A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 31 : Lily


__ADS_3

Rion membuka mata dengan berat, memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, dia menyapu pandangan ke sekitarnya. Baik itu tempat tidur, dinding, serta hal-hal lain yang dilihatnya berwarna putih keseluruhan.


"Jadi ... ini alam kematian? Aku benar-benar sudah mati, kah?"


Rion merasakan kondisi tubuhnya, walaupun dalam keadaan parah. Namun, dia masih dapat merasakan detak jantung dan napasnya yang membuat dia mengambil nafas lega.


"Sepertinya aku masih bisa membalaskan dendam ini."


Rion memejamkan matanya sekali lagi, mengingat hal yang dilakukannya saat itu dia tersenyum dalam hatinya. Harus diakui keputusannya saat itu memang gila dan nekat. Dengan jarak ledakan yang begitu dekat dirinya, dia yang masih selamat saat ini adalah sebuah keajaiban.


Mengingat satu hal, dia memandangi sekitarnya. Dia yakin bahwa tidak mungkin dirinya dapat selamat dari ledakan dengan jarak sedekat itu. Selain itu jika dia memperhatikan tubuhnya dengan teliti, Rion dapat melihat beberapa tanda bahwa dirinya telah dirawat seseorang.


Rion menahan nafasnya sejenak, pikirannya berlarian jauh ke kemungkinan alasan semua yang tengah terjadi. Salah satu kemungkinan terburuk yaitu dirinya telah berhasil ditangkap oleh para pengejarnya dan dibawa kembali ke benteng.


Rion memandang sekeliling sekali lagi dengan rasa waspada yang ditingkatkan. Jika ini berada di benteng dia tidak pernah ingat terdapat ruangan semacam ini. Selain itu, udara yang Rion hirup terasa berbeda, terasa lebih sejuk dari biasanya.


Pintu ruangan terbuka saat seorang gadis dengan rambut berwarna perak seluruhnya yang ditata kepang satu, mata berwarna violet jernih, dan memakai pakaian serba putih dengan sedikit nada biru di ujungnya masuk.


Jika dibandingkan dengan Seriana yang terkenal akan kecantikannya, maka gadis ini dapat digambarkan sebagai seorang malaikat jika ditambahkan 'halo' di kepalanya saat membawa keranjang anyam berisikan sayuran, buah, dan beberapa botol air.


Melihat orang asing yang masuk, Rion hendak bangun dari posisi tidurnya. Namun, rasa sakit menghentikan tindakannya.


Melihat hal ini gadis itu sedikit tersenyum. "Jadi kamu sudah siuman? lebih baik kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu, kondisimu cukup parah saat kutemukan."


"A-ah ... iya," jawab Rion yang masih mengawasi gadis itu.


Menghiraukan rasa waspada yang Rion tunjukkan padanya, gadis itu lebih memilih mempersiapkan makanan yang akan dimakan hari ini.


Seluruh ruangan hanya diisi suara pisau yang memotong sayuran, baik Rion maupun gadis itu tidak berbicara lebih jauh.


Rion sendiri merasa curiga pada gadis itu, mustahil seseorang yang memiliki kecantikan di atas Seriana tidak pernah terdengar kabarnya. Apalagi gadis itu terlihat seperti seorang manusia, pengalaman buruknya saat berurusan dengan manusia selama ini membuat Rion semakin waspada.


Gadis itu sendiri hanya fokus pada masakannya, semakin lama waktu berlalu Rion merasa semakin aneh. Walaupun ruangan ini seperti sebuah ruangan pada umumnya —selain warnanya yang putih murni keseluruhan— tidak terdengar satu suara pun yang berasal dari luar.


"Sudah siap," Gadis itu tersenyum melihat hasil masakannya.

__ADS_1


Membawakan makanan ke tempat Rion, gadis tersebut memberikan piring berisikan sup kepada Rion. "Makanlah selagi masih hangat."


Rion duduk, mengambil hidangan tersebut dia pun memeriksanya. Dari bau, rasa, hingga mencicipinya sedikit, saat sudah merasa hidangan ini tidak berisikan racun atau apa pun dia dapat bernafas lega.


"Kau tahu, kelakuanmu itu sebenarnya tidak sopan padaku yang memasak?" sindir gadis itu cemberut.


"Aku hanya waspada pada sekitarku," Rion menjawab perkataan gadis itu dengan nada biasanya, terkesan tanpa emosi dan dingin.


Namun, memastikan bahwa dirinya tidak berada di benteng, membuat rasa waspada Rion pada gadis itu berkurang.


Rion tidak berbicara lagi, fokus pada hidangan yang disantapnya. Sudah sejak lama dia tidak merasakan makanan buatan tangan, walau terasa agak hambar, tapi bagi Rion ini terasa lebih nikmat dari pada makanan di benteng yang berupa ransum padat nutrisi.


Merasa tenaganya sudah cukup pulih dan rasa waspadanya pada gadis itu berkurang, Rion mengajukan satu pertanyaan.


"Aku ingin bertanya, kenapa kamu menolongku?"


"Kenapa aku menongmu?" Gadis tersebut berpikir sejenak sebelum menjawab," Mungkin karena aku ingin membalas perbuatan seseorang padaku, dulu aku terluka cukup parah. Namun, seseorang menolongku dan mungkin karena itu aku ingin menirunya."


"Jadi alasan itu sudah cukup untuk kamu menolongku?"


"Itu saja?"


"Itu saja!" Gadis tersebut tersenyum, lalu merapikan piring yang telah kosong.


"...."


Rion diam, tidak tahu bagaimana menghadapi gadis di depannya ini yang memberi sebuah air di hatinya yang kering, mengingatkan pada dirinya yang dulu juga seperti itu.


"Jadi kalau boleh tahu ... berapa lama aku tak sadar?"


"Mungkin sudah 3 minggu."


"Hah?" Sebuah jawaban bodoh keluar dari mulut Rion.


Selama itu? Bahkan Rion mengira luka yang masih terdapat di tubuhnya memerlukan waktu 1 minggu lagi untuk pulih.

__ADS_1


'Jadi aku akan sebulan merepotkan gadis ini?' Mengingat kondisinya Rion menolak itu. "Tidak! Itu tidak akan!'


"Aku akan segera pergi, tak ingin merepotkanmu lebih jauh," ucap Rion saat berniat meninggalkan ruangan. Namun, saat hendak berdiri dia langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Aduh ...."


Gadis tersebut mendekat ke arah Rion dan membantunya kembali di ranjang. 'Tenang saja, aku tidak repot. Jadi tunggulah sampai pulih sepenuhnya."


"Maaf," ucap Rion menyesal.


'Sepertinya aku memang akan merepotkannya.'


Rion memandang gadis tersebut lalu menundukkan kepalanya, padahal dirinya tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya. Sepertinya gadis ini akan ikut terkena masalah karenanya.


"Ngomong-ngomong namamu siapa? Kamu kan akan lebih lama tinggal di sini, jadi kalau tidak tahu nama yang lain terasa agak ...."


"Rion," jawabnya singkat memahami keraguan dalam gadis itu.


Bahkan berani menolong seorang pemuda sepertinya, gadis ini sudah dapat dikatakan pemberani, mengingat gadis itu tak takut akan kemungkinan buruk yang pastinya ada.


"Namaku Lily," ucap Lily dengan sedikit senyum.


Selesai merapikan piring, Lily berucap, "Rion, kamu di sini saja sampai keadaanmu membaik. Aku akan pergi dulu."


Setelah mengatakan itu Lily pergi, meninggalkan Rion sendirian di ruangan ini.


Setelah cukup lama waktu berlalu, Rion menghembuskan napas. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding ruangan yang terasa dingin, tapi tidak dengan perasaannya saat ini.


"Jadi, masih terdapat sedikit kebaikan, ya ...?" Sebuah senyum tulus terukir di wajahnya.


Sudah lama sejak Rion mendapatkan sedikit kebaikan dari orang lain, orang yang diingat Rion memberikan dirinya rasa aman adalah sang ibu yang telah tiada. Mendapatkan kebaikan dari orang lain, apalagi yang belum dia kenal, mengingatkannya bahwa dunia tidak selalu kejam pada dirinya.


Bahkan pada badai paling ganas pun akan ada semburat keindahan pelangi.


Rion menenangkan pikirannya, setidaknya dunia tidak sekejam itu padanya. Jadi, semua yang dia alami bukanlah salah dunia, tapi orang-orang yang menyakitinya.

__ADS_1


Mata Rion bersinar dingin, tekad dalam dirinya semakin bulat. Dia tidak akan membiarkan orang-orang tersebut tetap berbuat seenaknya, membuat semakin banyak penderitaan bagi orang lain, dan yang terpenting membalaskan dendamnya.


__ADS_2