
Dentangan memekakkan telinga terus menggema, sejalan dengan serangan demi serangan yang terus Rion jalankan.
Dalam usahanya menghadapi Marco yang sedari tadi dapat terus memberikan pertahanan solid menahan pukulan-pukulan yang dia berikan, Rion terus didesak hingga batasnya.
‘Jika terus seperti ini bisa gawat! Jumlah manaku semakin tak memadai untuk melakukan itu!’ pikir Rion panik.
Tidak menemukan cara lain, Rion menggunakan cara paling mudah dengan melancarkan serangan yang kian ganas! Mempercepat setiap langkah yang diambilnya, dia ingin segera mengakhiri pertempuran ini.
Di kala mana yang telah terkumpul sudah mumpuni dan kuat, Rion melancarkan teknik. “Crush Rush!”
Tang! Tang! Tang! Tang!
Serangan bertubi-tubi datang segera, menghantam dengan kuat ke arah Marco. Namun, meski dia terus terdorong mundur di setiap pukulan yang Rion lancarkan, hal ini belumlah cukup dapat menghancurkan pertahanan solidnya.
Dengan gigi yang menggemeretak, Rion terus menyerang dengan segenap kemampuan yang dia miliki. Dia mundur sejenak untuk menghindari beberapa luncuran anak panah dari kejauhan yang segera ditindak lanjuti oleh serangan Marco.
Semakin waktu berlalu, semakin Marco menyadari ada yang aneh pada gerakan yang Rion ambil. Namun, dia tidak langsung mengambil kesimpulan hanya dengan praduga yang telah ada di kepalanya. Dengan kepala dingin, dia memilih menunggu sedikit lagi untuk memastikan dugaan.
‘Ternyata memang ada yang salah,’ duga Marco setelah pengamatan yang dilakukan dengan jeli.
Sekilas memang tidak ada perubahan berarti pada gerakan yang Rion ambil. Namun, saat dilihat lebih teliti, gerakan dia sebelumnya seperti sebuah badai, bergelombang serta liar dengan membawa sebuah kekuatan pada setiap gerakan yang diambil. Walaupun dapat dikata gerakan-gerakan itu dilakukan secara serampangan, tapi justru menciptakan sebuah keharmonisan yang aneh.
Akan tetapi, gerakan Rion saat ini walau terlihat sama, tapi membawa esensi yang berbeda. Setiap gerakan tidak terasa seperti sebelumnya, lebih seperti ... terkejar oleh waktu!
Marco sedikit tersenyum di dalam hatinya, sepertinya pengalaman memanglah faktor utama hingga dapat membawa keuntungan besar dipihaknya.
Setelah menemukan hal ini Marco tak terburu-buru, dia yakin bahwa Rion adalah pihak yang akan mengalami kerugian besar jika pertarungan menjadi berlarut.
Mencoba membawa tempo pertarungan ke arah yang diinginkan. Marco terus menahan pukulan yang lawannya itu lepaskan sembari sesekali membalas, dia juga memberi sinyal perintah pada yang lain untuk menunggu perintah, menanti saat yang tepat untuk menyerang.
Sementara itu, orang gegabah itu —Fold— telah dibawa keluar dari medan perempuan. Meski jejak napas masih tertinggal di tubuhnya, tapi dengan kondisi yang terluka parah, dia tak dapat dikatakan baik.
__ADS_1
Kondisi Fold kini telah tenang karena tak sadarkan diri setelah diberi obat penenang oleh rekannya yang lain. Mengingat dia dalam keadaan kondisi mental yang digilakan dengan luapan amarah, dia hanya akan mempersulit penyelesaian misi.
Namun, semua keadaan ini membuat Marco sangat senang. Dengan ini dirinya tidak perlu lagi memikirkan keselamatan bawahannya dan hanya perlu fokus pada pertarungan yang tengah dijalaninya.
“Hahahaha ... kau pasti sangat lelah bukan?!” tawa Marco lantang setelah serangan Rion yang dia rasakan semakin melemah.
“....”
Rion memilih diam, tidak ingin membalas perkataan Marco. Kenyataan bahwa kelelahan telah menumpuk padanya memanglah benar, bahkan dia telah berusaha membawa tubuh letih ini melewati batasnya.
Melihat celah yang Rion tunjukkan, Marco bergumam, “Kena kau.”
Menghilangkan segala bentuk pembelaan, Marco mulai menyerang lawannya secara aktif dengan tenaga kuat yang dapat dirasakan di setiap tebasan yang diambil, dan kini Rion pun mulai mundur selangkah demi selangkah.
Kepala Rion mulai terasa berat bersama pandangannya yang memutar, kini kekuatan muai terasa meninggalkan tubuhnya. Melirik ke luka-luka kecil yang dideritanya, dia memiliki dugaan atas penyebab kondisinya ini.
Mengingat sejak pertarungan terjadi para pengejar yang bertarung melawannya tidak pernah mengincar bagian vital tubuh —kecuali Fold—, dan hanya berusaha mengunci pergerakannya dengan menyerang anggota geraknya, dugaan Rion semakin kuat.
Dugaan Rion tidaklah salah. Bahkan jika bukan karena tubuhnya yang telah memiliki tingkat adaptasi ekstrem, maka waktu racun itu bereaksi tidak akan selambat ini mengingat racun itu terkandung dalam setiap serangan yang diarahkan lawan padanya.
Celah yang telah Rion tunjukkan membuat Marco semakin leluasa untuk menyerangnya. Pedang kapten ksatria itu berayun liar dan terus memaksa Rion untuk mundur.
Pyar!
Tinju Rion memecah pedang di tangan Marco yang sudah tak kuasa menghadapi peningkatan dan penurunan suhu secara ekstrem, cepat, dan berulang sejak pertarungan dimulai. Dengan semua itu, ketahanan pedang itu pun jatuh secepat kilat dan tidak dapat bertahan lagi.
Mata Rion bercahaya, ini adalah kesempatan emas yang tak dapat dia lewatkan. Nyala api di tangan kanannya mulai membesar kembali, tinju berapi pun dengan cepat diluncurkan.
Menghadapi serangan yang datang, Marco berusaha menghindar. Namun, usahanya itu tidaklah sempat dan tinju bersuhu tinggi telah terlebih dahulu menghempaskannya dari posisi semula.
“Kapten?!” teriak Ale panik bersama anggota tim lain yang menyuarakan hal serupa.
__ADS_1
“Uhuk, Uhuk, aku tidak apa-apa,” ucap Marco berusaha menenangkan, menatap Rion tahan dia berteriak, “Selain itu, cepat serang dia! Kondisinya pasti sudah kelelahan dan mencapai batasnya setelah pertarungan ini.”
“Ya!”
Setelah perintah diturunkan tim Night Hunt pun melaksanakan segera. Marco mencoba berdiri kembali, mencoba mencari pedang pengganti yang meski tidak sebagus apa yang sebelumnya dia gunakan, tapi dengan keadaan saat ini itu haruslah cukup jika dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Enam orang yang tersisa mulai meningkatkan intensitas serangan yang terarah pada Rion. Serangan terus kepada Rion dengan bertubi-tubi, entah dari depan, belakang, kanan, maupun kiri, segala arah yang ada telah dikunci saat serangan dilancarkan.
Melihat serangan mereka tak berhasil melumpuhkan target, mereka saling berkomunikasi dan memutuskan melakukan serangan secara serempak.
Berputar, bayangan para pengejar itu mulai menjadi lingkungan yang mengunci Rion di tengahnya. Mengacungkan belati yang telah dimuat dengan mana hingga ke batasnya, teknik pun dilepaskan.
“DARK SHATTER!”
Pecahan bila tajam datang dari segala arah mengunci Rion. Membuatnya tidak dapat berkutik, menghindar, atau melakukan apa pun, hanya dapat menerima serangan secara pasrah yang mengakibatkan luka parah pada tubuhnya.
Marco mulai mendekati Rion yang terluka parah setelah menerima serangan barusan.
“Menyerahlah, kau tidak dapat melawan lebih jauh dari ini,” ujar Marco lirih saat mengacungkan pedang di tangannya.
Mendengarkan ini, mulut Rion mengeluarkan suara tawa lirih, “Menyerah ...?”
Meski itu yang terucap, nyatanya mata Rion belum menyerah. Api di tangan kanannya semakin membesar, sedangkan es di tangan kirinya mulai mencair berubah menjadi gumpalan besar air.
Dengan mata setajam bilah pedang Rion mulai berusaha bangkit kembali. “Ayo kita lihat ....”
Melambaikan tangannya, Rion menyatukan api dan air, mulai mengompres kedua zat yang bertentangan itu, sebuah bom uap yang siap meledak pun tercipta.
“... SIAPA YANG AKAN MENYERAH SEKARANG?!”
BOOOOMMMM!
__ADS_1