A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 36 : Para Bandit - 1


__ADS_3

Di sebuah hutan, terlihat seorang pemuda berambut hitam tengah berjalan dengan seorang gadis berambut perak.


Beberapa binatang buas dan monster berbentuk **** hutan sesekali menyerang mereka di jalan. Namun, pemuda itu hanya mengacuhkannya dan saat monster berjarak sudah cukup dekat dengan mereka, kepala monster itu langsung terbang, terpotong tapi meninggalkan tubuh tanpa kepala yang tergeletak tak bernyawa.


“Kau sudah cukup hebat Rion.”


Rion hanya melirik Lily, memilih tidak menanggapi gadis tersebut. Mendekati monster itu, dia kemudian mengulitinya sebagai bahan makanan nanti malam.


Memang jika dibandingkan dengan dirinya dulu, Rion saat ini mengalami peningkatan pesat terutama pada kecepatan dan kontrolnya. Menurut Lily sendiri hal ini normal, karena Rion sendiri dapat bergerak cepat di suhu beku selama di zona kematian maka tidak mungkin gerakannya menjadi tumpul, untuk masalah sihir sendiri hal itu tak perlu ditanyakan kembali.


Selain itu pedang yang Rion gunakan sendiri dapat dikatakan cukup berkualitas, meski dia tak tahu kualitas pedang ini karena hanya mengambilnya saat ingin berlatih teknik pertempuran. Namun, jika dibandingkan tombak Demand yang pernah dia bawa maka pedang ini dirasanya lebih unggul.


Sebagai contoh mudah pedang di tangan Rion ini masih tajam dan tanpa karat sedikit pun. Selain itu dia juga mengambil sebuah tombak yang berada tak jauh dari posisi pedang ini berada.


Sejak keluar dari zona kematian Rion sudah memiliki rencana matang akan apa yang ingin dia lakukan. Pertama adalah menuju Benua Sylius, tapi dengan kehadiran Lily membuat perjalanannya sedikit terhambat, dikarenakan jumlah bawaan mereka sendiri cukup meningkat.


Walau Lily berkata ingin membantu Rion, tapi saat mereka diserang ataupun mencari makanan dan air minum, dia tidak pernah membantu Rion sedikit pun. Saat dia bertanya pada Lily mengapa bertingkah seperti itu, Lily selalu mencari alasan yang terkadang bahkan tak masuk akal.


Akan tetapi, mengingat bahwa Lily yang merawatnya saat dirinya terluka parah, Rion memilih tidak berkomentar dan menganggap ini sebagai bentuk balasannya.


“Rion, kita akan ke Benua Sylius, kan?” tanya Lily.


“Ya.”

__ADS_1


“Lalu, kita kenapa kita menuju ke arah timur? Bukankah langsung ke utara dari tempat itu lebih mudah?”


Mendengar ini, Rion memasang wajah masam. “Aku ingin menuju pelabuhan milik Reutania Kingdom. Jika aku ke utara dan menggunakan pelabuhan milik Eugary Empire pasti akan terjadi masalah yang tak perlu,” Mengalihkan pandangannya dia bergumam, “Apalagi aku juga buronan di kekaisaran.”


“Yah ... jadi intinya kita mengambil jalan memutar karena kamu? Tapi, jarak antara Reutania Kingdom dengan Eugary Empire di Benua Sylius sendiri cukup jauh tahu?”


“Bukankah Reutania Kingdom adalah negara paling dekat dengan Eugary Empire?” tanya Rion terkejut.


Bagaimanapun, dari buku yang dia baca wilayah Reutania Kingdom sebagian besar ada di selatan, sedangkan wilayah barat daya sendiri sudah milik Eugary Empire. Karena ini pula dia berpikir bahwa jarak antara kedua negara itu tak terlalu jauh.


“Ya, memang seperti itu, tapi apa kamu tidak tahu bahwa Reutania Kingdom sendiri negara terluas kedua di Benua Sylius? Walaupun Benua Sylius dikatakan sebagai yang terkecil dari ketiga benua, tapi bagaimanapun benua adalah benua dan cukup luas tahu.”


Langkah Rion terhenti, perhatiannya terarah pada perkataan Lily. Memandang gadis itu dia mengulang perkataannya. “Ketiga benua?”


“Lupakan ...,” ucap Lily menyadari telah mengatakan hal yang tak perlu. Dia memilih tidak meladeni pertanyaan yang Rion ucapkan lebih jauh, karena menurutnya hal ini tidak perlu Rion ketahui jika ingin fokus pada pembalasan pada tujuannya.


Melihat ini Rion menahan diri untuk memilih tidak bertanya lebih jauh. Jika memang Lily tidak ingin memberi tahunya maka itu baik-baik saja, lagi pula dengan ini dia mengetahui terdapat benua selain Benua Sylius dan Benua Zestia. Walau informasi ini tidak banyak berguna sekarang, tapi dia yakin lebih baik mengetahui hal yang mungkin berdampak pada rencananya.


“Lebih baik kau menyembunyikan wajahmu Lily? Mungkin menggunakan topeng atau mengubahnya dengan mimic?” ingat Rion.


“Tenang saja, aku tidak akan lari apalagi membuat kamu kesusahan. Karena itu hal tersebut tidak diperlukan.”


Rion menghela nafas panjang, alasan lain dirinya tidak ingin Lily ikut adalah karena paras gadis ini. Mungkin Lily tidak akan lari atau membuat Rion masalah. Namun, masalahlah yang sepertinya akan mengetuk pintu mereka karena tertarik pada Lily.

__ADS_1


Mereka berdua terus berjalan hingga malam, walau Rion masih bisa melanjutkan perjalanan karena baik tubuh maupun pikirannya belum lelah, apalagi dirinya dapat melihat baik di malam hari. Namun, lebih baik mereka beristirahat karena sudah lima hari mereka berjalan tanpa berhenti, selain itu, Lily sepertinya sudah mencapai batas tubuhnya.


“Kau beristirahatlah lebih dulu,” ucap Rion pada Lily yang matanya sudah terlihat berat.


“Ya ....”


Api unggun menyala di tengah, menyerang sekitar dengan potongan daging yang berjejer rapi di si sekitar. Merenggangkan tubuhnya, Rion memakan daging monster yang telah dibakar sebelumnya, sedangkan Lily lebih memilih daging binatang buas.


Meski daging monster pada umumnya tidak dapat dimakan makhluk lain, sebab mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh makhluk hidup normal. Namun, karena tubuh Rion sendiri sudah beradaptasi dengan Blood Essence dari Beast Lord membuatnya kebal dari racun itu, walau Lily tetap memandangnya dengan tatapan lucu.


Nyala api terus berusaha mengusir malam di hutan ini. Malam semakin larut dan Lily tampak telah tertidur pulas, Rion sendiri masih terjaga sembari memandang bintang-bintang di langit.


Sebuah senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya, pengalaman yang dapat digambarkan dengan kata gila telah dia alami selama setengah tahun ini. Melirik Lily, Rion tak mampu menahan helaan napas, setidaknya dia tak merasa terlalu kesepian seperti pada masa-masa menjadi objek eksperimen di laboratorium.


Semua ini sudah terasa lebih dari cukup untuknya, meskipun tingkah Lily ... yah, terkadang menjengkelkan. Namun, itu membuatnya mengingat kenangan dan perasaan yang hampir dia lupa.


Semua sangat tenang sampai dirinya menoleh, cahaya di mata Rion terlihat semakin jauh menembus ke dalam hutan.


‘Sepertinya kami sedang diawasi oleh sekelompok orang ...,’ pikir Rion menduga apa yang tengah dia rasakan.


Mengambil napas dalam, Rion bangkit dari duduknya, pedang yang tergeletak kini terikat rapi di pinggangnya.


“Tampaknya kami memang tak akan dapat beristirahat dengan tenang. Kuharap itu hanya untuk malam ini,” gumam Rion saat sedikit melirik ke arah Lily.

__ADS_1


Mengambil langkah kecil, Rion mulai berjalan ke arah sekelompok orang yang dirasa tengah mengawasinya dan Lily.


__ADS_2