
Serangan Demand, [Eugary Spearmanship: 5th Style Conquer] dengan cepat mengejar Wess, mengarah ke kepala lawan yang merupakan salah satu titik vital.
Akan tetapi, untuk sepersekian detik kabut tipis hingga bahkan sulit dilihat oleh mata tiba-tiba menyelimuti, menyebar ke sekitar.
“Dews of Mist ...,” Mantra yang dirapalkan dengan lirih tertangkap samar di telinga.
Ledakan terjadi saat serangan Demand mengenai tubuh Wess, tanah tenggelam menunjukkan betapa kuat serangan yang dia lakukan. Namun, tubuh orang yang dilawannya itu segera menjadi kabut tak lama kemudian.
Demand kebingungan, dia sama sekali tak dapat melihat ke mana perginya lawannya. Meningkatkan kesiagaannya, dia melirik ke kanan dan ke kiri, menyisir pandangan ke seluruh tempat untuk menemukan lawannya. Namun, dia tak dapat menemukan tubuh besar nan perkasa Wess.
‘Ilusi?’ pikir Demand menduga situasi apa yang sebenarnya dialami.
Demand memejamkan mata saat mencoba menenangkan dirinya. Bersama dengan itu, aliran mana dalam dirinya melambat hingga berhenti sebagai salah satu cara agar dapat terbebas dari ilusi yang sepertinya telah memengaruhinya.
Saat mata Demand kembali terbuka, dia mengalihkan pandangannya mencari-cari keberadaan lawannya. Setelah beberapa saat dia menemukan bahwa Wess telah berada di tempat yang cukup jauh dari tempatnya semula.
Wess yang dalam kondisi tubuh bersimbah darah akibat luka yang menyelimuti, terlihat dibawa seorang pemuda berambut hitam.
Tubuh pemuda itu terlihat masih mengeluarkan kabut tipis yang menyebar ke sekitarnya, senada dengan kabut yang telah memasukkan Demand ke dalam ilusi.
Pemuda itu, Rion menggunakan teknik dasar untuk mempercepat langkahnya hingga berhasil membawa Wess yang telah mendekati garis kematian.
Wess menggelengkan kepalanya saat akhirnya dapat tersadar dari pengaruh kabut yang pemuda itu keluarkan. Namun, dia segera memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pemuda itu saat menyadari bahwa pemuda di depannya ini sama sekali tak dia kenali.
Akan tetapi, Rion hanya melirik Wess sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya pada Demand yang mulai terbebas dari efek kabut.
Sebelum pihak yang menyebabkan kekacauan di benteng selain dirinya —Xion dan timnya— datang, Rion telah mengecek situasi di gerbang utama dan gerbang barat. Menyadari bahwa semakin lama waktu berlalu maka akan semakin rendah pula kesempatan dirinya untuk dapat berhasil kabur, dia pun mulai mempersiapkan beberapa hal dalam bayang.
__ADS_1
Kini Rion telah selesai dengan persiapannya dan dia melihat orang yang bertarung dengan Demand dalam bahaya.
Walaupun Rion sendiri tidak memiliki sentimen khusus apa pun pada mereka berdua, baik Demand yang hanya diketahuinya kerap berada di sisi Seriana, maupun Wess yang baru dilihatnya.
Akan tetapi, jika Rion disuruh memilih ingin membantu siapa? Maka dia akan memilih Wess tanpa ragu, mengingat karena kekacauan yang mereka sebabkan tadi membuatnya dapat membaca buku-buku di area khusus, setidaknya dia akan membalas bantuan yang tanpa sadar telah mereka berikan padanya.
“Tenanglah atau kau akan semakin terluka, anggap saja sebagai bentuk pembayaran atas yang kalian lakukan,” ucap Rion dingin tanpa emosi saat merasa tingkah Wess mulai mengganggunya.
Wess menatap Rion saat mendengar ini, tapi dia sama sekali tidak dapat merasakan sebuah emosi dari kata-kata yang keluar dari mulut pemuda yang membawanya ini. Bulu kudu Wess berdiri, menyadari bahwa dalam pandangan pemuda ini hal yang diucapkan tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang dia bawa.
Demand telah sepenuhnya terbebas dari efek kabut yang pemuda itu keluarkan, menatap tajam ke tempat lawannya berada. Dia berusaha mengenali sosok yang membawa Wess pergi dari maut, saat dia melihat wajah Rion yang sangat dikenalnya, keterkejutan memenuhi hatinya.
“K-kamu ...,” ucap Demand sedikit tergagap saat melihat Rion. Walaupun tidak terlalu mengingat dengan jelas, tapi dia dapat mengetahui bahwa pemuda di depannya adalah orang yang pernah diperhatikan oleh Seriana, dan hal inilah yang membekas di ingatannya.
‘Tunggu! Orang ini seharusnya adalah orang yang Nona Seriana cari setelah terjadi kekacauan di benteng terjadi bukan?’ tanya Demand pada diri sendiri saat mulai memahami maksud dari Nona mereka yang juga memerintahkan untuk menangkap Rion.
“Hmm?” Menilik reaksi yang Demand tunjukkan saat melihatnya, Rion merasa sedikit tertarik. ‘Sepertinya aku memang sudah dicurigai oleh Seriana.’
Seusai berkata demikian, Demand segera menerjang ke arah Rion, tak lagi memperhatikan beast-kin yang sempat menjadi lawannya.
Tombak di tangan Demand mulai berayun dengan liar, mencoba membuat Rion terpojok. Namun, serangan demi serangan yang di lancarkan Demand sejauh ini dapat lawannya hindari.
Walaupun Rion sendiri mendapat beberapa serangan yang menorehkan luka di tubuhnya. Namun, luka itu sendiri dapat diabaikan mengingat toleransi rasa sakit, kecepatan regenerasinya, dan yang pasti dia dapat menghindari serangan pada titik vital.
Rion telah lama terbiasa dengan gerakan sang kapten ksatria, dan gerakan Marco pastinya lebih cepat dan mematikan daripada gerakan yang Demand tunjukkan.
Meskipun Rion sendiri melawan dengan tangan kosong dan membuatnya hanya membela serta tidak melakukan serangan secara aktif. Namun, kesabaran adalah apa yang dia andalan saat menantikan celah yang akan Demand buat, dan itu adalah saat baginya untuk melancarkan serangan balasan.
__ADS_1
Bentrokan hebat terjadi antara keduanya, para prajurit tanpa sadar menjauh memberikan ruang bagi Rion dan Demand untuk bertarung.
Atmosfer di sekitar Rion mulai sedikit berubah saat matanya menajam, serangan demi serangan yang dilancarkan Demand semakin tidak efektif saat lawannya telah menemukan ritme permainannya.
Sekarang adalah waktu di mana Rion tinggal memainkan celah yang dapat dimanfaatkannya pada permainan tombak Demand.
Rion mengepalkan tangannya bersama percikan kilat yang mulai terwujud. “Tron Fist”
Telapak tangan Rion mulai mengeluarkan kilat dengan jelas, saat tangannya menagkis tombak Demand sedikit energi petir mengalir pada tombak lawannya sedikit bergetar.
Semakin Demand larut dalam pertempuran, permainan tombaknya menjadi semakin lambat. Di saat sebuah celah telah dia ciptakan, Rion tersenyum dingin dalam hatinya.
‘Akan kujadikan kau contoh untuk pelajaran terbaik bagi mereka!’
Berhasil menangkap tombak Demand yang mengincarnya. Rion segera memindahkan pusat gravitasi lawan hingga membuat lawannya kehilangan keseimbangan dan mati langkah beserta celah besar yang kini tercipta.
Rion segera menjatuhkan Demand, menarik tombak di tangan lawannya hingga dapat ambil secara paksa. Dia sedikit mempertontonkan teknik yang dikuasainya dan segera tusukan membabi buta tanpa teknik apa pun, hanya kekuatan murni mulai menghujani lawan.
Mengambil jeda sejenak, nyala api terlihat mulai menyelimuti tangan Rion. “Burn Fist!”
Sebuah tinju bersuhu tinggi menghujani Demand, secara perlahan mulai melelehkan baju besi yang dia pakai hingga membuatnya dapat merasakan lelehan besi panas yang membakar seluruh tubuh.
“ARRGGGHHH!”
Bau gosong terpanggang memenuhi udara di sekitar bersama teriakan pilu dilayangkan. Tidak seperti di laboratorium di mana suara pilu teredam karena posisinya berada di bawah benteng, suara pilu menggema dengan jelas di sini.
Para prajurit yang ingin membantu Demand menjadi gentar. Mereka sadar bahwa tak mungkin membebaskan wakil kapten ksatria itu dari siksaan Rion membuat mereka mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Pukulan demi pukulan terus dilancarkan Rion bersama teriakan pilu yang kian menggema di gerbang barat. Pukulan terus jatuh pada tubuh Demand, menjadikannya sebongkah besi panas bersama suara pertempuran yang surut.
Ketakutan, hanya itu hal yang dirasakan oleh prajurit saat menyaksikan pemandangan ini.