A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 83 : Awal Rangkaian - 2


__ADS_3

Saat suara percikan air terdengar, kewaspadaan tim Night Eye sontak melonjak naik dan saraf mereka kini kembali menegang. Apalagi dengan cerita yang disuguhkan sebelumnya, pikiran mereka telah berkelana jauh.


Bayangan demi bayangan kabur segera terbentuk, menghilang dari pandangan dan menyelinap di sudut-sudut tak terlihat. Mata tim Night Eye kini benar-benar bersinar tajam, seolah membuktikan arti dari nama tim mereka.


Namun, suara itu hanya terdengar satu kali dan tak terdengar kembali. Terlebih sosok yang merupakan sumber suara, melihatnya hanya angan. Meskipun keadaannya seperti ini, mereka tetap tak dapat bersantai.


Keheningan mencekam menyelimuti, tim Night Eye sama sekali tak bergerak dari posisinya. Hanya terus dan terus mengawasi gerakan yang mungkin timbul. Bahkan keheningan ini membuat suara sekecil apa pun yang timbul akan segera menjadi pusat perhatian.


“Tidak ada apa pun?” bisik Yuzu. Melihat ke arah Xion dan yang lainnya, mereka mengangguk ringan sebelum turun. Keluar dari persembunyiannya.


“Mungkinkah itu hanya berasal dari tikus?”


“Mungkin, tapi bagaimanapun kita tak bisa melonggarkan kewaspadaan. Apalagi fakta bahwa Reutania Kingdom telah berhasil membuntuti kita tanpa berhasil diketahui.” Memandang rekannya sejenak, Xion mengangguk sebelum menjelaskan langkah mereka ke depan. “Sebaiknya kita segera pergi. Secara garis besar tujuan misi juga telah berhasil dica—“


Namun, penjelasan Xion tak berlanjut saat sebuah anak panah tiba-tiba melintas. Dengan kelebihan mereka di medan semacam ini, tim Night Eye berhasil menghindari serangan itu.


Bak sebuah bola biliar yang dipukul, posisi tim Night Eye segera terpencar, berjauhan antara satu sama lainnya. Namun, dengan pengalaman bersama, jarak seperti ini bukanlah masalah untuk dapat mengetahui maksud rekan yang lain.


Mata Xion segera beralih ke arah di mana serangan tersebut berasal. Matanya tajam, mungkin kekuatan pihak lain akan setara dengan Tenor, bahkan mungkin lebih. Namun, sosok yang melancarkan serangan itu tak keluar, membuat keheningan kembali menggantung.


‘Dia pasti dari Reutania Kingdom!’ pikir Xion. Dengan hal-hal yang mereka alami baru-baru ini, pihak Reutania lah yang paling mungkin menjadi tersangka.


Shut!


Panah kembali melintas, mengakhiri adu kesabaran yang sebelumnya terjadi. Mata Xion berhasil menangkap pola lintasan serangan, membuatnya dapat bergerak ke titik yang membuat dia terhindar dari serangan itu.


“Semuanya awasi sekeliling kalian! Pihak lain kemungkinan besar ahli dalam bidang serangan diam-diam.”


Mereka mengangguk dalam menghadapi peringatan Xion. Bersama dengan kesiagaan suram, mata dan telinga mereka pasang tinggi-tinggi, berharap dapat menangkap gerakan lawan.

__ADS_1


Merasakan sesuatu, Wess yang berada di samping Zee pun menerjang ke arah rekannya. “Iron Body!”


Tubuh Wess mulai mengeras, berubah menjadi bentuk yang jauh lebih solid dari tubuhnya sekarang. “Iron Claw!”


Tang!


Dentangan keras menggema saat serangan langsung musuh kali ini berhasil Wess tahan. Tak seperti sebelum-sebelumnya, pihak lawan kini mengekspose dirinya. Namun, hasil itu bukannya tanpa biaya dengan tangan kanan Wess yang kini terdapat luka besar.


Saat gerakan lawan terhenti, sosok dengan pakaian hitam penuh yang menutup seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat. Dengan cara berpakaian seperti demikian, semua ciri maupun fitur khusus yang dimiliki lawan tertutup rapat dan menjadi rahasia.


Mata lawan —satu-satunya bagian yang ditunjukkan— bergerak, berisi beberapa emosi saat menatap Wess yang telah berhasil menghentikan serangannya. Menyadari bahaya yang akan timbul jika dirinya terus terlihat, sosok itu kembali menghilang.


“Kau masih dapat bertahan Wess?”


“Kau kira siapa aku?” jawab Wess saat menahan rasa sakit dari lukanya yang masih terus mengeluarkan darah.


Namun, cahaya hijau dari sihir penyembuhan yang dirapalkan Yuzu segera menyelimuti, membuat luka itu mulai pulih.


“Siluet of Sshadow ...!” Dengan senjata utama berupa belati miliknya yang mulai menyerap kegelapan lebih dan menjadikan itu sebagai mata pisaunya, orang itu kembali menyerang.


Namun, tak seperti dugaan tim Night Eye bahwa Wess —orang yang dalam keadaan terlemah— yang akan menjadi target, melainkan Xion. Dengan keterkejutan di matanya, tak menduga hal ini Xion tetap berusaha membalas.


“Gauntlet of Wind Claw!” Dengan angin badai yang mulai menyelimuti pergelangan tangannya, Xion membalas.


Bunga-bunga api mulai bertaburan di udara. Dengan karakteristik keduanya yang memiliki kekuatan lebih dalam bidang kecepatan, keduanya terjalin erat, tak mau berpisah.


“Magic: Wind Wheels!” Zee mulai terjun dalam pertempuran. Mendukung Xion dengan piringan demi piringan angin tajam yang meluncur, berusaha mencapai lawannya.


Dengan kelebihan di mana sihir ini masih dapat dikendalikan bahkan setelah itu dilepaskan tak seperti [Magic: Wind Cutters], Zee berusaha semaksimal mungkin untuk membuat serangannya ini mencapai lawan.

__ADS_1


Namun, situasi tak banyak berubah bahkan setelah Yuzu yang telah selesai memberikan pertolongan pada Wess ikut dalam pertempuran. Keahlian lawan mereka jauh dari apa yang pernah mereka bayangkan.


Mulai merasa kewalahan akan lawannya, Xion melancarkan sebuah teknik. “Wild O Rage!”


Angin mulai berembus, menyelimuti tubuhnya dan membuat kecepatannya naik beberapa tingkat. Bahkan [Gauntlet of Wind Claw] di tangannya pun mendapat peningkatan kekuatan, cakar-cakar angin itu mulai memanjang lebih dari ukuran umum. Ini adalah teknik yang dia pelajari bersama kenaikan kekuatannya, meski dia masih belum dapat menggunakannya secara efektif.


Meski begitu, dengan kecepatannya yang naik beberapa tingkat. Serangan Xion menjadi kian ganas dan mematikan, seolah tak akan memberi jeda antara satu serangan dengan serangan selanjutnya.


“Yuzu! Fokus saja pada perawatan Wess!” teriak Xion. Dengan keadaannya saat ini, dia merasa bahwa pemulihan Wess patut menjadi prioritas. Dia berpikir jika Wess telah pulih mendekati sepenuhnya, itu akan dapat menjadi bantuan besar untuk sekarang.


“Baik Kapten!”


Namun, cambuk-cambuk air yang Yuzu kendalikan bak tentakel yang ingin menjerat lawan masih terus bergerak. Melewati beberapa sudut sulit kemudian merenggang menjadi sebuah meriam air yang ingin mengenai lawan sebelum akhirnya menghilang.


Setelah Yuzu menyelesaikan perlawanan terakhirnya ini, dia pun mulai melaksanakan perintah Xion. Meski begitu, melihat bahwa lawan —dengan mengandalkan kecepatannya— berhasil menghindari serangannya, dia tak mampu menahan rasa kecewa.


Dengan kecepatannya sekarang ini, Xion mencoba menekan pihak lawan. Cakar anginnya terus berayun tajam, berusaha mengenai target di depannya.


“Slice!”


Cahaya putih tercipta, membentuk sebuah garis yang mungkin terbentuk karena cepatnya gerakan itu.


“Shadow Leap.” Orang itu menghilang. Seolah masuk ke dalam bayangan sekitar, menghindari serangan Xion dan membuat serangan itu hanya berhasil memotong dinding di belakang.


Melompat ke arah lain menggunakan dinding saluran ini sebagai tumpuan, gerakan Xion terhenti sesaat sebelum dia kembali meluncur dengan cepat. Tepat di kala matanya berhasil menangkap di mana lawannya muncul.


Namun, lawan pun melakukan gerakan serupa. Matanya telah bulat dan diyakinkan, belati di tangannya berputar sejenak sebelum kembali lekat ke posisinya.


Dengan dirinya yang tak dapat mundur —setidaknya sekarang— dia meluncur, menyambut gerakan Xion.

__ADS_1


Tang!


Dengan suara dentangan yang terus terdengar, bunga-bunga api kembali bermekaran.


__ADS_2