
Udara di sekitar mulai memanas, tapi tak untuk tubuh Sona yang mendadak menjadi dingin. Melihat kemilau kebiruan di ujung jari lawan, dia seolah telah dapat merasakan betapa kuatnya serangan ini.
Benar, seolah dia dapat merasakan belaian kematian yang semakin mendekat, bahkan dia tak mampu menghilangkan pikiran bahwa jika dia terkena serangan ini maka tamat sudah riwayatnya.
Menutup matanya, Sona bersiap menuju kematian.
Tang!
Akan tetapi, suara renyahlah yang ditangkap oleh telinganya. Tidak ada rasa sakit atau apa, membuka matanya dia melihat sesosok pria dengan perisai besar yang menahan serangan tersebut.
Namun, hal ini sendiri tak bertahan lama. Tidak kuasa lagi untuk menahan kekuatan pihak lain, pria itu terlempar.
"Guah!" Seteguk darah segar dimuntahkan pria itu —Gadi— saat menabrak salah satu puing mansion.
Meski dia dalam kondisi seperti ini, Gadi tersenyum menyadari tindakannya ini bukan berarti tanpa hasil. Dengan sapuan yang dilancarkan, Lech berhasil mengusir lawan dan menyelamatkan nyawa Sona sebelum kembali terancam.
Rion berdecak kesal dalam hati. Niatnya untuk mengurangi satu beban harus gagal, dan semua itu berawal dari waktu penyelamatan Gani sangat tepat.
Walau sebenarnya salah satu faktor adalah gerak-gerik Gadi telah lama lepas dari pandangannya, dan membuahkan hasil seperti ini.
Namun, dengan pihak lain yang berani maju bahkan jika itu membuatnya harus menderita luka lain, dia telah menjaga neraca tetap pada tempatnya sekarang.
Itu juga bukanlah yang terakhir, hal yang sama terjadi. Meski Rion telah mundur dan mencari titik lengah saat melancarkan [Magic: Bullets] ke arah Sona, tapi perisai besar Gadi telah berdiri kokoh untuk menahannya.
Dengan mereka bertiga yang mulai menjalin kerja sama yang lebih baik, pertarungan kian lengket jingga mendekati titik kebuntuan. Walaupun hal ini sendiri juga tak akan bertahan selamanya, meski serangan Rion kini dapat ditahan oleh Lech serta Gadi, tapi timbangan sedikit demi sedikit mulai miring.
"Kita tidak bisa terus seperti ini!" seru Sona.
"Ya! Lech kita harus segera mencari cara untuk menghentikan pergerakan pemuda itu!"
"Aku tahu! Tapi hal itu lebih sulit dilakukan dari pada dikatakan! Apa kau tahu caranya?!" Menenangkan dirinya, Lech berbicara jujur. "Selain itu, sejujurnya aku hampir mencapai batas!"
Serangan berkecepatan tinggi mendatangi mereka kembali, Lech bersama Gadi terus berupaya menahannya. Bunga api terus terbentuk saat suara ledakan kilat terus terdengar. Ular-ular kilat itu terus menyerang mereka dengan cepat, tapi sebelum mereka dapat melihatnya sosok Rion telah menghilang kembali dari pandangan.
__ADS_1
Rion menghembuskan nafas panjang, merasa menemukan kesempatan serupa akan sulit, dia memilih mundur. Selain itu dia juga kembali mengatur pikirannya agar lebih memperhatikan semua detail, bahkan sampai yang terkecil di medan pertempuran.
Elemen kilat yang dipertahankan sampai sekarang menghilang. Diganti dengan elemen jenis angin yang lebih kuat pada hal penetrasi, persis seperti apa yang diperlukannya kini.
Dengan intensitas serangan Rion yang menurun tajam, jauh dari sebelumnya. Lech, Gadi, serta Sona yang mengira staminanya mulai menipis pun menunjukkan seringai, jelas berpikir bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka membalas.
"Ha!"
Serangan balik mulai mereka lancarkan. Dengan gerakan mereka menjadi lebih liar yang juga didorong fakta durasi [Bloody Life] Lech hanya tinggal menunggu waktu, mereka menyerang dengan habis-habisan.
Namun, Rion berusaha menghindari sebagian besar serangan mereka, meminimalisir luka yang derita dan hanya menyerang dikala titik lemah ditunjukkan lawan membuat lawan harus menjaga pikiran mereka tetap kuat.
"Magic: Rock Dome!" Kubah batu tebal kembali terbentuk, berusaha mengurung Rion di dalam. Namun, Rion tak akan jatuh ke lubang yang sama dan dengan mudah menghindar.
"Clamp Kick!"
Tendangan Lech datang dari arak kiri, menahannya secara langsung. Rion melempar Lech jauh-jauh, dia menyadari jika pun dia menghindar maka giliran Gadi yang akan menyambutnya.
Rion mundur beberapa langkah, menghadapi kekuatan ketiga orang ini dia harus memasang fokus lebih. Sedangkan jika itu untuk 1-2 serangan dari arah lain dari anggota Overflow yang bersembunyi, dia memilih mengabaikannya selama hal itu masih dapat ditanggung tubuhnya.
Rion kembali menghindari serangan Lech yang membuat lingkungan di tempat dia berdiri sebelumnya hancur lebur, rata dengan tanah yang menjadi sedikit tenggelam. Dia kini tak lagi menyerang, hanya berkonsentrasi penuh pada rencana yang tengah dia jalankan semenjak Kebuntuan terjadi.
Melihat bahwa para penjaga kota juga sudah mulai berkumpul, Rion tahu bahwa dia tak memiliki kemewahan untuk dapat mengukur waktu dan menanti lawan melemah.
Gerakan lincah Rion terus berlanjut, dia berusaha menghindari serangan lawannya. Sadar bahwa dia tak akan dapat bertahan seperti ini terus, dia mencoba mengambil beberapa senjata yang tersebar.
Namun, senjata yang tersebar seolah tak lebih dari selembar kertas. Mereka akan hancur segera tak lama setelah digunakan, meski ini wajar mengingat daya tahan ya yang telah jatuh.
Sebuah ide melintas di kepala Rion, mengambil senjata lain di tanah, dia melemparkannya ke arah lawan.
'Ini lebih baik dari apa yang kuduga,' pikir Rion saat melihat serangan Lech harus tertahan demi menghindari lemparannya.
Rion terus melakukan hal serupa hingga Gadi tertangkap lengah olehnya. Tak melewatkan kesempatan untuk menghilangkan musuh, dia maju dan segera menanamkan senjatanya ke tubuh Gadi.
__ADS_1
"Arrgghh!" Gadi berteriak kesakitan. Tubuhnya terus terserang sementara rekannya tak bisa berbuat banyak, terutama Sona yang sihirnya merupakan jenis serangan area. Jelas ragu karena tak hanya Rion yang akan terkena dampak serangan tapi juga dia.
Namun, dalam keraguan itu Rion telah menyerang berhasil mengenai titik vital lawan.
Zrattt
Sebuah tombak melonjak sari tanah, menggantungnya di ujung tombak. Darah memercik ke sekitar sebelum sorot mata Gadi akhirnya padam. Dengan luka-luka yang dia derita Sebelumnya luka yang ia derita sebelumnya memastikan dia tewas.
"Kau! Lagi-lagi!" Lech semakin murka, dia ingin segera menerjang ke arah Rion. Namun ....
"Guah!" seteguk darah berwarna hitam pekat dimuntahkan dari mulutnya, tanda bahwa durasi [Bloody Life] telah mencapai akhir karena tubuh tak mampu lagi menahan ledakan kekuatan yang dihasilkan teknik ini.
Sementara itu, tatapan Sona mengarah pada Rion dengan tajam, tak terima dengan nasib bahwa Gadi telah tewas.
"Magic: Shock Rock!"
Tanah mulai bergetar hebat, membelah dengan kuat, naik dan turun membentuk pilar-pilar batu tajam yang mengarah ke sekitar dan menghancurkan area. Rion yang berada di tengah-tengah area efek berusaha menjauh, memanfaatkan perisai sihir sebagai pijakan dia ingin segera pergi dari sini.
Meski sihir ini tidak setara dengan [Grandmagic: Earthquake]. Namun, sihir ini sendiri juga mengambil kerusakan hebat, apalagi sepertinya ini merupakan versi disederhanakan dari Grandmagic yang dimaksud. Walau entah bagaimana Sona bisa mendapatkannya masih misteri, dan sihir ini sepertinya merupakan kartu as yang dia simpan.
Rion terus menghindari pilar batu tajam yang terus bermunculan, membuat dia menderita beberapa luka kecil pada beberapa tempat di tubuhnya. Namun, kini itu dapat diabaikan.
"Huh ... akhirnya telah siap," Mendongak, Rion menatap langit malam saat tangannya terangkat dan mulai mengumpulkan mana dalam jumlah besar.
"Grandmagic: Dragon Lightning Chains," Suara berderak terdengar di angkasa lepas, saat sambaran kilat berwarna biru mulai melintas di antara awan. Namun, itu belum selesai, sihir asli Rion kini menunjukkan kebolehannya. "Magic: Multiplications ...."
Awan gelap yang sebumnya hanya menutup sebagian langit kini bertambah tebal hingga dapat menahan cahaya bulan. Menahan seluruhnya untuk dapat memberi cahaya di Kota Dee, kota menjadi gelap gulita dengan hanya berbekal cahaya penerangan dari obor yang jumlahnya tak seberapa.
Bagaikan sebuah teror, suara berderak kian keras. Mengaku di langit seolah tengah melepaskan belenggu yang selama ini menahannya.
Sambaran kilat mulai berjatuhan secara acak, membuat kehancuran di kota. Namun itu bukan bagian yang membuat seluruh warga meringkuk ketakutan.
Sosok imajiner berbentuk naga turun dari balik awan. Dengan tubuh yang sepenuhnya terdiri dari energi kilat jelas menunjukkan ini bukan naga asli. Namun, itu bukan hanya satu, naga kilat mulai mengaum seolah memanggil rekannya yang bermunculan satu demi satu, menyinari kota Dee dengan cahaya kebiruan terang.
__ADS_1
Delapan. Itu adalah jumlah sosok naga yang menunjukkan dirinya di Kota Dee bersama serangan kuat yang dibawanya.