A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 58 : Tak Terhindarkan - 4


__ADS_3

Aura ungu muda mulai tersebar. Namun, tidak seperti aura merah gelap yang menyelimuti Lech, aura ini sangat jernih seolah tak tersentuh apalagi ternoda oleh apa pun.


Pedang di tangan Rion mulai berayun, bersama dengan aura yang menyelimuti, berpusat pada tubuhnya gerakan lembut nan anggun diperlihatkan.


Seolah sebuah sayang telah tumbuh di punggungnya, Rion mulai menjalankan serangan dengan apik, seolah-olah gerakannya tidak dapat diganggu siapa pun itu.


Gelombang energi tercipta di setiap gerakan, membuat meja medan pertempuran seolah telah dibalik sepenuhnya. Saat anggota Overflow benar-benar telah terhipnotis, semua mata fokus pada Rion saat tubuh mereka mematung, tak dapat bergerak satu langkah pun saat Rion mulai menjalankan serangannya.


Setiap gerakan membawa keindahan, layaknya sebuah tarian yang diabadikan dalam karya seni tak ternilai. Namun, di setiap gerakannya terkandung kekuatan mematikan, siap menyambut nyawa yang telah dilihat oleh mata.


Aura yang menyelimutinya juga tak sekedar hiasan belaka, kristal hasil kondensasi terbentuk karenanya. Menyebar ke segala penjuru hingga membentuk badai lain.


Ini adalah teknik yang lahir dari kreasi Rion. Setelah dia melihat Lily meragukan gerakan teknik berpedang dengan sangat indah bak tarian, dia menjadi lebih sering menemui Lily untuk meminta saran dan masukan, atau hanya sekedar membicarakan hal ringan yang akhirnya memandu tingkat kontrol Rion hingga mencapai titik ini.


Melalui semua hal itu, maka teknik [Edge Art] terlahir. Sebuah teknik yang membawa keindahan seni yang tak dapat disangkal, tapi di sisi lain keindahan itu juga amatlah mematikan.


Seolah paduan antara madu dan racun telah tercipta dengan proporsi sempurna.


Meski begitu, terlihat bahwa teknik ini masih belum sempurna. Selain membutuhkan tingkat kontrol terhadap mana yang mengerikan, konsumsi mana yang dibutuhkan pun serupa.


Namun, Rion telah berhasil setidaknya melakukan satu tarian pedang penuh, dan hasilnya tak perlu ditanyakan. Orang-orang Overflow itu mulai berjatuhan satu per satu, kehidupan mereka telah menuju ke kematian.


Lech tercengang, kekuatan ini melampaui batas dari apa yang dia perkirakan. Namun, Rion tak memberi waktu lama padang saat sekali lagi dia menghilang dari posisinya.


Walau Rion tak dapat menggunakan teknik itu lagu mengingat beban yang diberikan pada tubuhnya, tapi gerakannya masih membuat orang-orang ini tak berdaya. Dengan setiap sapuannya, dia menghabisi ‘serangga’ pengganggu yang membuat konsentrasinya pada Lech terpecah.


Segera aroma khas dari darah memenuhi lingkungan sekitar, disertai rintihan-rintihan pilu yang terdengar.


“Magic: Pillars of Murder!”


Pilar-pilar batu tajam bermunculan terus menerus di sekeliling Rion. Seolah Sona telah tersadar perihal apa yang terjadi, dia mulai memberikan sihir untuk menahan gerakannya.


Beberapa luka tercipta di tubuh Rion. Namun, tidak menghambat gerakannya sedikit pun.

__ADS_1


Dibanding rasa sakit ini rasa sakit yang terus ia rasakan selama 5 tahun di laboratorium lebih parah, karenanya dia dapat dengan mudah mengabaikannya. Selain itu, serangan ini juga tidak terdapat racun sehingga Rion tidak menganggapnya berarti.


“Front of Castle!”


Seolah rantai yang terjalin, gerakan Rion sekali lagi diberhentikan Gadi. Meski begitu bukan berarti dia dapat selamat dari serangan itu, luka tebasan yang cukup dalam tercipta di dadanya. Namun, dengan sebuah kesempatan yang diberikan olehnya Sona segera melanjuti, tak membiarkan Rion semakin lepas kendali.


“Magic: Rock Dome!”


Kubah batu tebal nan kokoh terbentuk, mengurungnya di dalam, menyadari dia tak dapat bertindak sembarangan, Rion memusatkan seluruh serangan ke satu titik. Namun, di saat dia keluar Lech segera menerjangnya di kala dia dalam posisi yang tanggung.


“Raising Uppercut!”


Tang!


Rion terpental, meski dia entah bagaimana berhasil menahan serangan dengan pedangnya. Namun, kakinya telah terangkat dari tanah akibat serangan yang dilancarkan Lech.


Memanfaatkan kesempatan ini, Lech menerjang segera ke arah Rion selagi dalam posisi tanggung. Dibantu dengan sihir tanah yang dilepaskan Sona, mereka berusaha menekan pemuda itu hingga ke sudut.


Akan tetapi, Rion tak kehilangan akal. Menggunakan gerakan-gerakan dalam [Edge Art: Butterfly Dances], dia berhasil bertahan dengan ulet.


“Blessing Wind.”


Cahaya hijau transparan menyelimuti pedang di tangan Rion saat sifat sihir angin dilewatkan. Membuat serangannya kian cepat dan tajam.


Gelombang energi tercipta dari dampak benturan antara kekuatan Rion melawan Lech serta Sona. Sementara itu, Gadi yang masih berusaha menyembuhkan luka yang dideritanya tersenyum masam, mungkin berpikir bagaimana kelemahan pemuda di depannya tak dapat dilihat, , baik itu teknik pertempuran ataupun sihirnya sama-sama mengerikan.


Seluruh tempat telah lama luluh-lantak, gelombang yang dihasilkan dari adu kekuatan antara Rion melawan Lech dan Sona telah menyapu kehancuran lain di tempat ini.


Dengan keterlambatan yang keterlaluan, para penjaga yang mendapat laporan mulai berdatangan. Namun, mereka hanya menunggu di luar, tak berani mendekat dan hanya dapat melihat beberapa siluet kabur dari orang yang saling menyerang, semua karena mata mereka tak dapat mengikuti kecepatan orang yang tengah bertarung.


Cahaya merah gelap terus menyusuri Medan pertempuran, bergerak liar hingga memenuhi pandangan. Namun, di sisi lain jejak cahaya ungu itu masih menetap tak banyak bergerak menahan semua serangan pihak lain.


Salah seorang penjaga menahan napasnya saat melihat ini, sebelumnya dia mengira ini hanya keributan kecil yang memicu kepanikan karena waktu perang hampir tiba. Namun, ini jauh melebihi harapannya.

__ADS_1


“Sebaiknya kita beri tahukan hal ini pada Kapten Ditch, ini jelas bukan hal yang bisa kita interupsi,” Dengan keringat dingin yang terus mengalir, dia melanjutkan, “Sementara itu kita akan mengamankan daerah ini agar tak ada orang sipil yang terluka.”


“Aku setuju denganmu. Sebaiknya aku yang memberi tahu hal ini secara langsung.”


Mengatakan demikian, penjaga yang lain pergi bersama beberapa orang lain yang ikut melapor ke kapten Ditch. Sedangkan yang lain masih berusaha mengawasi jalannya pertarungan.


Sementara itu, mereka yang tengah bertarung telah sepe mengabaikan sekitar.


Rion sendiri mulai menderita beberapa luka pada punggung dan lengannya, membuat luka-luka itu darah yang menguap dengan segera setelah bersentuhan dengan panasnya udara di sekitar.


Napasnya mulai agak berantakan, meski dia menggunakan [Edge Art] beberapa kali tanpa menggunakan mana dan hanya gerakan praktis saja. Namun, beban yang diberikan pada tubuhnya tetaplah besar apalagi hal itu terus ditumpuk.


Kondisi Lech sendiri tidak baik, dia mendapatkan luka pada sekujur tubuhnya. Selain hal itu masalah yang lebih kritis adalah dia menyadari bahwa durasi teknik [Bloody Life] hampir berakhir, membuat serangannya kian ganas. Dia sadar, jika terus seperti ini maka kondisinya lah yang paling dirugikan.


Tanah terus melonjak, menghasilkan pilar batu tajam. Namun, segera hancur sebelum mengenai tubuh Rion.


Melompat ke ketinggian, pandangan Rion mulai menyapu Medan pertempuran. Melihat kondisi Lech, dia sedikit bersabar dan ingin mengukur waktu.


Namun, hal itu tak akan semudah itu. “Magic: Rock Soldiers!”


Bersama kabut coklat pucat yang muncul, belasan sosok humanoid dengan tubuh yang menyatu dengan tanah muncul, terbentuk di tempatnya mendarat. Dengan kecepatan gerak mereka yang lambat, Rion mulai menghancurkan mereka dengan mudah.


Prang!


Pedang di tangannya yang tengah menghancurkan salah satu sosok itu hancur. Melihat hal itu, Sona yang merupakan orang yang mengeluarkan sihir ini mulai merapalkan mantra lagi, terus membuat beberapa golem kecil itu bergenerasi.


“Ranging Pressure! Ha!”


Di tengah kesibukan ini, serangan dari Lech datang kepada Rion. Tanpa senjata untuk menahan pukulan ini, dia menciptakan beberapa perisai sihir. Namun, dia tetap saja terpental mundur setelah menerima pukulan itu.


Lech berlari menuju tempat Rion, ingin segera melanjuti serangannya. Baik pukulan maupun tendangan yang kali ini dilancarkannya kini dapat ditahan Rion.


Dengan perisai sihir yang terus muncul dan sihir elemen petir, nyatanya Rion mampu bertahan tanpa mendapat luka serius. Melompat mundur, dia kini menjaga jarak dari Lech untuk dapat mengambil napas.

__ADS_1


“Magic: Earth Bullets!” Namun, peluru batu yang Sona lancarkan membuat Rion tidak bisa lengah sedikit pun. Membuatnya harus berlari memutar, mengelilingi Medan pertempuran berusaha menghindari peluru batu serta serangan Lech.


Sampai Rion tiba-tiba memutar arah, dengan sihir kilat yang berpusat di tangannya dia menerjang. Mengulurkan tangan yang berisi bisikan kematian kepada Sona.


__ADS_2