A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 93 : Segera Beranjak - 2


__ADS_3

Keterkejutan mengisi mata Yuzu dan Zee, mereka tertegun atas langkah mematikan yang diambil Wess.


“Wess!” Keduanya berteriak, mencoba meyakinkan Wess untuk membatalkan teknik [Blood Stuck] sebelum dia tak dapat mundur lagi.


Namun, teriakan keduanya percuma dan langkah Wess tak terhenti. Matanya merah, sama seperti warna bulunya kini. Memandang lawan di depannya, dia menggeram sebelum menerjang dengan kecepatan tinggi.


Mata Wess yakin, dia tak ingin menjadi beban seperti sebelumnya, apalagi hingga membuat rekannya yang lain sampai mendapat kerugian lagi. Bak sebuah binatang buas yang lepas dari kandangnya, gerakan Wess liar, dia menerkam satu individu sebelum beralih ke individu lain.


Serangan sihir dan anak panah ditargetkan penuh padanya. Namun, semua itu seolah percuma. Dengan kelebihannya pada kecepatan dari rasnya dan pertahanan tinggi dalam teknik pertempuran yang diusungnya, semua serangan itu seolah percuma. Terlebih dengan [Blood Stuck] yang telah dia aktifkan, membuat keterampilan itu meningkat drastis.


Sebuah kilasan bayangan merah gelap yang dipenuhi rasa haus darah terus meluncur. Bangun dari keterkejutannya, Rico berlari sebelum meraung, “Gigantic!”


Tubuh Rico membengkak, membesar seketika hingga menjadi bentuk raksasa humanoid. “Raaggghhh!”


Mengaum panjang, pedang besar yang kini seukuran pedang normal di tangannya berayun. Mencoba menghantam Wess dan menghentikannya.


Tang!


Nada tinggi melengking terdengar, tapi usaha Rico itu tak berguna. Dirinya terbang, terpental mundur hingga terhenti setelah membuat lanskap hancur. Namun, itu malah membuat dirinya semakin murka dengan kewarasan yang kian pudar.


Menggeram rendah, Rico kembali mencoba memukul Wess yang terus bergerak. Namun, Wess hanya mengabaikan Rico dan fokus pada menghapus sebanyak mungkin beban yang akan Yuzu dan Zee terima.


Melihat usaha Wess ini, Yuzu menggertakkan giginya sebelum melancarkan sihir air miliknya, membantu Wess agar dapat bertahan lebih lama. “Zee, aku memiliki beberapa permintaan.”


Suara Yuzu terdengar, membuat Zee meliriknya. Namun, bahkan sebelum dia bisa menjawab suara Yuzu telah terlebih dahulu jatuh kembali. “Kau pergilah dari sini bersama Kapten sekarang!”


Sekali lagi, Zee terkejut. Dia tak dapat bereaksi dengan cepat. “Kenapa kau mengatakan hal semacam itu Yuzu?”


“Itu jalan terakhir bukan?” Sebelum Zee dapat menjawabnya kembali, Yuzu mendahuluinya. “Selain itu, kau tak ingin Kapten bersedih melihat kita semua mati bukan?”


“....”

__ADS_1


“Aku tak perlu menjelaskannya lagi, tapi Zee, kau pasti sadar bahwa kemungkinan kita dapat pergi dari sini dengan selama kecil. Karenanya, kau harus selamat!”


“....”


Zee sama sekali tak dapat menanggapi. Apa yang Yuzu katakan padanya adalah kebenaran, bahkan orang bodoh pun akan mengetahui situasi ini amatlah berbahaya hanya dalam sekilas pandang.


Tiga orang melawan dua puluh orang —yang terlihat di mata Zee— dengan tingkat kekuatan yang tak berbeda jauh, dan mengharapkan kemenangan jelas hanya ide kekanak-kanakan.


Wess yang seolah mendengar percakapan keduanya membalikkan tubuhnya. Secepat kilat, dia mengangkat Xion dan menempatkannya dalam dekapan Zee sebelum melempar keduanya jauh.


Wess tak tahu ke mana keduanya akan mendarat, tapi dia berharap bahwa Zee akan melindungi Xion dan segera pergi.


“Apa kau yakin Yuzu?”


“Ya, jika aku yang membawa Kapten mungkin situasi tak akan berubah.”


Meski tak terlalu paham maksud Yuzu, Wess hanya mengangguk. “Kalau begitu, kita harus mengulur waktu jauh lebih lama agar mereka dapat selamat.”


Percakapan itu tak lebih dari dua detik sebelum Wess kembali menghilang. Menjadi sebuah bayangan merah yang menghalangi lawan menjauh. “Wild Fang!”


Pola serangannya berubah. Dengan Xion yang menghilang untuk dia lindungi, maka gerakannya jauh lebih bebas. Bagaimanapun, baik dirinya dan Yuzu telah siap untuk mati di sini.


Selain itu, cahaya hijau menyelimuti dirinya. Cahaya sihir yang membawa efek penyembuhan. Tentu ini berasal dari Yuzu dan membuat dirinya dapat lebih leluasa dalam bergerak.


Namun, tak mungkin para penyergap ini akan membiarkannya begitu saja. Aliran mana seolah mengamuk saat semua itu terkumpul di tengah-tengah Tue dan penyihir Reutania lain yang memiliki elemen api, cahaya itu terus membesar hingga sebuah rapalan mantra disuarakan.


“Magic: Fire Dance!”


Cahaya melesat, membentuk serangkaian lidah api yang kemudian menjalar, mengubah medan sepenuhnya. Memenuhi Medan sekitar dengan suhu tinggi membakar tulang.


Bahkan jika Wess dapat menghindar dari serangan mereka, tak mungkin dia dapat menghindari dampak serangan yang tersalur dalam medan ini.

__ADS_1


Meski begitu, Yuzu juga tak tinggal diam. “Magic: Purely!”


Cahaya sihir balas membungkus tubuh Wess, membuat dirinya dapat bertahan dalam medan semacam ini lebih lama. Meski begitu, beban yang diberikan Reutania sama sekali tak menyurut.


“Raaggghhh!” Raungan menggema saat pedang si Rico raksasa menyambar Wess.


Suara tinggi beradu, dia menahan serangan itu dengan susah payah. Namun, kelebihan jumlah lawan benar-benar menjadi beban.


“Reutania Spearmanships: 3rd Style Defer!”


Tombak Huge memanjang, mengejar posisinya tanpa ampun, ingin menggapai dirinya. Bahkan jika Wess telah mundur jauh mencoba untuk menghindar, serangan itu tak berhenti.


“Reutania Spearmanships: 1st Style Rush!”


Serangan kembali hadir, tapi ini bukan dari orang yang sama melainkan orang lainnya, Tenor. Membuat Wess yang fokus pada menghindari serangan sebelumnya terkena, terpental jauh sebelum coba disambut orang lain.


Namun, dirinya tak menyerah. Wess memutar tubuhnya di udara. Tangannya menggapai tanah yang tercongkel, membalikkan arah dirinya menuju secara paksa. Persendiannya terpelintir, tapi dia tak menghiraukannya dan segera mundur jauh.


Dengan Yuzu di belakangnya, tentakel demi tentakel air dilancarkan. Menyibukkan mereka sesat dan membuat usaha Wess untuk mengambil napas sejenak tak terhalang.


‘Bahkan ini belum lebih dari lima belas menit sejak pertempuran dimulai tapi aku sudah seperti ini!’ pikir Wess kacau.


Menggertakkan giginya, Wess meraung tinggi dan berteriak, “Bloody Life!”


Kini sudah tak ada jalan mundur lagi. Jika sebelumnya teknik [Blood Stuck] hanya akan membawa penggunanya ke kematian jika energi kehidupan mereka habis, kini kematian Wess seolah telah diyakinkan.


Jantungnya terasa sakit, seolah tangan dari malaikat maut ini telah mencengkeramnya dengan erat. Penggunaan dua teknik terlarang dalam satu waktu jelas akan membebani tubuhnya, tidak, itu lebih tepat dikatakan menghancurkan tubuhnya dengan energi mengamuk yang bocor keluar.


Meski begitu, Wess sama sekali tak memperhatikan dirinya. Diam-diam berharap bahwa Zee telah lari jauh, dapat selamat dengan Xion.


Aura yang menyelimuti tubuh Wess tumbuh kian pekat, kekuatan ledakan yang dia berikan jelas jauh lebih tinggi sekarang. Meskipun hanya sementara, tapi dia telah dapat mencapai titik kekuatan Platinum level 1-2 dengan mengorbankan hidupnya.

__ADS_1


Bentuk tubuh besar Wess tumbuh kian menyeramkan. Bahkan Yuzu di belakangnya tak dapat menahan perasaan khawatir saat melihat kondisi Wess. ‘Dia benar-benar otak otot,’ pikirnya.


Namun, apa yang Yuzu tampilkan justru adalah sebuah senyum sebelum itu menghilang, digantikan dengan kemurkaan hebat. “Reutania XX itu ...!”


__ADS_2