A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 53 : Tim Baru dan Operasi Lama - 3


__ADS_3

Rico dalam mode raksasanya terus mengamuk, menggiling lawan di depannya menjadi tumpukan daging cincang. Bahkan jika mempertimbangkan gerakannya yang menjadi lambat, kekuatan itu tetaplah tidak bisa mereka lawan.


“Ragghhh!” Rico mengaum, ayunan pedangnya menyapu orang-orang dalam jangkauan yang kian lebar. Gerakan pedangnya sangat tak beraturan, tapi kekuatan kasar yang terkandung di dalamnya telah membuat para bandit yang menghadapinya kesulitan.


Merasakan bahaya dari Rico raksasa yang mampu melibas ‘ternak mati’ tanpa kesulitan, empat orang bandit segera maju melawannya. Dengan kerja sama yang dilakukan, mereka berempat mulai dapat mengikat langkah Rico.


Setelah mengamati dengan jeli, para bandit itu merasa bahwa sihir yang tampaknya menjadi titik lemah Rico. Rapalan sihir mulai menggema, saat serangan sihir mulai disiapkan.


Namun, dalam medan pertempuran ini bukan hanya Rico lah sosok yang patut diwaspadai.


Sosok lain seperti Tue juga harus diperhatikan, dan dengan Rico yang telah merebut seluruh perhatian, dia dapat sangat leluasa.


Setelah semua, cahaya sihir telah lama berpusat pada staf di tangannya. “Magic: Fireballs Rain!”


Bola-bola api dilepaskan terus-menerus, menghalangi para bandit yang ingin menyarang Rico pada titik butanya dengan sihir. Menggagalkan usaha mereka, membuat mereka hanya bisa bertahan dari serangan fisik Rico dan serangan sihir Tue yang saling melengkapi.


Kini semua kian sulit. Jangankan membunuh penyihir tim musuh, bahkan jika ingin mendekat akan langsung menghadapi raksasa di depan mereka yang bertindak layaknya seorang penjaga, menghalangi siapa pun yang ingin mendekat ke arahnya.


“Sial!” umpat salah satu bandit.


Semua usaha mereka percuma, bahkan umpan meriam yang telah dilepaskan untuk hanya membeli waktu pun tak dapat menjalankan tugasnya, malah hanya menambah beban. Namun, mereka juga kian sadar bahwa bukan 1-2 orang yang harus diperhatikan.


Anak panah terus dilepaskan Kent dari busurnya, menghadang gerakan atau bahkan memutus rapalan sihir yang tengah dilantunkan. Serangan Dany yang kian liar, menyerang secara membabi-buta, membuat orang yang ingin membantu melawan Rico ataupun menuju ke barisan belakang tidak dapat melanjutkan langkahnya.


“Magic: Pillars!”


Pilar demi pilar batu muncul, melonjak dari tanah tuk menghalangi pergerakan Dany yang dirasa merepotkan.


“Apa aku akan termakan hal yang sama lagi ha?! Massive Punch!”


Dengan energi yang terkumpul di tangannya pukulan kuat dilayangkan. Pilar-pilar batu yang menjulang itu tak dapat menahan, hancur seketika dengan pecahan batu yang berhamburan.


‘Jika itu terlalu tinggi untuk aku loncati lalu kenapa? Aku tinggal menghancurkannya!’ pikir Dany saat mulutnya membentuk sebuah seringai lebar.


Menyapu pandangannya akhirnya pandangan Dany fokus pada satu orang, dia bergumam, “Kau kutemukan.”


Dany segera menerjang menuju orang yang menggunakan pedang besar, orang yang telah membunuh Simon tepat di depan matanya. “Maju sini!”

__ADS_1


Tang!


Meski pukulannya berhasil ditahan. Namun, Dany tersenyum, dia akan membunuh orang ini. “Kau akan mati!”


Serangan liar mulai dijalankan, sepenuhnya terpusat ke arah orang itu. Pukulan dan tendangan dari segala arah tak terduga membuat serangan Dany sulit ditangkis, apalagi dengan senjata seperti pendang besar yang membuat kecepatan serangannya menjadi lambat, hampir mustahil untuk mengimbangi kecepatan yang Dany tunjukkan.


“Guah!” Darah dimuntahkan dari mulut orang itu saat dia mulai mundur sedikit demi sedikit dari posisinya, tertekan oleh serangan beruntun Dany.


“Oi! Bantuan?!”


“Kami juga lagi kesusahan!” teriak yang lain.


“Maaf lama! Magic: Wind Come!”


Angin kencang berembus, memaksa Dany dan Rico untuk membuat postur bertahan karena Tue juga tak dalam posisi untuk dapat membalas, membuat momentum serangan mereka terhenti sesaat.


“Crescent Slashs!”


Bilah-bilah energi bergerak menuju Rico, tubuhnya yang membesar membuat dia tak dapat menghindar dan membuat bilah-bilah energi itu menghantam tubuh besarnya. Semua ini membuat dia mendapat beberapa luka walau telah berusaha menangkis dengan pedang di tangannya.


“Breakable Fist!”


Tebasan pedang dilancarkan tapi segera tertahan oleh pukulan Dany, membuat keduanya beradu dalam hal kekuatan. Wajah orang yang melawan Dany memburuk, lawan lebih baik dari apa yang dia perkiraan karena dapat menahan serangan dalam kondisi tidak menguntungkan.


“RAAGGGHHHH!” Rico mengaum keras, sesaat dia memandangi penyerangnya sebelum menerjang menuju para bandit itu.


Semakin lama dia dalam bentuk ini semakin berkurang pula kewarasannya, dan setelah hampir mencapai batasnya dia tak lagi memperdulikan luka dan hanya akan termakan oleh amarah yang mendidih.


Dengan hati yang gugup saat melihat raksasa di depan mereka, meski inilah yang mereka harapkan tapi situasi lebih dari harapan mereka. Walau begitu, kemilau sihir tetap mulai terpancar. “Magic: Mud!”


Gerakan Rico terhenti, para bandit ingin segera menerjang ke arahnya. Namun, anak panah yang dilancarkan oleh Kent telah membuat rencana merela terganggu.


“Kalian lupa padaku! Rapid Shots!”


Anak panah demi anak panah berhasil ditangkis, tapi tetap saja ini membuat pergerakan mereka menjadi acak demi menghindari serangan ini.


Dengan kata lain, mereka tak dapat mendekat sementara penyihir itu harus mempertahankan mantra itu.

__ADS_1


“Oi! Pemanah!” teriak salah satu bandit.


Namun ....


“Sayang sekali, dia telah aku bunuh,” Sebuah jawaban tak terdugalah yang mereka dapati.


Huge keluar dari kegelapan, tombak telah berubah merah berlumuran darah musuh.


Selama perjalanan, Dany terus membagikan informasi dengan yang lain soal bandit yang akan mereka hadapi dari pengalamannya yang lalu, dan dengan informasi yang dimilikinya, Ernest pun menyampaikan sebuah rencana dan segera disetujui.


Tue akan membuat asap saat pertarungan dimulai, membuat Huge dapat menghilang bersama dengan dirinya yang akan menyelamatkan diri. Bagaimanapun, Ernest sadar dia tak akan dapat membantu dan hanya menjadi beban.


Dalam kesempatan ini, Huge dapat membunuh pemanah dan pengguna kemampuan yang dimiliki musuh yang sepertinya selalu menyembunyikan diri dalam pertarungan langsung.


Mau dilihat dari sudut mana pun, mereka akan sangat menjadi sangat merepotkan jika didasarkan dari pengalamannya dan cerita Dany.


Selain mereka dapat membantu rekannya saat membuat lubang, mereka juga cenderung bertindak seperti serangga. Namun, di sisi lain dapat dilihat kepentingan mereka dalam gaya bertarung para bandit, dan jika mereka dibunuh terlebih dahulu maka jalannya pertarungan akan menjadi sangat menguntungkan di pihak mereka.


Tentu saja tim menyetujuinya, dan hal ini jugalah yang membuat Ernest tidak dipandang rendah walau kekuatan bertarungnya hanya ditingkat bronze level 2. Memanfaatkan asap yang dibuat oleh sihir Tue, Huge telah berhasil menyusup ke barisan belakang musuh selagi Dany, Kent, Rico serta Tue menghadapi di muka, tepat seperti rencana.


“Sekarang, ayo kita akhiri bandit ini,” perintah Huge dengan nada rendah saat dia juga mulai bergabung ke garis depan pertempuran.


Jalannya pertarungan menjadi berat sebelah setelah Huge bergabung, para bandit yang memang telah kerepotan sejak awal kini kian terpojok.


Akan tetapi, bahkan saat hari kian gelap pertarungan Huge serta timnya melawan para bandit terus berlanjut karena para bandit ini tetaplah lebih alot dari dugaan.


Bahkan dengan kenyataan bahwa mereka unggul, para bandit menjadi semakin liar saat mereka terdesak. Namun, hasil tak mengkhianati usaha.


Dengan kerja sama tim Case Bag yang kian padu dan saling melengkapi membuat perlawanan bandit walau menyusahkan, tapi tidak sepenuhnya membuat tim itu kesulitan mengatasi mereka.


Diiringi desahan panjang, Huge berucap, “Dengan ini misi selesai.”


Memandangi empat orang bandit yang berhasil mereka tangkap hidup-hidup dan enam mayat bandit lainnya, dia bergumam pada yang lain. “Sekarang kita lihat siapa mereka.”


Namun, saat penutup muka para bandit itu dibuka tim terkejut bukan main. Khususnya pandangan Huge yang menjadi cemas, dia berpandangan dengan beberapa anggota tim yang tampaknya juga mengenali mereka sebelum mengangguk lemah.


“Ayo kita laporkan ini pada Kapten Ditch. Ini jelas bukanlah masalah kecil seperti yang diperkirakan.”

__ADS_1


__ADS_2