A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 81 : Menilik - 5


__ADS_3

‘Apa yang sebenarnya mereka incar?’ Ini adalah pertanyaan besar yang melayang di atas kepala Rion. Melihat jejaknya ke belakang, dia merasa tak pernah memiliki sebuah kesempatan untuk bersilangan dengan Beatria Union. Namun, kini mereka itu telah terlebih dulu mencarinya?


Atas dasar ini saja sudah menjadi hal umum mengapa Rion tertarik atas tujuan mereka. Dengan topeng bernama Lion ini, dia merasa perlu menguji air. Terlebih kedua orang ini terlihat masih memiliki beberapa keraguan.


Walaupun dia telah menebak secara kasar bahwa tujuan mereka adalah mencarinya, Rion sekali lagi bertanya, “Apa tujuan kalian?”


Reaksi ini jelas tak diharapkan oleh Xion dan Yuzu. Melirik kaptennya ini, mata Yuzu memperlihatkan kecemasan.


Namun, tindakan Xion justru bertentangan. Menenangkan kegundahan di hatinya, dia bersikap tegas. “Itu adalah hal yang tak bisa aku ungkap kecuali identitasmu telah diketahui secara pasti.”


Mendengar hal ini, mata Rion hanya terus menatap kedua Beast-kin itu. Meski mereka mencoba bersikap kuat, terutama Xion. Kegundahan dapat dia rasakan dengan jelas, sikap kuat mereka itu jelas tanpa dasar yang kuat.


Seolah tak tahan dengan situasi ini, Xion terlebih dulu memecah kesunyian. “Siapa kamu?”


Meski begitu, tatapan Rion tak ubahnya seperti sebelumnya. Hanya menatap tanpa peduli, tapi kini mata itu sedikit bergerak sebelum kembali seperti sedia kala.


“Ohh ... aku Lion.” Dan persis seperti itu, Rion mengenalkan dirinya sesuai nama identitas yang tengah dia kenakan.


“Jadi itu namamu ...,” gumam Xion saat menunjukkan reaksi tak terduga. Dengan mata tegas, dia menatap Rion tajam. “itu kau bukan?”


Melihat bahwa Rion, bahkan Yuzu pun menunjukkan kebingungannya. Xion menegaskan kembali maksudnya. “Orang yang kala itu berada di Benteng Arcchild. Itu kau bukan?”


“....”


Rion diam. Dugaannya tentang tujuan pihak itu sama sekali tak salah. Namun, keyakinan yang terkandung dalam perkataan Xion barusan membuatnya terdiam.


‘Dari mana dia bisa begitu yakin?’ Ya, ini adalah sebuah tanda tanya yang belum dapat dijawab. Bahkan dengan jejak bau khas yang familier, bukan tak mungkin bagi seseorang untuk meniru milik orang lain.


Meski hal ini tak dia gunakan karena target utama yang diincarnya, Eugary Empire. Para manusia itu tak memiliki banyak kelebihan dalam bidang ini walaupun telah dibantu dengan beberapa sihir terkait.


“Iya,” jawab Rion singkat yang membuat mata Xion menunjukkan beberapa hal terpendam. Namun, itu hanya setengah bagiannya. “Atau itulah yang akan kujawab.”


Membenahi sikapnya sekali lagi, mata Rion sedikit terangkat. “Kau bisa berpikir sesukamu. Entah orang yang ada di Benteng Arcchild adalah aku atau bukan. Namun, setidaknya nyatakan tujuanmu dengan jelas sekarang atau ini akan menjadi sebuah pembukaan.”

__ADS_1


“Kenapa? Akan aku nyatakan di sini. Aku, kami tak berniat menggunakan kekerasan dalam misi kali ini.” Hal ini bukanlah kebohongan yang digunakan untuk meyakinkan Rion, ini adalah pemikiran jujur Xion.


Meski sebelumnya dia ragu apakah akan menghadapi Lion —Rion— sebagai musuh atau kawan, kini hal itu tak terjadi lagi. Setelah kehilangan Dian, dia sadar bahwa tak menggunakan kekerasan adalah yang terbaik. Apalagi dengan pencapaian dalam membumihanguskan Overflow, kekuatan pihak lain pasti berada jauh di atas Tenor.


“Kalau begitu, kenapa kalian masih menyembunyikan beberapa orang lagi?” Menyatakan demikian, mata Rion yang sejak tadi terus memperhatikan satu sudut kini memandang tajam ke sudut itu. Seolah berusaha memaksa siapa pun yang ada di sana untuk keluar.


Namun, Xion dan Yuzu juga sama, tidak jauh lebih terkejut karena pernyataan ini. Sikap kuat yang mereka usung selama ini seketika hancur, berubah menjadi kebingungan dan kengerian ekstrem.


‘Apakah kita telah dibuntuti sejak awal?! Tidak. Sebelum itu oleh siapa?!’ Mengingat kembali hal-hal yang harus mereka lewati hingga sampai ke titik ini, keduanya diyakinkan. ‘REUTANIA KINGDOM ...!’


Dengan reaksi kebingungan mereka yang jelas tak dibuat-buat, pandangan dingin yang Rion arahkan semakin ekstrem. Jika itu adalah Beatria Union atau beberapa pihak dari negara asli Benua Zestia dia tak akan seperti ini.


Namun, melihat bahwa ada rasa permusuhan yang ditunjukkan oleh kedua Beast-kin itu. Rion merasa diyakinkan bahwa ini bukanlah bagian dari mereka.


Lily menunjukkan reaksi serupa. Pada awalnya dia mengira bahwa kedua Beast-kin di depannya bertindak sebagai perwakilan. Namun, fakta yang kini menunjukkan bahwa ini bukan bagian dari mereka membuatnya bersiap jauh untuk segala kemungkinan yang terbuka.


“Magic: Ice Lance.” Sihir Lily tunjukkan dengan cepat. Sebuah tombak es terwujud segera bersama rapalan cepat —yang sebenarnya tidak perlu untuknya melakukan itu— selesai dilantunkan.


Melewati seluruh peristiwa yang terjadi tak lebih dalam dari dua detik ini, baik Xion maupun Yuzu belum dapat pulih. Bahkan di saat mereka masih membalikkan tubuhnya, semua telah selesai.


“Seperti itu bukan dari pihak kalian,” gumam Lily. “Apakah itu Eugary Empire? Ataukah Reutania Kingdom?”


Melihat perubahan kecil pada sorot mata keduanya, Lily mengangguk. “Jadi kemungkinan besar mereka itu Reutania kah?”


Tidak ada keraguan pada perkataan Lily meski nadanya seolah bertanya. Dalam sekali pandang, sekilas dia telah melihat segalanya dan tahu bahwa kesimpulan inilah yang benar.


“Rion. Sepertinya kau tak perlu menyembunyikan identitasmu lagi. Ucapan bahwa mereka tak ingin menggunakan kekerasan kemungkinan besar itu jujur.”


“Kurasa kau benar.” Mengambil napas dalam, Rion berucap, “Sekali lagi aku akan menjawab. Orang yang kalian temui di Benteng Arcchild adalah aku, dan kutebak kalian adalah Beast-kin yang tengah melakukan misi kala itu.”


Pulih dari kebingungannya Xion segera mengangguk begitu Rion membenarkan dugaannya. Namun, kegelisahanlah yang kini menguasai hatinya.


“Meski telah kukatakan berkali-kali sebelumnya tapi ... apa tujuan kalian mencariku?”

__ADS_1


Yuzu mengangguk, menyetujui apa pun yang akan Xion lakukan selanjutnya. Sekarang mereka memiliki hal lain yang harus dipikirkan dan diurus.


“Kalau begitu maaf karena tidak sopan sebelumnya Lion—“


“Rion.”


“Ha?” ucap Xion bodoh.


“Namaku Rion, Lion itu hanya identitas sementara yang aku gunakan.”


Mengangguk ringan, Xion melanjutkan perkataannya. “Langsung saja, sebenarnya kami tengah berada dalam misi untuk mengumpulkan data tentangmu.”


“Dan fakta bahwa kalian menemui target secara langsung adalah tindakan bodoh,” komentar Lily.


“Ya ... kurasa itu benar,” sahut Yuzu.


Mengabaikan suara keduanya, Xion terus berucap, “Kami adalah tim Night Eye dan aku Xion. Seperti yang kukatakan sebelumnya kami dalam misi untuk menyelidiki informasi tentangmu, tapi sebenarnya kami hanya perlu satu kepastian.”


Menyimpulkan rincian misi sebelumnya, Xion akhirnya berucap, “Apa tujuanmu? Dan apakah kamu akan membahayakan Beatria Union?”


“Ohh ... jika masalah itu kalian tak perlu khawatir, tujuanku sekarang ada di Benua Sylius dan aku akan segera meninggalkan Benua Zestia,”jawab Rion sedikit ambigu, tak menyatakannya secara gamblang. Sedangkan untuk hal kedua .... aku tak dapat memastikannya,”sambungnya.


“Tolong jelaskan apa maksudmu?”


“Jika kalian tak menggangguku maka aku juga tak akan mengganggu kalian. Namun, jika kalian menggangguku maka kemungkinan aku mengganggu kalian juga akan menjadi sangat besar. Dengan kata lain, peluang untuk kondisi itu benar-benar terjadi masih sangat terbuka lebar.”


Xion mengangguk dalam, dia merasa bahwa Lion, Rion di depannya jujur mengenai hal ini. “Kalau begitu, akan coba kami usahakan untuk tak mengganggumu.”


Membalikkan tubuhnya, Xion teringat sesuatu. “Bolehkah aku tahu apakah sebelumnya benar-benar ada orang lain selain kami?”


“Itulah kenyataannya. Selain itu, tak ada keuntungan bagiku untuk menipu kalian.”


“Terima kasih,” ucap Xion sebelum kembali dalam gelapnya bayang-bayang kota. Dia dan Yuzu kini memiliki masalah yang membuat sakit kepala lagi.

__ADS_1


__ADS_2