A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 48 : Siaga - 3


__ADS_3

Di dalam hutan, gemuruh suara pertarungan terdengar saat teknik berpedang yang dilepaskan oleh salah satu bandit beradu dengan teknik tangan kosong Dany.


Bam Bam Bam Bam


Suara keras terus dihasilkan saat keduanya berimbang, energi yang dikeluarkan mereka pun saling menghancurkan satu sama lain, menghilang tanpa meninggalkan banyak jejak apa pun.


“Kau akan kami bantai dasar bandit laknat!” teriak Dany yang langsung menerjang mereka.


“Tunggu dulu Dany! Jangan bertindak gegabah!”


Simon merasa sedikit khawatir dengan perilaku Dany yang suka bertindak seenaknya sekarang. Dia dapat melihat musuh bukanlah para bandit acak yang dapat dilihat dari pemasangan jebakan, musuh jelas adalah orang terlatih dan berpengalaman terutama pada pertarungan di situasi seperti ini.


Selain karena sihir deteksi yang dilakukan rekan mereka tidak dapat menemukan para bandit yang bersembunyi ini, Simon juga menyadari bahwa para bandit itu telah mengawali pertarungan menggunakan ‘pakan meriam’ yang akhirnya membuat penjagaan mereka menurun. Menunggu di saat yang tepat, para bandit itu pun akhirnya menyerang mereka! Dan bahkan menunjukkan rasa percaya diri karena berhasil menangkap mereka dalam keadaan lengah, membuat bandit-bandit ini memiliki peluang tinggi untuk mengatasi regu mereka.


Kelompok bandit mengambil alih masing-masing satu orang untuk dihadapi secara terpisah, membuat Simon dan rekannya tak dapat saling membantu karena disibukkan oleh bandit yang mereka lawan. Apalagi, kekuatan bandit-bandit ini di atas mereka!


Seorang bandit yang memegang kapak besar di tangannya maju dan menjadi lawan Dany. Kekuatan melawan kekuatan, mungkin itu yang dapat menggambarkan pertarungan antara mereka berdua. Percikan api terus terbang saat dua kekuatan itu beradu, keduanya cenderung berimbang meski Dany terlihat lebih unggul karena dia lebih gesit karena hanya bermodalkan tubuh daripada lawannya yang harus mengangkat kapak besar nan berat.


Saat pertarungan terus berlanjut pepohonan di sekitar kian hancur, walaupun Dany dapat unggul dari lawannya, tapi situasi keseluruhan tidaklah demikian. Dapat dilihat bahwa para bandit lebih unggul daripada regu dari Reutania Kingdom. Tingkat kekuatan rata-rata yang dimiliki para bandit itu tak jauh dari lawan yang Dany hadapi, berarti kekuatan para bandit itu di kisaran tingkat gold level 2-3! Di atas kekuatan regu ini.


Simon dan rekan-rekannya berhasil bertahan dalam pertarungan hingga saat ini dengan susah payah, hingga dapat membuat korban tewas belum jatuh. Namun, situasi ini sama untuk kedua kubu, baik itu dari kelompok bandit maupun regu dari Reutania Kingdom, dan mereka tahu bahwa itu tak akan bertahan lama.


Dany terus berusaha memisahkan diri dari lawannya, hendak membantu Simon dan lainnya yang kian terdesak. Namun, sang lawan tak membiarkan dirinya lepas dari jeratannya.


Salah seorang bandit memisahkan dirinya dari lawan, mundur sejenak dia mengangkat tangannya saat cahaya coklat pucat mulai bersinar. “Magic: Pillars!”

__ADS_1


Sihir dilancarkan dan tanah melonjak, naik tinggi membentuk pilar-pilar batu yang menjulang satu per satu, mengubah medan pertempuran.


Bandit itu tersenyum puas, pilar-pilar batu ini akan sangat menghalangi pergerakan Dany serta lawannya yang lain.


“Sial!” teriak Dany.


Pilar-pilar batu itu bukan hanya untuk membuat gerakannya terhalang, tapi juga membuat serangan yang datang ke arahnya menjadi tidak bisa dia hindari dengan mudah seperti sebelumnya.


Gedebuk!


Dany tersungkur setelah kapak besar itu menyerangnya dari titik buta, walau dia dapat menggeser tubuhnya hingga membuat serangan tersebut tak mengenal bagian vital. Namun, serangan itu tetap meninggalkan luka pada tangan kirinya.


Para bandit tertawa, bukan hanya Dany yang dalam kondisi terdesak rekan satu timnya yang lain juga sama, dengan kerja sama tim yang dilakukan bandit-bandit ini untuk mengatasi regu yang dikirim Reutania Kingdom. Walaupun pertarungan tersebut adalah satu lawan satu, tapi para bandit dapat mendapat keunggulan selain karena kerja sama yang dilakukan juga karena para bandit mendapat keunggulan kekuatan.


“Baik kawan,” sahut yang lain.


Seorang pria dengan pedang besar yang bertarung dengan Simon kini mulai memberikan kekuatan lebih pada serangannya, membuat tekanan berat semakin dirasakan saat tebasan demi tebasan terus dilancarkan.


Pedang Simon dan pria itu saling beradu dan percikan api di udara dihasilkan, walaupun Simon tahu kondisi rekannya yang lain sedang tidak baik, dirinya pun tidak dalam kondisi untuk membantu. Dia bahkan tidak memiliki kelonggaran sedikit pun pada pertarungannya.


“Hahahaha!” Pria tersebut tertawa lantang, entah apa yang dia tertawakan. Namun, Simon merasakan firasat buruk, firasat yang telah diasah dalam pertarungan berulang kali yang dia alami.


Mendadak tekanan yang Simon rasakan semakin meningkat, setiap gerakan yang diambil lawannya mengandung beban berat yang semakin dan semakin meningkat.


“Haevy Strike!”

__ADS_1


Melihat pukulan berat dilayangkan ke arahnya, Simon mengangkat pedang. “Ward Angle!”


Menggerakkan giginya, Simon berusaha bertahan untuk menangkis serangan tersebut. Namun, pedang di tangannya hancur sesaat setelah mengenai pedang besar yang diayunkan lawannya, tak mampu menahan kekuatan yang dilepaskan lawan hingga menyebabkan dirinya terpental setelah menerima serangan tersebut.


“Uhuk, uhuk,” Darah bercampur dalam batuk Simon, tapi bahkan sebelum dia dapat berdiri lagi serangan telah datang di depan mata.


Pedang besar itu terangkat, tapi di tangan algojo yang akan menghabisi nyawa Simon pedang itu seolah sangat ringan saat lintasan serangan terbentuk dengan cepat.


“Sekarang para anjing akan mati!”


Zrattt


Kepala Simon terbang ke udara, terlepas dari tubuhnya dan air mancur darah pun terbentuk dari leher tanpa kepala itu.


Moral bertarung seluruh tim padam, melihat Simon, sang pemimpin mereka tewas. Walau bukan yang terkuat tapi Simon adalah sosok yang berarti bagi regu ini. Para bandit tersenyum sinis sebelum membunuh lebih banyak orang lagi, memanfaatkan moral musuh mereka yang sedang turun.


Bau amis darah memenuhi udara, tanah berwarna merah setelah menyerap darah yang tercecer.


“Aaahhh!”


Muka Dany merah padam, dia melancarkan serangan yang dilakukan secara serampangan membentuk badai energi yang berkecamuk liar di sekeliling. Membuat para bandit memilih menjauh darinya, setiap pukulan yang dilancarkan dengan penuh rasa amarah, frustrasi, dan kesedihan.


Rekan-rekannya telah tewas, walaupun kadang mereka bertengkar tapi hal itu hanya hal yang lumrah dan hanya bersifat candaan. Simon, sang pemimpin telah tewas, bagi Dany sosok Simon bukan hanya seorang pemimpin regu, melainkan juga sosok yang telah menggantikan peran seorang ayah baginya.


Para bandit yang merasa sulit untuk mengatasi Dany dalam keadaannya sekarang memilih mundur, meninggalkan sosok Dany yang masih penuh dengan emosi negatif seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2