
Mata Ci menyapu sekeliling, melihat sekitar dengan rasa waspada. Meski begitu, dia tak dapat menemukan keberadaan But dan itu membuat instingnya kian merasa tak pasti. Layaknya sebuah perahu kecil yang diterpa badai.
‘Di mana dia ...?’ pikir Ci sekarang. Bahkan dia telah memperhatikan sekelilingnya, bukan hanya dengan indra penglihatan. Namun, juga pendengar, peraba, pembau, perasa, dan bahkan instingnya untuk menembus batas normal pun dia tak dapat menemukan keberadaan But.
‘Apakah mungkin bagi seseorang untuk tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi?’ Saat pikiran ini datang Ci segera menyangkalnya. ‘Tidak, aku yakin jika itu jelas bahwa itu tak mungkin.’
Ci yakin jika pun pihak lain ‘tiba-tiba’ menghilangkan, pasti ada beberapa teknik tak diketahui yang berperan dalam hal ini.
Dia semakin menajamkan indranya, selain kelima indra normal, insting Ci pun kian tajam, seolah berperan menjadi yang keenam. Bahkan jika itu adalah teknik, itu harus membuat tubuh But berada di suatu tempat.
Namun, kembali lagi semua tak memiliki hasil. Ini bahkan sudah lebih dari beberapa puluh detik dan tak ada perubahan apa pun. Membuat debu mengendap dan kesunyian pun turun. Jika bukan karena rasa bahaya yang masih tersisa, kemungkinan Ci akan menganggap But telah pergi dan menjatuhkan kesiagaannya.
Meski begitu, benar-benar tak terjadi gerakan apa pun. Membuat hubungan ini kian memburuk karena ketidakpastian yang ada, walaupun seperti ini Ci tetap bertahan di posisinya. Dia yakin bahwa But pasti akan keluar cepat atau lambat.
“Burst the Way ...!”
Sebuah teknik dilancarkan But dalam diam. Membuka jalan ke diri Ci dengan cepat, menanggapi kebingungan yang dialami lawan dan langsung menuju ke titik pemberhentian terakhir.
Ci terkejut bukan main, dia sama sekali tidak siap akan asal dari mana datangnya serangan, tepat di bawahnya! But tiba-tiba muncul berada tepat di belakangnya!
‘Bagaimana bisa?!’ Bahkan Ci telah memastikan bahwa tak ada gerakan apa pun yang terjadi, tapi bagaimana But bisa muncul?!
Mana dalam jumlah besar terlihat menggumul di sekeliling But. Mana yang tidak hanya membawa kekuatan besar dalam serangan yang tengah dilakukan, tapi juga telah menambahkan kecepatannya ke titik tertinggi yang dia mampu.
__ADS_1
But sebelumnya telah menggunakan [Shadow Verse], ini adalah bentuk ‘lengkap’ dan ‘sempurna’ dari teknik [Shadow Leap] yang pernah digunakan orang itu.
Teknik ini bukan memindahkan seseorang ke titik yang diinginkan selama terdapat media bayangan, tapi justru memindahkannya ke dalam bayangan target itu sendiri! Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa Ci tak dapat menemukan But di sekitarnya!
Bahkan itu adalah tempat yang cukup aneh, lebih terasa seperti memiliki udara serta nuansa sendiri meskipun saling terhubung antar bayangan satu dengan bayangan lain. Ini adalah teknik rahasia yang But sembunyikan dan dia gunakan sekarang, membuktikan bagaimana pertarungan ini menjadi sangat penting baginya!
Gerakan Ci benar-benar menjadi lambat. Dengan keterkejutan di awal, dia tak dapat banyak bereaksi selain hanya mengandalkan kecepatan refleks semata. Tubuhnya menjadi condong ke sisi kiri, menghindari serangan agar tak mengenai jantungnya.
Zrattt!
Lengan kanan Ci terbang, menghilang ke atas dan harus direlakan bersama genangan darah yang tumpah, memenuhi sekitar dengan noda dan aroma khasnya. Meski dia telah merelakan lengan demi jantungnya tetap selamat, tapi itu belum berakhir.
But adalah pengguna belati ganda, dan belati di tangan satunya mulai membentuk lintasan ke jantung Ci, tak akan membiarkannya lepas sedikit pun!
Mungkin karena Dewi Oriana —Dewa utama dalam agama yang dianut oleh para Demi-human di Benua Zestia— sedikit tersentuh akan usaha Ci, Beast-kin itu entah bagaimana berhasil lolos dari serangan kedua dan segera menjauh sebelum serangan lain hadir.
But mendecakkan lidahnya, bagaimana bisa dia gagal memanfaatkan momentum emas semacam itu? Namun, dengan kondisi Ci yang telah seperti ini dia yakin bahwa angin kini berada di pihaknya.
Bergerak dengan cepat But mengejar Ci, berniat melanjutkan momentum yang kini berada di bawah kendalinya secara penuh. Dengan kehilangan satu lengan, kecepatan Ci telah menjadi lebih lambat dan memungkinkan But untuk dapat menyamainya. Dalam artian lain, ini berarti bahwa keuntungan terbesar Ci telah menghilang!
Ekspresi Ci jelas tidak bisa dikatakan bagus, setelah dia jatuh dalam kondisi ini bisakah dia menyelesaikan misinya?
Itu bukan tak mungkin jika hanya dirinya lah yang harus meninggalkan tempat ini dan selamat. Namun, dengan tim Night Eye yang memiliki informasi itu ikut bersamanya, Ci tahu bahwa mereka harus menembus blokade yang dipasang. Meski kini itu akan terasa sulit, tidak, mendekati mustahil karena premis tersebut mengharuskan dirinya melewati But!
__ADS_1
Mereka telah sepenuhnya terdesak, berada tepat di ujung tanduk, bukan hanya tim Night Eye tapi juga dirinya!
“Exasperate Voice!” Mana mulai berkumpul dan akselerasi gerak Ci meningkat secara eksplosional.
Pikiran Ci berputar dengan cepat, dan bagaimanapun tujuan utamanya hanya mengamankan informasi terkait yang telah didapat. Dengan fakta bahwa hanya Xion dan Yuzu yang memiliki informasi itu, dia berniat untuk membawa lari keduanya. Dalam kemungkinan terburuk, dia hanya akan membawa satu dan meninggalkan kemungkinan bahwa Reutania mendapatkan yang lain.
Namun, itu hanya pikiran sesaat Ci sebelum tubuhnya terjatuh. “Guah!”
Darah dimuntahkan dari mulutnya. Dengan kondisinya saat ini menggunakan teknik apa pun hanya akan menambah beban pada tubuh dan memberi kerusakan internal. Prinsip ini setara dengan konsep keracunan mana yang diderita Xion, bagaimanapun sebuah teknik itu bersumber dari mana yang diubah menjadi energi, dan energi itu memerlukan wadah yang sesuai untuk menahan kekuatannya.
Meski dia jatuh dalam kondisinya sekarang, Ci seolah tak melihatnya sama sekali dan segera bangun untuk melanjutkan langkah. Serangan demi serangan jarak jauh mulai But lancarkan, menggunakan beberapa pisau yang tersembunyi di balik jas pelayannya.
Ci tetap menghindar dengan cepat, tak membiarkan dirinya menderita lebih banyak cedera. Darah bercecer di sepanjang jalan, kecepatan mereka berdua telah membuat Yuzu tak dapat membantu dengan sihir penyembuhannya. Dia sama sekali tak dapat mengunci target penyembuhannya.
“HOI! DASAR PAK TUA SIALAN!” Namun, tiba-tiba sebuah suara terdengar. Menggelegar seolah tak takut dengan apa yang tengah terjadi dan segera menjadi pusat perhatian.
Bahkan setelah puluhan pasang mata memandang sumber dari suara itu sama sekali tak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Dengan malam yang kini terpasang di langit membuat dirinya bahkan semakin sulit untuk dilihat, terlebih dengan pakaiannya yang sepenuhnya hitam dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Siapa pun itu, mereka tak akan pernah berpikir bahwa teriakan itu cukup untuk menghentikan pertarungan yang tengah terjadi. Namun, hal itu benar-benar terjadi saat But menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang.
Suara itu benar-benar akrab, tapi dengan nada yang asing dan tak pernah ditunjukkan itu membuat But mengerutkan kening. Mundur sejenak, dia memandang orang itu. “Apa yang dia inginkan sekarang?”
Entah bagaimana tapi intuisi bahaya yang dia rasakan masih belum menghilang padahal Ci —orang yang diyakini But sebagai sumbernya— telah jatuh dalam kondisi ini. Namun, itu justru membuat But merasa bahwa apa pun yang ingin dikatakan oleh orang itu akan menjadi petunjuk penting bagi hal ini.
__ADS_1