
Semalam, di dalam hutan dekat Kota Dee.
Sekelompok karavan pedagang bergerak seperti ular, memanjang dengan garis terang yang berasal dari lentera yang digantung di setiap kereta. Total 23 kereta dengan setiap kereta menampung 5-6 orang yang dua di antaranya adalah tentara bayaran yang disewa sebagai pengawal.
Kereta terdepan memiliki enam orang yang seluruhnya adalah tentara bayaran dengan sihir penerangan dan deteksi yang dilakukan salah satu anggota. Semua hal ini secara tak langsung membuat kereta ini seperti sebuah kepala ular yang menuntun kereta-kereta di belakangnya.
Dalam salah satu kereta suasana hangat mengisi, selain orang yang bertugas sebagai kusir, orang lain di kereta saling mengobrol dengan santai. Ini adalah kereta milik pemimpin karavan pedagang ini.
Ernest, anak sang pemimpin kelompok karavan pedagang ini tertawa ringan bersama anggota keluarga yang terdiri dari ayah dan dua adik perempuan. Sedangkan untuk ibu mereka, dia memilih tetap tinggal di Benua Sylius mengurus toko yang ada di sana, selain itu ibunya juga takut akan Benua Zestia yang kini merupakan medan perang bagi tiga negara besar.
Namun, dalam situasi seperti ini justru membuat peredaran mata uang (emas) semakin masif dan membuat ayah mereka tetap menuju kemari.
Meredakan tawa yang keluar dari mulutnya, Ernest mengungkapkan rasa khawatir yang dia rasakan. "Apa ini baik-baik saja Ayah? Aku sering mendengar bahwa banyak orang hilang saat menuju ke Kota Dee."
"Tidak apa-apa. Dengan lima puluh orang yang telah Ayah sewa sebagai pengawal, hal semacam itu tidak akan terjadi," Ayahnya berusaha meyakinkan. Memandangi tentara bayaran yang telah disewanya, dia tersenyum. "Selain itu mereka juga orang dengan kekuatan di tingkat silver level 4-5, bahkan kita beruntung karena ada seseorang yang mencapai tingkat kekuatan silver level 10 di sini, jadi tenanglah Ernest."
"Ya Kakak, jangan terlalu khawatir. Benar kan, Nila?" celetuk adik perempuannya yang lebih muda.
"Ya, Mila. Kak Ernest memanglah penakut," Angguk Nila kencang sangat setuju pada apa yang Mila katakan.
Melihat tanggapan adik kembarnya ini, Ernest memasang wajah cemberut. "Ya, ya, Kakakmu ini memang penakut."
"Hahahaha," tawa Mila dan Nila keras atas reaksi Ernest yang menurut mereka lucu.
"Oo ... begitu ... jadi itu lucu, ya?" Dengan senyum kejam, Ernest pun mulai menjahili adiknya dengan menggelitik mereka, membuat suasana semakin hidup.
Melihat ini, sang ayah —Fest— hanya tersenyum kecil pada tingkah anak-anaknya. Namun, itu tak berlangsung lama.
Boom!
Ledakan keras terdengar hingga membuat kereta yang mereka tumpangi berguncang hebat. Para tentara bayaran yang disewanya sebagai pengawal pun turun, bersiap menghadapi serangan tiba-tiba ini.
"Semuanya bersiaga!" teriak seorang tentara bayaran yang terpilih menjadi pemimpin. Namun, nyatanya peringatannya ini tak banyak membuat perbedaan.
"Argh!"
__ADS_1
"Argh!"
"Argh!"
Erangan terus menggema dari segala sisi, baik itu sisi depan maupun belakang. Beberapa tentara bayaran ditemukan tewas setelah terkena sebuah serangan anak panah musuh tepat di bagian kepala, sementara yang lainnya menderita cedera karena tidak mengenai titik vital sebelum mundur, menyembunyikan diri mereka.
Merasakan kesulitan yang mereka alami, pemimpin kelompok ini pun menurunkan perintah, "Penyihir lakukan sihir pene—"
Akan tetapi, sebelum dia selesai berucap sebuah ledakan keras lebih dulu terjadi dari bagian belakang karavan. Membuat perintahnya terpotong, tidak terdengar karena tertutup suara ledakan.
Melihat kekacauan dan kebingungan yang kian memuncak, firasat Fest menunjukkan bahwa hal buruk akan terjadi. Memeluk anak-anaknya erat, dia berusaha membuat mereka tenang. "Tenanglah, ini semua akan segera diatasi."
Namun, meski itu yang Fest katakan dia tahu bahwa ini tak akan berakhir segera, membuat keringanan dingin bercucuran di punggungnya.
Dari berpuluh-puluh tahun pengalamannya sebagai seorang pedagang. Bukan, seseorang yang sering bepergian, teriakan yang terdengar dari para tentara bayaran yang dia sewa menandakan bahwa para bandit ini berpengalaman, karena mereka dapat melancarkan serangan kejutan secara cepat dan rapi seperti sekarang.
"Semuanya tenang! Berkumpul membentuk sebuah lingkaran, hindari menyendiri atau akan langsung terkena serangan!"
"Ya!"
"Kalian pergi dulu," ucap Fest lirih.
"Ayah! Mana mungkin kita meninggalkanmu?!"
"Bukan seperti itu, Mila. Ayah saat merasakan bahwa bandit ini benar-benar hebat, jika kita tak beruntung setidaknya kalian akan selamat," Memandang anak laki-lakinya yang sepertinya telah memahami situasi yang tengah mereka hadapi, Fest berucap lirih, "Ernest, jaga adikmu baik-baik."
Melihat mata ayahnya yang sangat serius, Ernest dengan hati yang berat pun mengangguk.
"Sekarang pergilah selagi kalian bisa!" Fest mendorong anak-anaknya, menyembunyikan mereka dalam bayangan malam sebelum dia mengambil lentera berkumpul dengan yang lain.
Di sisi lain, situasi pertempuran kian tak menguntungkan bagi mereka.
"Bersiap! Penyihir gunakan sihir penerangan!"
"Magic: Light," Lantunan mantra secara bersamaan menggema saat bola-bola cahaya putih terbang, mengambang di udara.
__ADS_1
"Para petarung jarak dekat bersiaplah! Tingkatkan penjagaan kalian!" perintah pemimpin lebih lanjut.
Bola-bola sihir penerangan kini mengambang di udara, menerangi hutan yang gelap dengan cahaya putih terang benderang dan mengusir kegelapan malam. Enam orang berpakaian serba hitam yang menyatu dengan gelapnya malam menampakkan diri mereka, terlihat siap menghadapi para penjaga yang kini berjumlah 43 orang.
"Tiga puluh orang petarung jarak dekat bersiap menyerang! Sisanya lindungi para pedagang!" perintah pemimpin tentara bayaran percaya diri.
Dia merasa musuh berhasil dalam membunuh beberapa orang sebelumnya karena diri mereka tertangkap lengah, dan hal itu tidak akan terjadi lagi.
Persetujuan segera terlontar dari mulut tentara bayaran ini, bersamaan dengan bentrokan yang segera terjadi. Namun, Han sendiri terkejut melihat para bandit ini berhasil menahan serangan puluhan orang.
Memasuki mode berpikir sesaat, pemimpin kelompok itu sendiri memilih maju menyerang musuh di hadapannya. Sayangnya itu adalah keputusan yang salah.
"Magic: Mud!"
Cahaya coklat pucat bersinar di bawah kaki mereka, tekstur tanah menjadi lunak dan mereka pun tenggelam. Tanpa rantai komandonya, kekuatan tentara bayaran itu pun jatuh dengan cepat.
Namun, saat pemimpin tiu melihat cahaya hijau yang bersinar di tangan salah satu bandit, dia tahu apa yang menantinya.
"Magic: Wind Cutters!" Bilah-bilah pisau angin terbang, melayang menebas mereka semua bak potongan daging di talenan. Dengan mudah dan cepat terpisah-pisah.
Tentara bayaran yang seharusnya melindungi para pedagang kini terjebak. Namun, tak hanya tak hanya itu saja, tubuh mereka kini tak utuh. Bahkan jika mereka ingin menghindar mereka tak bisa dan dengan malang yang terkena tebasan bila angin yang dilepaskan kembali.
"Sakit ..."
"Tolong aku ..."
"Ibu ..."
"Huhuhuhu ... sakit ... "
Bau amis beserta suara rintihan memenuhi apa yang dapat dirasa oleh indra orang-orang di sekitar. Beberapa orang yang belum mati menjerit kesakitan, entah karena bagian tubuh mereka terpotong karena sihir angin atau tertindih orang lain.
Melihat pemandangan ini, Mila dan Nila kian khawatir.
Membuka mulutnya, Mila berteriak, "Ayah—"
__ADS_1
Namun, teriakan itu terpotong segera saat tangan Ernest membekapnya, membuat gadis itu tak dapat mengeluarkan suaranya lagi.