A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 74 : Kota Pelabuhan


__ADS_3

Tiga buah bayangan terlihat menembus hutan, jauh dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit kelelahan. Mereka adalah Rion, Lily, dan Yurei yang tengah menuju Kota Sourt.


Melirik ke samping, Rion melihat seekor Ghost Wolf yang tak menunjukkan rasa permusuhan apa pun. Setelah melihat bahwa Yurei mengangguk pelan, monster itu pun segera undur diri.


Alasan mereka dapat keluar dari hutan ini sebagian besar karena Yurei telah bergabung dengan mereka. Dengan demikian, tak hanya kawanan Ghost Wolf itu tak menyerang mereka bahkan Ghost Wolf itu menjadi pemandu jalan. Namun, dengan posisi mereka yang ternyata telah melenceng jauh dari tempat tujuan, waktu beberapa minggu pun harus terbuang.


Namun, Rion tahu bahwa sebagian besar apresiasi harus ditujukan pada Lily. Meski dia tak tahu bagaimana gadis itu berhasil menangani kawanan Ghost Wolf tanpa banyak membunuh salah seekor dari mereka karena terhalang dinding es kala itu, tapi hasil akhirnya menguntungkan mereka meskipun detail itu dihilangkan.


“Lily, kenakanlah Magic: Mimic pada kami. Jarak kita dengan pelabuhan itu telah semakin dekat.”


Tersadar dari hal yang membuatnya tersenyum, Lily mengangguk pada perkataan Rion. Merasa tak perlu lagi menyembunyikan kemampuannya yang satu ini, dia segera menurunkan sihir yang dimaksud, menyamarkan mereka segera.


Namun, pikirannya masih tertuju ke arah keberuntungannya karena dengan keberadaan Ghost Wolf yang tersisa, setidaknya Yurei akan lebih cepat pulih.


Ekor dan telinga miliknya yang telah lama tak disembunyikan mulai tersembunyi sekali lagi, begitu halnya dengan ekor dan telinga Yurei. Warna rambutnya mulai berubah menjadi pirang, sementara warna rambut Yurei dan Rion menjadi berwarna cokelat.


Namun, tetap lebih dari 80-90% fitur asli mereka dipertahankan. Bagaimanapun, sihir ini juga memiliki batasan sendiri di mana perubahan yang dapat ditampilkan tak terlalu jauh dari rupa asal, dan konsumsi mana menjadi lebih tinggi sejalan dengan besarnya perubahan.


Meski begitu, masalah kedua tak pernah Lily pikirkan karena jumlah mananya sama sekali tak memiliki masalah dengan itu. Walaupun seperti itu, dia tetap lebih suka tak banyak mengubah tubuhnya dan hanya menyembunyikan fitur non-manusianya saja.


“Ayo kita ke sana,” Lily mulai melangkah dengan tangannya yang masih menuntun Yurei, membuat Yurei mengikutinya.


Menggelengkan kepalanya pelan, Rion pun mengikuti dari belakang. Seperti yang diduga, saat siluet Kota Sourt terlihat, itu sangat besar sesuai dengan benaknya.


Bahkan di tengah panas matahari yang menyengat kulit orang-orang di bawahnya, antrean panjang mengular dari gerbang masuk kota terbentuk hingga beberapa kilometer jauhnya.


Rion tahu bahwa ini ada kaitan dengan kejadian yang menimpa Kota Dee sebelumnya, membuat penjagaan lebih ketat tak hanya di sini, tapi juga di tempat lainnya. Namun, karena kota ini setara dengan ibu kota Reutania Kingdom di Benua Zestia, bisa dimaklumi mengapa penjagaan di sini jauh lebih ketat.

__ADS_1


Dari sudut pandang lain, hal ini juga berguna untuk mengawasi kelompok tentara bayaran lain agar kejadian yang dilakukan oleh Overflow tidak terulang lagi karena kurangnya keamanan. Meski informasi itu sendiri rahasia dan keamanan di daerah ini masih dalam kondisi kritis, karena ini sendiri merupakan masa perang, tapi Reutania tidak ingin ada duri yang bersarang pada dagingnya lagi.


Berada di tengah-tengah manusia yang saling berdesakan seperti ini membuat Rion sedikit tidak nyaman. Lily berada di sampingnya masih memegangi tangan Yurei, yang sepertinya akan segera berlarian ke sana dan kemari dengan pemandangan mata diliputi rasa penasaran.


“Huh ... kau benar-benar tidak nyaman ya, Rion?” tanya Lily tiba-tiba setelah mengamati gerak halus Rion sedari tadi.


“Begitulah,” jawab Rion dengan nada tak berdaya. Melirik ke bawah pada Yurei yang menarik ujung bajunya, dia bertanya, “Apa?”


“Itu! Itu!” Yurei berkata dengan nada semangat. Tangan kecilnya menunjuk ke arah belakang barisan, padahal tidak terdapat apa pun di arah sana.


Menyipitkan matanya, sebuah kereta pun segera terlihat. Dengan lambang kebangsawanan yang ditempatkan di bagian luar kereta, kereta itu terus berjalan tanpa peduli antrean panjang ini.


Rasa kesal dan tak puas diam-diam menggema, berasal dari mereka yang selama ini telah mengantre lama tapi tak kunjung dapat masuk. Meski suara itu seolah hanya berbisik, tak ingin terdengar oleh pihak lain.


Mata Lily melirik ke arak kereta itu saat berada di dekatnya, mencoba melihat siapa yang ada di dalam. Pandangan Lily agak dingin, tapi tak hanya itu aura tubuhnya pun sedikit berubah. Tidak, benar-benar berubah hingga bocor keluar. Namun, itu hanya sesaat sebelum dia kembali normal.


“Tidak, tidak ada apa-apa,” sangkal Lily. Jelas sudah bahwa dia tak ingin membahas apa pun yang membuatnya seperti itu.


Meski begitu, tatapan Rion sama sekali tak beranjak dari gadis itu. “Kalau kau tak ingin memberitahuku, maka tak masalah.”


Mendengar perkataan Rion, Lily bernapas lega. Mungkin sifatnya inilah yang membuat dia merasa nyaman berada di dekat Rion.


“Tapi, kau dapat memberi tahuku. Mungkin itu sedikit lebih baik daripada seperti ini, karena aku sama sekali tak tahu apa pun tentangmu.”


Mendengar kata-kata tak terduga dari Rion, Lily terdiam. Mengalihkan pandangannya, dia bergumam hingga tak dapat didengar siapa pun.


“Mungkin itu akan segera terjadi.”

__ADS_1


***


Dari kejauhan Kota Sourt, tim Night Eye juga mulai mendekat ke kota itu. Namun, perjalanan mereka memiliki halangan tersendiri.


Sebagai akibat dari ketatnya penjagaan, membuat mereka kerap kali harus melawan penjaga yang tengah berpatroli. Secara tak langsung, ini membuat waktu perjalanan mereka jauh lebih lama.


Wilayah di dekat Kota Sourt memanglah zona yang menyulitkan bagi pihak Beatria Union. Selain penjagaan oleh pihak Reutania Kingdom sendiri yang ketat —bahkan sebelum kejadian di Kota Dee— wilayah sekitarnya juga penuh dengan monster Rank tinggi yang turut menyusahkan, menjadikannya penjaga tak langsung.


Itu sebabnya pihak Beatria Union belum bisa menyerang pelabuhan tersebut, jika mereka menyerang secara langsung maka mereka akan bodoh mengingat hal itu pasti akan dimanfaatkan oleh pihak lain —Eugary Empire dan Marina Kingdom— selagi kekuatan militer mereka terfokus pada Reutania Kingdom. Pada akhirnya, itu akan membuat wilayah mereka diduduki lebih jauh lagi.


Jika pun mereka ingin melakukan serangan diam-diam, maka harus melewati wilayah para monster Rank tinggi yang pasti akan tercium oleh pihak Reutania Kingdom dan akhirnya malah menyerang mereka dalam kondisi tidak siap.


Membuat ini menjadi jalan buntu bagi Beatria Union.


Dengan darah yang memercik ke tanah, hembusan napas lega pun terdengar. “Akhirnya selesai. Ini memang akan merepotkan, tapi aku penasaran bagaimana cara pemuda itu melewati semua penjagaan ini.”


Mendengar keluhan Yuzu, Dian pun membalas, “Tenanglah. Lagi pula ini tidak terlalu sulit, kan?”


“Itu memang benar Dian, tapi—“


“Sudahlah. Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum ada prajurit penjaga lain,” Setelah memotong keluh Yuzu, Xion menurunkan perintah, “Ayo!”


Namun, tak ada yang menyadari bahwa jauh di depan mereka ada seseorang yang mengawasi tim itu, Ci. Jelas bahwa dia telah bergerak lebih dahulu dari tim itu, menghilangkan beberapa penjaga yang meringankan beban tim itu, jika tidak maka sudah diragukan apakah mereka bahkan dapat mencapai setengah jalan dari posisi saat ini.


Meski begitu, dia tak menghabisi semua. Bukan dia ingin mempermainkan mereka, tapi jika jumlah penjaga yang dihadapi terlalu sedikit maka itu akan mengundang kecurigaan yang tak diperlukan.


Melihat bahwa tim itu mulai bergerak kembali, Ci pun juga turut maju. Dengan belati di tangannya dia mulai sedikit menurunkan level kesulitan yang akan dihadapi tim Night Eye.

__ADS_1


__ADS_2