau begitu, ayo kita pergi."

__ADS_1


Mengatakan hal ini, Lily mulai menarik Rion tanpa ragu, menyeretnya ke arah yang dia kehendaki.


"Aku harap kita tak harus menemui para monster itu," gumam Lily berharap.


Hutan yang rindang, membuat bayangan pohon di sisi kiri dan kanan terlihat sama. Selain itu karena aliran mana yang kacau tempat ini rawan sekali untuk membuat orang tersesat, dan mereka berdua adalah contohnya.


Namun, tak seperti hari-hari yang lalu perjalanan mereka kali ini cukup lancar karena mereka menuju arah yang benar (?). Bagaimanapun, semua karena usaha Lily semalam yang tak hanya berdiam diri di luar memikirkan aura itu dan tanpa hasil. Melainkan juga menyelidiki geografi sekitar, tentu salah satu kekuatannya lah yang memainkan peran penting dalam hal ini.


Jalan yang mereka ambil jauh lebih aman, tak banyak hewan liar atau monster yang bermunculan membuat Lily kian yakin bahwa dia telah mengambil jalan yang benar.


Namun, situasi ini tak dapat terus berlanjut saat seekor monster mulai menampakkan dirinya. Sebelum monster itu dapat menyerang, Rion telah menghabisinya dengan [Magic: Wind Cutter] yang membuat tubuh monster itu terpotong menjadi dua. Melihat bahwa monster itu bukanlah Ghost Wolf yang ingin mereka hindari, keduanya bernapas lega.


Namun, di sinilah hal yang ingin mereka hindari itu malah mendatangi mereka.


Tertarik oleh bau darah yang menyebar dari mayat monster itu, seekor Ghost Wolf mendatangi tempat Rion dan Lily berada.


Melihat monster yang sudah cukup familier di matanya dan tahu betul bahayanya, Rion segera menghabisi monster itu sebelum mereka bergerak cepat menjauh dari tempat ini. Namun, dengan kawasan ini yang merupakan teritori kawanan Ghost Wolf, hal itu sulit.


Ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu, saat Rion secara aktif terus menghilangkan Ghost Wolf yang mendekat ke arahnya, sekelompok Ghost Wolf lain segera datang menghampiri mereka dengan melacak arah bau yang mereka tinggalkan.


Bahkan kini Lily mulai sedikit membantu Rion mengurangi jumlah Ghost Wolf di sekitar mereka dengan sihir elemen es miliknya. Namun, situasi di mana mereka terus terkejar oleh kawanan ini tak dapat dihindari.


Melihat ujung lain hutan yang bercahaya, Lily menarik Rion ke arah itu. Medan dengan banyak bayangan yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi terlalu sesuai dengan karakteristik Ghost Wolf, dan dia ingin mengganti medan ke tempat yang sekiranya lebih menguntungkan mereka.


Cahaya matahari secara langsung mengenai kepala mereka, tanpa halangan apa pun. Menghilangkan sebagian keuntungan yang dimiliki para Ghost Wolf itu.

__ADS_1


Meski begitu terdapat batu-batu besar di sekitar, walau tak banyak tapi tetaplah dapat menjadi media bagi monster itu menyembunyikan dirinya. Namun, dengan jumlah yang tak sebanyak bayangan pohon di hutan itu masih dapat diatasi.


Sekilas ini adalah medan yang sempurna bagi mereka berdua untuk mengatasi gerombolan Ghost Wolf di depan mereka. Ya, sangat sempurna kecuali fakta bahwa di sini, tempat ini justru merupakan sarang dari kawanan Ghost Wolf tersebut.


__ADS_2