A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 71 : Sekawanan Serigala - 4


__ADS_3

Sesosok monster besar berdiri dengan arogan, matanya hanya melirik pandang ke bawahnya. Dengan sikap acuh tak acuh lolongan tinggi menggelegar terdengar, segera dilanjuti dengan percikan kilat mulai terhubung dan jatuh menghantam.


Ledakan menggema, tapi melihat bahwa tubuh targetnya berhasil mengelak, menghindari serangannya monster itu pun melihat targetnya sekali lagi.


Sayap monster itu terbentang, mungkin lebih dari 3 meter dari ujung satu ke ujung lainnya. Bersama hembusan angin yang menyapu, tubuh besar monster itu mulai terangkat ke udara.


Sekarang penampilan monster yang sangat berbeda dengan Ghost Wolf mulai terlihat jelas.


Memiliki rupa dengan enam mata, dua buah daun telinga yang saling tumpang tindih membentuk telinga berlapis, dan di kepalanya terdapat tiga buah tanduk dengan ukuran tanduk di tengah jauh lebih besar dari dua lainnya di kanan dan kiri.


Tubuh monster itu besar, bulu lebatnya agak berbeda dengan para Ghost Wolf. Dengan warna hitam kebiruan mewah yang bersanding bersama tiga buah ekornya.


Namun, yang paling mencolok bukanlah hal itu melainkan sepasang sayap besar di punggungnya. Tidak seperti sayap Ghost Wolf yang kecil sayap itu mampu membuatnya terangkat terbang, tepat seperti yang monster itu tunjukkan.


"Phantom Wolf ....," Sebuah gumaman terdengar, tak lain dan tak bukan berasal dari Lily yang menyebutkan identitas monster itu.


Pertempuran yang terjadi seolah memasuki waktu jeda, tak ada pihak yang menyerang satu sama lain. Memanfaatkan waktu ini, Lily keluar dari posisinya, berjalan menuju Rion dan berdiri di samping pemuda tersebut.


"Ini mungkin akan sedikit sulit bagimu," bisik Lily pada Rion yang masih terlihat kebingungan.


Tanpa banyak keraguan, Lily menjelaskan bahwa identitas monster baru di depan mereka secara gamblang. Secara khusus, Phantom Wolf adalah bentuk puncak dari Ghost Wolf, sang alpha yang memimpin para Ghost Wolf itu, dan dengan keberadaan Phantom Wolf sendiri telah menjawab mengapa jumlah monster di kawanan ini luar biasa.


"Lalu kenapa aku tak pernah melihat catatan apa pun mengenai monster itu?"


"Kau pikir berapa orang yang berhasil setelah bertemu monster ini? Jika tidak ada lalu bagaimana mereka bahkan dapat membuat catatan itu?" jawab Lily pada pertanyaan Rion yang terbilang konyol.


Mata Phantom Wolf mulai bergerak, mengangkat kepalanya dia pun melolong tinggi. "AWUUU!"

__ADS_1


"AWUUU!" Lolongan lain yang berasal dari para Ghost Wolf terdengar, seolah menjawab panggilan sang alpha.


Tanah berbatu yang mereka pihak mulai bergetar, pepohonan di sisi lain medan pun mulai bergoyang hebat, merasa takut akan seruan perang sang alpha yang menggelegar.


Kabut hitam kebiruan pun mulai menyelimuti tubuh Phantom Wolf, bersama percikan kilat biru yang saling bertaut di antara tanduknya. Saat suara lolongan terangkat, baut kilat pun mendadak menyambar mereka dalam sepersekian detik.


Rion masih sedikit terkejut, tak dapat bereaksi dengan tepat dan siap menerima serangan ini secara langsung.


Namun, sebuah lapisan es tipis segera terbentuk di depannya. Melihat ke samping, Rion menyadari bahwa tangan Lily telah terangkat bersama semburat biru pucat yang terkumpul di tangannya.


Jelas sudah bahwa ini adalah perbuatan gadis itu, tapi jelas bahwa bukan masalah refleks Lily yang membuatnya tertegun.


'Tanpa rapalan?!' Rion mencoba memastikan, tapi dia yakin bahwa dia tak mendengar satu rapalan mantra pun dari Lily sebelum pelindung es ini terbentuk.


Tanpa menunggu Rion bertanya apa pun, tangan Lily kembali memunculkan hawa dingin berwarna biru pucat. Dengan segera tombak-tombak es pun terbentuk, segera meluncur, menyerang para Ghost Wolf yang juga mulai bergerak.


Melihat semua tindakan Lily yang seolah menjawab hal di kepalanya, pikiran Rion agak kacau. Bukankah ini berarti kemampuan yang Lily tunjukkan padanya hanyalah sebuah puncak dari gunung es?


Meski begitu, pandangan Rion tak dapat beranjak sedikit pun dari setiap tindak tanduk gadis itu. Karena setiap waktu yang dihabiskan untuk ini, semakin besar pula bayangan sosok Lily pada pikirannya.


Gelombang suara dan sambaran kilat terus menghujani, ini mungkin tak sebanding dengan [Grandmagic: Dragon Lightning Chains] bersama [Magic: Multiplications] Rion yang sempat membuat pemandangan serupa. Namun, karena ini merupakan hasil kekuatan kolektif dengan waktu rapalan yang sangat pendek, ini memiliki sudut menakutkannya tersendiri.


Tanah terus berguncang saat mencoba tetap bertahan dari hujan serangan ini. Tak hanya itu, tapi pecahan-pecahan es terlihat mulai terbentuk saat badai es terus menghujani mereka.


Seolah tak terima karena seseorang seakan menentang kuasa akan perintahnya, Phantom Wolf menggeram. Dengan mengepakkan sayapnya, bilah demi bilah angin hitam mulai terbentuk, menghujani para pengganggu di matanya itu.


Namun, Rion tak hanya tinggal diam dan menjadi penonton. Saat serangan Phantom Wolf itu mulai menyapu, dia maju dan menghadangnya.

__ADS_1


"Magic: Shield! Magic: Multiplications!"


Lapisan demi lapisan perisai sihir terbentuk di atas kepala mereka, menciptakan bidang kekuatan yang mencoba bertahan melawan serangan Phantom Wolf itu.


"Rion, kau atasilah Phantom Wolf itu. Untuk urusan kawanan ini kau dapat menyerahkannya padaku."


Mendengar perintah Lily padanya Rion mengangguk patuh, dia tak berani menawar atau apa karena tahu beban yang Lily ambil sudah cukup untuk membuatnya kewalahan.


Dengan demikian, Rion mulai memfokuskan pandangannya pada Phantom Wolf yang dengan arogan terus berada di udara. Sementara para Ghost Wolf itu tak dia pedulikan sesuai kesepakatan sebelumnya.


"Ini akan sedikit sulit," gumam Rion saat melihat Phantom Wolf yang dapat berasa di atas tanah dengan bebas.


Namun, itu tak menghalangi mereka. Rion mulai melompat dari satu perisai sihir yang dibentuknya ke perisai sihir lainnya, menggunakannya sebagai tempat berpijak untuk mengatasi Phantom Wolf.


Api, angin, kilat, dan es terus memenuhi pandangan, silih berganti, saling berebut dominasi akan keberadaannya di medan pertempuran.


Kilat biru dan kilat yang agak kehitaman saling beradu di angkasa, hasil dari perseteruan antara Rion dan Phantom Wolf. Sesekali nyala api hadir, memberi warna berbeda tapi segera di balas oleh angin hitam menakutkan.


Sementara itu, tanah berbatu kini telah menjadi medan lain. Dengan bunga-bunga es yang hadir, hawa dingin memenuhi tubuh seakan dapat membekukan makhluk hidup di dalamnya kapan pun itu diinginkan.


Namun, sambaran demi sambaran kilat yang jatuh dari atas seolah tak akan membiarkan hal itu terjadi. Lintasan kilat kehitaman terbentuk, melewati pembatas di antara kedua area terpisah itu. Mencoba menaikkan suhu di sisi lain dan tak akan dapat bertahan di titik beku.


Lily melirik ke atas, dia sendiri masih belum beranjak satu inchi pun dari tempatnya, seolah keberadaan dirinya sendiri tak tersentuh.


Namun, keadaan Rion berbeda, pemuda itu terus bergerak liar untuk menangani si alpha itu dan Phantom Wolf pun sama. Membuat pertarungan di antara keduanya jauh lebih spektakuler dan berimbang. Meski begitu, dapat dilihat bahwasanya kekuatan Phantom Wolf berada di atas Rion.


"Kurasa aku harus melakukan itu."

__ADS_1


Melancarkan tombak es terakhir, Lily pun mengambil napas sejenak sebelum melakukan hal yang dia maksud. Dengan tangan terangkat, suhu di sekitar terus turun bersama dengan rona biru pucat yang terkumpul di tangannya, sangat padat hingga tampak menyublim menjadi sebuah bola kristal.


Saat tangannya jatuh, [Grandmagic: Anchor of the Pole] pun ditunjukkan.


__ADS_2