A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 9 : Pertaruhan Hidup - 1


__ADS_3

Blurp Blurp


Suara gelembung udara yang naik dari dalam tabung eksperimen memenuhi sudut laboratorium, ditemani dengan warna suram dari tabung pembiak.


Sudah sekitar lima tahun (?) sejak Rion berada di laboratorium ini. Jumlah tabung eksperimen telah bertambah secara signifikan, ini semua berkat data dari Rion yang berhasil melewati tahap awal percobaan yang sudah dianggap mustahil itu. Meski subjek lain dapat dikatakan produk minor, tapi kuantitasnya telah menutupi kurangnya kualitas dari ‘produk’ itu sendiri.


Dikarenakan hal ini Rion seakan menjadi subjek utama penelitian, membuatnya menerima suntikan cairan aneh yang membuat tubuhnya menjerit kesakitan setidaknya sekali seminggu. Selain itu, tabungnya sendiri terus dialiri oleh balutan energi yang dapat membuat orang biasa, bahkan seorang penyihir meledak jika menerimanya secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu.


Bagi Rion sendiri, dia dapat bertahan sejauh ini karena kemauannya untuk membalas dendam. Selain itu dia juga kerap kali menemukan perilaku serupa pada orang lain di laboratorium ini, membuat dia semakin mantap akan keputusannya.


Tuk Tuk Tuk


Suara langkah ringan terdengar masuk ke dalam laboratorium, semakin jelas saat menuju ke arah Rion. Mata Rion sedikit terbuka, memastikan siapa yang datang.


Seorang gadis dengan kecantikan surgawi melenggang dengan eloknya, tanpa memperdulikan sekitar walau tempat kotor dan gelap semacam ini seolah tidak dimaksudkan untuk didatanginya. Namun, sekelompok peneliti yang mengikuti di belakang gadis itu terlihat berusaha menyembunyikan ketakutan mereka.


Melihat siapa yang datang perasaan Rion untuk membalas dendam tidak terpengaruh sedikit pun, malah menjadi semakin kuat.


Selama beberapa tahun terakhir Rion mengetahui bahwa karena gagasan gadis inilah laboratorium ini didirikan, semua tak lain dan tak bukan karenanya.


Dia adalah orang yang Rion anggap telah merenggut semua hal yang dia sayangi, membuatnya harus merasakan semua penderitaan yang ditanggung selama ini.


Gadis tersebut berhenti tepat di depan tabung Rion, mencermati Rion yang mengambang di dalam tabung.


“Bagaimana kondisi subjek E-R1203?” Tanya gadis tersebut dengan nada dingin.

__ADS_1


“Subjek kini berada dalam kondisi paling optimal dari pengamatan kami. Secara menyeluruh siap untuk memulai tahapan selanjutnya, Nona Seriana.”


Mendengar kabar ini gadis itu, Seriana G. Eugary tersenyum puas.


Selama lima tahun ini Seriana telah tumbuh. Dalam hal penampilan, parasnya kian menawan bersanding dengan rambut pirang dan mata hijau safirnya membuat semua orang menganga saat memandangnya. Bahkan Lucia Fold E. Eugary, Putri Kekaisaran sendiri sering dianggap kalah dengan Seriana dalam hal kecantikan.


Sedangkan dalam hal kepribadian, dia terlihat semakin dewasa. Memiliki etika yang sangat sempurna dalam berperilaku, bercakap, serta dia yang lebih dikenal mandiri membuat Seriana menjadi sosok idaman yang sempurna.


Akan tetapi, bagi para peneliti di sini, Seriana adalah yang paling gila dari semua yang pernah mereka temui. Banyak percobaan yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia, bahkan mereka yang kerap kali dianggap gila oleh masyarakat diajukan Seriana. Membuat mereka menganggap Seriana adalah serigala berbulu domba, sikap ketidakmanusiawian yang berada dalam keindahan surgawi.


Setelah berpikir sejenak, Seriana menurunkan perintah, “Lanjutkan ke tahap berikutnya sekarang.”


“Baik!”


Para peneliti ini tidak berani membantah. Mereka mulai memasangkan lusinan botol kecil berisikan Blood Essence yang berasal dari beberapa Beast Lord, meski bahan ini amat langka mengingat kesulitan mendapatkannya, mereka tak ragu memasangnya pada pipa injeksi di tabung Rion.


Saat komando telah terdengar, Blood Essence pada botol perlahan mulai mengering. Saat Blood Essence mulai mengalir ke tubuhnya, Rion menjerit, “Arg-!”


Bersama efek penolakan yang menghasilkan rasa sakit yang teramat, Rion berusaha berteriak sekuat tenaga, melepaskan semua rasa sakit yang dialami. Setiap sel dalam tubuhnya serasa terkoyak dan tercabik-cabik dari dalam, tapi kondisi tubuhnya tetap dalam kondisi sempurna.


Mengingat cairan dalam tabung juga terdapat kandungan elixir penyembuh, membuat segala jenis luka kecil dapat langsung disembuhkan sebelum menjadi parah dan tidak dapat disembuhkan lagi. Meski begitu, semua subjek yang menjalani eksperimen serupa dengan Rion seluruhnya tewas, hal inilah yang memaksa para peneliti untuk membuat eksperimen yang lebih minor.


Beberapa riak muncul pada cairan di tabung Rion, mengekspresikan rasa sakit yang dialaminya. Saat cairan dalam tabung tenang, Rion masih menahan rasa sakit tapi dibandingkan segan sebelumnya maka ini sudah tidak seberapa.


“Teruskan seperti ini sampai seminggu, untuk hasilnya beritahu aku setelah subjek dipastikan hidup. Jika subjek mati, kalian juga tahu hasil yang menunggu mengingat banyaknya emas yang sudah diinvestasikan dalam proyek ini,” ucap Seriana dingin, tanpa ruang negosiasi. Melihat para peneliti ini yang paham akan hasil yang menunggu, dia melanjutkan, “Jika subjek masih dapat hidup, bersiaplah untuk percobaan tahap akhir!”

__ADS_1


“Baik Nona,” jawab kepala peneliti dengan keringat dingin yang masih bercucuran deras.


Tentu saja mereka paham akan maksud dari Seriana. Jika mereka gagal, maka mereka akan tewas, membuat kelalaian sekecil apa pun tak dapat mereka toleransi. Membayangkan hasil yang akan datang, baik keberhasilan maupun kegagalan, para peneliti ini berharap-harap cemas. Mengingat ketegasan Seriana dalam membuat keputusan, hal yang dikatakannya pasti bukan omong kosong belaka.


Menilai semua telah sesuai kehendaknya, Seriana melangkah meninggalkan laboratorium.


Saat Seriana dapat dipastikan telah meninggalkan laboratorium, pemimpin peneliti baru bisa mengambil nafas lega.


“Kalian dengar hal itu! Jangan sampai membuat kesalahan!” ingatnya pada yang lain.


Rion yang dapat mendengar semua pembicaraan itu membuatnya merencanakan sesuatu dalam benaknya. Untuk bentuk pengujian akhir sendiri, Rion telah lama mengetahuinya. Dalam beberapa tahun ini, indranya telah berkembang melampaui batas normal, membuatnya dapat mengetahui hal yang terjadi di sekitarnya.


Saat ada subjek dari bentuk ekspresi lain dilakukan pengujian akhir, Rion memfokuskan semua indranya untuk mengetahui apa yang mereka lakukan. Meski hal itu membuat Rion sangat marah.


Mereka melakukan pembuatan rune permanen untuk pengendalian pikiran subjek tersebut. Tidak hanya membuat mereka menderita rasa sakit yang tidak manusiawi, tapi mereka juga merampas kebebasannya, hal inilah yang membuatnya sangat marah.


Dari pembicaraan para peneliti, tujuan laboratorium ini sendiri adalah untuk membuat tentara yang kuat untuk ambisi Kekaisaran Eugary menguasai tanah di Benua Zestia, tempat yang didominasi demi-human.


Benua Sylius, itu adalah tempat sebagian besar kerajaan manusia tinggal tapi kini dianggap terlalu kecil setelah eksploitasi tiada akhir, membuat manusia mencari tanah baru.


Setelah eksplorasi menyeluruh Benua Zestia pun ditemukan, benua yang terletak di sebelah selatan Benua Sylius membuat beberapa kerajaan manusia melirik Benua Zestia, tempat demi-human tinggal. Terlebih saat mengetahui benua ini yang masih kaya akan sumber daya, para manusia dari beberapa kerajaan semakin berambisi untuk menduduki tanah di sini.


Rion memilih mengistirahatkan pikirannya sembari menahan rasa sakit, dia mengatur rencana untuk pelarian besarnya matang-matang. Ini semua akan membuat semua keinginannya untuk membalaskan dendam dapat dilakukan atau hanya menjadi angan-angan belaka.


Waktu berlalu dan hari penentuan pun tiba.

__ADS_1


‘Kali ini aku akan membalas semua ... akan kubalas perlakuan semua perlakuan mereka ....’


__ADS_2