A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 34 : Dalam Lapisan Es - 3


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu setelah peristiwa besar yang menimpa Benteng Arcchild. Mulai dari hancurnya gerbang barat, penyusupan serdadu Beatria Union, kaburnya salah satu orang yang dekat dengan Seriana —Rion—, hingga terbunuhnya Duke Arcchild.


Beatria Union, pihak yang terlibat dengan peristiwa besar itu juga kerap kali melakukan serangkaian serangan dengan tujuan menaklukkan benteng. Namun, para parajurit yang masih selamat tidaklah selemah itu untuk dapat membiarkan benteng jatuh dengan mudah.


Akan tetapi, semua hal itu tak membuat raut wajah Seriana menjadi bahagia.


"Jadi Subjek E-R1203 kemungkinan besar telah tewas?" ucap Seriana dengan nada bertanya dan sedikit kesinisan tercampur di dalamnya saat memandang Marco yang kini tengah berlutut di hadapannya.


Seriana sama sekali tidak merasa puas apalagi bahagia setelah membaca laporan misi yang Marco jalankan dalam waktu ini.


Seriana berpikir, setelah semua pasukan itu dikerahkan, tim Nigt Hunt beserta beberapa tim lain yang termasuk tingkat 'atas' menjalankan misi ini. Namun, tak mendapat hasil apa pun, tentu saja dia tak dapat meredam kekecewaan.


Meskipun mereka telah berkutat di sekitar zona kematian selama hampir dua bulan ini, dan kini mulai menyisir ke daerah yang lebih jauh untuk mencari kemungkinan bahwa Rion masih hidup. Namun, setelah tak dapat menemukan Rion maupun jejak yang ditinggalkannya, Marco mau tak mau hatus mengakhiri operasi besar itu dengan kegagalan lain.


"Maaf atas kegagalannya Nona Seriana," Sang kapten ksatria menundukkan kepalanya lebih rendah lagi dan lagi, tak mampu menghadapi tatapan Seriana yang dirasa semakin dingin di setiap detiknya.


Mengambil napas dalam, Seriana berucap, "Tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan nasib peneliti yang masih hidup itu?"


Hal ini juga Seriana perhatikan, meski terlihat seperti mengalihkan pembicaraan. Namun nyatanya kedua hal ini masihlah berkaitan.


Pada saat mengecek keadaan laboratorium setelah ledakan itu tim menemukan seorang peneliti yang masih hidup. Walaupun dapat dikatakan dalam kondisi kritis kala itu, dia masih dapat diselamatkan karena dia hanya dalam keadaan penuh memar serta luka-luka di sekujur tubuhnya.


Meski menggunakan kata 'hanya' untuk menyebut keadaan peneliti itu, tapi kondisinya secara nyata amatlah sangat buruk. Namun, jika dibandingkan peneliti lain yang tewas mengenaskan hingga tidak dapat dikenali lagi di dekatnya, kata 'hanya' memang cukup pantas untuk disematkan.


Marco yang sebelumnya telah dapet menatap Seriana kini memasang wajah sulit. "Untuk itu ... meskipun tubuhnya memang sudah membaik, tapi ...."

__ADS_1


"Cepat katakan," ucap Seriana tenang dengan nada yang kian tanpa emosi.


"Hah ... maaf Nona. Sepertinya kondisi mentalnya dapat dipastikan hancur."


Muka Seriana masih datar, tidak terkejut atau apa. Menyadarkan tubuhnya pada kursi besar yang ditempatinya, dia berucap, "Bisa kau jelaskan secara lebih rinci?"


Marco mengangguk pelan sebelum membuka mulutnya. "Saat tersadar peneliti itu akan langsung panik saat melihat orang lain, berteriak-teriak dengan isi yang tidak jelas dan tak dapat dipahami orang lain selama beberapa saat sebelum pingsan. Sedangkan saat dia sendirian, peneliti itu akan cenderung menggumamkan hal-hal tidak jelas dan menyerang benda-benda di dekatnya. Hah ... karena hal itu kami menyimpulkan bahwa kondisi mentalnya telah rusak."


Mencerna informasi ini, memang tidak ada yang salah dalam deduksi Marco. "Apa ada informasi yang bisa kau didapatkan darinya? Apa pun itu katakan padaku."


"Hal yang dia teriakan selalu sama, yaitu seorang ibis telah lahir di dunia, kemungkinan besar itu merujuk pada Rion. Maaf Nona, hanya hal itu yang dapat kami pahami, selain itu tidak ada."


"Begitu?" Seriana merasa kehilangan harapan untuk peneliti itu, jika hanya itu yang orang itu ketahui maka itu lebih tak berharga lagi. Bagaimanapun, jika dia bertanya pada orang yang mengalami peristiwa itu secara langsung, maka mereka akan menjawab bahwa Rion adalah seorang iblis.


"Bunuh dia jika kita tidak dapat memanfaanya. Lalu perintahkan yang lain menjauh dari ruanganku, untuk saat ini aku ingin mendinginkan pikiran, jadi jangan menggangguku," perintah Seriana.


Namun, setelah ruangan ini hanya diisi oleh Seriana terdengar suara tertawa cekikikan yang mengisi ke setiap sudut ruangan.


"Rion tewas?" Seriana ingin tertawa pada dirinya sendiri saat mengucapkan ini. "Kurasa tidak! Lalu bagaimana jika dia masuk zona kematian? Aku yakin dia masih hidup, bagaimana bisa orang yang membuatlu jatuh cinta akan mati semudah itu."


Mengenang sosok Rion, napas Seriana menjadi berat dengan pipinya merah meronta. Matanya menatap jauh ke fantasi dalam dirinya yang kian liar tak terkendali.


***


Jauh ke utara dari Benteng Arcchild di pelabuhan pusat milik Eugary Empire di Benua Zestia, Seriana G. Eugary tengah duduk di kereta kudanya.

__ADS_1


Waktu dua bulan telah berlalu dengan cepat, dan kini Seriana dipanggil oleh sang kaisar untuk segera kembali ke negaranya.


Semua karena penyerangan yang pernah terjadi di benteng hingga membuat Duke Arcchild tewas. Namun, Seriana menyadari bahwa alasan sebenarnya adalah alasan egois dari kaisar sendiri untuk memenangkan kepercayaan dari bangsawan lain.


Bagaimanapun, dengan terbunuhnya bangsawan berangkat Duke seperti Duke Arcchild —lebih parahnya lagi masih satu darah dengan kaisar— tentu saja kepercayaan para bangsawan kepada kaisar turun tajam.


Meskipun Seriana memang akan kembali ke kekaisaran, tapi jadwal seharusnya masih di bulan yang akan datang. Walau saat dia kembali juga menyiratkan akan menjadi ajang resmi pengangkatan Duke baru menggantikan ayahnya, raut wajah Seriana tak terlalu baik.


Seriana terlihat bosan saat memandangi kapal yang akan membawanya kembali. "Rion masih belum datang juga ... apa dia memang sudah tewas?"


Sudah empat bulan lebih sejak terdengar kabar terakhir dari Rion terdengar, meski Marco telah secara resmi menutup operasi itu, nyatanya Seriana masih menjalankannya secara rahasia. Namun, hasil yang dia dapatkan juga tak terlalu bagus.


Bahkan dengan laporan dari orang-orangnya, Seriana masih belum mendapatkan kabar apa pun. Karenanya dalam selama waktu ini, dia merasa sangat bosan dengan hati yang kembali terasa hampa, dia juga yakin bahwa kematian tidak akan terasa seburuk ini.


Pikiran bahwa Rion memang sudah tewas terkadang menghinggapi kepalanya, tapi Seriana segera menolak itu mentah-mentah. Mana mungkin orang yang telah berhasil merebut hatinya dapat menghilang dari dunia dengan mudahnya?


Tiba-tiba mata Seriana melebar, sebuah hal menariktelah dia temukan melalui renungan tanpa akhir yang terus berjalan di kepalanya.


"Jadi seperti itu ... ya! Pasti itu!"


gumam Seriana.


Bibir Seriana melengkung ke atas saat suara tawa kecil terdengar lirih di dalam kereta. "Rion, kau akan memberiku kejutan besar, bukan?"


Tawa Seriana semakin menjadi, memikirkan kejutan seperti apa yang akan Rion lakukan membuatnya bersemangat. Memikirkan segala macam kemungkinan hal yang akan pemuda itu berikan, pasti itu bukan hal kecil dan akan membuat kehebohan besar dan pastinya menyenangkan.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang lebih bahagia, kecantikan Seriana semakin terpancar. 'Aku tunggu kejutan khusus yang akan kau berikan padaku, Rion ....'


__ADS_2