A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 20 : Kekacauan Dalam Benteng - 7


__ADS_3

Xion terus berlari menuju kastel tempat kediaman Duke Arcchild. Sepanjang jalan, dia menghabisi setiap prajurit yang menjumpainya sebelum mereka dapat mengeluarkan suar.


“Akan aku bunuh mereka semua!” geram Xion. Mengingat kesempatan yang dia miliki berasal dari pengorbanan rekan satu timnya, dia tak akan membiarkan ini semua menjadi sia-sia. “Pasti, akan aku bunuh orang itu!” tegasnya.


Xion terus berlari, memanfaatkan kelincahan dan kelenturan tubuhnya, dia melewati lubang-lubang sempit yang semula berfungsi sebagai saluran ventilasi, tapi baginya itu hanya jalan pintas. Kondisi benteng saat ini memiliki sedikit pasukan di dalamnya membuat pergerakannya menjadi semakin leluasa.


Dalam tempat sempit semacam benteng ini adalah medan paling menguntungkan bagi beast-kin ras kucing. Memiliki kelincahan dan kelenturan tubuh yang dapat mencapai titik ekstrem, menjadikan para beast-kin ras kucing dapat membuat pengejar semakin kesulitan untuk mengikuti pergerakan mereka.


Dengan keuntungan ini, Xion dapat mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kastel sekaligus menghindari prajurit yang bersiaga setelah kekacauan ini terjadi.


Begitu memasuki kastel, Xion merasa sesuatu yang janggal berdasarkan instingnya. Namun, dia mengabaikannya, jika dia ragu-ragu pengorbanan rekan satu timnya menjadi sia-sia.


Saat hendak mencapai kamar Duke Arcchild, Xion menghentikan langkah. Tatapannya kini mengarah tajam pada pasukan yang berkumpul di depan kamar Duke Arcchild. “Jadi ini mengapa, aku merasakan sesuatu terasa janggal.”


Sejak Xion memasuki kastel, frekuensi patroli semakin jarang ditemuinya, padahal biasanya tempat bangsawan berangkat Duke tinggal memiliki penjagaan paling ketat. Namun, keadaan dalam kastel ini justru sepi penjagaan.


“Jadi ... mereka sudah mengetahui tujuan kami.” Xion menggigit bibirnya hingga berdarah. Sekarang satu-satunya cara bagi misi ini berhasil adalah dia harus bisa memusnahkan pasukan itu.


Mata Xion menajam, dia telah memantapkan hatinya. Matanya kini berisi semangat juang untuk menyelesaikan misi ini, bahkan jika dia terbunuh, setidaknya rekannya mungkin selamat karena mereka memfokuskan prajurit di sini.


Xion maju, menerjang menuju kumpulan prajurit yang berjaga di depan kamar Duke Arcchild. “Gauntlet of Wind Claw.”


Cakar di tangan Xion mulai menajam, bersama angin yang mulai berkumpul di pergelangan tangannya yang kini membentuk sebuah badai angin terkompresi.


“Ha!”


Pertempuran sengit terjadi, walaupun Xion hanya seorang diri menghadapi pasukan. Namun, dengan tingkat gold level 4 miliknya maka dia dapat mengatasi semua ini dengan cukup terkendali melawan pasukan musuh.


Meski pasukan musuh berjumlah sekitar empat puluhan orang dengan tingkat kekuatan yang berada di level silver level 5-8. Namun, dengan minimnya keberadaan penyihir membuatnya dapat mengurus hal ini.


‘Setidaknya penyerangan ini sedikit mudah, pasti kekuatan tempur utama mereka sedang diturunkan di medan perang,’ pikir Xion lega.


Akan tetapi, saat Xion hendak menghabisi orang terakhir, seseorang menghentikannya.


Memiliki penampilan ksatria dengan tubuh besar, saat Xion merasakan tingkat kekuatannya, wajahnya sedikit pahit, tingkat gold level 2.

__ADS_1


‘Hal ini akan sedikit berlarut.’


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, orang itu mulai melancarkan serangan pada Xion.


Trang!


Benturan terjadi dan Xion melakukan serangan balasan yang membuat tubuh orang itu mulai berdarah.


Elemen angin yang Xion gunakan memang sangat sesuai dengan gaya bertarungnya yang mengandalkan kecepatan.


Saat menggunakan elemen angin, kecepatan pembunuhan Xion dapat meningkat dengan cepat dikarenakan spesialisasi elemen angin sendiri dalam hal pemotongan. Di mana selain cocok dengannya, hal ini juga menambah ketajaman cakar Xion yang merupakan senjata alami beast-kin ras kucing.


Pertarungan mulai berlarut, walaupun Xion ingin mengatasinya dengan cepat dengan kemampuan elemen anginnya.


Namun, luka-luka yang menumpuk pada lawan tidak memengaruhi pergerakannya sama sekali. Seolah-olah orang ini tidak merasakan rasa sakit ataupun lemas setelah kehilangan darah dari semua luka yang dideritanya. Benar, orang ini adalah salah satu subjek tes yang telah ‘berhasil’.


Saat bala bantuan dari pihak musuh tiba, Xion merasa hal ini akan semakin berlarut. Cahaya hijau pudar mulai terbentuk di sekelilingnya, saat merasa semua telah siap, mantra pun dirapalkan. “Bowling Wind Strikes!”


BOOOMMM!


Xion melancarkan serangan skala luas yang menyebabkan ledakan keras nan kuat. Orang itu beserta bala bantuannya terhempas jauh dengan beberapa potongan tangan dan kaki yang kini telah terpisah dari tubuh. Dinding kastel sendiri roboh, tidak kuasa menahan kekuatan badai energi yang mengamuk.


Xion tak menggubris keadaan orang yang sempat melawannya. Dia berlari langsung menuju kamar Duke yang mana pintu serta dindingnya sendiri roboh, Membuat jalan menuju si target terlihat jelas saat dia sedang tengah berbaring di atas ranjangnya.


“Matilah kau!”


Xion melancarkan serangan fatal ke kepala Duke dengan tangannya yang masih memiliki badai terkompresi. Kepala Duke Arcchild terpotong-potong, menjadi cincangan jus otak.


Tidak puas dengan ini, Xion meninju bagian dada Duke, menghancurkan jantungnya dan kini lubang besar pada bagian dadanya terbentuk. Seusai melampiaskan amarah yang dirasakan, dia berlari menuju dinding kastel yang sekarang memiliki lubang besar.


Melompat dari lantai enam tempat kamar Duke Arcchild berada, Xion berhasil mendarat di tanah tanpa satu pun luka dengan kelenturan tubuhnya.


Xion melanjutkan langkah, berniat menuju gerbang barat. Ledakan tadi pasti menyadarkan rekan satu timnya untuk segera meninggalkan benteng setelah misi mereka sukses.


Saat ledakan menggema dalam benteng, Dian, Wess, Yuzu, dan Zee telah berkumpul bersama selesai melaksanakan tugas untuk menarik perhatian para prajurit, membuat mereka bingung serta mengalihkan perhatian.

__ADS_1


“Kapten berhasil,” ucap Yuzu pada yang lain.


Senyum terbentuk di wajah mereka yang telah saling mencari keberadaan masing-masing saat musuh mulai berhenti mengejar, saat tujuan mereka telah diketahui.


Yuzu dengan semangatnya menuju gerbang barat, dirinya tak dapat menahan luapan kebahagiaan saat memikirkan bahwa mereka semua berhasil bertahan hidup.


Bersama dengan anggota lain yang menemaninya, Yuzu bergumam, “Kapten, sepertinya kami masih ditakdirkan menemanimu.”


***


Rion mulai menuju jalan gerbang barat setelah melihat gerbang utama penuh dengan pasukan yang telah disiagakan.


Kapasitas sihir Rion sendiri dapat menyamai kekuatan seorang di tingkat platinum. Namun, dengan kemampuan bertarungnya yang belum terlalu matang bahkan untuk menggunakan kekuatan spiritual, serta teknik bertarung maupun sihirnya sendiri belum berkembang jauh, dia menghindari konfrontasi frontal sebisa mungkin.


Walaupun Rion sudah memiliki pemahaman di kepalanya, tapi untuk hal praktik dia tidak dapat memastikan semua hal sesuai yang diinginkan. Selain tubuhnya sendiri tidak terbiasa melakukan gerakkan yang dibutuhkan, beberapa efek samping pasti akan memberi beban lebih pada tubuhnya.


Melihat pasukan yang juga menumpuk di gerbang barat, Rion pun menghembuskan nafas panjang. “Jadi hanya dapat ambil resiko, ya?”


Setelah berpikir sejenak, Rion memilih menunggu pihak yang membuat kekacauan di benteng —selain dirinya—keluar sembari memulihkan energi mental serta mananya.


Rion kini menanti saat yang tepat untuk bertindak. Saat itu, kemungkinannya berhasil akan menjadi lebih tinggi untuk dapat keluar dari benteng ini.


***


Seriana tetap memasang senyum bahkan setelah ledakan sebelumnya terjadi. Saat seorang prajurit datang untuk melaporkan apa yang telah terjadi, dia segera menghentikannya.


“Aku sudah paham apa yang terjadi, jadi Duke terbunuh?”


“Y-ya begitulah Nona.”


“Oh.”


Prajurit ingin menyampaikan pesan tersebut pada Seriana, kini menjadi takut akan sikap yang ditunjukkan Nona mereka ini.


Seriana tidak menunjukkan keterkejutan maupun kesedihan sedikit pun saat mendengar ini, seolah ini semua berada dalam perkiraannya. Menutup matanya, dia memberi perintah, “Panggil semua prajurit menuju gerbang barat. Gerbang utama sendiri cukup siagakan beberapa pasukan, musuh pasti berpikir penjagaan di gerbang sedikit kacau setelah ledakan tadi lalu memilih gerbang barat yang memiliki medan hutan di luarnya sebagai tempat pelarian. Cepat!”

__ADS_1


“Baik.”


Ruangan kini sunyi kembali, tapi senyum aneh mulai terbentuk di bibir Seriana. “Sekarang apa yang akan kau lakukan, Rion ....”


__ADS_2