A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 14 : Kekacauan Dalam Benteng - 1


__ADS_3

Setelah menyeret prajurit malang itu ke dalam pos keamanan, Rion mulai melucuti baju besi dam senjata yang prajurit itu pakai untuk dikenakannya.


“Bersyukurlah, kau tidak ada dalam daftar orang yang ingin kubunuh,” gumam Rion dengan tenang.


Melirik keluar untuk mengecek situasi, Rion mulai mengenakan helm untuk menutupi wajahnya agar tidak cepat dikenali.


Rion berjalan seperti biasa, tidak terburu-buru maupun mengendap-endap seolah tidak ada sesuatu yang mengganggunya. Saat dia berpapasan dengan beberapa penjaga lain, Rion berusaha menjaga ketenangan dan bereaksi seperlunya untuk mencegah kecurigaan.


Saat posisinya sudah semakin dekat dengan laboratorium, Rion mulai menyembunyikan kehadirannya.


Setelah melihat patroli telah lewat, Rion melepas baju besi dan helm yang dia kenakan, mengetahui benda-benda ini hanya akan menghambatnya.


Rion memastikan keadaan sekitar untuk terakhir kalinya. Melihat keadaan yang sunyi senyap mengingat situasi sekarang, serta lokasi laboratorium ini sendiri yang cukup rahasia bahkan sebagian besar prajurit sendiri tidak mengetahui adanya laboratorium bawah tanah di benteng ini. Mencari sejenak, Rion menekan salah satu sisi dinding yang membuat sebuah jalan menuju bawah terbuka.


Rion mulai memasuki jalan yang terbuka itu secara mengendap-endap. Kembali memasuki tempat ini, dia sedikit menahan nafas, tempat ini memanglah yang terburuk baginya.


Penjagaan di laboratorium sendiri biasanya longgar dikarenakan tempat ini menggunakan kerahasiaan dan keamanan benteng sebagai pelindung utamanya. Meski begitu, kondisi ini tak membuat Rion menurunkan sedikit pun kewaspadaannya.


Dari balik bayang-bayang tabung-tabung eksperimen yang berbalut cahaya remang, Rion berusaha mendekat ke sebuah ruangan tempat para peneliti berkumpul, baik itu untuk mendiskusikan data yang diperoleh maupun hanya untuk bersantai.


Dengan luas laboratorium yang lebih dari seperempat luas benteng, Rion harus menjaga ketenangan selama mungkin karena letak ruangan yang dia tuju merupakan ujung lain dari sisi ini.


Pintu yang memisahkan ruangan terbuka satu per satu, oleh Rion tanpa banyak menimbulkan suara. Terus seperti itu hingga langkahnya tiba-tiba terhenti saat suara rintihan pilu terdengar.


Menatap ke sebuah ruangan asal suara itu, Rion mencoba melihat apa yang ada di dalamnya, dan seketika dia tak mampu menahan ekspresi jijik yang terpampang di raut wajahnya.


Terlihat beberapa orang sedang menjadikan seorang wanita sebagai mainan mereka yang entah sekarang dalam entah masih hidup atau tidak. Rion merasa jijik sekaligus marah, ini mengingatkannya atas apa yang dulu menjadi alasannya menaruh dendam.


Tanpa banyak waktu lagi, Rion mendobrak pintu di depannya.

__ADS_1


“Siapa kamu!” teriak salah seorang peneliti saat menyadari orang asing masuk.


“Hmm ... Siapa aku? Bagaimana jika kalian memanggilku mimpi burukmu?!” Tanpa berbasa-basi lebih jauh, Rion langsung menyerang salah satu peneliti di dekatnya dengan sebuah pukulan telak pada bagian kepala yang menyebabkannya mati seketika.


“P-penjaga! Serang orang itu!”


Para peneliti tidak mampu menahan rasa ketakutan mereka, membuat salah seorang di antaranya memanggil penjaga yang merupakan seorang penyihir untuk melindungi mereka.


Alasan mereka tak langsung menyerang karena kebanyakan peneliti di sini adalah sarjana sihir, bukan penyihir. Seorang sarjana sihir memiliki pemahaman lebih mengenai sihir, tapi tidak dapat menggunakannya dengan praktis.


Belasan penyihir mulai mengerubungi Rion, sambil melepaskan sihir satu persatu. Berhasil menghindari sebagian besar serangan penyihir tersebut, Rion tertawa lirih, “Hihihihi ... Ini lebih baik, aku bisa mencoba hal itu.”


Bersama dengan sihir yang terus dilepaskan, Rion mulai mengambil sikap dengan pedang di tangan kanannya.


“Magic Grail.”


Belasan sihir yang mengara padanya mulai tertarik ke pedang di tangan Rion seolah air yang memasuki sebuah wadah.


Sebuah badai energi mengamuk dalam ruangan, menyarankan ledakan hebat yang membuat rencana Rion harus berubah total.


Jika ini hanya pecahan pedang biasa maka tidak akan sampai seperti ini. Dalam setiap pecahan pedang tersebut berisikan kekuatan sihir yang di arahkan pada Rion sebelumnya.


Rion, tidak dapat berlatih sihir maupun teknik pertempuran saat dalam pengawasan. Maka dari itu Rion melakukan latihan kekuatan spiritual yang lebih halus dan sulit dideteksi dari pada jenis pelatihan lain.


Akan tetapi, darah terlihat mengalir di sudut bibir Rion. Ini adalah akibat dia tidak menguasainya secara sempurna, selain itu staminanya telah termakan cukup banyak.


Tidak ingin membuang waktu karena pasti dia telah menarik perhatian, Rion mengalihkan pandangannya ke arah peneliti-peneliti yang kini meringkuk ke sudut ruangan, berlindung dari serangan Rion sebelumnya.


“H-Hiii!” jerit peneliti yang melihat Rion semakin mendekat ke tempat mereka berada.

__ADS_1


Melihat belasan penyihir yang tidak lengkap tubuhnya bahkan tewas, dan lantai yang bercatkan darah. Bersama teriakan pilu yang masih dapat didengar dengan jelas, sebuah suara dingin tanpa emosi terdengar.


“Siapa yang ingin mati terlebih dahulu?”


Tak kuasa menahan rasa takut di hatinya, seorang peneliti mencoba kabur tapi Rion tak akan membiarkannya.


Zrattt


Darah memercik ke dinding dan lantai, bersama kepala peneliti itu yang menggelinding pelan setelah terpisah dari tubuhnya.


Ekspresi Rion masih sama seperti sebelumnya, tidak memiliki perubahan apa pun. Mungkin karena dia sudah lupa bagaimana mengungkapkan perasaannya, atau mungkin dia merasa bahwa mereka ini pantas mendapatkannya.


Para peneliti itu semakin menempel erat satu sama lain untuk mengatasi ketakutan mereka, seperti burung dengan bulu yang sama akan berkumpul.


Mata Rion menelaah siapa yang ada di depannya satu per satu, meski ada beberapa wajah baru. Namun, sebagian besar peneliti ini adalah orang yang sama dengan lima tahun lalu.


Akan tetapi, dengan satu orang yang tak dapat dia temukan. Rion bertanya, “Jawab aku jika ingin pengampunan, di mana Nave?”


“D-dia pergi ke Kekaisaran,” jawab salah seorang peneliti segera.


Akan tetapi, Rion mengayunkan tangannya yang berlapis sihir angin, memotong dengan rapi leher peneliti itu tanpa teriakan dan tanpa rasa sakit. Ini adalah bentuk pengampunan yang lebih dari cukup menurutnya, bagaimanapun perbuatan mereka tak akan dapat dia maafkan.


Wajah para peneliti yang masih hidup pucat pasi seolah darah telah mengering dari tubuh mereka, dalam pikiran mereka hanya berpikir satu hal. ‘Kita akan mati! Orang ini tak akan membiarkan satu pun dari kita hidup.’


Menarik salah seorang peneliti secara paksa, Rion mulai melayangkan pukulan serta tendangan ke arah peneliti itu. Hal ini bukan karena Rion termakan emosi atau apa, tapi dia ingin menguatkan dasar dari teknik pertempuran yang dikuasainya karena saat pelatihan dengan Marco, dia sebisa mungkin menahan diri.


Seperti yang pernah Marco ajarkan padanya, dasar adalah yang terpenting. Namun, hal ini harus dirusak saat serangan sihir tiba-tiba datang padanya.


Menghindari serangan itu, Rion tak lupa membersihkan sisa pekerjaannya, membuat bau amis semakin kental di tempat ini.

__ADS_1


“Hahh ... aku memang tidak seharusnya impulsif,” gumam Rion saat melihat belasan penjaga yang datang karena keributan sebelumnya.


__ADS_2