A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 67 : Di Lain Sisi - 5


__ADS_3

Di suatu tempat di Benua Sylius, sebuah ruangan luas dengan tujuh pilar besar berbentuk sosok malaikat yang saling berhadapan satu sama lain. Dengan enam pasang sayap mereka yang menempel di dinding ruangan, masing-masing dari malaikat itu memegang senjata berbeda berupa pedang, tombak, kapak, gada, busur, staff, dan perisai yang menyangga bagian atas tempat ini.


Dindingnya di bawah sayap malaikat tertutup oleh lapisan kaca berwarna-warni hingga membentuk sebuah lukisan yang berbeda di setiap sudutnya, dipisahkan oleh tubuh para malaikat itu yang menyatu dengan dinding.


Di bagian tengah terdapat kolam berbentuk segi delapan dengan sebuah patung yang berdiri di tengahnya.


Tanah rata tertutup rerumputan hijau segar dengan bunga berwarna-warni bermekaran tanpa peduli musim di luar. Sebuah jalan turun terlihat pada salah satu sudut, memberi warna lain pada tempat ini.


Cahaya yang masuk ke tempat ini tidak terlalu banyak, hanya berasal dari 8 buah kristal transparan yang menggantung di atas, menghubungkan tempat ini dengan sinar matahari di luar. Dengan letak satu berada di tengah, lebih besar dari yang lain, sedangkan tujuh lainnya mengelilingi kristal di tengah dengan letak asimetris dan ukuran yang berbeda satu sama lain.


Singkat kata ini adalah sebuah tempat yang memiliki nuansa kental surgawi.


Seorang lelaki tua dengan keriput yang telah menghiasi wajahnya, terlihat seperti berusia sekitar 70-80 tahun memakai pakaian serba putih dengan corak emas terlihat sedang dalam posisi berdoa pada salah satu lukisan kaca yang ada di tempat ini.


Lukisan itu adalah potret rupa seorang wanita yang tengah menaburkan benih-benih kecil pada tanah kosong di hadapannya. Dengan ekspresi lemah lembut, ditemani dengan halo berbentuk rumit pada kepalanya, serta 16 pasang sayap putih malaikat di punggungnya.


Keenam lukisan kaca di tempat ini menggambarkan alur kehidupan, dan ini adalah lukisan pertama yang menggambarkan awal semua kehidupan di dunia ini.


Pria tersebut terus memejamkan matanya tanpa sedikit pun perubahan pada posisi sejak masuk dalam keadaan ini. Terus berfokus pada doa-doa yang dilantunkan.


Pria tersebut membuka matanya, dia bangkit dari posisinya sebelum memutar badan. Dia menatap orang yang masuk ke tempat ini, meski sebenarnya lantai tempat ini adalah tanah rerumputan seharusnya sulit untuk mendengar langkah kaki orang lain.


Melangkahkan kaki dengan mantap, terlihat sosok yang memakai perlengkapan ksatria penuh dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya, membuatnya tak dapat dipastikan apakah dia pria atau wanita.


Orang itu membungkuk hingga membentuk sudut 90 derajat, sebelum berbicara dengan nada hormat. “Hambamu yang rendah ini datang menghadap Paus yang Agung .”


Pria tua itu adalah paus dari Gereja Kemuliaan, gereja yang menjadi pusat dari agama utama yang tersebar di Benua Sylius. Dengan Dewi Carea yang menjadi dewa yang disembah, Dewi yang dipercaya sebagai Dewi pencipta dan Holy Kingdom Celestia sebagai pusatnya, menjadikan Gereja Kemuliaan sangat berpengaruh.


Bahkan keluarga kerajaan dipercaya sebagai utusan Dewi sejak dulu, membuat raja Holy Kingdom merangkap jabatan sebagai paus Gereja Kemuliaan.

__ADS_1


Akan tetapi, orang-orang lebih sering memanggil raja dari Holy Kingdom Celestia sebagai paus. Selain karena kekuatan pemerintahan ‘bangsawan’ kurang kuat, juga karena pemerintahan itu sendiri dijalankan oleh Gereja Kemuliaan daripada diserahkan ke tangan para bangsawan. Membuat perkembangan Gereja Kemuliaan sendiri tidak bertentangan dengan kerajaan selama ini.


“Ini tempat yang indah bukan, Ariel?” ucap paus, tak jelas nada suaranya tapi lebih condong seperti orang yang meminta pendapat.


“Ya, tempat ini sungguh indah Paus,” jawab Ariel tangkas, tanpa keraguan dalam nadanya.


“Apa kamu menemukan kedamaian di tempat ini?”


“Ya, saya dapat merasakannya, hatiku terasa tenang di tempat ini. Seolah saya telah masuk ke dalam belaian kelembutan.”


Paus memandang Ariel dengan lembut, bersama senyum yang terus menghiasi bibirnya dia berucap, “Kau pasti dapat merasakannya juga ... dan pasti semua umat Dewi Carea di dunia ini juga akan dapat merasakan kedamaian ini selalu.”


Tempat ini adalah tempat paling suci bagi penganut gereja, tempat ini bukanlah Katedral Agung yang berada di ibu kota Holy Kingdom Celestia, tapi jauh di luar itu semua. Bahkan keberadaannya sendiri dirahasiakan, dan hanya beberapa petinggi Gereja Kemuliaan yang tahu.


“Maaf Paus yang Agung. Apakah keinginan Anda hingga memanggil hambamu ini?”


Paus mengangguk, sudah saatnya mengakhiri basa-basi ini. “Aku memanggilmu kemari karena aku mendengar suara Sang Dewi. Beliau berkata kegelapan akan segera menginvasi kita.”


Setelah keheningan, paus menjawab pertanyaan itu. “... Kegelapan akan segera datang sekali lagi. Membawa api kehancuran dan kekacauan pada benua ini lagi, dan sudah menjadi tugas kita untuk mempertahankan kedamaian di benua ini.”


Ariel berlutut, tangan kanannya diletakkan pada bagian dada kirinya, saat dia menundukkan kepala,. “Hambamu ini akan melaksanakan titah Paus yang Agung . Sang Penghubung Dewi.”


“Ohh ini mengingatkan bahwa dalam catatan rahasia yang telah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu, hal yang sama juga pernah terjadi. Namun, dalam kuasa Sang Dewi Carea, Beliau mendatangkan seorang Pahlawan untuk membantu kita.”


Menceritakan kisah lama ini, mata paus seolah melihat ke arah yang jauh. Mengenang, seolah doa ingin melihat kehadiran pahlawan dengan mata kepalanya sendiri.


“Jadi, Paus yang Agung inginkan adalah perintah menemukan sang Pahlawan?”


Paus tertawa kecil mendengar perkataan Ariel. Dengan nada ambigu, dia membalas, “Tentu bukan, sang Pahlawan adalah orang yang diutus Dewi Carea, tidak mungkin kita dapat menemukannya.”

__ADS_1


Namun, mata tua paus terlihat mengkhianati ucapannya. Dia jelas ingin melihat mukjizat Dewi Carea. “Ariel Von Quintessential!”


“Ya Paus yang Agung.”


“Aku turunkan kuasa kepadamu untuk dapat mengerahkan sumber daya yang ada untuk menahan kegelapan yang akan datang itu.”


Mengambil napas dalam, paus pun melanjutkan. “Juga ... kumpulkan informasi mengenai gerakan apa pun yang terjadi di Benua Sylius akhir-akhir ini. Jika kalian menemukan hal yang seperti akan mengancam keamanan Benua Sylius kalian harus segera mengatasinya sebelum hal itu menjadi besar!”


Paus memandang Ariel, dia berjalan menuju ke kolam yang berada di tengah-tengah tempat ini. “Kemarilah.”


“Ya, Paus yang Agung,” Ariel berjalan dengan tenang menuju ke arah paus. Setelah sampai di hadapan paus, dia pun berlutut hormat.


Paus mengambil sebuah pisau kecil yang terselip pada bagian dalam jubahnya, dia memberikannya pada Ariel. “Teteskan darahmu pada kolam ini, kemudian ucapkan sumpah pada Dewi kita.”


Ariel mengambilnya, melepas gauntlet yang dipakainya. Dia memberi luka kecil pada jarinya, kemudian segera meneteskan ke dalam kolam.


Tes Tes Tes


“Semua cahaya kasih kembali pada Dewi Carea. Cahaya kemuliaan-Nya akan mengisi dunia dan sisinya,” janji paus setelah darah tersebut menyatu dengan air kolam, kembali jernih tanpa sedikit pun noda.


Mendengar ini, Ariel pun berjanji hal yang sama. “Semua cahaya kasih kembali pada Dewi Carea. Cahayanya kemuliaan-Nya mengisi dunia dan seisinya.”


Paus tersenyum puas, dia memandang Ariel. “Ariel Von Quintessential. Dengan ini aku berikan kamu kekuasaan penuh untuk menangani hal ini untuk sementara waktu. Seluruh badan militer non-rahasia akan mematuhi perintahmu dalam usaha membantumu. Setelah itu, semua kuasa akan kembali ke tangan Seven Lexicons begitu mereka telah membahasnya dengan matang!”


“Ya Paus yang Agung. Kepercayaan yang Anda berikan, saya tidak akan mengecewakannya!”


Ariel membungkuk pada paus sebelum meninggalkan tempat ini. Di pundaknya kini tersemat beban berat untuk memenuhi tugasnya, walau hanya untuk sementara waktu tapi dia tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan.


Pandangan Paus menuju arah yang jauh, dia menenangkan perasaan di hatinya. Bagaimanapun Gereja Kemuliaan akan selalu berjaya di Benua Sylius, saat ini dan selamanya.

__ADS_1


Paus memejamkan matanya sekali lagi, berdoa pada sosok Sang Dewi yang terpotret indah dalam sebuah lukisan kaca. Melantunkan doa-doa yang berbeda pada setiap lukisannya.


Negara terkuat di Benya Sylius dalam segala aspek baik kekuatan militer ataupun pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat umum, Holy Kingdom Celestia mulai bergerak!


__ADS_2