A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 45 : Kisah Semalam - 2


__ADS_3

Pandangan kakak beradik itu berkaca-kaca, butiran air mata terlihat mulai mengembun di sudut mata mereka. Terutama pada si kembar, air mata mereka bercucuran deras tak terbendung lagi.


Tangan Ernest menutup mulut kedua adiknya, mencegah mereka dari mengeluarkan suara apa pun. Namun, ekspresinya juga mengkhianati tindakan yang dia lakukan. Penderitaan terlihat jelas dari apa yang ditunjukkannya.


Semua karena pemandangan berdarah yang tengah terjadi. Ayah mereka masih hidup, itu seharusnya membuat mereka bahagia tapi hal itu tidak akan bisa dilakukan.


Melihat bahwa dia menjerit kesakitan setelah tangan dan kakinya terpotong, terpisah dari tubuhnya dengan darah yang mengalir deras keluar dari tubuh. Hati Ernest pun sakit, sayatan dapat dia rasakan dengan jelas di setiap rintihan yang dikeluarkan ayahnya.


Akan tetapi, tidak hanya itu tapi juga karena ayahnya telah tertindih oleh bagian tubuh orang lain yang terbang kepadanya. Bagaimanapun, Ernest tidak akan dapat membayangkan apa yang dirasakan olehnya.


Namun, Fest tetap teguh. Dia berusaha membalikkan tubuh, menggeliat bagaikan ulat karena tangan dan kakinya telah terlepas. Membuat tampilannya yang kini bersimbah darah seolah bukan apa-apa baginya. Meski ini juga membuat Ernest ingin berteriak memanggilnya juga, tapi dia menyadari bahwa dia tak bisa.


Mulut Fest terbuka, bergerak mengucapkan sebuah pesan padanya. Ernest tahu dengan betul apa yang ayahnya ini inginkan, tapi tetap saja dia berat tuk melakukan.


Bagaimanapun, sedikit kesadaran Ernest yang tak terseret oleh emosinya kini serasa memperingatkan dirinya. Jika dia berteriak maka posisinya serta adik kembarnya akan diketahui oleh para bandit terkutuk ini.


Dia memahami dan mengerti apa yang diinginkan sang ayah, yaitu berharap padanya untuk membuat serta si adik juga dirinya selamat. Memantapkan hatinya, Ernest berusaha terlihat kuat setidaknya di depan kedua adiknya. Tangannya mulai menyeret mereka untuk pergi selagi perhatian para bandit itu tertuju pada perlawanan para tentara bayaran.


Menundukkan kepala, Ernest berucap lirih, “Ayo kita pergi, Mila, Nila.”


“T-tapi A-ayah—“


“Aku tahu! Tapi ... jika kita di sini dan dibunuh apa Ayah akan senang melihatnya?” bentak Ernest membungkam mulut Nila.


Nila mengeluarkan suara isakan lebih, berusaha menahan tangis. Sedangkan Mila hanya menatap kosong pada sosok ayahnya saat keduanya ditarik secara paksa oleh Ernest untuk menjauh dari tempat ini.

__ADS_1


Belum pulih dari keterkejutannya atas tindakan para penyerang, pemimpin kelompok tentara bayaran itu menerima sebuah serangan anak panah dari gelapnya hutan di hadapannya. Sebuah anak panah menancap di bahu kirinya, meski dengan tingkat kekuatannya dia dapat memulihkan diri dari jebakan sebelumnya, tapi dia tidak sempat menghindari anak panah yang datang dengan cepat tersebut.


Menggerakkan tubuhnya, dia mengeluarkan teknik. “Split Slash!”


Anak panah itu terbelah bersama teknik itu, menatap tentara bayaran lain yang selamat, dia berteriak “Semuanya—“


Namun, suaranya segera terputus sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya saat seorang bandit telah maju, menelan dia dalam perlawanan sia-sia.


Semakin pemimpin itu merasakan kekuatan lawannya, semakin dia sadar bahwa apa yang telah terjadi sampai sekarang bukan hanya karena ketidaksiapan mereka.


‘Tingkat kekuatan gold level!’ Namun, sebelum dia dapat berpikir apa yang harus dilakukan, kepalanya telah terpenggal terbang. Meski dia tahu perbedaan kekuatan antara mereka, ketidakpercayaan mengisi tatapan matanya.


Raut wajah tentara bayaran yang masih bertahan kini memucat, pemimpin itu adalah orang terkuat di antara mereka. Namun, dia sama sekali tak berkutik di depan musuhnya.


Tentara bayaran itu kini kocar-kacir, berusaha menjadi yang tercepat dari siapa yang dapat bertahan hidup. Bagaimanapun mereka bertarung selama resiko dan keuntungan berimbang, tapi jika orang yang akan memberi emas telah tidak ada dan peluang hidup tipis, untuk apa mereka bertarung?


Akan tetapi, tak seperti apa yang mereka duga hal itu berhasil, membuat mereka yang sebelumnya ingin lari ikut menyerah bergabung dengan para bandit. Meski mereka berada di tingkat kekuatan di tingkat silver level 3-5, tapi menurut bandit-bandit ini mereka akan berguna. Walau mereka sebenarnya tidak dianggap dan hanya dijadikan sebagai pakan meriam.


Semakin waktu berlalu semakin besar pula orang yang ikut bergabung dengan para bandit. Dengan syarat membunuh tentara bayaran di dekat mereka, mau itu yang telah terpotong ataupun yang masih utuh, belasan orang akhirnya bergabung dengan para bandit ini.


Namun, itu tidak serta merta membuat semua orang memilih bergabung dengan para bandit. Beberapa tetap memilih kabur karena tak ingin menentang pihak kerajaan, meskipun mereka tak ingin terikat dengan aturan militer tapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak ingin menaati peraturan yang ada.


“Line: Slide,” Namun, nasib mereka yang memilih jalan ini adalah kematian saat keempat orang yang selama ini bersembunyi menunjukkan diri.


Setelah mantra dirapalkan, langkah yang mereka ambil mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, posisi mereka kini sangat empuk untuk mendaratkan serangan, dan segera sihir, anak panah, maupun tebasan pedang menghujani mereka secara sepihak menghabisi orang yang memilih jalan ini.

__ADS_1


Ernest yang telah berlari cukup lama telah menghiraukan suara tragis yang sesekali terdengar dari belakang, dan memilih terus melangkahkan kaki ke depan.


Sebuah siluet kota segera terlihat dalam cahaya yang masih remang-remang. Matahari yang baru akan terbit kini menunjukkan sinarnya, meski itu hanya sedikit.


“Kalian bertahanlah! Sedikit lagi kita hampir sampai!” ucap Ernest meyakinkan. Namun, sebuah rapalan segera terdengar di telinganya.


“Magic: Wind Cutters!”


Hembusan angin merambat ke tulang belakangnya saat bilah angin datang datang, secara naluri Ernest berusaha menghindari serangan itu. Menjatuhkan dirinya, dia berharap dengan begitu serangan tersebut akan meleset.


Namun, yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan yang terus disesali di masa depan. Kedua adiknya, Mila dan Nila tidaklah secepat itu untuk dapat mengikuti gerakan yang dia lakukan, membuat kepala keduanya yang berada dalam ketinggalan ketinggian tanggung terpenggal, terkena serangan yang seharusnya memotong tubuh mereka bertiga menjadi dua.


Tatapan mata Ernest kosong, aroma amis serta baju yang penuh sobekan serta luka kecil tidak membuatnya terganggu. Namun, melihat kepala kedua adiknya yang menggelinding di tanah membuatnya memandangi tangannya dengan rasa tak percaya.


“Aku yang menyebabkan mereka mati ...,” Ernest yakin bahwa Itu semua adalah salahnya.


“Itu salahku ... jika aku tidak menjatuhkan diri mungkin mereka masih hidup ... ini salahku ... salahku.”


Ernest memandang Kota Dee di depannya, padahal tinggal sedikit lagi mereka dapat bertahan hidup bersama. Terduduk lemah, dia menunggu bandit itu untuk menyerang dirinya, menghabisi hidupnya layaknya mereka menghabisi orang-orang.


Namun, itu tak pernah terjadi karena bandit itu pergi tak menyerangnya lagi, mungkin karena jarak mereka dengan kota sudah dekat? Kepala Ernest penuh pertanyaan, tapi tahu apa yang harus dilakukan. Melangkah dengan berat, dia kuyu saat menuju Kota Dee.


***


Ernest menutup ceritanya, dia terlihat masih depresi atas apa yang menimpanya.

__ADS_1


Huge, penjaga yang ditemui Ernest sebelumnya dan atasannya sang kapten pasukan keamanan —Ditch— memandangi sosok Ernest.


Khususnya pandangan Huge yang kini agak mendung karena mengingatkannya atas apa yang pernah dia alami.


__ADS_2