A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 85 : Awal Rangkaian - 4


__ADS_3

Di sebuah penginapan umum di Kota Sourt. Sebuah keluarga (?) berada di sebuah kamar, meski begitu suasana yang tergantung di udara terasa aneh. Mungkin itu karena mereka bukanlah sebuah keluarga yang sebenarnya, kedok keluarga hanya untuk tujuan penyamaran.


Namun, bukan itulah yang membuat suasana aneh ini menggantung. Lily yang telah berhasil membuat Yurei tertidur tenang pun melirik Rion, sebelum kembali menarik matanya dari pemuda berambut itu yang sejak tadi terus berada di jendela. Mungkin memeriksa keadaan sekitar karena mencemaskan sesuatu.


“Apa kau mencemaskan tentang kemungkinan bahwa Reutania Kingdom akan menemui kita?” tanya Lily tiba-tiba.


Dengan sifat Rion, Lily yakin bahwa pemuda itu tengah mencemaskan ini. Terlebih dengan pertemuan tan terduga mereka dengan tim dari Beatria Union —Night Eye— yang ternyata berada dalam pengawasan pihak ketiga.


“Kamu seharusnya paham masalah yang aku khawatirkan bukan?”


“Aku rasa kau tak perlu sekhawatir itu Rion. Meski Reutania Kingdom memanglah pihak yang paling mungkin menjadi pihak ketiga kala itu, tapi hal itu tak serta-merta membuat kemungkinan-kemungkinan lain tertutup rapat.”


“Meski yang kau katakan itu benar, tapi reaksi yang ditunjukkan oleh para Beast-kin itu terlalu kuat.”


“Rion,” panggil Lily yang membuat mata Rion akhirnya menoleh padanya. “Bukankah itu yang menjadi masalahnya?”


“Hmm? Apa maksudmu Lily?”


Meninggalkan tempat tidur. Lily berjalan pelan mendekati Rion dan bersandar tepat di sisi yang berlawanan dari pemuda itu.


“Apa kau tidak merasa bahwa emosi lah yang membuat mereka langsung menunjukkan reaksi itu? Meski kemungkinan bahwa hal ini benar memang harus diakui tinggi karena kita juga berada di wilayah Reutania, tapi hal ini jugalah pedang berkata dua yang dapat membuat mata kita tertutup atas kemungkinan lain.”


“Jadi kau merasa itu mungkin pihak lain?”


“Aku tak yakin. Bagaimanapun, bahkan jika mereka bukanlah pihak ketiga kala itu, Reutania pasti tak akan tinggal diam. Reaksi itu menjelaskan bahwa kedua pihak itu pernah bertemu sebelumnya.” Mengalihkan pandangannya ke Kota Sourt, Lily bergumam, “Yah, meski Reutania bertindak pun itu pasti tak akan dalam skala besar.”

__ADS_1


Dengan Kota Sourt yang setara dengan ibu kota Reutania Kingdom di Benua Zestia, Lily yakin ini sudah cukup untuk menjadi dinding besar yang menghalangi Reutania dari bertindak semuanya. Bagaimanapun, mereka harus tetap menjaga keamanan publik demi menarik minat pedagang.


Jika tak demikian, maka besar kemungkinan para pedagang itu akan lari ke dua pelabuhan besar milik negara lain. Jelas sudah bahwa situasi ini tak akan menguntungkan Reutania dan tak akan dibiarkan terjadi. Bahkan jika mereka akan bertindak, Reutania pasti memiliki banyak faktor yang harus dipersiapkan secara matang.


Setelah sampai ke titik ini, Rion mengangguk dalam dan dirinya mulai menempatkan kekhawatiran itu ke belakang. Mengalihkan pandangan, matanya tertangkap oleh diri Lily. Membuat pikirannya tenggelam dalam lautan seribu makna.


Lily terus memandang Kota Sourt, mungkin dirinya tak menyadari tatapan Rion dan terus memperhatikan setiap gerakan yang terjadi di tiap sudut kota. Beberapa ingatan mungkin melintas di matanya, membuat mata itu sendiri menjadi sedikit melankolis.


Memperbaiki emosi di hatinya, Lily mengalihkan pandangan hanya untuk menyadari tatapan Rion padanya. “Apa yang kau lihat Rion?”


“Tidak ada.” Menarik dirinya, Rion berjalan ke tempat tidur. Mungkin berusaha menyimpan sebanyak mungkin tenaga sebelum berangkat ke Benua Sylius. Bagaimanapun, setelah dia sampai di sana, segunung pekerjaan harus mulai dia jalankan.


Lily menggelengkan kepalanya sebelum kembali ke sisi Yurei, mereka melewati hari ini dengan selamat meski mendapat beberapa kejutank ‘kecil’.


***


Dengan menggunakan setelan jas khas pelayan, sosok yang sejak tadi berada di dalam ruangan ini pun akhirnya membuka matanya. Dia adalah But, pelayan sekaligus pengawal resmi dari keluarga bangsawan Jones Emanuelle, lebih tepatnya dia telah menempati posisi itu selama lebih dari beberapa generasi.


Dengan suara berat nan serak, dia berucap, “Oh, kau sudah kembali. Bagaimana pertemuan itu berlangsung?”


Meski itu adalah pertanyaan, tapi tak ada sedikit pun nada bertanya pada perkataan But. Seolah dia telah mengetahui hasilnya dengan jelas.


“Sepertinya aku tak perlu memberi tahu dirimu kan Pak Tua?” jawab orang itu dengan sedikit sarkastis, sama sekali tak takut meski kekuatan pihak lain jelas jauh melampauinya.


Dengan pakaian hitam dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, orang itu berjalan pelan sebelum mengambil satu tempat duduk. Dia adalah sosok yang menyerang tim Night Eye seorang diri, meski begitu kekuatan yang dia tunjukkan selama pertempuran sebelumnya sama sekali tak terlihat di depan But.

__ADS_1


Seolah memiliki beberapa masalah kuat, dia bertanya, “Pak Tua, apa yang sebenarnya kau inginkan dari situasi ini?”


“Tidak ada, hanya menguji beberapa akar dan mencari tahu mana yang lebih alot,” jawab But ambigu. Sama sekali tak dapat dipahami oleh orang lain selain dirinya, atau mungkin itu adalah maksudnya untuk tak membiarkan siapa pun memahami maksudnya.


“Kau benar-benar menempatkan diriku ke dalam sudut sulit Pak Tua. Bahkan kau tak memberi penjelasan yang dapat membuatmu yakin akan tindakan ini.”


“Tapi kah tak mempunyai pilihan lain kan?”


“....”


Orang itu diam, tak menjawab pertanyaan But. Dia lebih memilih mengalihkan pandangan ke tembok suram di sampingnya.


But menyunggingkan bibirnya hingga membentuk sebuah seringai, meski orang di depannya ini sering kali bersikap tak pantas. Namun, dia dapat menoleransi hal itu, bagaimanapun dengan panjangnya dia hidup perilaku orang itu dapat menjadi sedikit hiburan di tengah banyaknya rasa takut yang orang lain rasakan untuknya.


“Ahh ... benar juga, apa kau memiliki informasi lebih untuk kami? Apa pun itu diperbolehkan.”


“Tidak ada banyak hal, selain kondisi tim Night Eye dari Beatria Union yang semakin memburuk ....”


Namun, perkataan itu tak berlanjut dan hanya menggantung di tengah. Bahkan But yang memiliki sederet pengalaman asin dan manisnya dunia pun tak dapat menahan rasa penasarannya, dan untuk pertama kalinya, nada bicaranya berubah.


“Lebih baik kau ucapkan apa pun yang kau ketahui sekarang Nak.” Nada itu dingin, kehangatan yang terdapat dalam perkataan But sebelumnya sepenuhnya menghilang. Membuat kesan bahwa kehangatan itu hanya kepalsuan.


Keringat dingin mengalir di balik penutup wajah orang itu, dia tahu betul bahwa jika But ingin melumatnya maka itu tak membutuhkan tenaga lebih. Mungkin hanya seperti orang yang membunuh semut, jika pun ada dua berharap bahwa dia akan menjadi semut yang lebih besar.


Meski begitu, dia tahu itu tak akan mungkin membuat But mengeluarkan sedikit tenaga lebih untuknya dengan tingkat kekuatannya sekarang. Tanpa ada banyak jalan yang dapat dia pilih, orang itu mendesah pelan.

__ADS_1


“... Sepertinya tim itu telah memiliki informasi tentang target mereka, dan orang itu adalah orang yang sama dengan yang kalian cari. Namun, aku tak mendapatkan informasi apa pun tentang itu,” sambungnya menyelesaikan laporan (?).


__ADS_2