
Di sebuah kapal yang tengah berlayar menuju Benua Sylius, Seriana sedang duduk bermalas-malasan di sebuah ruangan khusus yang cukup luas pada kapal yang ditumpanginya. Menikmati angin laut yang menerpa dari jendela kecil yang dibiarkan terbuka, dia benar-benar merelakskan tubuh dan pikirannya.
“Tinggal dua minggu lagi sebelum sampai, kah?” Seriana merenggangkan tubuhnya. “Kabar dari Rion juga belum ada, hah ...”
Saat suara pintu terdengar, Seriana memberi izin sebelum pintu itu terbuka.
Terlihat seorang pelayan wanita tanpa seperti tergesa-gesa segera menghadap ke Seriana. Karena dia membawa surat dari burung pembawa pesan yang diberikan oleh awak kapal dengan surat yang memiliki label resmi Eugary Empire, alasan mengapa dia menjadi terburu-buru dapat dipahami.
“Nona Seriana,” salam pelayan itu hormat.
Seriana meliriknya, dia memperhatikan tingkah laku, nada, dan postur pelayan itu. Mengulurkan tangannya, dia berucap, “Jika ada yang ingin kau berikan cepat berikan padaku.”
“Y-ya!” jawab pelayan itu cepat, meski dia tak tahu bagaimana cara Seriana mengetahui tujuannya, dia segera memberikan surat itu sebelum meninggalkan tempat ini.
“Coba aku lihat apa isi surat ini,” Mengambil pisau di atas meja penuh buah-buahan yang berada di sampingnya, Seriana merobek segel surat tersebut dan segera membaca isinya.
Semakin lama Seriana membaca surat tersebut, senyum yang menghiasi bibirnya kian lebar. Surat ini berisi tentang kejadian yang menimpa Kota Dee beberapa waktu lalu yang dikirimkan oleh Marquis yang menggantikannya.
Dalam surat ini tertulis bahwa kelompok tentara bayaran Overflow sebenarnya memiliki sisi sebagai bandit, dan kabarnya keberadaannya telah dihancurkan oleh seorang pemuda berambut hitam seorang diri. Diakhiri bahwa surat yang sama telah dikirimkan pada pemerintah pusat Eugary Empire.
Seriana tersenyum bukan karena Overflow yang merupakan bandit telah hancur, tapi karena pemuda berambut hitam yang dikabarkan. Walau dirinya tidak mengetahui kejadiannya secara langsung, tapi dia yakin bahwa pemuda yang dimaksud adalah Rion.
Senyum yang terukir di bibir Seriana semakin lebar hingga agak terlihat menyeramkan. Membuat tangan kecilnya harus menutupi mulutnya untuk menahan tawa yang akan keluar.
“Sudah aku duga bahwa kamu belum mati Rion,” Seriana terus menahan tawa yang akan segera pecah, hingga akhirnya dia tak kuasa menahan tawa terkikiknya yang bocor dari mulutnya. “Hihihihi ...”
Ruangan dipenuhi suara tawa terkikik Seriana, membuat atmosfer di ruangan menjadi cukup menyeramkan bagi orang lain. “Huh ... Tenang. Dengan kabar ini aku dapat memastikan bahwa Rion masih hidup, walau belum terbukti, tapi pasti benar. Selanjutnya ....”
Seriana menyangga dagunya sejenak. “Sebaiknya aku panggil Fold dan Ale, pasti ini akan menjadi semakin menarik nantinya.”
__ADS_1
Memikirkan apa yang ingin dia lakukan, Seriana tersenyum. “Akanmu kirim mereka ke tempat itu saja, saat mereka keluar ... pasti itu akan menjadi hal yang menarik.”
Seriana bangun dari posisinya. Membuka pintu ruangan, dia menyuruh pelayan yang ada di dekat pintu memanggil Fold dan Ale untuk segera menghadap dirinya.
Seriana kembali duduk di ruangannya, dia menyandarkan punggungnya, mendongak sebelum napas mulai menjadi kasar dengan sebuah senyum aneh yang menghiasi wajahnya.
Saat Seriana membayangkan sosok Rion yang menghadapi anggota Overflow sendirian dia ....
“Selanjutnya ... kejutan apa yang akan kau berikan padaku Rion?” gumam Seriana.
Entah berapa lama waktu berlalu sampai suara ketukan pintu terdengar di telinganya. Seriana mengambil napas, menenangkan perasaannya serta merapikan dirinya sebelum menjawab dengan nada penuh kekuatan tak kasat mata. “Masuk!”
Dua orang memasuki ruangan, aura Seriana kini membawa wibawa dan tekanan pada dua orang di hadapannya, Ale dan Fold. Mereka berdua membungkuk sebagai bentuk penghormatan sebelum memberi salam.
“Kami datang menghadap Anda. Nona Seriana G. Eugary,” salam mereka berdua dengan hormat.
Keheningan yang menggantung di udara membuat perasaan keduanya semakin gugup, mereka mungkin membuat Seriana tersinggung dengan kehadiran mereka memenuhi perintah yang cukup lama karena menunggu Fold tersadar dari keadaan mabuknya, hal yang selalu dilakukan Fold sejak kegagalan dalam misi terakhir.
Meski tanpa sepengetahuan mereka, itu telah membuat mereka terhindar dari beberapa masalah (?) yang mungkin akan timbul.
Semua karena alasan mereka berdua dipanggil sendiri telah membuat keduanya khawatir. Jika ada Marco, sang kapten ksatria di sini mungkin ini berkaitan dengan misi yang akan segera mereka dapatkan untuk menebus kegagalan pada misi sebelumnya. Namun, sekarang mungkin ada hal penting lainnya yang akan dibahas.
Keheningan yang mematikan akhirnya diakhiri dengan suara tenang yang keluar dari mulut Seriana. “Apa kalian berdua tahu apa alasanku memanggil kalian?”
“Maafkan ketidaktahuan kami Nona Seriana. Kami sama sekali tidak mengetahuinya.”
Seriana kembali diam. Membuat perasaan keduanya, khususnya Ale menjadi semakin buruk.
“Aku memanggil kalian berdua kemari karena ada hal yang ingin aku sampaikan perihal kegagalan kalian berdua pada misi sebelumnya.”
__ADS_1
Ale menundukkan kepalanya segera setelah mendengar ini. “Tolong hukum kami dengan kuasa Anda, Nona Seriana.”
“Siapa yang menyuruhmu memotong perkataanku?” ucap Seriana pada Ale dengan nada sinis.
Ale menelan ludah, kehati-hatiannya justru membawa masalah baginya. “Maafkan bawahan Anda yang satu ini Nona Seriana.”
“Yah biarlah, kalian akan aku kirim ke suatu tempat untuk menjalani pelatihan, dan masih berkaitan dengan misi yang kalian jalankan sebelumnya. Aku mendapatkan kabar bahwa orang yang kalian kejar sebelumnya masih hidup.”
Mendengar ini, mata Fold yang sebelumnya redup seperti mata ikan mati mendapatkan kembali cahayanya. Tatapannya menjadi tajam dan membuatnya kini memasang telinga baik-baik, mendengarkan setiap perkataan Seriana selanjutnya tanpa ada yang terlewatkan.
Memperhatikan perubahan pada diri Fold, Seriana tersenyum dalam hatinya, semua berjalan sesuai apa yang dia inginkan. “Akan tetapi, dengarkan baik-baik, tempat itu memiliki persentase keberhasilan untuk keluar yang rendah. Jika kalian ingin masuk ke sana kalian harus mendapat izin dari bangsawan minimal Earl. Jadi , apa jawaban kalian?”
Dengan senyum di bibirnya, Seriana melanjutkan, “Akankah kalian ingin memasuki tempat itu dan mencoba keberuntungan di sana, ataukah tidak perlu mengambil kesempatan ini sama sekali?”
Ale ragu-ragu menjawab pertanyaan yang diajukan Seriana, dia menghitung semua kemungkinan dengan hati-hati.
Namun, sebuah suara tak terduga terdengar tepat di sampingnya.
“Ya, saya akan memasuki tempat itu. Terima kasih atas penawaran Anda Nona Seriana.”
Ale yang terkejut karena dia sudah lama tak menemukan kekuatan pada kata-kata Fold akhir-akhir ini pun membuatnya memasang sebuah senyum kecil.
“Baiklah Nona Seriana, saya juga akan memasuki tempat tersebut. Jika rekan di samping saya ini sendirian, maka dia akan membuat masalah bagi Anda nantinya.”
“Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan, kalian akan memasuki tempat itu, tapi sebelum itu akan aku beritahu bahwa setelah kalian memasuki tempat itu kalian akan dianggap sudah mati. Kalian sudah meninggalkan jati diri kalian saat ini dan akan mendapatkan jati diri baru di sana.”
Mendengar ini, mereka berdua tanpa sadar menelan ludah pada perkataan Seriana.
Namun, itu malah membuat seorang Seriana G. Eugary memasang senyum yang dapat membuat siapa saja terhipnotis. “Karena tempat itu adalah tempat bagi orang-orang yang sudah mati.”
__ADS_1