A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 16 : Kekacauan Dalam Benteng - 3


__ADS_3

Ledakan demi ledakan terus terjadi dalam ruangan yang terbatas ini. Asap tumbuh semakin padat dengan cepat bersama bau gosong yang kian menjadi-jadi.


Bahkan jika mereka ingin keluar dari ruangan ini, nyawa mereka pun akan melayang segera. Semua ini karena Rion tak akan membiarkan satu pun lolos, dan dengan kekacauan yang terjadi, tindakannya pun tidak dapat dikenali.


“Sepertinya ini sudah waktuku untuk keluar,” gumam Rion saat melihat jumlah orang yang tersisa dapat dia tangani tanpa kesulitan.


Keluar dari tempat persembunyiannya, tangan Rion mulai mengeluarkan cahaya kebiruan begitu dia menyiapkan sebuah sihir. “Magic: Lightning.”


Lintasan kilat segera tercipta, menyambar satu objek ke objek yang lain, secara singkat melumpuhkan mereka tanpa banyak perlawanan. Jika ini adalah sihir yang dilakukan secara normal, maka hasil ini adalah tidak mungkin. Alasan kenapa hasilnya hingga dapat seperti ini adalah pemuatan mana yang lebih daripada normal, selain itu kualitas mana Rion juga sangat berpengaruh.


Namun, hal yang sama tak berlaku untuk beberapa orang tipe petarung jarak dekat dikarenakan memiliki resistensi lebih.


Akan tetapi, Rion segera maju, menghabisi mereka tanpa banyak usaha karena kekuatan serta jumlah mereka masih belum cukup untuk dapat melawannya.


Mata Rion menyapu dengan dingin ke arah para peneliti serta beberapa penjaga yang masih hidup.


Tanpa sebab yang jelas, tulang belakang para peneliti itu menggigil kaku bersama perasaan mereka yang tiba-tiba memburuk. Sementara mereka yang menatap Rion langsung mengalihkan pandangan begitu mata mereka saling bertemu.


Menelan ludah, para peneliti itu tak mampu menahan rasa ngeri saat melihat mata hitam Rion yang seolah akan menelan balik mereka.


Tangan Rion terangkat bersama cahaya sihir kehijauan yang mulai terbentuk. “Magic: Wind Cutter’s.”


Darah memercik ke segala arah, kepala para peneliti menggelinding di lantai setelah terpenggal dari tubuhnya. Rion berjalan mendekat ke arah peneliti yang semakin ketakutan.


Orang-orang yang telah dia bunuh sebelumnya adalah mereka yang tak ada sangkut paut dengan masalahnya. Sebab itu, Rion akan memberikan mereka kematian tanpa banyak rasa sakit. Yah, setidaknya mereka tidak harus melewati penyiksaan yang ingin dia lakukan pada peneliti yang tersisa.


Rion mulai menyeret peneliti yang tersisa ke tempat yang dia datangi sebelumnya, dia merasa tempat itu lebih pantas dari pada di tempat ini.


Para peneliti menelan ludah, saat melihat ruangan penuh darah. Tidak seperti tempat sebelumnya yang kacau, tempat ini sunyi senyap, hanya diisi rintihan pilu bersama dengan aura kematian yang mencekam.


“Sepertinya sudah waktunya memulai hukuman pada kalian.”


Mengambil sebuah batang logam yang terpotong tak jauh dari tempatnya, Rion mulai memakukannya pada tubuh peneliti-peneliti itu.


“Pertama ....”


Cahaya hijau mulai menyelimuti tubuh salah seorang peneliti, membuat luka-luka yang diderita tubuhnya mulai sembuh. Namun, sebelum peneliti itu dapat mengambil napas lega, sebuah tendangan keras jatuh pada wajahnya.


“ARGH!”

__ADS_1


“Sepertinya masih kurang,” gumam Rion.


Setelah itu, pukulan ataupun tendangan dijatuhkan pada bagian wajah maupun tubuh peneliti tersebut. Saat kondisinya mulai kritis, Rion melepaskannya, membiarkan dia merasakan siksaan rasa sakit sebelum mati.


“Selanjutnya.”


Peneliti yang menerima sihir penyembuhan tak dapat tersenyum meski kondisinya membaik, melihat nasib peneliti sebelumnya dia yakin dirinya tak akan berbeda jauh.


“T-tolong ampuni aku!” Peneliti tersebut mulai memohon ampun pada Rion.


Akan tetapi, Rion hanya terus memberi tatapan dingin padanya lalu berucap, “Sepertinya aku bisa melatih sedikit sihir tanpa batasan sekarang.”


Tangan Rion mencengkeram kepala peneliti tersebut. “Magic: Burn.”


Sebuah ledakan bersuhu tinggi datang mengenai bagian kepala peneliti tersebut, menyebabkannya tewas seketika bahkan sebelum bisa berteriak.


“Itu benar-benar terlalu kasar, selain itu jumlah mana yang dikeluarkan masih belum dapat kukendalikan, hanya menyerap jumlah energi terkuat yang dapat ditampungnya. Selanjutnya akan lebih baik!”


Rion mengalihkan tatapannya pada peneliti selanjutnya, memberikan sihir penyembuhan, dia lalu melakukan hal yang dinanti. “Magic: Burn.”


“ARGGHHH! ARGGHHH!”


Saat Rion mulai merasa bosan, dia menaikkan jumlah mana yang digunakan hingga membuat peneliti tersebut tewas.


“Sekarang aku memiliki pemahaman lebih tentang cara kerja sihir api,” Merasakan perkembangannya, Rion tersenyum.


Namun, bagi para peneliti tersebut, senyum Rion lebih menyeramkan dari iblis yang keluar dari neraka.


Percikan demi percikan kilat mulai muncul di tangan Rion, menyentuh batang besi yang dia tancapkan pada tubuh peneliti, dia pun mengeksekusi sihir. “Magic: Elektro.”


“AGGRRHHH!”


Sebuah jeritan bercampur tragis terdengar lantang nan jelas. Namun, hal ini belum seberapa saat salah genangan darah peneliti lain mulai mengalir hingga bersentuhan dengan batang besi.


“AAAARRRRGGGGHHHH!”


Peneliti-peneliti itu mulai mengeluarkan jeritan perih hingga memekakkan telinga. Akan tetapi, Rion melihat semua ini dengan senyum sinis di hatinya.


Jika dibandingkan rasa sakit yang dialaminya selama ini. Maka bagi Rion hal ini hanya rasa sakit sepele yang dapat diabaikan.

__ADS_1


‘Hoi, hoi, rasa sakit ini masih belum seberapa tahu.’


Seusai efek dari sihir telah menghilang, erangan serta rintihan pilu masih dapat terdengar.


Waktu terus berlalu bersama teriakan, rintihan, erangan, jeritan, serta ratapan pilu yang kini menjadi sebuah melodi di telinga.


Di saat penguasaan sihir Rion menjadi lebih baik secara bertahap, hal itu dibarengi dengan rasa penderitaan yang kian menumpuk bagi para peneliti.


Rion tak akan membiarkan satu pun dari mereka mati dengan cepat, dia mulai menggunakan sihir penyembuh untuk membuat mereka dapat menahan siksaan ini lebih lama. Bahkan jika mental mereka telah hancur hingga membuat mereka gila, Rion tak peduli.


Mulai dari melakukan [Magic: Burn] yang disalurkan dari arah mulut untuk membakar mereka dari dalam ke luar, hingga penggunaan [Magic: Elekro] untuk membuat mereka merasakan sengatan terus-menerus.


Di kala dirinya merasa cukup dengan jumlah mana yang dihabiskan, Rion mulai menghancurkan kepala para peneliti hingga memastikan mereka tewas. Bagaimanapun dia harus dapat bertahan untuk dapat melarikan dari benteng ini.


Menyaksikan semua ini, Rion berucap lirih, “Walaupun hal yang direnggut tidak akan kembali, setidaknya saat ini aku menjadi sedikit lebih tenang.”


Keluar dari ruangan, Rion memandangi para subjek penelitian lain yang masih berada di dalam tabung.


“Akan aku istirahatkan kalian dengan tenang.”


Mengumpulkan mana di tangan kanannya, Rion mulai menghancurkan tabung-tabung yang tersisa satu per satu dengan pukulan dan dia memastikan bahwa semua subjek telah tewas.


Walaupun Rion merasa sedikit bersalah telah membunuh orang yang bukanlah musuh maupun bersalah padanya. Namun, jika pun dia membiarkan mereka hidup lebih lama pun hanya akan menambah penderitaan yang mereka rasakan.


“Maaf kalian harus menjadi korban semua ini,” bisik Rion. Sementara itu, di dalam hatinya rasa marah semakin memuncak. ‘Hal ini memang tidak dapat dimaafkan!’


Setelah menghancurkan semua tabung, Rion melakukan [Magic: Booming] untuk membakar laboratorium serta bukti yang ada. Walaupun dia melakukan ini secara sembunyi-sembunyi, tapi jika sihir penyelidikan dilakukan mereka dapat dengan mudah mengetahui kebenarannya.


Meski dia ingin melawan Kekaisaran, tapi Rion sadar jika waktu untuk persiapan adalah apa yang dia butuhkan untuk menyusun strategi yang matang, dan yang pasti kekuatan.


Tanpa kekuatan hal tersebut hanya bunuh diri, dan semua hal yang Rion inginkan hanya akan menjadi mimpi belaka.


Akan tetapi, hal yang terjadi selanjutnya melebihi harapan Rion saat sihir api mengenai target.


BOOOMMM!


Ledakan keras terjadi hingga membuat benteng bergetar, dengan kondisi ruang tertutup serta banyaknya bahan eksplosif segera membuat ledakan kuat nan keras.


Rion telah berlindung dari ledakan, dia meninggalkan laboratorium dan mulai menyiapkan diri atas rencana pelariannya yang diduga menjadi lebih sulit dari yang diperkirakan karena getaran keras yang terjadi.

__ADS_1


“Hah ... setidaknya aku dapat tenang bahwa bukti apa pun telah musnah.”


__ADS_2