
Menanggapi pertanyaan (?) Lily, Rion memberi sebuah pernyataan balik. "Menurutmu?"
Lily tersenyum pada Rion yang memasang wajah tanpa ekspresi, meski begitu dia tahu bahwa telah terjadi hal yang tak biasa. "Jadi apa yang telah kau lakukan semalam?"
"Aku rasa tidak perlu bagiku untuk memberi tahuku," jawab Rion, menatap gadis itu dalam dia melanjutkan, "Lagi pula, kamu sudah tahu apa yang aku lakukan semalam, bukan?"
Mendengar ini, mata Lily terlihat terkejut. Dengan akting natural serta kemampuannya untuk menyembunyikan sihir yang mendekati sempurna, tak mungkin Rion dapat merasakan sihirnya.
"Bagaimana kau tahu, Rion?"
"Kemungkinan terbesarnya hanya itu."
"Hoo ...," Lily membuka mulutnya, dia menatap Rion baik-baik sebelum berucap, " Apa yang menyebabkanmu hingga dapat begitu yakin seperti itu?"
"Lily, kita sudah bersama selama hampir setengah tahun, selain itu yang mengajarkanku [Magic: Trace] adalah kamu," jawab Rion dengan sebuah senyum.
"Mengingat fungsi [Magic: Trace] sendiri adalah mengawasi, dan melacak apa yang dilakukan orang yang telah ditandai. Aku dapat yakin bahwa seorang Lily juga akan melekatkan sihir semacam itu padaku," sambungnya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kau bahkan tidak dapat merasakan perubahan aliran mana pada sihirku?" Menatap Rion tajam, Lily menduga, "Apa kau hanya menuduhku tanpa adanya bukti."
Rion mengangkat bahu, memang benar semua dugaannya itu berdasarkan asumsi bahwa Lily telah menempatkan [Magic: Trace] padanya. Tidak memiliki alasan menolak, satu kata keluar dari mulutnya. "Intuisi."
Mendengar ini gadis itu pun tertawa terbahak-bahak. Rion hanya memandangi Lily, Lily yang bertingkah seperti ini memang sering dilihatnya.
Mengalihkan pembicaraan, Rion menunjuk sepuluh orang yang kini telah dia gantung dalam posisi terbalik. "Jadi apa yang akan kamu lakukan pada mereka?"
Menurut Rion, bahkan jika Lily membiarkan mereka maka orang-orang itu akan tewas setelah tubuhnya tidak mampu menahan aliran darah yang berkumpul di otak.
Lily berjalan mendekati mereka, dia mengamati mereka sejenak sebelum berucap, "Lepaskan saja."
Rion mengangguk, tidak membantah Lily. Dirinya sama sekali tidak ingin bertengkar mengenai masalah ini, apalagi ini sebenarnya lebih mengganggu gadis itu daripada dirinya sendiri, walaupun dia merasa ini bisa menjadi masalah untuk ke depannya.
Setelah tali yang mengikat mereka terpotong, orang-orang itu pun lari terbirit-birit meninggalkan tempat ini.
Memandang Lily, Rion bertanya, "Apa hal ini tidak masalah?"
__ADS_1
Menahan senyum, Lili menggelengkan kepalanya. "Tidak, lagi pula aku punya rencana hebat!"
"Apa itu?"
"Kau penasaran Rion? Mendekatlah ...."
Namun, Rion tidak mendekat. Meski begitu Lily dapat melihat bahwa pemuda di depannya itu berusaha menahan rasa penasarannya.
Mendekat ke arah Rion, Lily berbisik, "Sayang sekali ini akan tetap menjadi rahasia, tapi aku dapat berjanji ini akan menjadi hal yang menarik."
Mendengarkan perkataan Lily, suasana hati Rion sedikit jatuh. Hal ini justru membuatnya semakin merasa penasaran atas hal menarik yang Lily katakan.
Berusaha menebak apa yang dipikirkan gadis itu, Rion berucap, "Jadi ... intinya aku dapat menyimpulkan bahwa kau akan mengetuk pintu mereka?"
"Ya, tapi bukan hanya aku, kita berdua akan memberikan salam hangat pada mereka semua."
Rion memilih mengacuhkan Lily kembali, apa pun hal menarik itu dia yakin akan menjadi sebuah peristiwa besar.
'Yang terbunuh olehku seharusnya berterima kasih. Jika mereka masih hidup, kurasa mereka akan merasakan hal mengerikan dari rencana Lily ini.'
Rion memandang arah orang-orang yang ditangkapnya itu melarikan diri lalu menggelengkan kepalanya. Bahkan jika mereka menderita itu sudah bukanlah masalah baginya lagi.
Meski agak merasa aneh dengan pertanyaan Lily, Rion masih bersikap wajar saat menjawab, "Ya, lebih tepatnya Kota Dee. Kota di wilayah dudukan Reutania Kingdom, sekitar sehari perjalanan bagi orang normal. Namun, aku rasa kita bisa sampai dalam waktu setengah hari."
"Kalau begitu ayo berangkat, aku ingin segera merasakan empuknya kasur."
"Ya ...," jawab Rion lemah saat mendengar alasan Lily. Meski dia tahu itu bukanlah alasan sebenarnya, tapi dia merasa lebih baik mengabaikan hal itu.
Tanpa menunda waktu lagi, mereka berdua mulai berjalan diiringi sang mentari yang kian naik untuk menunjukkan dirinya lebih banyak.
***
Pemimpin kelompok tentara bayaran Overflow, Lech sedang menikmati waktu sendirinya yang tengah bermain dengan seorang gadis muda, meski gadis itu sendiri tak sadarkan diri di ruangan pribadi miliknya.
Berbicara lebih jauh, gadis ini adalah korban dari perampokan yang mereka lakukan secara rahasia.
__ADS_1
Lech bersikap santai, meskipun dia adalah pemimpin tapi dia lebih memilih untuk menyerahkan tugas-tugas berat kepada anak buahnya. Mulai dari merencanakan serangan pada sejumlah pelancong yang lewat, membuat jebakan, hingga manajemen kelompok ini secara luas.
Kelompok tentara bayaran Overflow adalah salah satu dari banyak kelompok tentara bayaran yang disewa oleh Reutania Kingdom. Sebagai pasukan rahasia dalam rencana perang berikutnya yang akan dilakukan dua minggu lagi ke tanah milik Beatria Union, mereka memiliki beberapa kebebasan untuk mempersiapkan dirinya.
Sebagai sarana menghabiskan waktu di masa senggang semacam ini, mereka menyamar sebagai bandit yang siap merampok di tengah jalan. Mengambil beberapa harta berharga, menjual korban mereka sebagai budak, maupun memperkosa korban wanita mereka, ini adalah sisi gelap dari kelompok Overflow yang terkenal karena kekuatannya.
Setiap anggota kelompok ini terdiri dari orang dengan tingkat kekuatan minimal silver level 8. Dengan jumlah anggota yang mencapai hampir seratus orang dengan proporsi tiga perempat anggota berada di tingkat kekuatan gold level, membuat kelompok ini terkenal akan kekuatannya, bahkan disandingkan dengan beberapa divisi khusus negara kecil di Benua Sylius.
Brak!
Pintu ruangan terbuka, Lech hendak marah kepada orang yang masuk ke ruangannya tanpa izin darinya. Namun, saat melihat siapa orang yang masuk emosinya itu segera menghilang digantikan rasa hangat.
Akan tetapi, sebelum dia dapat berkata apa pun, adiknya itu telah berteriak, "Kakak ... ada masalah besar!"
Dahi Lech mengerut, memperhatikan kondisi adiknya saat memasuki ruangan, dia menyadari bahwa adiknya memasuki ruangan dengan napas terengah-engah dan keringat yang membasahi tubuhnya
"Tenang Heran, ceritakan semuanya perlahan-lahan," ucap Lech, menyuruh Heran untuk tenang.
Dari sepenggal informasi yang dikatakan adiknya itu, Lech belum dapat mencernanya dengan baik. Bagaimanapun, sebelum Heran menceritakan semua dengan jelas dia masih akan berada dalam gelap.
"B-baik kakak!" ucap Heran tergagap.
Dengan menghembuskan napas panjang, Heran menenangkan dirinya sebelum menceritakan apa yang dialami olehnya serta kelompok yang dia pimpin dalam kegiatan perampokan mereka.
Semakin Lech mendengar cerita Heran, semakin dahinya mengerut lebih dalam. Pikirannya penuh rasa tidak percaya pada cerita mengenai pemuda yang dapat membantai kelompok yang Heran pimpin.
Bagaimanapun, mengingat kelompok yang Heran pimpin terdiri dari dua puluhan orang dengan kekuatan di tingkat gold level 1-3 untuk memastikan keamanannya.
Bahkan Lech sendiri cukup merasa hal itu sulit dilakukan, apalagi dapat keluar sebagai pemenang tanpa luka berarti, membuat hal ini semakin sulit dipercaya.
Jika dia mau menghabisi kelompok semacam itu memang bukan tidak mungkin dengan kekuatan gold level 9 miliknya. Namun, kemungkinan besar akan berakhir dengan musnahnya kedua pihak, jika pun dia berhasil keluar sebagai pemenang maka kondisinya pasti kritis.
"Apa kau melihat tanda khusus yang dimiliki pemuda itu?"
Lech yakin orang dengan kemampuan seperti itu tidak mungkin anonim. Dengan penampilan manusia seperti yang Heran deskripsikan, dia semakin yakin bahwa mereka sepertinya telah menyinggung sebuah pihak yang tak seharusnya mereka singgung.
__ADS_1
Namun, Heran menggelengkan kepalanya. "Mereka hanya tampak seperti dua orang pejalan kaki biasa," jelasnya.
Mendengar ini, Lech semakin bingung.