
Keluar dari laboratorium, Rion berjalan di belakang Seriana layaknya boneka, tak terlalu jauh maupun terlalu dekat. Dia berusaha menyesuaikan pandangannya yang terlalu lama dalam kondisi kurang cahaya.
Memperhatikan sekeliling, Rion menyadari bahwa ini adalah sebuah benteng raksasa. Baik ukuran maupun kekuatan banteng ini telah melampaui perkiraan yang pernah dia lakukan, dia kini berpikir bahwa benteng ini kemungkinan besar digunakan sebagai basis pertahanan melawan bangsa demi-human.
Rion berjalan menaiki dan menurun anak tangga, seringnya dia berbelok ke kiri dan ke kanan membuatnya berpikir bahwa benteng ini layaknya sebuah labirin. Meski itu memang pas untuk disematkan dengan jalan yang hanya muat bagi tiga orang berjalan berdampingan.
Setelah beberapa saat, Rion tiba di sebuah kastel di tengah benteng, jauh dari nuansa sebelumnya tempat ini cukup luas dengan sebuah lapangan tanding serta panorama dinding benteng berlapis-lapis sebagai pelindungnya.
Memasuki kastel tersebut, Rion merasa telah masuk ke dunia yang baru, jauh dari kehidupan yang dikenalnya selama ini. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Rion terus mengekor di belakang Seriana.
Seriana berhenti di depan pintu sebuah ruangan lalu menatap Rion. “ini tempat bagimu tinggal mulai sekarang, paham?”
“Ya, Master.”
“Masuk dan beristirahatlah, besok kau akan memulai kehidupanmu.”
Rion mengangguk lalu memasuki ruangan. Menutup pintu, Rion mencoba mengamati aliran mana di sekitarnya, memeriksa apakah terdapat sihir penyadapan atau tidak.
Setelah menemukan aliran mana yang tidak normal, Rion berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya, dia bernapas lega bersama terlepasnya rasa lelah yang terkumpul selama ini, dia berhasil lepas dari rencana pengendalian pikiran.
‘Untuk saat ini aku dapat bersantai sebentar, pertaruhan pada metode penangkal yang aku rencanakan untungnya berhasil.’
[Interference: Re-Write], adalah hal yang lumayan merepotkan. Selain termasuk jenis kemampuan pengendali pikiran yang merupakan salah satu jenis kemampuan yang paling dibenci banyak pihak, cara kerja kemampuan ini juga cukup rumit pasalnya terlihat tidak nampak.
Rion berusaha memasukkan semua energinya pada pikirannya, untuk mengikuti kemampuan tersebut. Dengan kemampuan Rion saat ini, maka mustahil untuk menolak efek pengendalian pikiran.
__ADS_1
Pengamatan dan daya nalarnya sendiri menjadi satu-satunya petunjuk bagi Rion untuk dapat mengatasinya.
Setelah mengamati dan waktu untuk berpikir yang dimiliki, akhirnya Rion memusatkan perhatiannya pada beberapa petunjuk yang dapat dia temukan. Kemampuan ini selalu digunakan setelah pembuatan rune, selain itu hal ini juga sejalan dengan kata ‘tulis ulang’ yang dirapalkan. Itulah yang dijadikan kunci selama ini hingga Rion mencapai satu kesimpulan, dan hasil ini berasal dari hasil kesimpulan tersebut.
Rion memilih membiarkan kemampuan itu menimpanya, lalu menulis semua hal yang penting sebelum dapat ditulis ulang pihak lain. Meski rencana ini sendiri tak akan dapat berjalan dengan baik jika pembuatan rune itu berhasil, tapi Rion telah berhasil mencegah pembuatan rune.
Untuk rune di punggungnya sendiri, Rion melihat bahwa kontrak ini menggunakan darah sebagai medium. Yang berarti selama darah pihak lain mengalir di tubuhnya, maka isi kontrak tersebut akan secara alami berlaku. Memastikan bahwa kontrak berhasil, dan tidak akan timbul permasalahan ke depannya.
Rion mengatasinya dengan bentuk sederhana yaitu melakukan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri, dan penggunaan sihir tanpa rapalan sangat diperlukan pada tahap ini. Saat darah tersebut bersentuhan langsung pada bentuk luka ukiran rune pada punggungnya, sihir penyembuhan aktif.
Cara kerja sihir ini yang menolak benda asing untuk masuk ke dalam tubuh karena dinilai sebagai pengganggu, membuat darah asing yang digunakan sebagai medium menjadi terhalau. Walaupun sihir penyembuhan Rion lemah, tapi hal ini lebih dari cukup untuk mencegah bentuk pemaksaan tersebut.
Sedangkan untuk jenis kemampuan itu sendiri, saat ingatannya dihapus cara melawannya adalah menandai ingatan tersebut. Rion memasukkan semua mana yang selama ini menumpuk pada ingatan yang penting baginya, itu adalah hari di mana dia membuat keputusan. Menjadikannya sebuah tanda, setelah itu dia terus menguatkan ingatan tersebut hingga secara paksa masuk pada ‘tulisan’ pihak lain.
Metode ini sendiri beresiko di mana dia masih mungkin tetap terpengaruh kontak, atau akan menjadi gila karena bentuk ingatannya yang saling bertolak belakang satu sama lain yang celakanya dua-duanya dianggap benar oleh dirinya.
Metode ini Rion pikirkan selama tiga tahun terakhir saat mencari cara menghalangi bentuk kontrak paksa. Hal inilah yang menyebabkan Rion berani mengambil taruhan ini, tak langsung menerobos pintu depan saat dirinya terbebas karena kemungkinannya mencapai 40:60 membuatnya layak untuk dicoba.
Rion memejamkan mata bersama rasa kantuk yang sudah lama tidak menyerangnya. Dia menyerah untuk berpikir lebih lama saat ini, memilih mengistirahatkan pikirannya yang tidak pernah berhenti selama lima tahun terakhir.
***
Pagi menyingsing, sinar matahari menyinari wajah Rion membangunkannya dari tidur lelap. Nuansa yang sudah lama tidak dia rasakan bahkan dia hampir lupa bagaimana rasanya.
Rion mengenakan baju pelayan yang terletak bersama catatan kecil di atas meja dengan sebuah cermin kecil di atasnya, mungkin disiapkan saat dirinya tertidur. Berjalan keluar dari kamar, Rion menuju ruang makan sesuai informasi yang dimasukkan ke kepalanya.
__ADS_1
Melihat Seriana yang tengah menyantap hidangan seorang diri, Rion membungkuk sembari mengucapkan salam, “Selamat pagi, Nona Seriana.”
Rion berkata dengan tenang, menahan semua bentuk niat membunuh pada gadis di depannya ini hingga tidak dapat dirasakan lagi.
Seriana mengangguk ringan pada Rion, hal ini sudah lebih dari cukup baginya untuk menanggapi sebuah ‘boneka’, setidaknya dia tidak mengacuhkan Rion.
Selesai menyantap hidangan, akhirnya Seriana membuka mulutnya. “Bersiaplah untuk latihan yang telah kuberitahukan.”
“Baik, Nona.”
Inilah alasan lain Rion tidak langsung kabur saat pemindahan tabung ke ruangan khusus, selain menghindari menghadapi pasukan dia juga berniat memperkuat dirinya.
Setelah mengalami semua hal menyakitkan ini, Rion menyadari ini, kelemahan adalah dosa.
Jika Rion ingin setidaknya hidup tenang, dia harus dapat mempertahankan ketenangan itu bahkan dengan jalan apa pun cara yang diambil. Selain itu Rion tahu benteng tempat seorang Duke besar, seperti Duke Arcchild yang masih keturunan keluarga Kekaisaran tinggal pastilah memiliki buku-buku yang berharga, dan dia ingin mendapat semua pengetahuan itu.
Informasi juga termasuk kekuatan.
Ini terbukti bagaimana Rion dapat mengetahui metode mengatasi rune serta kemampuan pengendali pikiran walaupun memiliki informasi meski terbatas. Jika saja Rion tahu lebih banyak, mungkin dia dapat mencoba metode yang lebih aman tanpa resiko sebesar sebelumnya.
Rion tersenyum sinis di hatinya saat ini. Dalam benaknya dia merencanakan banyak hal-hal yang akan dia lakukan ke depan, mulai cara bertambah kuat dan terpenting kabur dari benteng ini.
Seriana berdiri, mulai menuntun Rion ke tempat latihannya, tak menyadari apa yang tengah Rion pikirkan.
‘Semuanya baru saja dimulai, kalian semua bersiaplah menghadapi perlakuan terburuk yang tidak dapat kalian bayangkan ...!’
__ADS_1