
Gelombang akibat keruntuhan Overflow nyatanya lebih besar dari harapan Rion, keamanan kota meningkat secara signifikan bersama dengan banyak tenaga yang dikerahkan untuk menenangkan kepanikan massa.
Sedangkan bagi Rion, hal ini jelas bukan hal yang baik karena pihak Reutania akan tetap memburunya. Berusaha menjauh sejauh mungkin dari badai yang mungkin terjadi, dia keluar dari penginapan dan meninggalkan kota itu tepat saat fajar menyingsing, menyatu dengan kerumunan yang juga berusaha meninggalkan kota.
Berkat [Magic: Mimic] yang Lily terapkan padanya mereka berhasil menghindari kecurigaan dengan mudah, meski ada banyak keterbatasan yang dimiliki sihir ini. Namun, untuk mengatasi situasi sekarang kemampuan ini lebih dari cukup, apalagi dengan kemampuan Lily dalam sihir.
Akan tetapi, mereka berdua tak langsung meninggalkan kawasan ini. Rion memilih menetap di luar kota untuk mengamati gerakan yang diambil Reutania mengenai kasus ini.
"Rion, kenapa kita tak segera pergi saja? Aku ingin segera kembali dapat tidur di ranjang yang empuk ...."
"Tolong bersabarlah sejenak, aku ingin mengamati gerakan mereka sedikit lebih lama."
"Tenang saja, mereka tak akan mengambil tindakan yang membuatmu menjadi buronan jahat seperti di Eugary Empire."
Setelah mendengar hal ini sekali lagi, Rion merasakan keanehan pada kata-kata Lily yang membuatnya bertanya, "Apa maksudmu dengan pihak Reutania tak akan mengejarku?"
Lily memasang wajah kesulitan saat Rion menanyai maksud ucapannya itu. "Itu ...."
"Itu apa?" Setelah menunggu cukup lama dan tak mendengar jawaban dari Lily, Rion pun mengalah. "Sudahlah, aku tahu kau tidak ingin membahas hal ini."
"Ya ... bukannya aku tidak ingin memberi tahumu atau apa, tapi ... sudahlah kita akhiri saja pembicaraan ini."
Lily menundukkan kepalnya, bergumam hingga tak dapat didengar siapa pun. "Jika kau mengetahuinya mungkin kau akan marah padaku Rion."
Saat sang mentari tenggelam, mereka akhirnya memilih pergi setelah memastikan tidak ada banyak gerakan besar yang dilakukan Reutania. Mungkin belum karena mereka juga harus menjaga kondisi internal mereka.
Mereka berjalan berdampingan, tidak terburu-buru dan hanya menikmatinya secara perlahan. Melirik Lily di sampingnya, pikiran Rion melayang jauh.
"Lily ... dia orang yang sangat ...," Menghela napas dalam hati, Rion mengusir pikiran itu. "...Aku bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya."
Lily menoleh, menatap mata Rion saat merasa tatapan yang diberikan pemuda ini berbeda dari biasanya. Mata mereka saling bertemu sebelum saling mengalihkan pandangan.
Berusaha tak memperdulikan hal lagi, Lily terus melanjutkan langlah kakinya ke kegelapan malam.
Rion juga terus melanjutkan langkahnya, memilih tidak membahas apa yang ada di pikirannya secara gamblang. Bagaimanapun, selama ini Lily tidak pernah membahas masalah seperti itu.
Perasaan Lily kini campur aduk, dia melirik Rion yang tengah berjalan di sampingnya, di satu sisi dia ingin menceritakan maksudnya pada Rion. Namun, di sisi lain dia merasa takut, kebenarannya lebih mengerikan dari yang terlihat.
__ADS_1
Lily memanipulasi sepuluh orang yang ditangkap Rion sebelumnya. Karena dia melatih dua jenis sistem kekuatan yang mana salah satunya sangat berfokus pada satu konsep, dan salah satu kemampuan yang merupakan bentuk terapan kekuatan itu mampu untuk melakukan hal itu.
Yaitu bentuk kemampuan yang membuat Lily dapat melihat, menghapus, atau mengubah ingatan seseorang, tapi hal yang membuat ini mengerikan bukanlah itu.
Kemampuan Lily ini sangat berbeda jauh dengan pengendalian pikiran yang coba dilakukan oleh Eugary Empire pada subjek mereka. Jika Eugary membuat para subjek kehilangan 'jati diri' mereka, dengan kata lain mereka akan menjadi orang yang sama sekali berbeda. Bahkan mungkin tak lebih dari sekedar boneka, inilah hal Rion takutkan kala itu.
Namun, dalam kemampuan Lily dia dapat seseorang, dan orang yang dimanipulasi itu masih mempertahankan kesadaran dirinya. Yang menakutkan adalah mereka, orang-orang itu sekali tak menyadari bahwa mereka telah dimanipulasi.
Seperti yang terjadi pada sepuluh anggota Overflow yang ditangkap Rion, saat Lily melihat mereka dia telah mengubah ingatan mereka. Mereka tidak akan mengingat bahwa mereka pernah bertemu Lily atau saat bertarung melawan Rion.
Yang mereka ingat adalah bahwa kelompok mereka, Overflow, bukan kelompok tentara bayaran yang memiliki sisi gelap sebagai bandit melainkan mereka memanglah sekelompok bandit. Jika tidak seperti itu, maka hal yang terjadi adalah mereka akan langsung kembali ke markas kelompok mereka setelah lepas dari Rion, bukannya malah melanjutkan tindakan merampok mereka.
Membuat mereka dapat melakukan perampokan, pembunuhan, dan hal lain setelahnya. Lily sendiri telah menanamkan bahwa mereka membuat satu orang acak selamat pada kejadian tersebut, menyebabkan orang itu melapor pada pihak Reutania dan membuat mereka melakukan penyelidikan lebih jauh.
Pada akhirnya, semua bertujuan untuk membuat kegiatan rahasia Overflow sebagai kelompok bandit diketahui. Setelah seperti ini, kematian yang akan diderita kelompok Overflow bukan hanya fisiknya, tapi nama yang baik mereka miliki juga akan hancur bersamanya. Membuat kemungkinan sekecil apa pun untuk mereka bangkit akan menghilang.
Meski begitu, bagian akhir rencana tersebut berubah setelah kelompok Overflow ingin mengganggu mereka lebih dahulu. Membuat Rion menyelesaikan mereka, dan jelas membuat keributan besar di kota Dee.
Jika semua berjalan sesuai keinginan Lily, maka dia ingin pihak Reutania mencoba menghabisi kelompok Overflow terlebih dahulu, dan kemungkinan besar itu akan gagal.
Setelah itu, Lily dan Rion menawarkan bantuan pada pihak Reutania Kingdom. Selain untuk menyelesaikan urusan pribadi, Lily juga ingin mendapat bantuan Reutania untuk segera mencapai Benua Sylius.
Lily memandang ke atas, melihat langit malam yang bertaburan cahaya bintang. "Jika kau masih memikirkan ucapanku yang lalu, hal yang ingin kulakukan adalah membuat pihak Reutania dapat menghargai bantuan yang akan kita berikan. Mungkin mereka juga akan menganggap kita sebagai penolong ...."
"Ohh ... aku tidak tahu rinciannya, tapi aku tidak tertarik membahas hal ini lebih jauh setelah mendengar kesimpulan singkatmu itu."
"Kenapa? Jika kau dianggap sebagai seorang penolong, bukankah hal itu akan membuatmu senang karena seseorang menghargai usahamu? Bahkan mungkin perjalanan kita ke Benua Sylius dapat dipersingkat."
"Tidak. Sama sekali tidak."
Keheningan terjadi, tapi tak bertahan lama.
"Mungkin ... hal itu hanya akan menambah penderitaan yang kurasakan," Menengok Lily di sampingnya, Rion melanjutkan, "Lily, kau tahu hal ini akan terasa seperti kau terkena sebuah bencana yang membuatmu merasakan kehilangan sesuatu yang berharga. Lalu orang yang tidak kau kenal datang dan berbicara seperti 'kau kuat, dapat menghadapi ini semua', apa yang kau rasakan?"
"Begitu ... hal itu hanya ... terasa seperti sebuah ejekan, bukan?"
"Begitulah, mungkin bagi yang lain hal itu adalah pujian, tapi bagi kita itu lebih terasa seperti sebuah ejekan," Menundukkan kepalanya, Rion berpikir, 'Seolah mereka ingin menegaskan bahwa mereka yang berharga bagi kita benar-benar telah tiada.'
__ADS_1
"Selain itu ...," Rion ikut memandang langit malam. "Bahkan jika aku dianggap seorang penolong, pahlawan, atau semacamnya ... itu tidak akan merubah apa yang aku alami, anggapan itu tidak akan mengubah apa pun."
"...."
Lily diam, dia sendiri tidak menyangka bahwa perkataannya untuk meringkas rencana yang dijalankannya menjadi pembicaraan semacam ini.
Namun, sebuah senyum terbentuk di sudut mulutnya. Dia sendiri memahami hal yang dimaksud Rion lebih dari apa yang terlihat. "Huh ... jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Setelah ini? Maksudmu setelah pembalasan dendamku pada Eugary Empire selesai?"
Lily mengangguk. "Ya, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin hidup tenang."
"Kalau seperti itu kenapa kau tidak melakukan sekarang? Bukankah itu akan lebih cepat?"
"Jujur saja sebenarnya aku juga sempat berpikir seperti itu. Namun, saat aku merasakan ketenangan di tempat yang kau huni, setiap hari selalu ada yang merasa mengganggu hatiku. Karenanya, aku ingin menghilangkan hal itu terlebih dahulu."
"Kalau begitu bukankah kau akan terus dikejar oleh mereka? Orang yang menjadi membencimu."
"Kalau itu aku akan mencari sebuah tempat yang damai. Jika pun mereka menemukanku, aku akan menghabisi mereka demi menjaga ketenangan hatiku. Jika kau ingin tertawa silahkan, ini hanyalah pemikiran tak berguna yang kumiliki."
"Huh ... mungkin pemikiranmu memang tak berguna Rion. Aku sendiri tidak menyangka kau yang terkesan tidak merasakan apa pun saat membunuh memiliki pikiran semacam itu. Namun, jika saat itu datang aku akan menemanimu, tinggal sendirian pasti membosankan, bukan?"
"Kenapa kau harus ikut?"
"Ohh ... begitu?" Lily tiba-tiba melompat pada punggung Rion, memosisikan tubuhnya pada gendongan Rion. "Kemarin aku kan sudah bilang, aku akan selalu bersamamu."
"Ya, ya. Kurasa itu juga tidak akan terlalu buruk."
Lily menguap, dia menyandarkan kepalanya pada punggung Rion. "Aku sudah mengantuk, beberapa malam ini aku tidak tidur sama sekali. Aku akan tidur dulu."
"Baiklah."
"Ya, selamat malam, tapi ini bukan tidur untuk selamanya, ya?"
"Hahahaha," Rion tertawa datar. "Mencoba membuat sebuah lelucon?"
__ADS_1
"Mungkin? Tapi ... itu benar tahu," Dengan nada rendah, Lily berucap lirih sebelum jatuh dalam bunga tidur. "Tidak mungkin dapat tidur untuk selamanya dengan tenang."